Prince Charming And The Beast

Prince Charming And The Beast
Nomor Telepon


__ADS_3

Sheilla POV


Aku menghirup udara pagi yang begitu segar. Aku biasa sampai di sekolah pukul 6.15 sejak masih SD. Bahkan udara Pagi masih terasa sejuk. Sejak aku masih TK aku selalu menjadi siswa yang sampai duluan di sekolah, tapi sepertinya peringkat itu sudah direbut oleh "Prince Charming" yang sedang menatapku tajam tepat saat aku sampai di depan kelasku.


"Lu ikut gue !!" Katanya langsung menarik tanganku dan membawaku pergi. Tunggu, dia sekuat ini? Bukannya kemarin sakit?


*


Dia membawaku ke Kantin. Di sana bahkan beberapa penjual masih beres-beres menyiapkan dagangannya. Tapi beberapa bangku sudah bersih dan bisa ditempati.


"Duduk !!" Katanya. Entah kenapa aku mengikutinya begitu saja. Aku bahkan duduk dengan posisi tegap. Dia lalu duduk di sampingku. Aku menunggunya mengeluarkan kalimat berikutnya sambil duduk tegap. Dia masih menunduk dengan napas yang terengah-engah. Apa sebenarnya dia masih sakit? Ah, pasti karena menarikku perlu tenaga yang besar. Aku cukup sadar diri,kok.


"Kak Alan..,"


"Shei..,"


Kami berdua malah saling memanggil dan menatap. Wajah kak Alan benar-benar merah dan masih terengah-engah,


"Kak Alan masih sakit?" Tanyaku sambil berinisiatif memegang keningnya, kulitnya yang putih itu malah semakin memerah,


"Shei...," Ia memanggil namaku lagi sambil mengambil tanganku dan memindahkannya dari keningnya.


Ia lalu menatap mataku lagi,


"Kalo gini, gue bisa mati...," Kata kak Alan yang berhasil membuatku melotot.


"Ma,mati? Mati kenapa,kak?" Kataku bingung dengan maksud kalimatnya.


Tiba-tiba ia mengernyitkan dahinya,


"Gue ngomong apa emangnya?"


"Uhm.., kak Alan bisa mati...," Kataku.


"Aduh..., Kayaknya gue ngawur lagi, deh.., lupain aja...," Katanya.


"Oh.., oke...,"


"Mana hape lu?" Katanya lagi.


"Hah? Hape?"


"Iya.., gue pinjem !!" Katanya.


"Uhmm.., masalahnya hapenya di rumah,kak..," kataku jujur.


"Hah? Apa? Di rumah?"


"Iya.., kan gak boleh bawa hape ke sekolah." Kataku.

__ADS_1


"Ah, iya bener juga,sih..," katanya memaklumi,


"Tapi.., ya lu gak perlu nurut-nurut amet kali..," katanya.


"Yah, kak.., peraturan itu ada untuk dipatuhi." Kataku. Itu sudah jadi prinsipku. Prinsip itu sudah ditanamkan oleh orang tuaku sejak kecil.


"Ck, menyebalkan !" Katanya.


"Lu punya buku?"


"Buku apa?"


"Apa aja !! Yang pasti yang bakalan lu bawa pulang. Jangan lu kasih ke guru." Katanya.


"Oh,ada...," Kataku lalu mengambil buku kecil catatanku. Aku menulis pengingat tugas rumah di situ. Aku lalu memberikannya pada kak Alan.


"Pulpen ada?" Tanyanya.


"Ada." Kataku lalu mengambilkan pulpenku lagi dan memberikannya. Ia lalu menulis sesuatu di buku kecil itu. Lalu memberikannya padaku.


Aku langsung memeriksa apa yang dia tulis.


"Ini..., Ini apa,kak?" Tanyaku. Dia menghabiskan dua halaman untuk tulisannya itu. Benar-benar boros.


"Nomor gue lah ! Lu kan cewek gue, gue cowok lu. Masa kita gak tukeran kontak, sih?"


"Jangan cuman oh doang ! Dalam waktu dua puluh empat jam lu harus nelpon gue ! kalo enggak, besok lu gak bisa pulang ke rumah !!!" Kata kak Alan lalu mengembalikan pulpenku dan pergi.


"Dia ngancem aku? Ugh.., dasar merepotkan !!" Keluhku sambil memasukkan pulpen dan buku catatanku ke dalam tas.


*


Reyna meminjam buku catatanku untuk memeriksa tugasnya.


