
Beberapa hari kemudian.
Jumat, jam 4 sore, di rumah pak nuel.
Pok Kak Kira.
Aku sedang berdiri menatap cermin di dalam kamarku, untuk memastikan bahwa aku sudah berpakaian dengan rapih untuk bertemu dengan nando sebentar lagi.
Entah mengapa, aku tak ingin terlihat jelek di hadapannya.
Aku memilih untuk menggunakan celana jegging putih dengan satu sobekan kecil di bagian pahanya dan atasan sebuah blouse berwarna cream.
Masih asik meneliti pakaianku. Hp yang ku letakan di meja rias bergetar.
"Ra, aku udah di depan yah"
Pesan dari nando.
Aku tersenyum..
Kemudian meraih tas dan hpku seraya melangkah keluar.
"Sore - sore rapih banget kak, mau kemana sih?"
Tanya vina yang sedang duduk di meja makan saat aku sudah berada di lantai satu.
"Kepo deh.. kakak mau pergi, kamu jagain rumah yah vin"
Balasku kepada vina seraya terus melangkah ke pintu rumah.
Di depan pagar, aku melihat nando sudah berdiri menunggu..
Tak sabar, aku segera melangkah menghampirinya.
"Ra...kamu"
Ucap nando saat aku sedang membuka pagar.
"Kenapa?"
Balasku saat pagar sudah sepenuhnya terbuka.
"Cantik banget"
Jawab nando terus menatapku.
Aku tersenyum.
"Apasih do...udah yuk"
"Ohiyaiya"
Jawab nando gugup.
Nando melangkah mundur menuju motornya.
"Eh, kita naik mobil aku kan?"
Tanyaku.
"Terserah"
Jawab nando menaiki motornya.
"Kamu bisa bawa mobil kan?"
Nando mengangguk.
"Yaudah masukin aja motornya"
Lanjutku kembali tersenyum.
Nando membalas senyumanku lalu mendorong motornya masuk ke area parkiran..
Aku dan nando pun menghabiskan sore dengan makan di sebuah restoran, setelah itu nando mengajakku untuk pergi ke bioskop.
Di dalam studio, aku merasakan nando secara perlahan menyentuh tanganku. Jujur aku sama sekali tak keberatan di sentuh oleh dia, aku hanya mendiamkan tanganku hingga akhirnya telapak tangan nando sepenuhnya berada di atas tempurung tanganku...
Kamipun terhanyut menonton film yang di tayangkan.
Selesai menonton, waktu sudah menujukan pukul setengah 8 malam.
"Kamu suka kopi ga ra?"
Tanya nando saat kami sudah berada di luar studio.
"Biasa sih do, paling cuman kalo lagi pengen aja"
Balasku
"Kita ke tempat kopi temenku, mau?"
Tawar nando.
"Ehm....engga deh do"
__ADS_1
Tolakku.
"Terus mau kemana?"
"Kita ke rumah aku aja, mau?"
Tawarku yang entah mengapa hanya ingin berdua dengan nando malam ini.
Nando tersenyum..
"Yuk"
Balas nando kemudian meraih tanganku untuk mulai berjalan bersamanya.
Aku balas tersenyum dan pasrah mengikuti ajakan nando.
Kami kini sudah berada di dalam mobil, namun nando tidak segera menyalakan mesinnya.
"Ra"
Panggil nando.
Aku hanya terdiam menatapnya..
Perlahan nando memajukan kepala. Aku menutup mata. Bibirnya bersentuhan dengan bibirku.
Kami berciuman
Entah berapa lama, tiba - tiba aku merasakan nando menyentuh lenganku.
Aku dengan cepat mendorong dadanya hingga ciuman kami terlepas.
"Lanjut di rumah aja ya do"
Ucapku sayu.
Nando tersenyum.
Ia kemudian menyalakan mesin mobil dan segera menginjak pedal gas hingga kami mulai berangkat menuju rumah..
Di depan rumah.
Aku menemukan pagar sudah sedikit terbuka, mataku terkunci pada seorang pria yang sedang berdiri di area parkiran rumah.
Anto.
Melihat kedatangan kami, anto segera membuka gerbang hingga sepenuhnya terbuka, nando melajukan mobil masuk ke area parkiran..
Mobil terparkir, aku dan nando segera melangkah turun..
"To, ini kenalin..nando...abangnya geri"
Ucapku entah mengapa ragu.
Nando berjalan menghampiri anto..
