
"kak vina beneran ga mau langsung aku anterin ke rumah aja?"
Tanyaku pada kak vina yang baru saja turun dari motor.
"Kakak mau numpang istirahat di kamar anto dulu, boleh kan?"
Balas kak vina seraya membuka gerbang kostanku.
Aku tersenyum.
"Boleh kok"
Jawabku mengangguk.
Gerbang kostan terbuka, aku segera memarkiran motorku. Selesai kak vina menutup gerbang, ia kemudian mulai berjalan menuju kamar kostanku.
Aku mempercepat aktivitas melepas helm lalu melangkah menyusul kak vina.
"Capek to, mau cepetan rebahan"
Balas kak vina.
Kak vina mengambil satu langkah ke samping memberikanku ruang untuk membuka pintu, ku masukan kunci ke dalam selot kemudian segera membukanya.
Pintu kamarku terbuka.
Aku melangkah masuk bersama kak vina. Kak vina tanpa ragu segera menghempaskan tubuhnya berbaring di atas kasur.
"Aah....akhirnya bisa rebahan juga"
Eluh kak vina bebaring di atas kasur.
Aku hanya tersenyum melihat ke letihan kak vina.
"Mau ku beliin minum kak?"
Tawarku saat hendak menutup pintu.
"Boleh deh to, tolong ya"
Balas kak vina sambil membuka tas kemudian mengeluarkan dompet.
"Gausah kak, ini uang yang kakak kasih masih ada kok"
Ucapku menyadari apa yang hendak di lakukan kak vina.
Masih dalam posisi berbaring, kak vina menggeser pandangannya menatapku.
"Beneran? Uang itu kakak kasih buat makan kamu loh to"
Ucap kak vina dengan tangan memegang dompet.
"Iya kak"
Balasku tersenyum.
Tak ingin menunggu lama, aku segera melangkah keluar dari kamarku kemudian pergi menuju warung yang berada di samping kostan, membeli dua botol minuman untuk aku dan kak vina lalu melangkah kembali menuju ke kamar.
Di dalam kamar, aku menemukan kak vina masih berbaring sambil memainkan hp.
"Nih kak"
Ucapku yang kini sudah berdiri di samping kasur, menyodorkan satu botol minuman kepada kak vina..
"Makasih yah to, maaf ngerepotin"
Balas kak vina seraya menerima botol minuman yang ku berikan..
Aku hanya mengangguk kemudian berjalan mundur untuk menutup pintu kamar. Pintu kamar tertutup, aku kembali mendekati kak vina lalu duduk di pinggiran kasur dengan posisi membelakangi kak vina.
Sejenak kami terdiam mencoba melepas dahaga, menikati cairan dingin dari botol yang saat ini kami genggam.
Setelah beberapa saat, kak vina yang masih tiduran di belakangku meletakan tangan kanannya di atas pahaku.
"Tadi ngobrolin apa aja to sama dimas?"
Tanya kak vina, tangannya mengelus pahaku dari luar celana.
"Yagitu kak, ngobrolin masalah aku sama orang rumah..terus ngobrolin masalah perkuliahan dia juga"
"Sebenernya tadi kakak ga enak ninggalin kamu sendirian di sana"
"Gapapa kok, dari pada aku sendiri di kostan ga ada temen"
__ADS_1
"Iyasih"
Jawab kak vina.
Tiba - tiba kak vina memanjangkan tangannya sehingga kini ia mengelus penisku dari luar.
"Kak.."
Ucapku sambil menggenggam pergelangan tangan kak vina..
Kak vina justru dengan cepat duduk di belakangku, kemudian menepelkan dadanya yang empuk dengan punggungku.
"Kakak pengen to"
Bisik kak vina tepat di samping telingaku dengan tangan kanan yang masih mengelus selangkanganku.
"Pintu kamar aku kunci dulu yah kak"
Ucapku mencoba menyingkirkan tangan kak vina.
Namun kak vina justru melingkarkan tangan kirinya memeluk perutku.
"Nanti aja, ngadep sini dong to"
Bisiknya..
Aku hanya bisa pasrah menuruti permintaan kak vina.
Tangan kanannya kini memijiti penisku, tangan kirinya memelukku erat membuat hangat tubuh bagian depannya menempel dengan punggungku.
Aku menghadap ke kiri...
"Emh"
Aku sedikit mendesah saat mendapatkan ciuman hangat dari kak vina, di tambah lembutnya remasan tangan kak vina di penisku.
Namun ciuman kami langsung terlepas.
