Pria Culun

Pria Culun
Bab 20 Obrolan Random lagi


__ADS_3

Jam 8 malam.


Pov Kira.


Saat ini aku sedang duduk bersila di atas kasur menatap layar laptop, untuk mengerjakan revisi yang ku dapat setelah bimbingan tadi. Ketika aku hendak mengetik, hp ku bergetar menerima sebuah pesan dari nando.


"Hey ra"


Isi pesan tersebut.


"Iya do"


"Lagi sibuk?"


"Engga kok"


"Aku telepon, boleh?"


Aku tersenyum.


"Boleh"


Balasku.


Sedetik kemudian, layar hpku berubah menunjukan adanya panggilan masuk dari nando.


"Halo ra?"


Ucap nando membuka obrolan.


"Iya"


Jawabku singkat.


"Kamu lagi ga sibuk kan?"


"Engga, cuman lagi nyicil revisian aja"


"Oh, sambil telponan gapapa?"


"Gapapa kok, eh bentar ya do"


Aku meletakan hp di kasur lalu segera bangkit berjalan untuk mengunci pintu kamar. Pintu kamar terkunci, aku meraih headsetku dari dalam laci meja belajar, lalu kembali duduk bersila di depan laptop.


Headset terpasang di kuping, lalu mencolok kabelnya pada hpku.


"Halo do?"


Ucapku memastikan bahwa headsetku bekerja.


"Iya ra, abis make headset yah?"


"Iya, kok tau?"


"Suaranya berubah...tapi wajah cantik kamu ga akan berubah kok"


"Ih apaansih do"


Aku tersenyum geli mendengar gombalannya


"Haha maaf - maaf.. kamu masih ngerjain revisi kan?"


"Masih kok"


Jawabku berbohong karena saat ini kedua tanganku justru sedang memegang hp, mataku menatap foto nando yang terpampang pada profilnya


"Yaudah, aku temenin ngobrol yah"


Ucap nando.


"Iya"


Tak ingin terus berbohong, aku meletakan hp di atas paha lalu kembali berfokus untuk melanjutkan revisi..


Kami sejenak terdiam, jariku sudah mulai menari di atas keyboard laptop.


"Ohiya ra, aku ada pertanyaan ngasal"


Ucap nando memecah keheningan..


"Maksudnya?"


"Kamu mau nikah umur berapa?"


Aku sama sekali tak siap dengan pertanyaan nando, jariku berhenti mengetik.


"Eh...mmm...gatau sih do, yang pasti kalo udah lulus kuliah"


Jawabku, gugup.


"Berarti kalo nanti kamu udah lulus trus ada yang ngajak nikah, mau?"


Tanya nando.


Aku meraih hp dan kembali menatap foto nando pada layar, entah mengapa aku tersenyum.


"Gatau"


Jawabku singkat, bibirku masih melengkung tersenyum.


"Oh.. yagapapa sih kalo mau ngejar karir dulu"


"Eh..engga...maksudnya..bukan gitu.."


"Hm?"


Suara nando seakan menunggu penjelasan.


"Yakalo ada calon yang pas sih kenapa engga"


Balasku lemah, entah kenapa aku merasa malu untuk mengucapkan hal tersebut.

__ADS_1


"Oh gitu...eh kamu masih lanjut ngentik kan?"


Aku segera menaruh hp dan kembali meletakan jari di atas keyboard lapop.


"Masih kok, kalo kamu do?"


Tanyaku, seraya menggerakan jari untuk mulai mengetik.


"Nikahnya?"


"Iya"


"Gatau ra, tapi paling lama dua tahun lagi lah"


"Pasti gakuat sama omongan mamah kamu yah?"


"Nah iya, kebelet pengen punya cucu dia ra haha"


Balas nando tertawa.


"Turutin aja sih do, mumpung masih ada"


Ucapku mengingat mamah.


"Iya, mangkanya aku lagi nyari"


"Udah ketemu?"


Lagi - lagi aku tersenyum.


"Hmm....kayaknya sih udah"


Balas nando.


Senyumanku semakin lebar, otot pipiku terasa tertarik akibat lengkungan bibirku.


"Siapa tuh?"


Tanyaku iseng.


"Yah...jangan nanya gitu dong ra"


Protes nando seakan tak setuju dengan pertanyaanku.


"Haha, jangan kenapa sih?"


"Gapapa"


Balas nando singkat.


"Ih, gajelas"


"Kamu juga"


"Enak aja, aku engga"


"Engga jelas?"


Jujur, obrolan ini memang tak jelas namun entah mengapa aku menyukainya.


"Tuhkan gajelas"


"Tau ah"


"Marah?"


"Kalo iya?"