"Shei.., ini apaan, nih? Kok boros banget...,"


"Nomor kak Alan..," kataku yang masih sibuk mengerjakan tugas yang diberikan guru.


"Iih.., boros banget...," Alasan aku bisa berteman dengan Reyna adalah kita ini punya beberapa sifat yang mirip.


"Tau,tuh.., capek aku sama dia. Pengen aja cepet-cepet diputusin." Kataku malah curhat.


"Ih, aneh kamu, mah.., dimana-mana cewek mah gak mau diputusin, hihi...," Komentar Reyna.


"Yah, kalo cowoknya nyebelin kayak dia mah lama-lama eneg. Gara-gara sikapnya yang tukang paksa itu, gantengnya lama-lama luntur...," Kataku.


"Bilangnya sebel, padahal kemarin bingung sampe gak bisa konsen di kelas gara-gara kak Alan gak masuk.., ckck.., dasar kamu, Shei..," aku tertohok mendengar ungkapan Reyna. Benar juga. Aku bahkan khawatir kak Alan udah mati. Dugaanku selalu saja berlebihan.


"Tapi aku ini beneran mau putus sama dia."

__ADS_1


"Oh,iya ?" kata Reyna meledekku.


"Lagian, kalo di komik shoujo rasanya pacaran itu enak, apalagi kalo sama cowo populer, tapi pas aku rasain sendiri kok kayaknya capek banget. Capek hati..," kataku.


"Iya deh, iya.., cepetan putus sana ! Hahaha..." Kata Reyna.


"Gitu, dong..," akhirnya dia mendukung keinginanku untuk putus.


"Dasar kamu .., hahaha...,"


Entah kenapa, awalnya Reyna mendukungku untuk putus dari kak Alan. Namun sejak kak Alan tidak masuk dan membuatku berpikiran ekstrim, ia jadi seolah berusaha menyadarkanku kalau aku tidak mau putus sama kak Alan. Lagian aku sadar, kok dengan keputusanku untuk putus sama kak Alan.


Alan POV


Kelasku itu terletak di lantai tiga. Meskipun sejauh itu, telingaku tetap bisa mendengar kegiatan yang ada di lapangan. Aku tahu jadwal olahraga hari ini adalah jadwal olahraga kelasnya Sheilla. Rasanya aku ingin menontonnya berolahraga dari balkon.


"Woy.., lu mau kabur,ya?" Kata Alvin memergokiku yang berusaha keluar kelas diam-diam di saat semua orang sedang sibuk mengerjakan soal simulasi ujian nasional dari Bu Siska.


"Gak.., gak kabur. Gue kangen sama cewek gue doang..," kataku.


"Parah, lu.., soal Bu Siska udah lu selesain?" Tanya Alvin.


"Udah." Memang sudah aku selesaikan.


"Lihat dong."


"Ambil aja. Di atas meja gue." Kataku lalu keluar kelas.


*


Aku tidak tahu kenapa kebiasaanku yang ini tidak bisa aku hentikan. Pastinya aku memulai kebiasaan ini sudah sebelum aku dan Sheilla jadian. Saat jam segini pasti pendengaran di telingaku akan sangat tajam, lalu aku akan keluar kelas dan mencari Sheilla dia antara murid-murid kelas tujuh yang berolahraga. Setelah itu seperti magnet, mataku pasti akan bertemu dengan matanya. Awalnya aku tidak suka dengan kebiasaanku ini, tapi lama-lama aku selalu berusaha untuk melakukannya.


"Kak Alan !!!!" Tiba-tiba suara ribut para siswi kelas tujuh yang memanggilku. Itu pasti para penggemarku. Aku hanya memberi mereka senyumanku dan melambaikan tangan. Tapi kenapa aku tidak melihat Sheilla. Dia dimana?


*


Akhirnya aku memutuskan turun dan mencarinya. Lagipula jam pelajaran Bu Siska berakhir sampai jam istirahat, begitu juga jam olahraga kelas Sheilla.


Saat sampai di bawah untungnya aku langsung bertemu teman Sheilla. Ya, dia yang membuatku dan Sheilla jadian.


"Hey.., temannya Shei..," panggilku padanya. Dia langsung berbalik,


"Eeh?? Kak Alan?" Katanya kaget.


"Shei mana?" Tanyaku.


"Ooh.., Shei..., Dia.., dia ada di UKS__,"


"APA??? UKS??" Tanpa bertanya lagi aku langsung berlari ke UKS. Apa dia terluka saat olahraga?

__ADS_1


__ADS_2