
"Jadi kamu mau pulang to?"
Tanya kak vina sambil membersihkan mulutnya setelah selesai menyantap makanan.
"Gatau kak"
Aku memajukan wajahku memasukan ujung sedotan kedalam mulut.
"Menurut kak vina gimana?"
Lanjutki setelah menghisap jus jeruk.
"Kakak sih pengennya kamu pulang to. Tapi kakak sadar kok, kamu udah gede dan bisa hidup mandiri"
Jawab kak vina
Kak vina meraih gelas dari atas meja lalu meneguk isi di dalamnya.
"Apalagi itunya"
Lanjut kak vina tersenyum, lalu sedikit mengeluarkan lidah yang ia lipat ke tengah sehingga berbentuk bulat
"Apasih kak...."
Ucapku memalingkan wajah karena mengerti maksud ucapan kak vina.
"Tapi kakak tau kan masalah sebenernya kenapa aku berantem sama geri?"
Lanjutku bertanya.
"Tau kok, dia main sama lala, terus dia mau ngerjain kak kira, dan dia ngatain kamu kan?"
Aku terdiam, ternyata kak vina mengerti semua alasanku.
"Kakak tau kok kalo kamu ga bohong. Tapi kamu ga berani bilang ke papah karena ga tega kalo lala sampai di marahin papah kan?"
Lanjutnya.
Aku hanya bisa mengangguk.
"Kakak mau cerita sesuatu ke kamu to, kamu dengerin kakak yah"
Ucap kak vina.
Lagi - lagi, aku mengangguk.
"Sebenernya kakak kasian sama lala, dan kalo kakak jadi kamu, mungkin kakak juga ga akan bilang masalah ini ke papah.
Kakak sebenernya tau kalo dari dulu papah pengen banget punya anak cowok, cuman sampai lala lahir dan mamah meninggal ternyata ke inginan papah belum terwujud.
Entah kamu sadar apa engga yah to, dari kamu dan lala masih kecil, papah jelas lebih perhatian sama kamu dibanding lala.
Ya mungkin itulah alasan kenapa lala sekarang kayak gitu, mungkin pacarnya lala yang namanya geri itu bisa ngasih lala perhatian yang selama ini dia cari"
Jelas kak vina.
Mulutku terbuka, aku sama sekali tak menduga bahwa kak vina akan mengungkapkan ini.
Jujur, aku merasa bersalah kepada lala. Otakku bekerja, mengingat semua memori masa kecilku bersama lala.
"Kalo kamu sakit atau ada masalah, papah pasti langsung pulang. Kamu sadar ga sih kalo hari ini papah pulang karena masalah kamu berantem di sekolah, bukan karena masalah kamu yang udah bikin nangis lala?"
Lanjut kak vina
"Maaf kak"
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, aku bahkan tak mengerti mengapa aku justru meminta maaf kepada kak vina.
"Yah, kamu jangan sedih dong to"
Ucap kak vina, sambil menggenggam tanganku.
Aku mengangguk.
"Kakak cuman pengen kamu tau betapa sayangnya papah ke kamu kok. Yah, kakak nyesel deh cerita ke kamu"
Bujuk kak vina.
__ADS_1
Aku memaksa bibirku tersenyum.
"Iya kak"
Ucapku.
"Udah - udah, mending kita pulang yuk"
Ajak kak vina tersenyum
Aku tak menjawab ajakan kak vina.
"Atau mau ke kostan?"
Lanjutnya, kini senyumannya berubah nakal.
Aku tak menjawab.
"Yah anto, jangan sedih dong"
Bujuknya lagi.
Lagi - lagi aku berusaha tersenyum.
"Udah yuk, kita pulang..atau mau ke kostan aja?"
Tanya kak vina.
"Kakak maunya kemana?"
Perasaanku yang masih campur aduk membuatku hanya bisa balik bertanya.
"Ke kostan aja yuk"
Balas kak vina, kini ia sedikit menggigit bibir bawahnya.
Aku mengangguk.
POV Kak Kira
"Kamu beneran dek?"
"Iya kak, aku kalo ke sini selalu disuruh langsung masuk kok"
Jawab lala sambil membuka selot gerbang.
Aku mengikuti langkah lala memasuki area rumah hingga ke depan pintu yang terbuka.
Aku mengintip ke dalam rumah, melihat seorang wanita sedang duduk menonton tv.
Lala mengetuk pintu sehingga wajah wanita tersebut melihat ke arah kami.
"Eh ada kamu la, kirain siapa. Ayo silahkan duduk"
Ucap mamahnya geri sambil berdiri.
Aku dan lala masuk ke ruang tamu lalu duduk di kursi panjang.
"Duh, kebetulan geri lagi pergi pengobatan sama papahnya.. tapi tunggu bentar deh ya"
Ucap mamahnya geri kemudian melangkah menjauhi kami berdua.
Tak lama pintu terbuka, keluarlah seorang pemuda dengan badan yang sangat atletis.
Pemuda itu berjalan ke arah aku dan lala, lalu duduk di seberang kami.
"Oh lala, kirain siapa....ini?"
Ucap pemuda itu sambil melihat ke arahku.
"Ini kak kira, kakaknya lala"
Jawab lala.
"Oh maaf - maaf... Nando"
Ucapnya sambil menjulurkan tangan ke arahku.
__ADS_1
Entah kenapa, aku merasa canggung, namun aku memberanikan diri untuk meraih dan menyalam tanganya.
"Kira"
Jawabku.
Di saat yang sama, mamahnya geri muncul membawa sebuah nampan dengan beberapa gelas di atasnya
"Ini kakaknya lala bang, cantik kan."
Ucap mamahnya geri sambil meletakan gelas di atas meja.
"Apaan sih ma"
Jawab nando tersenyum.
Diam - diam aku melihat wajah nando.
Rambutnya terpotong rapih pendek di bagian kanan dan kirinya, dagunya lebar selaras dengan tubuhnya yang terlihat jelas sering berolahraga.
"Kuliah atau kerja kak?"
Ucap nando kepadaku.
Aku merasa aneh mendengarnya memanggilku dengan sebutan 'kak'
"Kuliah"
Jawabku singkat
Entah kenapa, aku malu untuk membalas tatapannya.
"Anak tante yang pertama ini guru olah raga loh, udah jadi pns. Tau nih kapan dia mau ngasih tante menantu"
Ucap mamahnya geri setelah selesai menyajikan gelas di meja.
Aku melirik nando.
Jujur aku kagum, ternyata selain penampilannya yang menarik dia juga memiliki status yang cukup membanggakan.
"Udah kek mah. Mamah mah gitu terus"
Ucap nando kepada mamahnya
Aku justru tersenyum melihat ke akraban mereka.
Mamahnya lalu duduk disamping nando, dan kami pun mengobrol mengenai masalah geri dan anto. Aku menyampaikan pada mereka, bahwa aku sudah mentranfer uang pertanggung jawaban.
"Kak"
Panggil lala di sebelahku saat aku sedang berkonstrasi mengendarai mobil
"Ya?"
Jawabku tanpa melihat ke arah lala.
"Ini liat"
Suruh lala.
Aku melihat ke arah lala.
Lala mengarahkan layar hpnya kepadaku, menampilkan sebuah pesan.
"Dek. Minta kontak kakak kamu boleh?"
Pesan yang dari nando.
"Ih apasih kamu la"
Jawabku, kembali melihat ke depan.
Entah kenapa aku malah tersenyum mengetahui nando meminta kontak ku.
Tanya lala, tertawa namun terkesan mengejekku.
"Terserah"
__ADS_1
Jawabku, pura - pura tidak peduli.