
Alvin POV
Hari ini langit begitu cerah, tetapi tidak teralu panas. Setidaknya aku bisa dengan tenang menikmati secangkir kopi hangat di Cafe langganan yang tak jauh dari tempat aku bekerja. Ya, sebelum masuk, biasanya aku menyempatkan diri pergi ke Cafe ini. Aku lebih menyukai suasana di Cafe ini daripada Cafe yang ada di dalam gedung, tempat aku bekerja.
Cafe ini baru buka, jadi sangat sepi. Hanya ada dua orang wanita yang sedang berbincang-bincang sambil menikmati minuman mereka juga seorang wanita yang datang ke arahku. Tunggu ! Sepertinya aku mengenal wanita itu, tetapi aku begitu tidak yakin. Wanita itu bahkan melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Kira-kira siapa wanita itu?
"Hai Kak Alvin, lama tidak berjumpa...," Katanya.
Deg !
Suaranya begitu familiar. Aku kini masih menatapnya kebingungan. Aku berusaha mengingatnya, sedangkan dia duduk di meja yang sama denganku sambil membawa kopinya,
"Kamu siapa?" Tanyaku yang menyangkal tebakanku. Ya, suaranya seperti suara Sheilla, gadis yang membuatku tidak bisa jatuh cinta lagi pada perempuan manapun. Namun, Sheilla-ku, bukannya dia gemuk? lalu siapa wanita ramping ini?
"Sheilla Inggrid. Tidak ingat ?" Tanyanya sambil menyeruput kopinya.
BRAK !
Aku malah menggebrak meja saking tak percayanya,
"Sheilla Inggrid ? Kamu bercanda ?" Tanyaku.
"Tidak." Ia lalu merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kartu,
"ini KTP ku.., bisa dipastikan."
Aku mengambil KTP itu dan membacanya, namanya memang Sheilla Inggrid, suaranya juga sama, bahkan tatapan tajamnya yang paling menakutkan, Tetapi foto di KTP itu adalah foto gadis ramping di hadapanku.
"Aku diet..., perlu waktu hampir satu tahun..," Katanya menjawab pertanyaan di benakku.
"di,diet ? Kenapa?" Tanyaku. Ya, aku lebih suka dia yang gemuk.
"Demi kak Alan...," Rupanya dia masih berhubungan dengan Alan.
Ia tiba-tiba tertawa,
"kenapa kamu tertawa?" Tanyaku.
"Kak Alan waktu itu jadi gemuk karena jadi kelinci percobaan masakan temannya yang exkur tata boga, akhirnya dia diet, ya, jadi aku ikutan diet buat nemenin dia, hahaha...," Tawa Sheilla.
Alan bisa gemuk ? Seperti apa wujudnya ? Pasti lucu. Seingatku, di usianya yang masih 14 tahun pun dia punya roti kasur di perutnya. Eh, tunggu, kok jadi mikirin dia?
"ka,kamu kenapa bisa ada di sini ? Jakarta-Berlin itu gak dekat loh.., gak cuman bisa ditempuh dengan mobil atau bus..,"
"Yah, aku juga tau itu,kak.., Kak Alvin masih sama, nih, masih kocak...," Katanya sambil tertawa kecil. Ya, aku masih sama seperti 10 tahun lalu, masih mencintaimu Shei. Namun sepertinya kamu masih mencintai Alan. Seharusnya kalian sudah putus,kan waktu SMP.
"jadi, kenapa kamu ada di sini?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Aku__,"
Tiba-tiba ponselnya berdering,
"aduuh.., si cerewet satu ini...," Keluhnya,
"sebentar, ya Kak..," Katanya izin padaku, aku hanya menganggukkan kepala dan ia langsung mengangkat panggilan di ponselnya,
"Ya kak Alan..,"
Deg !
Jadi yang telepon adalah Alan ?
"Iya, iya.., kakak udah bener.., lihat ke arah jarum jam sembilan dan__, udah ? Oke...," Kata Sheilla lalu menutup teleponnya.
"Alan?" Tebakku.
"Iya !" Bukan Sheilla yang menjawab melainkan seseorang di belakangku. Aku membalikkan badan dan menemukan dua orang pria yang sedang bergandengan.
"Ih, manja banget kak Alan ! Kak Jun juga ngapain nemenin ?? Kan udah sama aku !!" Omel Sheilla.
