
Sang pangeran tampan datang bersama pengawalnya. Ia memerintahkan pengawalnya untuk bernegosiasi dengan sang Putri buruk rupa, sayangnya Pengawalnya malah hampir membunuh tuan Putri buruk rupa itu. Untungnya, Sang Pangeran masih memiliki hati Nurani dan menyelamatkan Putri buruk rupa dari kekejian Pengawalnya. Ia akhirnya menghukum pengawalnya dan memutuskan untuk membujuk Sang putri.
*
Sheilla POV
Kejadian kak Alan yang memukul kak Alvin tidak bisa hilang dari ingatanku. Entah kenapa perasaanku makin tidak enak.
"Shei !! Shei !!" Reyna memanggil namaku. Aku lupa kalau dia sedang bercerita tentang kedekatannya akhir-akhir ini dengan kak Andra.
"Eh, iya,iya...," Kataku agar dia tidak marah.
"Ih.., kamu mah.., aku tuh lagi cerita, kamunya malah melamun. Tau, deh yang lagi kasmaran sama kak Alan...," Ledek Reyna.
Mukaku langsung bersemu merah. Entah kenapa nama "Alan" akhir-akhir ini membuatku sensitif.
"Apaan, sih Rey...," Kataku.
"Tapi, Shei..., Kayaknya setelah ini aku bakal nyusul kamu, deh. Jadi tenang.., aku juga bakalan kasmaran kayak kamu, hihi...," Seingatku dia pernah bilang kalau tidak suka pada kak Andra. Tapi karena sama-sama ikut exkur karate dan sering berinteraksi meskipun anak kelas 3 tidak wajib lagi ikut exkur, lama-lama mereka jadi dekat juga.
"Ehm, permisi...," Tiba-tiba orang yang sedang dibicarakan datang, wajah Reyna semakin sumringah dengan kedatangannya.
"Hai kak Andra !!" Kata Reyna heboh.
"Hai." Balas kak Andra dingin dan matanya menatap ke arahku. Tunggu, semoga saja ini tidak membuat Reyna salah paham.
"Oh,iya.., Reyna.., kamu bisa pergi dulu,gak?" Kata kak Andra tiba-tiba. Kenapa perasaanku makin tidak enak setelah mendengar perkataan kak Andra.
"Tapi...,"
"Please.., aku ada hal penting yang harus aku omongin sama Sheilla..," kata kak Andra menatapku tajam. Ya, sangat tajam seolah banyak dendam yang ingin ia luapkan padaku. Semoga Reyna paham arti tatapan kak Andra.
"Uhm.., iya, deh.., ya udah..," kata Reyna lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Kak Andra langsung duduk di sampingku,
"Woy..., Ini rencana lu semua,kan?" Katanya dingin.
"Re, rencana apa?" Aku bingung.
"Gak usah sok gak tau, deh lu ! Reyna bilang lu tau kalo Alan cuman mainin elu..,"
"Cuman menduga..," kataku.
BRAKK !!
Kak Andra malah memukul meja dan membuatku terhenyak,
"Gak usah bohong deh lu !!!!" Kata kak Andra marah.
"Bohong apa,kak?" Kataku yang benar-benar bingung.
__ADS_1
"Harus banget gue jelasin?" Kata kak Andra. Aku mengangguk.
"Ikut gue !" Kata kak Andra dingin. Lalu aku mengikutinya.
Kak Andra membawaku ke bawah tangga. Ia menghentakkan kakinya, seolah berusaha bersabar menahan amarahnya.
"Ck, gue tau lu sadar kalo Alan cuman mainin elu, maka dari itu lu dendam,kan sama dia?" Katanya.
"De,dendam? Maksudnya?"
"Ya !!!" Kata kak Andra,
"Asal lu tau !!! Alan sama Alvin udah memutus persahabatannya !!! Dan itu semua karena elu !!!!" Kata Kak Andra sambil menunjuk diriku dengan telunjuknya.
Mataku terbelalak, tidak mungkin. Kak Alan bilang kemarin mereka udah baikan, bahkan aku sempet ngeliat kalau kak Alan yang bawa kak Alvin ke UKS dan mereka tertawa bersama.
"Udah jelek !!! Gak tau diri !!! Pembohong lagi !!!" Kata kak Andra. Tanpa aku sadari air mataku malah menetes. Kenapa malah jadi begini ?? Aku mematung, rasanya kata-kata kak Andra seperti sebuah peluru yang merobek jantungku, meskipun tuduhannya tidak benar.
"Andra !!!" Itu suara kak Alan. Entah kenapa ketika mendengarnya muncul rasa lega di hatiku.
Kak Alan yang entah muncul darimana langsung mendatangi kami,
"Lu apa-apaan, sih?? Lu punya hak apa bentak-bentak cewek gue !!!!" Kata kak Alan lantang.
Kak Andra langsung menarik kerah baju kak Alan,
"Sadar, Lan !! Sadar !!! Cewek ini udah jadi pembawa sial dalam hidup lu !!!" Kata kak Andra. Kak Alan tidak melawan, ia menoleh ke arahku dan sempat memandangku yang juga memandangnya. Kak Alan lalu melepas tangan kak Andra.
