
Alan POV
Aku membawanya ke mall. Rasanya aku belum pernah kencan sama dia, setidaknya aku harus merasakan bagaimana rasanya berkencan dengannya sebelum kami putus,
"Kak..., Kita ngapain ke sini? Aku gak mau pulang telat looh...," Katanya protes. Sheilla mungkin punya nama lain si tukang protes.
"Nge date..," jawabku singkat.
"Nge-date?"
"Iya.., kamu sukanya kemana? Suka belanja, nonton, makan ?"
"Hem...," Ia berpikir,
"Karena kebetulan ada di sini, gimana kalau kita ke toko buku, aku mau beli komik, hehe...,"
"Ah.., harusnya aku sadar kalo itu kesukaan Shei Uzumaki...," Ledekku.
"Hu-uh, kak Alan !" Katanya malu sambil memanyunkan bibirnya. Imutnya.
*
Aku memilih-milih buku soal untuk latihan,
"Kak Alan.., udah belum milihnya?" Tanya Shei, aku melirik tas belanjanya yang berisi dua buah komik.
"Kok sedikit belinya? Emang cuman dua volume doang?" Tanyaku.
"Uhm.., enggak.., uang yang aku bawa cuman cukup beli segini, belum lagi kalo kak Alan ninggalin aku di sini, setidaknya aku harus antisipasi." Aku tersenyum mendengarnya, Shei-ku yang perhitungan sudah kembali.
"Apaan, sih? Aku gak mungkinlah ninggalin kamu. Lagian beli aja volumenya sebanyak-banyaknya, aku yang bayarin, terserah nanti mau kamu anggap hutang atau enggak." Kataku supaya dia tidak protes lagi.
Wajahnya yang dari tadi murung langsung berubah sumringah,
"Uhm.., maaf,ya kak Alan, meskipun aku ini orangnya suka manfaatin keadaan, tapi aku ini cukup adil dan tau diri, kok...,"
"Jadi?"
"Aku pinjam uang kak Alan dulu,ya !" Katanya semangat lalu mencari komik yang ingin ia beli.
Aku lalu pergi ke bagian majalah karena Elena tiba-tiba meminta aku membelikannya majalah yang sempat dulu jadi majalah langganannya.
*
"Please.., jangan tinggalin saya..," tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita di bagian majalah yang terletak di sudut toko buku.
"Saya tidak bisa...," Kini suara pria. Tapi suara ini terdengar familiar. Diriku ini tidak bisa tahan untuk melihat bahwa aku ini salah kira saja.
Aku mengintip dari balik rak buku dan aku langsung menyaksikan adegan dewasa di sana. Seorang wanita yang sedang mencium bibir pria yang tidak lain adalah Daddy-ku. Tiba-tiba tubuhku lemas. Haruskah aku melihat adegan ini lagi? Aku terduduk lemas, tapi berhasil tidak mengeluarkan suara.
"Oh ya ampun !!" Tiba-tiba di depanku sudah ada Shei yang kaget dan menutup matanya. Sepertinya dia melihat apa yang aku lihat. Ia lalu membuka matanya pelan-pelan dan melirik ke arahku,
"Kak Alan? Kok kakak duduk di sini?" Tanyanya bingung.
"Shei...,"
"Hm?"
__ADS_1
"Boleh,gak aku meluk kamu lagi?" Tanyaku.
Shei lalu duduk di hadapanku dan memelukku. Aku langsung memeluknya erat.
*
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Shei selama di perjalanan.
"Kak Alan mau susu stroberi?" Tanya Shei menawarkan. Aku langsung memeluknya,
"Gak mau.., maunya meluk kamu terus..., Selamanya!!" Kataku manja.
"Kak Alan.., jangan gini Doong.., kan aku udah izinin kak Alan bersandar di bahu aku." Kata Shei.
"Iya, deh, iya..," kataku sambil melepas pelukanku.
"Uhm.., Shei..,"
"Hm?"
"Tadi kamu lihat juga,ya?" Tanyaku.
