
Brian POV
Aku membuka mataku setelah memastikan Alan keluar dari kamarku. Putra keduaku itu adalah putra yang paling sering protes. Tapi dia paling terlihat manis saat seperti itu, bahkan aku dapat bonus kecupan di keningku hari ini darinya. Sekarang tinggal bertemu putri kecilku.
JGREK !
"Ugh.., bau sekali !!!" Sudah dipastikan itu adalah Tiara, istriku yang baru saja pulang.
"Kamu pulang dengan cara seperti ini???!! Apakah Alan yang memapahmu sampai kamar???" Ia memperhatikan diriku dari ujung kepala hingga kaki,
"Pasti dia yang melepas dasi dan sepatumu. Dasar tidak tahu malu...," Katanya sambil masuk kamar mandi.
Kalau aku pulang, kerjanya hanya marah-marah saja. Tapi itulah yang paling aku rindukan dari dirinya. Dia yang mengabaikan kehidupanku adalah salah satu dari perjanjian pernikahan kami, tapi jika sudah bertemu begini ocehannya itu mungkin kalau ditulis bisa jadi sebuah buku seribu lembar.
"Aku yakin, kamu pasti diantar oleh wanita sewaanmu lagi, dan pasti Alan juga yang menghadapi wanita itu." Dia keluar dari kamar mandi sambil mengoceh lagi. Aku menyisir rambutku yang berantakan. Lalu beranjak.
"Kamu juga, pasti dokter muda itu yang mengantarmu pulang,kan?" Kataku menyindirnya.
Ia tersenyum miring,
"Aku sudah putus dengannya. Lagipula dia itu teralu kekanakan bagiku." Katanya. Ia lalu mengendus-endus tubuhku,
"Aku yakin tingkat kebencian Alan padamu akan bertambah." Katanya lagi.
Aku tersenyum, aku jadi punya ide untuk mengerjainya,
"Kau barusan sudah mandi?" Tanyaku.
"Belum. Mana mungkin aku mandi secepat itu?"
"Kalau begitu, ayo mandi bersama." Kataku.
"Hah? Apa ??!! Hey, Brian !!" Aku langsung mengangkatnya dan membawanya ke kamar mandi. Alan, sepertinya kita memiliki masalah yang sama.
*
Alan POV
Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali. Aku ingin menikmati waktu berdua lagi dengan Shei. Setelah mandi aku pergi ke meja makan untuk sarapan dan di sana hanya ada Elena yang sedang mengoleskan roti dengan selai strawberry,
"Loh? Elena? Mana Mommy?" Tanyaku. Harusnya Mommy sudah ada di sini, tapi kenapa belum ada.
"Entahlah. Mungkin Mr. Antara pulang, jadi Mommy sibuk." Kata Elena santai. Ya ampun, kenapa anak usia 12 tahun bisa dengan santai ngomong begitu?
"Apa buah pagi ini?" Tanyaku yang tidak melihat buah apapun di atas meja.
"Entahlah, tapi di kulkas ada buah naga." Kata Elena.
__ADS_1
"Kau mau jus?" Tanyaku.
"Tidak, buah potong saja, kata Mommy buah potong lebih baik daripada jus. Vitaminnya tidak akan berkurang dengan panas blender." Aku tersenyum lalu membelai rambut adik Perempuanku ini.
"Pinter banget, sih adik kakak Alan..," kataku meledeknya.
"Iih, kak Alan. Cepat, potong buahnya." Dia mulai sok memerintah.
"Iya,iya..," tapi karena menyayanginya aku akan menurutinya.
"Pagi my little princess...," Suara dan cara memanggilnya, itu pasti Daddy.
"Pagi Mr. Antara...," Kata Elena membalasnya.
"Ya ampun, siapa yang membuat my little princess cemberut di pagi hari yang cerah ini?" Tanyanya.
"Elena kesal karena Mr. Antara tidak menyapa Elena saat pulang semalam." Kata Elena mulai mengeluarkan jurus manjanya di depan Daddy.
"Sorry, my Little princess..., Daddy sangat lelah kemarin, jadi langsung istirahat...," Kata Daddy sambil mengelus pipi Elena.
Aku datang sambil membawa mangkuk besar berisikan buah naga yang sudah dipotong. Tunggu, Kenapa Daddy memakai baju santai.
"Daddy.., apa hari ini Daddy tidak ke kantor?" Tanyaku sambil duduk di kursiku.
"Uhm.., ya. Daddy ambil cuti selama seminggu. Lagipula Daddy tidak pernah mengambil masa cuti Daddy." Katanya langsung mengambil beberapa potong buah naga dan meletakkannya di piringnya.
"Daddy cuti??? Lalu kalau Daddy cuti memangnya Daddy akan ada di rumah?" Tanya Elena. Dia adalah anak Daddy yang paling dekat dengan Daddy. Semua yang dia rasakan akan langsung ia ungkapkan, jika marah, dia juga tidak segan menunjukkannya pada Daddy.