Deg !
Lagi-lagi jantungku ini bertingkah seenaknya.
"Udahlah, Andra. Balik ayo ke kelas. Kita mau TO lagi...," Kata kak Alan merangkul kak Andra. Ia membawa kak Andra pergi Lalu diam-diam kepalanya itu menengok ke arahku dan dia mengedipkan matanya.
Blush !
Reflek aku malah tersenyum mendapatinya. Terimakasih kak Alan.
*
Aku kembali ke kelasku dan di sana aku melihat Reyna yang sedang dikerumuni oleh Thalia dan penggemar 3A lainnya. Tiba-tiba perasaan tidak enak muncul lagi. Aku berusaha memandang Reyna, agar hatiku tenang, tetapi Reyna malah membalasku dengan tatapan tajamnya. Mungkin hidup remajaku sebentar lagi tidak akan aman di sini.
Reyna diam seribu bahasa. Biasanya dia cerewet kalo duduk bersamaku. Aku mulai merasa ada hal yang tidak beres.
"Reyna...," Panggilku. Dalam situasi seperti ini namanya aku bunuh diri untuk bisa hidup.
Reyna hanya diam. Dia pasti kesal padaku karena kelakuan kak Andra tadi. Aku menghela napas pasrah,
"Kamu gak usah merasa jadi korban, deh Shei...," Kata Reyna akhirnya mengeluarkan suara.
"Kamu sengaja deketin kak Alan dan membuat dirimu dikelilingi tiga A itu. Selamat...," Kata Reyna. Aku menghela napas lagi. Memangnya siapa yang mendorongku dan menjebloskan dalam lingkaran tiga cowok populer ini.
__ADS_1
"Aku gak butuh selamat." Kataku yang juga kesal. Dia yang bersikap seolah-olah dia adalah korban, sedangkan aku, aku adalah korban sesungguhnya.
"Aku muak temenan sama kamu, Shei ! Aku gak nyangka kalau kamu selicik ini !" Kata Reyna lagi malah membuatku semakin bingung dan marah. Memangnya dia tahu apa yang kak Andra lakukan tadi??
"Seharusnya kamu bilang dari awal kalo kamu suka kak Andra...," Kataku,
"Kalau kamu mau kak Andra jadi milik kamu silahkan. Aku gak akan menghalangi."
"Dasar sok ! Kamu kira aku mau bekas kamu??" Tanya Reyna makin ngaco. Logikanya itu sebenarnya bagaimana, sih?
"Aku itu__,"
"Yang milik aku itu kak Alan.., bukan kak Andra !!!!" Teriakku dalam hati. Aku berusaha menahan tangis karena marah, sedih, kesal, kecewa.
"Apa?? Kamu apa???!!!" Tanya Reyna.
"Lihat aja, dalam waktu dekat aku akan putus dari kak Alan dan aku akan keluar dari lingkaran tiga A yang udah bikin kamu buta !!!!" Kataku saking kesalnya. Bodoh sekali aku, padahal baru saja aku bilang kalau kak Alan milikku, tapi sudah mau melepaskannya.
*
Saat pulang,
Aku selalu pulang sendiri. Sebelumnya karena Reyna selalu dijemput, tapi sekarang aku akan benar-benar sendirian. Mungkin tidak akan ada hariku bersama Reyna lagi mulai sekarang. Namun aku masih berharap kalau ini hanya kemungkinan saja.
"Oy..., Lama banget, sih...," Ini suara kak Alan. Aku yang tadi menunduk langsung mengangkat kepalaku. Ternyata kak Alan menungguku. Padahal aku sengaja pulang di saat sekolah benar-benar sepi karena memang ingin menyendiri. Bibirku bergetar karena menahan haru.
"Ayok.., kita pulang ba__," aku langsung memeluknya. Itu pertama kali aku memeluknya, bahkan aku pernah mengusirnya karena ia merangkulku.
"Makasih,kak...," Kataku.
"Deg.., deg.., deg...," Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya dengan jelas. Apakah ini yang namanya jantung yang berdebar-debar.
Kak Alan lalu membalas pelukanku,
"Ternyata dipeluk sama kamu rasanya sehangat ini,ya...," Katanya.
Aku lalu mendongakkan kepalaku dan aku bisa melihat jelas kulitnya yang putih itu berubah jadi merah.
"Jujur..., Aku seneng kamu meluk aku, tapi aku malu...," Kata kak Alan lirih.
Aku langsung melepas pelukanku.
"Ma,maaf,kak...," Kataku yang salah tingkah.
"Gak apa-apa...," Katanya.
"Di masa depan lebih sering peluk aku,ya..," kata kak Alan.
"Apaan, sih??" Kataku yang merasa malu. Wajahku sekarang terasa panas.
"Ayo.., hari ini kamu harus ikut aku..," kata kak Alan menggandeng tanganku dan membawaku bersamanya.
__ADS_1