
"Kita,kan udah bukan siapa-siapa lagi." Dia mengucapkan faktanya. Membuat tubuhku lemas.
"Hiks!"
Aku mengangkat kepalaku dan menemukan wajahnya yang sudah dibanjiri air mata,
"Ka,kamu kenapa nangis???" Tanyaku jadi kebingungan.
"Entahlah..., Mungkin senang ketemu..., Ketemu kak Alan...," Katanya.
Bibirku bergetar. Melihatnya menangis begini membuatku ingin menangis juga,
"Shei..., Maafkan aku...," Aku mengulanginya lagi.
"Maaf untuk apa lagi,kak?" Tanyanya.
"Maaf karena udah nyeret kamu ke kehidupan aku...," Lirihku.
Ia menghapus air matanya dan berusaha berhenti menangis,
"Gak.., gak apa-apa,kak.., aku yang harusnya minta maaf...,"
Bibirku bergetar. Melihatnya menangis begini membuatku ingin menangis juga,
"Shei..., Maafkan aku...," Aku mengulanginya lagi.
"Maaf untuk apa lagi,kak?" Tanyanya.
"Maaf untuk segalanya. Maaf untuk niat awalku yang buruk padamu..., Maaf karena sempat berniat menghancurkanmu. Maaf karena udah buat kamu kehilangan sahabat kamu. Maaf karena membuatmu mengenalku..., Maaf...,"
Shei langsung menyentuh bibirku.
"Gak perlu minta maaf...," Kata Shei yang sudah bercucuran air mata.
"Justru..., Justru aku yang salah. Harusnya aku gak datang ke kakak waktu itu, harusnya aku menyangkal kalau aku suka sama Kakak..., kalau itu terjadi, kak Alan juga gak akan kehilangan sahabat kakak...,"
"Enggak, Shei..., Aku yang salah. Aku bisa aja nolak kamu waktu itu, tapi aku berniat memberi kamu pelajaran, tapi...,"
Aku menghentikan kalimatku.
"Tapi apa?"
"Tapi aku yang dapat banyak pelajaran dari kamu...., Hahaha...," Kataku memaksakan tawaku.
"Kak Alan...,"
"Saat kita putus juga..., Rasanya..., Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri, tapi hal itu sudah diwujudkan oleh Alvin....,"
"Saat itu juga.., saat itu aku merasa tak berdaya. Merasa tak berguna. Bukan aku yang ada di sampingmu waktu itu, aku malah meninggalkanmu....," lanjutku.
"Padahal..., Padahal kamu selalu ada untukku....," Kataku lalu mengelap air mataku yang membasahi pipi.
"Tapi, Shei...," Aku mengambil napas untuk mengatakan kalimat selanjutnya,
"Aku benar-benar egois...," Kataku jujur.
"Egois?" Tanya Shei.
"Shei..., Aku menyukaimu...," Ungkapku yang berhasil membuatnya tertegun.
"Aku tahu. Mustahil kalau kamu suka sama aku juga. Tapi aku ini sangat egois sampai-sampai tidak mau melepasmu...," Aku menatap wajah Shei yang kebingungan,
"Aku.., aku ingin kita kembali lagi..., Meskipun mustahil.., tapi...," Tiba-tiba Shei memegang tanganku.
"Hanya satu yang aku takutkan saat berani mengikuti permainan kak Alan...," Kata Shei.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Kalau-kalau aku jatuh cinta sama kak Alan dan gak bisa ngelepas kak Alan...," Lirih Shei.
"Dan?"
"Dan dengan bodohnya aku malah terjebak di dalam perasaan ini....,hiks !" ia terisak.
"Apa? Maksudnya apa, Shei?" Tanyaku.
"Aku tahu, aku tidak sepintar atau sejenius kak Alan.., tapi aku juga menyukai kak Alan....," Kata Shei.
"Apa???" Aku benar-benar tidak menyangka.
Shei langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya,
"kenapa, sih pake kaget?" katanya malu.
"aku sempet khawatir tau,kak, kalau perasaanku ini bertepuk sebelah tangan...," katanya jujur.
aku menarik tangannya dan berhasil melihat wajahnya yang memerah,
"justru.., justru aku yang khawatir kalau aku yang bertepuk sebelah tangan. Aku kira kamu lebih suka Alvin...,"
"gimana, sih kak Alan ! aku sukanya itu sama kakak!! pacarannya,kan sama kakak !!!" tegas Shei mulai mengomel. Shei-ku kembali.
"jadi.., apakah hubungan kita bisa direset ulang?" tanyaku.
"hah? direset ulang?" Shei malah bingung.
"pft..., balikan lagi maksudnya, Shei...," kataku.
"uhm.., boleh...," kata Shei.
Shei mengangguk malu-malu.
"yes ! yes ! yes !!!" kataku kegirangan.
SREK !
