Pria Culun

Pria Culun
Bab 8


__ADS_3

Geri mundur kebelakang sambil membungkukkan badan, tangan kirinya memegang area ************ sementara tangan kanannya memegang perut.


Aku maju mengimbangi langkah geri. Lagi - lagi ku angkat dengkulku ke atas hingga beradu dengan wajah geri.


Badan geri semakin membungkuk. Geri menjatuhkan badannya ke kanan ku. Tubuh geri tiduran menyamping di lantai, menekuk seperti huruf C. Tangan geri masih memegang ************ dan perutnya, bagaian atas mulutnya berwarna merah berlumur darah yang keluar dari hidungnya.


Aku menurunkan badanku mendekati geri. Tangan kiriku mendorong paksa pundak kanan geri hingga ia tiduran telentang. Dengkul kiriku aku letakan di atas dada geri.


Aku menarik tangan kananku yang terasa ringan ke belakang, dengan sekuat tenaga ku dorong tangan kananku ke depan hingga kepalan jariku berbenturan keras dengan wajah geri.


"Aghk"


Aku kembali menarik tanganku ke belakang, lalu melayangkan lagi kepalan tanganku ke wajahnya.


"M*T* LU B*N*S*T!"


Teriakku sambil terus melayangkan pukulanku ke wajah geri.


Geri sama sekali tak sempat melawan. Aku terus memukul wajahnya. Wajah geri mulai di penuhi d*r*h. Aku bahkan bisa meraskan tanganku terasa perih karena terus beradu dengan wajahnya.


"A*J*N*GG!!"


Teriaku lagi.


Tanganku terasa sakit. Namun tak seberapa bila dibandingkan dengan rasa sakit yang sudah geri berikan padaku.


Aku sangat menikmati setiap momen saat kepalan tanganku beradu dengan wajahnya.


Namun tiba - tiba puk*l*nku terhenti.....


"ANTO STOP!"


Teriakan suara yang sangat ku kenal.


Suara lala..


Aku memutarkan kepalaku melihat ke belakang. Lala sedang berdiri di pintu kamar mandi. Aku bisa melihat jelas wajahnya yang sudah basah dibanjiri air mata, sementara tangan lala menggenggam erat tangan bagas yang berada di sampingnya.


"Papah harus tau.."


Ucap lala sambil menangis.


Lala melepaskan tangan bagas lalu memutarkan badannya. Dengan cepat lala berlari meninggalkan kamar mandi.

__ADS_1


Aku melepaskan kepalan tanganku karena menyadari perbuatanku. Kujatuhkan tubuhku terduduk di lantai.


Bagas melangkah masuk ke dalam kamar mandi berjalan ke arah geri melewati hadapanku. Bagas menarik tangan kiri geri dan dirangkulkan ke lehernhya sendiri untuk membantu geri berdiri.


Mereka berdua mulai berjalan, dan saat tepat berada di depanku, geri mengarahkan wajahnya yang penuh darah ke arahku


Geri menggerakan tangannya yang bergetar ke arah sakunya. Geri menjatuhkan sesuatu ke lantai, kunci motorku.


"Culun"


Ucap geri pelan sembari beberapa tetes darah keluar dari dalam mulutnya lalu lanjut melangkah pelan meninggalkan aku sendiri di kamar mandi.


Aku hanya duduk terdiam. Menyesali apa yang sudah ku lakukan. Awalnya aku mengira bahwa aku berhasil memberikan geri pelajaran, tapi ternyata ini semua rencananya.


Cita - citaku, mendiang ibuku, semua orang yang selama ini membantu hidupku.. Aku menyesal.


Seandainya waktu bisa ku putar, walau hanya beberapa jam saja. Mungkin aku akan merubah keputusanku dan menuruti permintaan geri untuk membantunya mendapatkan kak kira. Setidaknya aku tidak perlu takut untuk kehilangan tempat tinggal seperti ini.


Aku mengutuk keberuntungan yang tak pernah berpihak kepadaku. Aku membenci tuhan yang tak pernah membantuku. Aku menghujat setan yang tak pernah membagi kenikmatan padaku.


Aku tersenyum dan menertawakan diriku sendiri.


POV Anto


"Semoga kak kira ngerti"


Ucapku dalam hati sambil menarik gas motorku melaju keluar dari area pakirkan.


___


Setibanya di depan rumah. Aku turun dari motor dan melangkah mendekati gerbang. Saat aku membuka gerbang, aku melihat kak kira dan lala sedang duduk di teras rumah. Mata kak kira melihat ke arahku, ku percepat proses membuka gerbang lalu ku dorong motorku masuk ke dalam.


Dengan kepala menunduk, aku mulai berjalan pelan ke teras rumah.


"Kamu punya otak ga sih to?!"


Bentak kak kira sambil bangkit dari duduknya, saat aku sudah berada di hadapannya.


Aku melirik ke arah lala. Matanya merah dan sedikit membengkak, tapi setidaknya dia sudah berhenti menangis. Aku kembalikan pandanganku ke bawah, hanya bisa melihat kaki kak kira yang berdiri di depanku.


"Kamu mikir apa sampe tega nyakitin pacarnya lala?!"


Bentak kak kira.

__ADS_1


Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku, melihat wajah kak kira yang sedang menahan emosi.


"Geri pengen ngerjain kakak, aku cuman ingin ngejagain kak kira."


Jawabku pelan.


Ekspresi wajah kak kira terlihat sedikit berubah, ia sejenak terdiam setelah mendengar ucapanku.


Namun akhirnya ia kembali mengangkat suara..


"TAPI GA GINI CARANYA ANTO!"


Bentak kak kira, lebih kencang dari bentakan sebelumnya.


"Dia yang..."


"DIAM!"


Teriak kak kira sambil melayangkan tangan kanannya ke arah pipiku.


*Paakkk*


Suara tangan kak kira saat menampar pipi kiriku. Wajahku terasa panas, begitu juga hatiku melihat sikap kak kira.


"Kamu hampir ngebunuh orang"


Ucap kak kira pelan.


Ingin rasanya aku menyanggah ucapan kak kira, namun ku urungkan niatku. Wajar, mungkin lala sangat takut melihat darah sehingga melebih - lebihkan ceritanya kepada kak kira.


"Sadar to, kamu udah tega bikin lala nangis, padahal kamu cuman numpang di sini" lanjutnya


Jujur, emosiku terpancing saat mendengar ucapan kak kira. Aku menekan rahang atas dan bawahku, dengan yakin aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah melewati kak kira.


"KAKAK MASIH NGOMONG!"


Teriak kak kira saat aku baru melewati pintu.


"PAPAH SABTU INI PULANG!"


Teriaknya lagi, saat ini aku sudah berada di ruang tamu.


"Gausah repot - repot"

__ADS_1


Jawabku setengah berteriak tanpa menghentikan langkahku.


__ADS_2