
Sheilla POV
Aku langsung naik angkutan umum dengan keadaan jantungku yang berdebar-debar. Sial, kak Alan berhasil membuat aku sempat melayang. Ugh, aku tidak mengerti arti kata sayang, ewh...,
"Hey, Shei...," Kenapa tiba-tiba aku mendengar suara kak Alan ? Setelah membuat jantungku kacau, kini dia berhasil membuat pikiranku kacau.
"Shei-Ku ~~" entah kenapa suaranya sangat terdengar jelas di telingaku. Aku langsung menutup telingaku sambil menoleh.
"Prince Charming...," bahkan aku melihat wajahnya yang sedang tersenyum di wajah orang lain.
"Prince Charming? Lu nyebut gue gitu juga?" Tunggu, kok responnya kayak beneran kak Alan?
"Kenapa? Pasti lu lagi mikirin gue,ya??"
Sial, ternyata dia beneran kak Alan. Aku langsung memalingkan wajah dan mengabaikannya. Tapi dia tidak ada hentinya memandangku. Rasanya punggungku ini bisa bolong.
*
"Shei-ku~ Shei milikku ~ Shei punyaku~" kak Alan malah bersenandung sambil berjalan di belakangku. Meskipun suaranya terdengar lumayan, tapi liriknya gak banget, nadanya juga tidak jelas. Norak !!! Tidak, suaranya bukan lumayan, tapi indah. Mungkin kalau dia jadi penyanyi, aku akan jadi fans pertamanya.
Tap
Tap
Tap
Aku bisa mendengar langkahnya yang mendekatiku.
"Shei..., Rumah lu dimana,sih?" Tanyanya.
"Udah, kak Alan pulang aja !" Kataku kesal.
"Ih, lu apaan, sih? Kan gue udah bilang, gue mau nganter lu. Kalo nganter ya, sampe rumah." Katanya dengan jurus ngototnya itu.
"Uugh...," Aku kesal.
"Hey...," Tiba-tiba dia menggandeng tanganku.
"Ayo__,"
Aku langsung melepas tanganku,
"Kak Alan, kan udah aku suruh pulang,ya pulang. Aku gak mau dianter kak Alan." Dia kira aku gak bisa ngotot juga. Tapi dia tidak membalas. Dia hanya diam sambil menatap mataku dengan ekspresi kaget.
"Elu..., Elu lagi PMS, ya?" Tanyanya dengan ekspresi kebingungan kali ini.
"Iih.., Kak Alan !!!" Kataku makin kesal. Aku belum PMS, tanggal PMS ku masih Minggu depan.
"Sheilla !!" Aku sangat kenal dengan suara ini. Seorang gadis sudah berdiri di antara kami. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah kakakku, kak Laila.
"Sheilla, siapa ini?" Kak Laila bahkan langsung mengeluarkan jurus interogasinya.
"Sheilla, siapa cewek ini? Dia bukan orang yang berusaha memisahkan kita,kan?" Ini lagi kak Alan bahasanya kayak bahasa telenovela yang sering ditonton mamaku. Lebih baik aku menjawab pertanyaan kak Laila, aku langsung tersenyum,
"Kak Laila, dia itu temanku, dan kak Alan, dia itu kakak ku." Kataku.
"What?? Temen? Gue temen lu?" Kata kak Alan tak terima.
"Lu yakin nih anak, temen lu? Bukan orang yang ngebully lu lagi?" Dulu aku memang suka dibully karena wujud "the beast" ku.
__ADS_1
"Heh, gue ini bukan temennya ataupun orang yang ngebully dia ! Gue ini cowoknya ! Pacarnya Sheilla !!" Kata kak Alan memperkenalkan diri. Aku langsung menutup wajahku.
"Apa?? Pacarnya Sheilla??" Kak Laila makin kaget.
"Ayo, Shei, gue anter lu sampe rumah." Kata kak Alan langsung menggandeng tanganku.
"Kak Alan.., kakak pulang aja...," Kataku berusaha melepaskannya, tapi gandengannya erat banget.
Bug !
"Adaaw !!" Kata kak Alan langsung melepas gandengannya karena kak Laila memukulnya. Tunggu, tangan kak Alan yang dipukul itu tangan yang luka tadi.
"Sedeng lu, ya !!!" Keluh kak Alan.
