Pria Culun

Pria Culun
Bab 15 Menghadap Pak Nuel


__ADS_3

"Kiri bang"


Ucapku sambil mengetuk atap mobil angkutan umum yang sedang ku tumpangi ini.


Mobil berhenti, aku segera melompat keluar dan membayar biaya perjalananku kepada supir angkot. Selesai membayar, aku mulai melangkah memasuki area komplek, hingga akhirnya tiba di depan rumah bertingkat.


Aku mengeluaekan hp yang kemarin di bawakan oleh kak vina.


"Kak, aku di depan"


Isi pesan yang ku kirim kepada kak vina.


Selang beberapa menit.


Pintu rumah terbuka, kak vina muncul dari baliknya. Kak vina tersenyum, lalu melangkah mendekati gerbang.


"Kesini naik apa to?"


Tanya kak vina sambil membuka kunci gerbang.


"Angkot kak"


Pintu gerbang terbuka.


Masih dengan senyuman di wajahnya, kak vina menggeser badan untuk mempersilahkanku masuk.


"Makasih kak"


Ucapku, lalu melangkah melewati gerbang.


"Kamu tunggu di teras yah to, biar kakak panggilin papah dulu"


Ucap kak vina, menutup gerbang lalu mulai melangkah.


Aku berjalan di belakang kak vina. Setibanya di teras.


Aku berhenti, sementara kak vina terus masuk ke dalam rumah.


Jujur, jantungku mulai berdebar, menyadari bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan pak nuel.


Selang beberapa saat.


"Sini to"


Teriak kak vina dari dalam rumah.


Aku memberanikan diri untuk masuk.


Di ruang tamu, aku menemukan kak vina sedang meletakan dua gelas minuman di atas meja.


"Duduk dulu to, papah masih di kamar"


Ucap kak vina.


Aku meletakan tubuhku terduduk di atas sofa yang berada paling dekat dengan pintu.


"Panggilin kakak sama adikmu vin"


Suara pak nuel.


Selang beberapa detik.


Munculah seorang pria tua yang menggunakan kaca mata dengan rambut tipis namun tersisir rapih.


Di wajahnya aku dapat melihat ke wibawaan.Tubuhnya masih tegap walau kulitnya sudah nampak mulai berkeriput.


Pak nuel melangkah ke arahku dan berhenti di samping sofa yang ada di seberangku.


Reflek, aku berdiri untuk menunjukan rasa hormat akan kehadirannya.


"Duduk aja. Kita tunggu dulu kakak dan adikmu"


Ucap pak nuel, lalu menurunkan tubuhnya duduk.


Mendengar ucapan pak nuel, kembali duduk sambil melihat tubuh belakang kak vina yang sedang menaiki tangga.


"Sehat kamu to?"


Tanya pak nuel.


"Sehat pak"

__ADS_1


Jawabku sambil mencoba sedikit tersenyum.


Aku mendengar suara langkah kaki. Kak vina dan lala sudah berada di anak tangga paling bawah, sementara kak kira berada di belakang mereka berdua.


Ke tiga gadis cantik itu bergerak maju, segera ku lemparkan pandanganku ke arah meja yang berada di antara aku dan pak nuel.


"Sebenarnya kamu ada masalah apa disekolah to?"


Tanya pak nuel.


Sudut mataku melihat tiga pasang kaki sudah berada di pinggir sofa.


Aku menarik nafas panjang, lalu memberanikan diri menaikan pandangan menatap pak nuel.


"Saya berkelahi pak"


Jawabku.


"Kenapa?"


Tanya pak nuel dengan tenang.


"Ibu saya di hina, saya emosi"


Pak nuel sejenak terdiam setelah mendengar jawabanku.


Ia mengalihkan pandangannya kepada kak kira yang sudah duduk paling dekat dengannya.


"Apa benar dia pengen melakukan tindakan buruk kepada kira?"


Tanya pak nuel.


Pak nuel kembali melihatku.


Nyaliku menciut, aku segera menurunkan pandanganku kembali ke meja.


Entah mengapa, aku tak yakin untuk menjawab pertanyaan pak nuel.


"Kamu berbohong kepada kakakmu to? Jadi sebenarnya kamu berkelahi karena ingin membela kak kira atau karena ibu kamu di hina?"


Tanya pak nuel lagi.