"Li,lihat apa?" Tanya Shei.
"Itu.., yang di toko buku." Kataku.
Ia lalu menoleh ke arahku,
"Uhm..., Kak Alan juga ngeliat?" Ia malah balik tanya.
"Iya...," Kataku.
"Shei..," panggilku lagi.
"Kenapa,kak?"
"Kamu gak penasaran kenapa aku duduk tadi?" Tanyaku, entah kenapa rasanya aku mau mencurahkan isi hatiku padanya.
"Penasaran..., Tapi aku gak mau maksa kak Alan buat cerita, kok..," kata Shei.
"Kamu emang yang terbaik...," Kataku lalu memeluknya lagi, tapi hanya sebentar.
"Tapi, Shei.., laki-laki itu ayahku...," Kataku jujur.
"Eh?"
"Tapi perempuan itu bukan ibuku." Kataku lagi.
"Eeeh??!!!!" Kata Shei kaget, aku tersenyum kecil, sudah pasti dia akan kaget.
"Eh?" Kataku kaget. Tiba-tiba tangannya itu mengusap pipiku lembut.
"Cup, cup, cup...," Katanya.
"Pft...," Aku malah tertawa mendengarnya. Aku langsung mengangkat kepalaku dan memandangnya.
"Makasih,ya Shei...," Kataku sambil memegang tangannya yang mengelus pipiku tadi.
__ADS_1
Shei mengangguk sambil tersenyum.
"Den Alan.., udah sampai di rumah non Sheilla, nih..," kata pak Anjar.
"Oh,iya, Pak." Kataku.
"Ya udah kak Alan, aku pulang dulu,ya.., makasih udah anterin. Uhm.., besok pasti aku bayar uangnya." Kata Shei dengan wajah cerianya. Padahal hari ini dia dihina habis-habisan sama Andra. Ia lalu hendak membuka pintu, tapi berhenti dan malah berbalik menghadap ke arahku.
"Kenapa__,"
Lagi-lagi dia memelukku, tidak berkata apa-apa, tapi rasanya nyaman.
"Udah." Katanya lalu melepas pelukannya.
"Kalau begitu, daah kak Alan..," katanya lalu langsung keluar dari mobilku.
Aku tersenyum,
"Daah...," Kataku.
*
Sheilla POV
Aku masuk ke dalam rumahku. Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada orang, aku langsung terduduk lemas. Wajahku kini benar-benar merah,
"Sebenarnya apa yang aku lakukan? Kenapa seenaknya meluk kak Alan kayak tadi, hu-uh!!" Kataku malu sambil menutupi wajah.
"Shei.., kamu kenapa?" Tiba-tiba aku mendengar suara kak Laila.
Aku langsung membuka wajahku dan membenarkan tas gendongku,
"Ehem.., tadi jatuh...," Kataku."
"Jatuh? Kok gak kedengeran gedubraknya?" Tanya Kak Laila.
"Kak Laila lagi fokus yang lain, kali !" Kataku yang sebenarnya sangat malu ketahuan.
"Iya kali,ya..," katanya.
Aku lalu berdiri,
"Udah, Shei mau mandi...," Kataku lalu pergi melewati kak Laila.
*
Keesokan harinya,
Hubunganku dengan Reyna belum membaik. Ia masih mengabaikanku, bahkan dia pindah duduk. Sekarang aku duduk bersama Farel. Cowok otaku di kelasku. Yah, untungnya duduk sama dia karena aku juga agak otaku.
Waktu istirahat pun hanya aku nikmati sendiri sambil memandang kak Alan yang sedang main basket dari balkon. Enaknya kelas sembilan, cuman try out aja kerjanya.
Kak Alan lalu melempar bola ke ring dan masuk !
"Yes !" Kataku ikut senang. Kak Alan tersenyum bangga. Lalu tiba-tiba kak Andra muncul dan mendekati kak Alan dan,
Bug!
__ADS_1
Kak Alan jatuh tersungkur ke lapangan.