"Iya, gue sedeng !! Lu lagian berani macem-macem sama adek gue !!!" Kata kak Laila marah dan bersiap memukul kak Alan lagi.
"Kak, kakak jangan pukul kak Alan..., Udah ayo kita pulang..," ajakku.
"Kamu yakin?"
"Iya, ayo pulang...," Kataku langsung menggandeng kak Laila dan membawanya pergi. Sedangkan kak Alan hanya diam saja saat aku tinggal, aku sesekali menengok ke belakang. Dia malah melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku hanya membalas lambaian tangannya lalu berbalik lagi,
"Jadi dia pacar kamu beneran?" Tegur kak Laila.
"Eh? Bu,bukan...," Kataku berusaha menyembunyikannya.
"Jangan bohong. Kamu pasti lagi berantem sama dia karena ada orang ketiga. Ck,ck....,"
"Kak Laila !!"
"Udah kelihatan jelas."
"Bukan. Aku gak mau pacaran sama dia..,"
"Jangan!!" Kataku buru-buru.
"Tadi, kak Laila juga mukul tangannya teralu keras. Tangan dia yang itu luka Tau...," Kataku khawatir.
"Tuh,kan. Pacarnya beneran. Pasti ini,mah. Bilang ke mama ah...,"
"Ih, kak Laila. Aku juga bilangin kak Laila pacaran sama anak SMA ya...," Untung aku pernah memergokinya duluan.
"Eh, apaan, sih. Iya,iya.., aku gak bilang. Ck sial. Nanti kalo itu aku bilang sendiri ke mama."
"Aku juga nanti bilang sendiri ke mama..., Eh?"
"Tuh,kan ngaku juga.., Yeay..., Ada bahan ledekan !!" Kata kak Laila lari duluan.
"Kak Laila !!" Kataku mengejarnya.
Tanpa aku sadari ada yang mengikutiku dari belakang.
*
Alan POV
Akhirnya aku tahu rumahnya dimana. Tidak sia-sia perjuanganku mengikutinya diam-diam. Aku langsung mengambil ponselku dan minta dijemput pak Anjar. Hari sudah semakin sore. Setidaknya aku harus sampai di rumah duluan sebelum Mommy sampai rumah.
Aku memijat-mijat tanganku yang tadi dipukul kakaknya Shei. Mereka benar-benar berbeda, tidak seperti bersaudara. Tapi aku iri, Shei memiliki seseorang yang begitu peduli padanya. Sedangkan aku, sejak Daddy mengalihkan 90% sahamnya pada mas Fadlan, aku jadi tidak punya teman curhat lagi. Tiba-tiba aku jadi merindukannya. Tapi aku tidak boleh egois, dia pasti sibuk ditambah lagi dia sudah memiliki keluarga.
__ADS_1
Dari tadi di perjalanan aku hanya memandang ke luar jendela. Tapi tiba-tiba pak Anjar berhenti ketika kami sudah sampai depan rumah,
"Loh? Ada apa, Pak? Kok berhenti?" Tanyaku.
"Ada taksi di depan rumah, Den..," kata Pak Anjar yang hendak keluar. Aku melihat supir taksi dan seorang wanita dengan pakaian minim keluar hendak mengeluarkan seseorang. Sepertinya aku tahu itu siapa.
"Biar saya saja,Pak." Kataku lalu keluar. Aku langsung mendekati wanita itu,
"Maaf, Tante, ada perlu apa,ya?" Tanyaku. Aku tidak peduli dia Tante-tante atau bukan. Dia berbalik dan memandang wajahku. Dia sepertinya bisa langsung mengetahui aku ini siapa,
"Uhm.., apa kamu adiknya? Saya mengantar dia..," katanya menunjuk seseorang di dalam taksi yang sedang tak sadarkan diri. Aku melongok ke dalam dan langsung menghela napas begitu tau tebakanku ternyata benar.
"Bapak bisa bantu saya?" Tanyaku pada si supir taksi. Supir taksi itu mengangguk dan dia membantuku memindahkan pria yang tak sadarkan diri itu ke dalam mobilku.
Pak Anjar membantuku membawa pria itu alias Daddy-ku ke dalam kamarnya.
Kini Daddy sudah ada di atas tempat tidurnya dengan tenang. Aku sudah menyuruh Pak Anjar pulang karena pekerjaannya telah selesai. Kini tinggal aku yang harus mengurus pria tua yang banyak tingkah ini.