"Ih..kamu ngerokok yah?"
Ucap kak vina tepat di depan wajahku, tangan kanannya berhenti meremasi penisku..
Mendengar ucapan kak vina, jantungku berdebar, takut bahwa ia akan marah kepadaku.
"Ah....eh...itu....maaf kak"
Kak vina segera melepaskan tubuhku, turun dari kasur kemudian melangkah menuju pintu kostan.
"Kak....maaf"
Aku panik.
Kak vina meraih gagang pintu kemudian menguncinya..
*Klek*
Suara pintu kamar terkunci.
Kak vina menatapku tajam, kemudian berjalan mendekatiku..
"Kamu kakak hukum"
Ucap kak vina saat ia sudah berada di depanku yang masih duduk di pinggir kasur.
"Ah? Maksummphh"
Ucapanku terpotong saat kak vina dengan cepat segera ******* bibirku.
Kak vina bahkan meletakan kedua lututnya di sisi pinggulku, kemudian mendorong tubuhku menggunakan tubuhnya hingga aku berbaring pada kasur dengan kaki masih menyentuh lantai..
Aku yang sudah terbuai dengan bibir kak vina hanya bisa pasrah menikmati hangat ciumannya.
Ciuman kami terlepas.
"Masih sekolah, udah berani ngerokok"
Ucap kak vina dengan hidung yang masih menempel dengan hidungku.
Kak vina kembali menciumku. Kak vina kini menjatuhkan pinggulnya menindih selangkanganku.
"Emmhh"
Desahku saat merasakan kak vina menggerakan - gerakan pinggulnya sehingga penisku yang sudah mengeras terasa sesak.
__ADS_1
Kami terus berciuman..
Entah siksaan atau kenikmatan yang ku rasakan akibat gerakan pinggul kak vina yang terus terasa menekan - nekan penisku.
Akhirnya ciuman kami kembali terlepas.
"Kak....sese....
"Ssstttt"
Desis kak vina sambil menempelkan jari manisnya dengan bibirku yang masih terasa basah akibat ciuman kami..
"Ngerokok berapa batang?"
Tanya kak vina sedikit mengangkat jarinya.
"Engga kak...cuman....
"Ssssttt"
Kak vina kembali menyentuh bibirku dengan jarinya
"Sebut aja berapa batang"
Ucap kak vina.
Jarinya diangkat.
"Dua"
Jawabku jujur.
Kak vina terus menatapku dengan tatapan jahatnya.
"Beneran cuman dua?"
"Iya"
"Kenapa ga tiga?"
"Ah? Maksemmphh kak"
Ucapanku terganggu saat kak vina dengan kuat menekan pinggulnya sehingga penisku terasa sangat sesak.
"Bilang tiga gitu"
Ujar kak vina.
"Iya kak, tiga"
Balasku pasrah.
Kak vina tersenyum lalu mendekatkan bibirnya dengan bibirku..
"Berarti kamu gaboleh keluar sebelum kakak keluar tiga kali"
Ucap kak vina dengan bibir tepat berada di depan bibirku.
Kak vina kemudian menjilat bibirku lalu segera menegakan badannya sehingga kini ia sepenuhnya duduk di atas selangkanganku..
Aku hanya bisa pasrah menuruti permainan kak vina yang justru membuat penisku semakin mengeras.
"Tutup mata"
Ucap kak vina yang kini sudah duduk tegak, kepadaku yang masih berbaring mengikuti permainnya.
Aku menutup mata.
Entah apa yang kak vina lakukan, setelah beberapa saat, aku merasakan sesuatu di letakan di depan wajahku.
Sedetik kemudian aku merasakan sesuatu yang kenyal menempel dengan bibirku.
"Mulutnya buka"
Suruh kak vina.
Aku membuka mulut.
Penisku terasa semakin mengeras, tanpa melihat aku dapat mengetahui bahwa kak vina baru saja meletakan putting *********** di dalam mulutku.
"Isepin"
Ucap kak vina.
__ADS_1
Aku dengan semangat mulai menghisapinya. tak peduli dengan ucapan kak vina, aku membuka mata untuk dapat menikmati indah wajah dan payudara kak vina.
Namun saat aku membuka mata, yang ku temukan bukan lah wajah kak vina, melainkan bagian dalam bh merah kak vina yang ia gunakan untuk menutup mataku. Bh kak vina bahkan tertekuk ke dalam akibat tindihan badan kak vina yang memaksa puttingnya untuk masuk ke mulut.