"Salam kenal ya to, adiknya kira kan yah?"
Ucap nando menjulurkan tangan..
Anto sempat terdiam.
Perlahan ia mulai menggerakan tangan berjabatan dengan nando.
"Bukan, anak pembantunya"
Jawab anto, dengan wajah tersenyum polos.
Jujur, hatiku terasa sakit saat mendengar ucapan anto.
"Saya siapin minumnya dulu yah"
Ucap anto kemudian berjalan meninggalkan kami.
Aku masih terdiam mematung.
Nando berjalan menghampiriku.
"Ra?"
Panggil nando yang nampaknya sadar dengan perasaanku.
"Ra, anto beneran..
"Kamu pulang dulu deh do"
Aku memotong ucapan nando.
Nando menatapku bingung, namun kemudian mengangguk dan mulai melangkah untuk membuka gerbang.
"Jangan tidur malem - malem yah ra"
Ucap nando saat ia sedang mengeluarkan motornya.
Aku hanya mengangguk.
__ADS_1
Nando menutup gerbang sambil terus menatapku kemudian segera berangkat pulang.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, aku menemukan vina sedang duduk di ruang tamu.
"Loh, nandonya mana kak?"
Tanya vina.
Aku sama sekali tak peduli dengan pertanyaan vina dan terus melangkah masuk ke dalam rumah.
Aku kemudian menemukan anto sedang sibuk menyiapkan minuman..
"Kamu jahat yah to"
Ucapku seraya mulai melangkah menaiki tangga.
"Maaf"
Balas anto.
Langkahku terhenti.
"Saya cuman ngikutin apa yang non kira mau, kalo non kira cuman nganggep saya sebagai anak pembantu yang numpang di rumah ini, saya terima. Saya udah sadar diri, saya gamau lagi kurang ajar dan bersikap lebih dari yang seharusnya... Saya masih sering kesini karena nurutin permintaan pak nuel, tapi saya janji setelah saya lulus sma nanti saya akan langsung pamit"
Ucap anto.
Bibirku bergetar menahan tangis saat mendengar anto memanggilku dengan sebutan 'non', sebagaimana ibunya memanggilku dulu..
"Maaf yah non, saya bener - bener minta maaf karena waktu itu udah bikin nangis non lala, mukulin geri pacaranya non lala yang juga adiknya mas nando temannya non kira"
Lanjut anto.
Air mataku menetes, ingin sekali rasanya aku meminta maaf dan menarik semua ucapanku malam itu.
Namun dengan menahan luapan emosiku aku segera lanjut melangkah menaiki tangga kemudian masuk ke kamarku.
Aku membenamkan wajahku di kasur..
"Maafin kakak to....maafin kakak"
Ucapku menangis..
Entah setelah berapa lama aku mendengar suara langkah kaki masuk ke kamarku, aku segera mengeringkan air mata di wajahku dan berusaha menghentikan tangisanku.
Aku melihat ke arah pintu.
Vina, ia tersenyum kemudian duduk di sampingku.
"Kak"
Panggil vina mengelus punggungku.
Aku terdiam.
"Vina tau kok kalo kakak sebenernya sayang sama anto"
Ucap vina..
Aku menundukan kepala untuk menyembunyikan tangisanku.
"Anto juga sayang sama kakak....vina udah sering ngajak anto pulang, tapi dia gamau, karena dia gamau lagi ngerepotin kakak.. Cuman kakak yang bisa bikin anto pulang... Jujur aku berharap kakak mau baikan sama dia, aku gamau kehilangan adik kita... Aku yakin kakak juga gamau kan?"
Lanjut vina.
Tangisanku pecah.
Aku bangkit berdiri dan menarik lengan vina untuk segera menemui anto.
"Kak...anto udah pulang"
Ucap vina menahan tarikanku.
"Kostannya dimana vin? Anterin ke konstannya!"
Pintaku sambil terus menangis.
"Kak...."
Panggil vina seraya menggenggam tanganku..
Aku melepaskan lengannya.
"Vina udah janji ke anto gabakal ngsasih tau ke siapa - siapa dimana konstan dia, besok aja yah vina suruh anto ke sini lagi"
Ucap vina.
Aku menganggukan kepala dua kali.
"Udah dong kak, jangan nangis lagi"
Vina kemudian memeluk kepalaku hingga aku bersandar di dadanya.
Aku terus menangis, di dalam pelukan adikku sendiri.
__ADS_1