Aku melepas jas dan dasinya agar dia bisa bernapas. Aku menutup hidungku. Tubuhnya itu bau alkohol, sudah pasti dia habis bersenang-senang dengan wanita tadi, tapi kalau pulang jam segini, pasti wanita itu dia panggil untuk datang ke apartemen pribadinya yang penuh dengan Kenikmatan dosa.
"Daddy udah dua bulan gak pulang, malah pulang dengan keadaan begini." Kataku. Aku lalu melepas sepatu dan kaos kakinya,
"Kalau Mommy pulang dan memarahi Daddy, jangan salahkan Alan karena Daddy langsung tidur tanpa mandi. Sudah Alan jamin besok Mommy akan merazia apartemen Daddy lagi." Kataku bicara pada pria tua yang tak sadarkan diri itu.
Aku menggigit bawah bibirku.
"Sebenarnya apa yang Daddy cari? Apa tidak cukup bersenang-senang dengan kami, keluargamu?" Rasanya aku selalu ingin mengatakan ini, tapi ketika Daddy sadar lidahku ini selalu kelu. Aku lalu terdiam,
"Daddy.., Daddy pernah bilang kalau bersenang-senang dengan banyak perempuan itu menyenangkan. Tapi kenapa Alan tidak pernah menemukan kesenangan itu?" Kataku.
Aku lalu tersenyum ketika membayangkan Shei yang marah-marah hari ini,
"Tapi ada satu perempuan, Dad..., Kalau dilihat sekilas dia itu menyeramkan. Tubuhnya besar, kulitnya agak gelap dan tatapan matanya tajam. Kalau ditatap olehnya selama dua detik, mungkin nanti bisa jadi batu, hahaha...," Aku tertawa sendiri. Lagi-lagi aku teringat wajah Shei yang mengobati lukaku tadi,
"Perempuan itu selalu mengabaikan Alan..., Tapi dia juga diam-diam selalu mengkhawatirkan Alan. Entah kenapa Alan jadi selalu ingin bersamanya. Selalu menantikan pertemuan dengannya." Aku terdiam,
"Ah, tapi Daddy yang suka bermain-main dengan banyak perempuan mana mengerti." Kataku.
"Daddy..., Alan harap Daddy selalu sehat. Istirahatlah...," Kataku lalu mencium keningnya. Setelah itu aku keluar dari kamarnya.
"Alan?" Ternyata Mommy baru mau masuk kamar. Mommy pasti kaget karena aku keluar dari kamarnya, tapi Mommy pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi kalau aku keluar dari kamarnya.
"Mommy sudah pulang? Tumben cepat. Apa dokter muda itu yang mengantar Mommy?" Tanyaku. Mommy dan Daddy itu sama, sama-sama suka bersenang-senang dengan lawan jenis yang lebih muda dari mereka.
"Tidak, Mommy pulang sendirian." Mommy langsung melihat diriku dari atas sampai bawah,
"Kamu baru pulang?" Tanyanya.
"Yah.., tadi Alan main ke rumah pacar Alan." Kataku jujur.
"Pacar? Kamu bermain-main lagi?" Bermain-main mungkin sudah jadi hobi keluarga kami.
"Gak, Mom. Alan cuman nganterin dia doang."
"Ya, Mommy ngerti, tapi kalau kamu main-main, lebih baik hubungan kalian segera diakhiri."
"I know Mom, lebih baik Mommy urus saja suami Mommy di dalam." Kataku sambil meninggalkan Mommy.
"Ya ampun.., hidup tenangku ternyata berakhir hari ini...," Kata Mommy bicara sendiri, tapi aku masih bisa dengar.
__ADS_1
Hubungan kedua orang tuaku memang tidak pernah harmonis. Padahal mereka sudah menikah selama 27 tahun. Kata Mommy, Mommy dijodohkan oleh Daddy hanya untuk mendapatkan keturunan. Ya, tujuan pernikahan mereka hanya untuk melahirkan Mas Fadlan. Tetapi entah kenapa kak Alena, aku dan Elena tiba-tiba juga ikut lahir. Aku selalu berharap suatu hari nanti kedua orang tuaku akan saling jatuh cinta dan saling menghargai.
*