Lala tak melihatku, namun jelas terbaca bahwa ada ke khawatiran di wajahnya.


"Maaf pak"


Ucapku pelan, sembari mengembalikan pandanganku ke meja


"Trus kenapa kamu pergi dari rumah to?"


Tanya pak nuel.


Aku terdiam.


"Kamu marah sama kakakmu?"


Tanya pak nuel lagi.


Egoku seakan menghilang mendengar pertanyaan - pertanyaan dari pak nuel.


Aku semakin menurunkan pandangan kebawah, hingga aku hanya dapat melihat dengkulku sendiri.


"Saya tau kamu anak baik - baik to, saya percaya sama kamu, tapi kamu juga harus mengakui bahwa apa yang kamu lakukan itu salah"


Ucap pak nuel.


Semua rasa pembenaranku seakan mati di telan ucapan pak nuel. Hinaan geri terhadap ibu, rencana geri kepada kak kira, tindakan geri kepada lala.


Aku tersadar bahwa semua alasan itu tidak bisa membenarkan apa yang aku lakukan kepada geri.


"Sekarang saya tanya, apa kamu mau tetap tinggal di sini?"


Tanya pak nuel.


Aku memberanikan diri melihat kak kira, ternyata kak kira juga sedang melihatku.


Mata kami bertemu, wajah kak kira jelas marah karena merasa bahwa aku telah membohongi dirinya.


"Saya ga mau lagi numpang di sini pak"


Ucapku, walau sekuat tenaga, namun tetap terdengar pelan.

__ADS_1


Mataku terus menatap kak kira. Wajah kak kira berubah, alisnya mengernyit seakan tersinggung mendengar ucapanku.


"Maksud kamu apa?"


Tanya pak nuel.


Aku sama sekali tak menanggapi pertanyaan pak nuel.


"Ga ada seorangpun yang menganggap kamu numpang di rumah ini!"


Suara pak nuel meninggi.


Entah mengapa, aku merasa puas, setidaknya rasa kekecawaanku terhadap kak kira se akan telah tersampaikan. Keberanianku meningkat, aku menatap pak nuel.


Pak nuel melihat ke arah kak kira.


"Sayapun juga kecewa kalo masih ada yang menganggap kamu numpang di rumah ini"


Ucapnya, terdengar secara tak langsung sedang berbicara kepada kak kira.


Jujur, aku merasa menang.


Sudut kiri mataku dapat melihat kak kira segera menurunkan wajahnya.


"Tapi bagaimanapun juga, kamu harus ingat ibu kamu. Tamatkan sekolah! Jangan sia - siakan semua perjuangan ibu mu. Sekarang kamu maunya apa?"


Pak nuel kembali berbicara kepadaku


Perasaanku tercampur.


Kata - kata pak nuel 'semua perjuangan ibu' langsung memenuhi otakku.


Aku terdiam, tak bisa menentukan apa yang aku inginkan.


"Saya mengerti perasaan kamu, tapi saya minta kamu untuk tetap sekolah, karena itu janji saya terhadap mendiang ibu mu."


Lanjut pak nuel.


Pak nuel bangkit berdiri lalu membalikan badan, berjalan meninggalkan kami berempat diruang tamu.


Aku, lala, kak vina dan kak kira hanya terdiam.


Namun tiba - tiba kak kira bangkit dari duduknya, kemudian melihat ke arahku.


"Kamu tega yah to"


Ucap kak kira, juga pergi meninggalkan ruang tamu.


Selang beberapa detik, aku merasakan tangan kiriku di sentuh.


Aku melihat ke kiri, ternyata kak vina yang duduk paling dekat denganku sendang mengusap tempurung tanganku


"Temenin kakak makan yuk"


Ajak kak vina tersenyum.


Aku mengerti bahwa kak vina mencoba untuk menenangkan perasaanku.


Aku mengangguk.


Elusan kak vina berubah menjadi genggaman.


Kak vina berdiri, tanganku tertarik, aku ikut berdiri.


Saat aku dan kak vina hendak pergi meninggalkan ruang tamu.


"To"


Suara lala memanggilku.


Aku melihat ke arah lala yang masih duduk di tengah sofa.


"Pulang"


Ucap lala


Aku tersenyum.


"Iya"


Jawabku.

__ADS_1


__ADS_2