Pria Culun

Pria Culun
Bab 7 Rencana Busuk Geri


__ADS_3

"Mending lu bantuin gua dah to, dari pada satu sekolah tau kalo lu itu anak haram"


Bisikan geri kemarin yang membuatku terdiam menyadari bahwa ia mengetahui rahasia terbesar dalam hidupku.


"Oi gimana? Selow ntar lu gua kasih dah sisaannya haha"


Ucap geri kembali menanyai keputusanku, hatiku sedikit mengerenyit membayangkan kak kira dan maksud arti kata 'sisaan' yang di ucapkan geri.


Aku hanya terdiam, mungkin ini adalah momen dimana aku harus mengambil keputusan terberat dalam hidupku.


Menyelamatkan diri ku sendiri dan mengorbakan kak kira atau menyelamatkan kak kira dan mengorbankan diriku sendiri.


Aku coba menenangkan diriku untuk berfikir sejenak. Hingga akhirnya aku mulai terdorong untuk mengambil salah satu keputusan.


"Woi buset dah. udeh culun, congean lagi ini anak"


Bentak geri sepertinya sudah tak sabar menunggu jawabanku.


Aku sekali lagi mempertimbangkan pilihanku. Aku ngerasa ga akan kuat bila harus menahan semua ini. Ya, aku yakin dengan keputusanku ini. Entah apapun yang akan terjadi, aku hanya berharap keberuntungan akan berpihak pada ku dan kak kira


Aku mengambil nafas panjang sambil membulatkan tekad pada keputusanku. Aku pelan membalikan badanku lalu berjalan menuju pintu kamar mandi.


"Oh oke, kaga susah kok buat nikmatin badan ***** kakak lu"


Ucap geri saat melihat aku melangkah pergi meninggalkannya.


Kupingku terasa panas mendengar geri memanggil kak kira dengan sebutan '*****', aku menghentikan langkahku percis di pintu kamar mandi, lalu kepalaku melirik ke belakang menatap geri yang juga membalas tatapanku.


"Coba gih"


Balasku dengan tenang.


Aku melihat bagas seperti terpancing emosi dan ingin bergerak ke arahku, namun tangannya di tahan oleh geri yang masih saja menatapku tajam.


Hingga bel menandakan waktu pulang berbunyi. Tidak seperti biasanya, aku memilih untuk tinggal sejenak di dalam kelas.


"Bodo dah"


Gumamku dalam hati, masih memikirkan keputusanku untuk melawan geri.


Kondisi kelas mulai sepi, aku merapikan alat sekolahku lalu melangkah menuju kelas lala.


Setibanya di sana, aku tidak melihat lala ada di dalam kelasnya. Aku mengeluarkan hp dan mengirimkan pesan wa ke lala.


"Pulang bareng ga?"


Isi pesan yang ku kirim

__ADS_1


Aku berdiri didepan kelas lala menunggu balasan darinya. Entah berapa lama aku menunggu hingga sekolah mulai sepi, bahkan kelas lala kini sudah benar - benar kosong.


Tiba - tiba hp yang ada di genggamanku bergetar.


"Aku bareng geri"


Balasan pesan yang ku terima dari lala.


Aku menaruh hp ke dalam saku baju lalu berjalan ke arah tangga. Setibanya di area parkiran, aku merogoh kedua kantong celanaku.


Aku menaruh tasku di bawah lalu membuka semua bagian tasku.


Sebuah suara dibelakangku saat aku sedang merunduk memeriksa tas.


Aku melihat ke belakang. Bagas sedang berdiri percis di pinggiran koridor yang lantainya sedikit lebih tinggi dari aspal parkiran.


"Lu ditungguin geri di kamar mandi"


Ucap bagas sambil memutarkan badannya lalu melangkah menjauhiku.


Aku membangkitkan badanku. Ku tarik tasku ke atas lalu ku tutup semua reseletingnya. Aku berjalan ke arah koridor sambil meggendong tas yang talinya hanya terkait satu di lengan kiriku.


Sesampainya di depan kamar mandi, aku bisa merasakan jantungku berdetak cepat.


Teriak bagas yang berdiri di pintu kamar mandi.


Ternyata di dalam kamar mandi hanya ada geri. Geri sedang berdiri di depan westafel tempat ia biasa duduk. Geri melirik ke arah pintu kamar mandi lalu menggerakan alisnya, beberapa detik kemudian aku mendengar suara pintu kamar mandi yang ada di belakangku di tutup.


"Ribut kita to?"


Tanya geri dengan tenang.


Aku terdiam sambil melihat mata geri. Geri malah menghindari tatapanku.


Ucap geri sekali lagi.


Geri memajukan posisinya satu langkah ke depan hingga jarak kami hanya beberapa centi. Matanya yang tadi menghindariku tiba - tiba membalas tatapanku.


Postur tubuhnya lebih tinggi dariku, aku harus sedikit melihat ke atas untuk bertatapan dengannya.


"Kalo emang culun mah gausah banyak gaya"


Ucap geri percis di hadapanku.


Geri membalikan badannya ke belakang lalu berjalan menuju westafel sambil tangan kirinya mengeluarkan bungkus rokok dan korek gas dari saku celanannya.


Geri memutarkan badannya kembali menghadap ke arahku. Lalu ia mengangkat badannya duduk di atas westafel.

__ADS_1


"Manusia model kayak lu gausah mimpi buat jadi pahlawan dah to"


Ucap geri yang sudah duduk di atas westafel.


Geri memasukan rokok ke dalam mulutnya lalu ia nyalakan. Geri menaruh korek gasnya di saku baju dan mengganti isi tangannya memegang hp.


"Gausah ganggu kak kira ger"


Ucapku pelan.


Aku masih terus melihat ke arah geri yang kini sedang sibuk menatap layar hpnya.


Tanya geri tanpa melihat ke arahku.


Aku hanya terdiam tak menjawab pertanyaan geri.


Geri tiba - tiba kembali melihat ke arahku. Tangan kanannya yang memegang hp bergerak menunjukan layar hpnya kepadaku.


"Nih. Kakak ***** lu bakal gua bikin jadi begini"


Ucap geri.


Aku bisa melihat jelas layar hp geri. Hpnya sedang memutarkan sebuah video. Lala terlihat berjongkok dengan mata tertutup kain hitam sedang di sorot dari atas. Lala mengulum sebuah *****, ***** yang di miliki oleh orang yang merekamnya.


Emosiku terasa terbakar melihat video itu.


"Adeknya aja *****, apalagi kakaknya"


Ucap geri


Geri turun dari westafel lalu meletakan hpnya di sana. Geri perlahan jalan ke arahku. Aku masih terus menatap ke hp geri yang kini tergeletak di atas westafel.


"Kasian gua to"


Ucap geri saat ia sudah berada di hadapanku.


Mataku ku arahkan membalas tatapan geri. Emosiku sudah berada di ambang batas. Ingin sekali rasanya aku membelah wajah yang ada di depanku ini.


"Miris gua ngebayangin nyokap lu. Capek - capek ngelonte, eh anaknya..."


"Cukup"


Ucapku dalam hati.


Aku mengangkat dengkulku ke depan hingga berbenturan dengan area ************ geri.


"Eughh"

__ADS_1


Suara geri.


__ADS_2