Pria Culun

Pria Culun
Bab 9 Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Aku masuk ke dalam kamar, membuka laci, mengeluarkan beberapa pakaianku, namun hanya pakaian yang ku ingat di belikan oleh ibuku.


Setelah beberapa saat, ku letakan pakaianku diatas kasur. Aku membuka seragam sekolahku, lalu ganti baju dengan pakaian yang ada di atas kasur.


Aku meraih sisa pakaian yang ada di atas kasur. 3 kaos, 3 celana pendek, 1 celana jeans, dan sepasang seragam sma kekecilan yang ku ingat betul di belikan ibu saat aku masih kelas 1 sma, beberapa bulan sebelum ibu meninggal.


Aku melihat ke sekitar ruang kamarku. Aku mengambil kantong plastik hitam yang berisikan buku - buku sma kelas 1 dan 2.


Ku keluarkan semua buku dari dalam kantong plastik, lalu ku masukan pakaian yang ada di atas kasur. Aku menunduk untuk mengambil seragam sekolahku yang ku pakai tadi lalu ku letakan di kasur, di atas tumpukan buku yang berserakan.


Aku merogoh seragam sma ku, mengeluarkan hp, dompet dan kunci motor.


Kini tangan kiriku memegang plastik, tangan kananku memegang hp, dompet dan kunci motor.


Menggunakan jari tangan kiriku, aku membuka pintu kamar lalu berjalan ke arah gudang yang berada di belakang rumah. Aku mengambil sepatu lamaku, lalu meletakan semua bawaanku ke lantai untuk membebaskan tangan menggunakan sepatu.


Setelah sepatu usangku terpakai, aku kembali mengambil barang bawaanku lalu melangkah menuju depan rumah.


Setibanya di teras rumah.


"Kamu mau kemana to?"


Tanya kak kira di sebelahku.


Aku sama sekali tak menghiraukan pertanyaan kak kira atau bahkan melihat ke arahnya.


Aku meletakan, hp, dompet dan kunci motor di atas meja yang berada di depan kak kira.


"Tolong bilang ke pak nuel, saya minta maaf..makasih banyak udah bantu keluarga saya"


Ucapku pelan.


Tak biasanya aku memanggil ayah mereka dengan sebutan 'pak nuel', aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan 'bapak' karena tak enak bila menyebut nama ayah mereka.


Aku memberanikan diri untuk melihat ke arah lala. Wajahnya basah karena ia lagi - lagi menangis.


"Maaf yah non"


Ucapku sehormat mungkin sesuai derajatku di mata kak kira.


Aku memutarkan badanku dan dengan cepat mulai melangkah ke arah gerbang.


"ANTOO!!"


Teriak lala.

__ADS_1


Ingin sekali rasanya aku menghentikan langkahku, namun ternyata tubuhku berkata lain. Aku membuka pagar lalu melangkah keluar. Saat aku membalikan badan untuk menutup pagar, aku sempat melihat lala yang berada di samping kak kira berdiri dan berlari ke arahku.


Pagar sudah tertutup dan dengan sangat berat hati, aku mengunci gembok pagar rumah.


"To, mau kemana?!"


Teriak lala saat sudah mendekati gerbang.


Aku hanya tersenyum lalu memutarkan badanku membelakangi lala. Langkahku sengaja ku percepat menjauhi rumah.


Lega rasanya aku dapat pergi meninggalkan rumah pak nuel. Rumah yang selama ini aku tumpangi, seperti ucapan kak kira.


Namun bagaimanapun aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku hanya berharap kak kira dapat sedikit mengerti alasanku, ternyata aku salah.


Rahasia terbesar dalam hidupku mungkin beberapa hari lagi akan tersebar di sekolah.


Bodohnya, aku malah merelakan itu terjadi, demi kak kira yang panas tamparannya masih terasa di pipiku dan ucapannya yang masih terdengar jelas di kupingku.


____


Aku sama sekali tak memikirkan langkah kakiku. Hingga rupanya aku sudah berada di depan stasiun. Aku melirik jam yang ada di dalam bangunan, jam setengah 8.


Menyadari sudah berapa lama aku berjalan, kakiku langsung terasa pegal. Aku memilih untuk duduk di kursi halte yang berada di depan stasiun. Aku sedikit menyesal karena mengembalikan semua uang yang ada di dompetku, tapi bagaimanapun juga itu harta mereka.


Aku sama sekali tidak menghiraukan suara kendaraan yang lalu lalang di depanku, juga suara beberapa orang yang berada disampingku.


Namun ada satu suara yang tak bisa aku hiraukan.


"Kok kamu disini to?"


Suara yang sangat ku kenal, suara kak vina.


Aku melihat sebentar ke arah kak vina yang berdiri di sampingku.


"Iya kak"


Jawabku singkat sambil membalikan pandanganku ke jalan..


Kak vina tiba - tiba menyentuh pundak kananku.


"Pulang yuk"


Ucap kak vina.


Aku hanya diam tak menjawab ajakan kak vina. Kak vina malah duduk di samping kananku. Tangannya yang tadi memegang pundaku kini beralih memegang lenganku.

__ADS_1


"Kamu mau tidur dimana?"


Tanya kak vina sambil mengelus lenganku.


"Gatau"


Jawabku


"Kamu mau ikut kakak?"


Tanya kak vina kali ini lalu menarik lenganku se akan menyuruhku untuk melihat ke arahnya.


"Asal jangan kerumah kak"


Jawabku sambil melihat ke arah kak vina.


Kak vina melepaskan lenganku lalu berdiri dan melangkah menjauhiku. Kak vina berhenti di depan sebuah taxi, lalu melihat ke arahku sambil melambaikan tangannya seperti menyuruhku untuk menghampirinya.


Aku mengambil plastik hitam berisi pakaianku lalu berjalan menuju kak vina.


"Naik to"


Ucap kak vina tersenyum sambil membuka pintu belakang taxi.


Aku menuruti permintaanya, kak vina juga ikut naik lalu menutup pintu mobil di sebelah kanannya dan mobil mulai berjalan. Entah setelah berapa lama, mobil berhenti lalu kak vina menggeserkan duduknya mendekati pintu mobil.


"Bentar yah to"


Ucap kak vina sambil membuka pintu dan melangkah keluar dari mobil.


Aku melihat ke arah kak vina. Kak vina masuk ke sebuah rumah yang memiliki tulisan 'terima kost' di tembok depannya. Jujur aku merasa sedikit lega menyadari bantuan dari kak vina.


Setelah beberapa saat, kak vina keluar dari dalam rumah melangkah kembali ke taxi.


"Sampe sini aja pak.. jadi berapa?"


Suara kak vina sedang berbicara dengan supir taxi.


Mendengar ucapan kak vina. Aku membuka pintu mobil lalu melangkah keluar.


"Sini to"


Ucap kak vina setelah membayar biaya taxi.


Aku mengikuti langkah kak vina menuju pintu rumah disaat yang bersamaan seorang ibu - ibu berjalan keluar dari dalam rumah dan melihat ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2