
Alan POV
Aku langsung meninju tembok sekeras-kerasnya begitu keluar dari kelas. Tanganku kini mungkin terluka dan sedang mengeluarkan cairan merah segar. Tapi rasa sakit dari luka itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit di dadaku.
Kenapa akhir-akhir ini aku merasa dadaku di sebelah kiri ini sering merasakan hal-hal aneh ? Apalagi perasaan itu selalu muncul ketika Shei ada di depanku. Aku benci melihat wajahnya yang bahagia karena hadiah pemberian Alvin, tetapi akhirnya dia menolaknya. Aku sempat terbesit rasa lega ketika dia menolaknya, tapi saat mendengar alasan dia menolaknya, rasanya aku juga bisa merasakan kesedihannya. Sebenarnya kehidupan seperti apa yang dia jalani ?
*
Aku ngotot pulang dengan berjalan kaki hanya untuk bisa pulang dengannya. Tadi pak Anjar sudah menjemputku, tapi aku suruh pulang. Aku melihat jam tanganku, tapi kenapa Shei belum terlihat. Aku lalu memandang ke arah langit sore yang warnanya sudah tidak biru lagi. Entah kenapa aku malah mendapatkan sensasi ketenangan,
"Sejak kapan langit sore begitu indah...," Kataku berbicara sendiri.
"Udah dari dulu tau,kak...," Suara Shei ! Aku langsung menoleh, ternyata dia tepat berada di sampingku.
"Shei !!" Kataku. Entah kenapa aku begitu senang melihatnya datang dan sekarang ada di sampingku.
"Kakak kenapa ada di sini? Lagi nunggu dijemput, ya?" Tanyanya sambil celingak-celinguk. Dia manis sekali kalau begini,
"Enggak. Gue gak dijemput." Kataku dengan mata yang tidak bisa lepas darinya.
"Waduh..., Terus kalo kakak gak dijemput, nanti gimana pulangnya?" Tanyanya. Apa dia sedang mengkhawatirkan aku? Bahkan keningnya sampai berkerut seolah-olah sedang berpikir keras bagaimana caranya aku bisa pulang. Tanpa sadar aku tersenyum. Dia manis, imut, cantik.
Tanganku ini lalu mencubit kedua pipinya lembut lalu mengangkat kepalanya agar bisa melihatku yang lebih tinggi darinya,
"Gue mau jalan kaki sama elu. Lu bilang, lu suka jalan." Kataku.
Matanya itu membulat dan keningnya makin mengkerut,
"Gak.., gak...., Nanti kakak capek. Kakak,kan terbiasa naik mobil." Dia ini sedang meremehkanku, ya? Aku langsung melepas cubitanku. Dia langsung mengelus-elus pipinya yang memerah karena cubitanku.
"Eh !" Katanya. Matanya itu melihat ke arah jari-jariku. Tanpa basa-basi ia langsung mengambil tanganku dan menyentuh jari-jariku,
"Aww ..!!" Rintihku. Kenapa terasa sakit?
"Kak..., Ini luka.., kakak abis ngapain?? Ya ampun...," Dia sedang mengkhawatirkan aku lagi?
"Iya.., tadi kepentok tembok. Gak sengaja." Kataku berbohong.
"Ya ampun.., kalo gitu sini.., ikut aku." Katanya langsung menarik tanganku dan membawaku pergi bersamanya. Diam-diam aku tersenyum. Lagi-lagi aku bisa mendengar bunyi gendang dari dalam dadaku.
*
Aku memandanginya yang sedang sibuk mengobati luka di jari-jemariku. Dia serius sekali.
"Nah.., udah selesai...," Katanya.
Aku lalu memandang jari-jariku,
__ADS_1
"Loh? Gak diplester?" Tanyaku.
"Gak. Nanti juga kering sendiri." Katanya enteng lalu memasukkan antiseptik yang dia bawa.
"Kenapa lu bawa begituan, sih?" Tanyaku.
"Yah.., jaga-jaga kalo kejadian kayak kak Alan terjadi sama aku." Dia benar-benar menganggap kalau jari-jariku ini kepentok?
"Pft...," Aku tidak bisa menahan tawa.
"Kenapa? Iya, tau. Aku emang aneh. Ketawa aja sepuasnya...," Katanya. Sepertinya dia marah. Untungnya dia tidak menatapku. Bisa-bisa aku jadi batu.
"Shei.., makasih,ya..," kataku.
"Iya." Katanya seolah biasa mendapatkan kata itu.
"Ayo, gue anter lu sampe rumah !!" Kataku bersemangat.
"Gak. Gak perlu. Kak Alan pulang aja ke rumah kak Alan." Katanya membuat kadar kekerenanku berkurang.
"Kenapa, sih?? Gue,kan cuman mau menghabiskan waktu gue sama cewek gue !! Apa salah???!!"