"Jadi Daddy akan bermalas-malasan di rumah?" Tiba-tiba Mommy datang dan langsung menyeletuk.
"Iya.., Pagi ini, biarkan Daddy yang mengantar kalian sekolah." Kata Daddy dengan senyumnya yang begitu cerah. Sepertinya benar kata Elena, Mommy pasti sudah bekerja keras semalaman meladeninya.
*
Daddy mengendarai motor roda tiganya yang bentuknya hampir mirip seperti bajaj dengan kecepatan rendah.
"Daddy, kalo begini ngendarainnya, kapan Alan sampainya?" Protesku. Sampai di sekolah di saat masih sepi dimana hanya ada aku dan Shei bakalan jadi angan saja sekarang. Untungnya Daddy sudah mengantar Elena.
"Kita itu harus menikmati jalanan, Alan." Kata Daddy berdalih.
Aku hanya bisa menghela napas, lalu tersenyum. Mungkin Daddy hanya ingin berlama-lama denganku. Ya, meskipun hubungan Daddy dan Mommy tidak teralu baik, tapi Daddy selalu seperti ini jika mengatakan mau cuti untuk keluarga. Momen seperti ini sangatlah jarang terjadi. Terakhir momen seperti ini terjadi saat lamaran Mas Fadlan 3 tahun yang lalu.
Tiba-tiba Daddy menghentikan motornya. Aku langsung melihat ke sekeliling, ternyata kami sudah sampai sekolahku dan semua orang menatap ke arahku. Sudah bisa dipastikan ini pasti karena motor aneh milik Daddy.
"Woah.., Pagi Mr. Antara...," Tiba-tiba Andra datang menghampiri kami.
"Pagi Mr. Young Fusena...," Kata Daddy ramah.
__ADS_1
"Mr. Antara selalu menjadi pusat perhatian kalau datang,ya, hahaha...," Aku yakin dia meledek kami berdua. Aku keluar dengan wajah kesal.
"Menjadi pusat perhatian adalah bakat alami keluarga Antara, Mr. Young Fusena..," Daddy malah menimpalinya. Obrolan aneh mode on.
"Kalau begitu, Alan sekolah dulu, Dad..," pamitku sambil merangkul Andra lalu diam-diam mencubit pipinya.
"Adaaw...," Rintihnya.
"Oke, Alan, langsung pulang,ya, nanti Daddy bosen." Katanya.
"Oke, emangnya Daddy mau kemana habis ini?"
"Ya kemana lagi kalau bukan ngerecokin istri Daddy. Kalo gitu, bye-bye...," Kata Daddy sambil melambaikan tangannya lalu menyalakan motornya dan pergi.
"Istri Daddy? Itu siapa ? Bokap lu punya banyak istri?" Tanya Andra.
Aku menempeleng kepalanya,
"Nyokap gue, ****." Kataku yang sebenarnya agak tertohok. Dia seolah menyindir kebiasaan buruk Daddy, meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu.
"Woy, santai dong..," protes Andra sambil mengusap kepalanya.
"Ayo, ke kelas...," Kataku lalu menyeretnya sambil merangkulnya.
"Wooy....!" Tiba-tiba Alvin datang dan langsung merangkulku,
"Siapa yang ke sekolahan naik bajaj??" Dia juga ikutan meledekku.
"Siapa lagi kalo bukan si Charming gila..., Hahaha...," Tawa Andra.
Aku langsung menempeleng kepala mereka,
"Sialan lu berdua,ya hahaha...," Kataku
*
Saat istirahat, aku duduk di kantin sambil mengaduk-aduk Jus terong Belanda yang baru saja aku beli. Aku memasang mataku untuk mencari Shei. Rencanaku untuk datang pagi dan berduaan dengannya benar-benar gagal dan aku ingin membayarnya sekarang. Entah kenapa kalau dengannya aku tidak bisa menahan rinduku, padahal kalau dulu tidak ada satupun pacarku yang aku rindukan. Bilang kata rindu hanya sebagai pencitraan saja dan sopan santun karena mereka yang merindukanku duluan.
"Woy.., itu jus terong Belanda bisa-bisa jadi adonan bolu kalo lu aduk-aduk terus...," Sindir Andra.
"Ck, lu mah sekate-kate aja...," Kataku lalu menyedot jus terong Belandaku akhirnya. Namun tiba-tiba mataku ini tertuju pada dua orang yang sedang tertawa lepas bertiga, ya mereka bertiga, tapi bagiku dua dari mereka itu terlihat sangat mesra. Aku menyedot minumanku sampai habis lalu beranjak.
"Lah? Mau kemana lu?" Tanya Andra yang baru menghabiskan bakwannya.
"Ke meja dimana cewek gue berada." Kataku sambil tersenyum.
"Cewek lu?" Andra langsung mencari sosok Shei,
__ADS_1
"Lah? Ngapain Alvin di sana?" Tanyanya yang membuat kupingku makin panas.
"Penasaran? Mau ikut gue?" Tawarku.