"Ya maaf"


"Haha...ngomongin apasih kita"


"Gatau haha.. eh, revisinya tetep kerjain yah ra"


"Iya, ini aku sambil ngetik kok"


"Semangat! Aku juga sambil input nilai deh"


"Iyaiya"


Balasku singkat karena sedang fokus melanjutkan revisi.


Kamipun terdiam, aku fokus mengerjakan revisi sementara nando di seberang sana sedang menginput nilai sekolahnya. Walau tak berbicara, aku sempat beberapa kali memeriksa hp untuk memastikan bahwa nando tak menyudahi panggilan. Suara - suara kecil yang dapat ku dengar dari aktivitas nando disana seakan menemaniku mengerjakan revisi.


Setelah cukup lama, aku memutuskan untuk mematikan laptop, meletakannya di meja belajar, lalu bebaring di kasur dengan headset yang masih terpasang pada kupingku.


"Do.."


Panggilku seraya menarik selimut hingga se leher.


"Iya"


Jawab nando.


"Belum selesai input nilainya?"


"Belum ra, kamu udah selesai revisinya?"


"Belum juga, lanjut besok aja deh, capek"


Eluhku.


"Oh..sekarang kamu lagi ngapain?"


"Lagi tiduran aja"


"Mau tidur?"


"Iya kayaknya"


"Trus teleponnya mau udahan atau gimana?"

__ADS_1


"Gausah, kamu lanjut input nilai aja"


"Yaudah, tapi kalo kamu mau tidur jangan di tahan yah"


Cukup lama kami hanya berdiam, hingga aku merasa mataku sudah mulai berat.


"Ra?"


Panggil nando


"Emh...iya do"


"Sleepwell yah"


"Makasih ya do, kamu jangan malem - malem tidurnya"


"Iya sayang"


Ucap nando.


Aku sama sekali tak keberatan menerima panggilan sayang darinya, aku justru tersenyum lalu memejamkan mata.


Ke esokan harinya, jam 9 pagi.


Pov Anto.


Pagi ini, aku berada di kostan dan sedang menunggu kedatangan kak vina yang mengajakku untuk ikut kerumah temannya.


"Kakak udah di depan"


Pesan dari kak vina.


Aku segera keluar dari kamar, menguci pintu lalu melangkah ke depan kostan.


Kak vina yang sudah menggunakan pakaian rapih sedang berdiri di depan pagar kostan menenteng sebuah helm di tangan kirinya.


"Loh, kok bawa helm kak?"


Tanyaku seraya membuka pagar.


"Iya, kita naik motor aja yah?"


Balas kak vina.


"Oh yaudah"


Aku membuka pagar semakin lebar lalu segera mengeluarkan motorku.


"Ayo kak"


Ajakku setelah motor sudah menyala.


Kak vina mengangguk lalu dengan lincah menginjak step motor hingga pantatnya berhasil mendarat di jok motorku.


"Yuk, nanti kakak arahin jalannya"


Jawab kak vina.


Kak vina tampa ragu segera memeluk pinggangku.


Aku mengangguk lalu mulai melajukan motor meninggalkan area depan kostan..


Jalanan cukup ramai, di tambah lagi dengan cuaca yang mulai memanas.


Setelah sekitar setengah jam perjalanan akhirnya kami tiba di dalam sebuah perumahan yang berada di pusat kota.


"Itu to, rumahnya yang pager biru"


Aku menghentikan laju motor tepat di depan rumah yang kak vina tunjukan.


"Akhirnya sampe juga"


Ucap kak vina seraya melangkah turun dari motor.


Kak vina melangkah mendekati gerbang lalu mengeluarkan hpnya.


Sementara aku hanya duduk diam di atas jok motorku.


Tak lama, muncul wajah seorang pria yang nampak dari sela besi pagar.


"Udah nyampe vin?"


Ucap pria tersebut kepada kak vina sambil membuka gerbang.


"Iya, panas banget ih"


Eluh kak vina melangkah masuk ke dalam area rumah saat gerbang sudah terbuka..


"Ayo to, masukin aja"


Ucap kak vina kepadaku yang masih terdiam.


"Masukin aja bro, parkiran lega kok di dalem"


Saut pria tersebut kepadaku.


"Ohiyaiya"


Balasku kepada mereka.


Aku segera mendorong motorku masuk dan memarkirkannya di samping mobil sedan.


"To, ini kenalin temen kakak, namanya dimas, pacar shierly yang kemarin loh"


Ucap kak vina saat aku sudah turun dari motor.


"Ohiya bang.....anto"


Ucapku menjulurkan tangan untuk mengajak bersalaman.


"Dimas"

__ADS_1


Jawabnya seraya menjabat tanganku.


__ADS_2