Ia malah terdiam dengan kalimatku barusan.
"Hey.., Shei...,"
"Gak. Terserah kak Alan, deh. Tapi jangan mengeluh kalo capek. Aku gak suka dengernya !!!" Katanya tegas. Kenapa jadi dia yang galak. Apa dia masih marah karena aku tertawa tadi?
"Kak Alan jadi ikut,gak???" Tegasnya.
"I,iya...," Kenapa jadinya aku yang dimarah-marahin?
*
Kami berdua jalan beriringan. Tidak satu patah katapun keluar dari mulutnya, tapi dari tadi aku perhatikan matanya berbinar-binar sambil melihat ke sekeliling. Memangnya ada hal yang lebih indah dari wajah ganteng nan mempesonaku ini? Aku bahkan dari tadi tidak bisa menemukan hal apa yang berhasil membuat tatapan mata tajamnya itu hilang total.
"Ehem!" Aku menegurnya karena bosan. Sialnya dia malah tidak menyahut sama sekali.
"Ehem ! Ehem !!" Kataku dengan suara agak tinggi, tapi berhasil membuat ia menoleh padaku,
"Kak Alan kenapa? Tenggorokannya sakit? Mau minum? Capek,ya?" Dia bertanya seperti melempariku batu-batu saja.
"Pft...," Lagi-lagi aku berusaha menahan tawa dengan reaksinya. Ia malah mendengus,
"Nyebelin....," Dia kesal lagi.
"Maaf, Shei.., hihi..., Gue cuman mau ngobrol sama elu...," Kataku.
__ADS_1
"Ngobrol apaan, lagi?" Katanya masih ngambek. Dia bahkan tidak mau memandangku.
"Hey,hey.., coba lihat gue dulu, dong...," Kataku berusaha membujuknya.
"Udah kelar ketawanya??" Kata dia yang masih tidak mau memandangku.
"Iya,iya.., udah...," Kataku.
"Cepetan, mau ngobrol apa??" Katanya.
"Jangan marah,ya, Shei...," Ternyata begini kalau menghadapi dirinya yang sedang marah. Tidak teralu menakutkan, dia malah terlihat semakin imut.
"Gak,kok.., gak marah !!" Nada bicara dan kata-katanya berlawanan. Aku lalu merangkulnya, ia langsung menoleh ke arahku dengan wajahnya yang memerah,
"Kak Alan...," Katanya dengan nada manja membuatku tersenyum, kenapa dia bisa semanis ini. Rasanya aku ingin menciumnya.
"Sekarang beneran gak marah,kan?" Tanyaku.
"Iya,iya.., aku bilang, aku gak marah, tapi lepasin, nih tangan kak Alan ! Berat tau !!" Katanya sambil melepaskan tanganku yang merangkulnya.
"Iya,iya...," Tiba-tiba angin hangat sore berhembus, membuat suasana menjadi lebih sejuk, aku tersenyum sekali lagi.
"Shei..,"
"Hm?"
"Gue boleh tanya sesuatu gak?"
"Tanya apa?"
"Umm..., Gue ini cinta pertama lu,ya?" Sebuah pertanyaan yang selalu ingin aku pertanyakan. Aku bahkan tidak bisa berhenti tersenyum sambil menanyakannya.
"Bukan." Jawabnya yang langsung menghapus senyuman di wajahku.
"WHATT ????!" Dia bahkan sampai berhenti berjalan karena kaget mendengar teriakanku.
"Ih, kak Alan ngagetin, tau !!!" Katanya marah lagi. Apa dia lagi PMS,ya?
"Eh, sorry, sorry...," Kataku sambil cemberut. Kalau bukan aku cinta pertamanya, lalu siapa ?
"Kenapa muka kakak monyong gitu? jelek banget !" Katanya sambil tersenyum. Dia bisa tersenyum sambil mengatakan wajah tampan Mahakarya terindah Tuhan ini jelek???? Pake banget lagi !
"Nyebelin banget, sih, masa cowo seganteng gue dibilang jelek..., Untung sayang__," Aku langsung sadar apa yang aku katakan dan langsung menutup mulutku. Aku segera menoleh ke arahnya yang sama sekali tidak memandangku. Apakah dia dengar?
"Kak.., udah sampe sini aja jalannya...," Katanya dengan wajahnya yang memerah. Dia pasti dengar, tapi tidak mau menanggapinya.
Sekarang kami berdua sudah ada di pinggir jalan raya dan dia langsung memberhentikan angkutan umum,
__ADS_1
"Kak, aku duluan, ya..," katanya langsung naik ke dalam angkutan umum itu.
Tidak, ini tidak bisa begini. Aku harus ikut dengannya. Aku harus dengar dari mulutnya kalau dia mendengar atau tidak apa yang barusan aku bilang.