Tiba-tiba Gordyn dibuka,
"loh, Shei? ini siapa?" tiba-tiba muncul seorang wanita berusia 40an,
"Mama....," kata Shei.
"Shei !! aku dat-tang...," kata seorang gadis di belakangnya, seingatku dia adalah kakaknya Shei. Wajahnya menunjukan kalau ia kaget melihatku yang ada di samping tempat tidur adiknya,
"halo Tante, perkenalkan, saya Alan, pacar Sheilla...," kataku percaya diri sambil mengulurkan tangan. Wanita itu mengernyitkan dahinya dan menatapku tajam. Sama seperti tatapan Shei.
"kamu punya pacar, Shei?" tanya wanita itu.
Shei mengangguk pelan. Kami berdua memang baru saja jadian,
"datanglah ke rumah lain kali." kata Wanita yang tadi dipanggil mama Shei.
"serius, Tante?" tanyaku tak menyangka.
"saya perlu tahu kamu siapa sampai bisa bikin putri saya begini...," katanya. Apa mungkin Shei-ku sudah menceritakan segalanya, aku meliriknya dan dia tersenyum seolah tau apa yang aku pertanyakan.
"baik, Tante.., terimakasih !!" kataku.
*
*
__ADS_1
*
*Sang Pangeran mendatangi Sang putri buruk rupa yang sedang sekarat. Rupanya sang putri selama ini sedang mengidap penyakit, dia hanya ingin merasakan pernikahan sebelum menghadapi akhir hidupnya dan ia mendengar bahwa ada seorang pangeran yang sedang mencari istri. Pangeran akhirnya memutuskan untuk menikahi sang putri buruk rupa, karena hanya sang putri saja yang ia miliki. Kini sang putri buruk rupa telah terbaring lemas di atas tempat tidurnya,
"ingatlah pangeran. dalam hidup ini, yang paling penting adalah hati dan niat tulusmu yang bersih. Kamu akan bahagia dalam menjalani hidupmu sesulit apapun yang kamu rasakan. Ingatlah segala sesuatu yang kamu rasakan selama ini. Aku berharap hidupmu bahagia...," kata Sang putri buruk rupa lalu memejamkan matanya. Tubuhnya benar-benar lemas. Nyawanya ternyata sudah pergi. Pangeran hanya bisa menggenggam erat tangannya sambil menitikkan air mata,
"kenapa begitu cepat kamu pergi, kenapa begitu terlambat aku menyadari bahwa aku mencintaimu?" lirih sang pangeran*.
*
Gwen menangis membaca naskah,
"hwaa.., kenapa sad ending, sih????" kata Gwen.
Gladys juga mengelap bulir air mata di ujung matanya,
"dasar Alan.., gue kira dia mau menyombongkan diri betapa gantengnya dia melalui naskah ini.., tapi.., hwaa....," Gladys juga terharu, ia ingat seberapa menyebalkannya seorang Alan sehingga membuatnya putus dengannya waktu itu.
"woy.., lu berdua!" tiba-tiba Alan datang sambil merangkul seorang gadis bertubuh gemuk yang memiliki tatapan yang tajam.
Gwen dan Gladys buru-buru menghapus air mata mereka,
"kenapa, lu?? ganggu kita aja !!!" kata Gladys,
"kenalin, nih cewe gue, Sheilla Inggrid !" kata Alan.
"hallo kakak-kakak...," sapanya ramah.
Gwen langsung melirik ke arah Gladys,
"kok kata-katanya sama wujudnya bertolak belakang?" kata Gwen dari matanya.
Gladys hanya mengendikan bahunya,
"hallo, Sheilla...," sapa Gladys,
"Shei.., dia mantan aku, tapi kamu jangan khawatir, Alan adalah orang yang profesional...," kata Alan.
Sheilla tersenyum,
"iya, aku tau,kok...," kata Shei.
"ya udah, kalo gitu gue mau ajak cewek gue keliling-kelilimg dulu,ya." kata Alan lalu mengajak Sheilla jalan sambil merangkulnya.
"Gladys...," panggil Gwen.
"hm?"
"lu ngerasa, gak sih kalau tokoh utama di naskah ini kayak mereka berdua?" tanya Gwen.
Gladys tersenyum,
"ya, gue juga ngerasa gitu. Alan sebagai Prince Charming dan Sheilla sebagai the beast. Dasar si konyol Alan." kata Gladys lalu beranjak.
"otomatis tuh anak minta bang Reza jadi prince charming...," kata Gwen.
"jadi, lu mau ikut audisi naskah ini?" tanya Gladys.
"mau lah !! Cerita ini berhasil menyentuh hati gue...," kata Gwen.
"kalo gitu, ayo daftar ke bang Reza!" kata Gladys.
Mereka sudah tidak sabar tampil di pertunjukan teater kali ini.
-End-
__ADS_1