"Tidak apa-apa Shei.., aku suka jika bersama Alan...," Kata Pria yang wajahnya agak blasteran.
"Bodo amet.., Lagian Aku juga lagi kangen sama Jun, Wee...," Alan membalas Omelan Sheilla. Tunggu, Jelas dari wujudnya adalah Alan, tetapi kepribadiannya berubah.
"Udah, ngapain berdua-duaan berdiri di situ ? duduk, ambil bangku !" Omel Sheilla.
"Ih, Shei galak banget...," Komen si pria blasteran.
"emang, tapi gue suka." Kata Alan cekikikan sendiri. Aku tersenyum miring, rupanya mereka benar-benar masih berhubungan. Mungkin balikan lagi setelah aku pergi ke Berlin waktu lulus SMP.
Dua pria itu lalu duduk di meja yang sama denganku. Meja yang harusnya hanya untuk dua orang ini tiba-tiba jadi penuh.
"jadi.., kalian mau apa?" Tanyaku dingin.
"Bilang kak Alan...," Kata Shei. Gara-gara itu aku jadi memandang wajah Alan yang ternyata juga sedang memandangku, aku segera memalingkan pandangan,
"ah.., aku malu mengatakan ini...," Kata Alan.
"emangnya kamu punya malu, hahaha...," Tawa si pria blasteran.
"Oh,iya.., lupa. Gak punya, hahaha...," Alan malah ikutan tertawa. Dia benar-benar sudah berubah kepribadian.
"Hey.., jangan bikin kak Alvin il-feel.., buruan bilang !!" Tegur Shei. Sheilla juga nampaknya lebih tegas sekarang.
"Gue kangen sama lu, Vin...," Ungkap Alan tiba-tiba yang berhasil membuatku kaget.
__ADS_1
"Apa__, Apa-apaan, sih lu, Lan ??!!!!" Kataku reflek. Kok aku jadi malu mendengarnya ?
"Apa teralu berlebihan ? Hey, komen kalian berdua !!! Jangan ngetawain gue !!!" Omel Alan yang kini wajahnya sudah semerah tomat.
"apa gak ada kata-kata lain, kak?. pftt...," Sheilla bahkan menertawainya.
"tidak ada !!" Alan lalu menatapku,
"gue kangen sama Alvin. Dan itu emang adanya begitu. Sorry, Alvin, gue bersalah karena memutuskan untuk gak jadi temen lu lagi waktu itu. Gue bener-bener salah...," Kata Alan.
Aku tertegun dengan kalimatnya barusan,
"jawab ! Jawab ! Jawab !" Kata Sheilla dan Pria blasteran kompak.
"Gue minta maaf, dan sorry sekali lagi karena baru sadar setelah 10 tahun..., Harusnya gue minta maaf sama lu 10 tahun lalu, sebelum lu berangkat ke Berlin, tapi gue malu. 8 tahun lalu gue juga ke Berlin, tapi gue gak nemuin elu, meskipun sebenarnya kita ketemu tanpa sadar, yah.., cuman gue yang sadar elu enggak...," Fakta macam apa ini ?
"lu tau,kan kenapa kita gak bisa jadi teman ?" Tanyaku.
"karena mencintai wanita yang sama...," Jawab Alan.
"Lalu, apa wanita itu memilih salah satu di antara kita atau bahkan memilih pria balsteran ini?" Tanyaku sambil menatap pria blasteran yang duduk di samping Alan,
"hehe.., namaku Jun." Dia malah memperkenalkan diri,
"Oh,iya, wanita yang kalian maksud siapa? FYI aku mau menikah, jadi sepertinya tidak mungkin wanita yang kalian bicarakan adalah calon istriku...," Kata Pria blasteran alias Jun menjelaskan.
"menikah ???" Aku malah kaget,
"Tenang.., bukan kak Kay.., tapi Sheilla." Jawab Alan.
"ohoho.., untunglah." Kata Jun malah lega.
"eeh ?? Sheilla ?" Tiba-tiba dia kaget. Sebenarnya Jun itu siapa ? Dia sangat aneh, tapi udah laku.
"Sheilla, jadi kamu akan pilih siapa?" Tanya Alan tiba-tiba.
Sheilla kini menatap kami semua tajam. Entahlah, aku merasa takut. Kami tidak pernah berhubungan selama 10 tahun, mungkinkah ia akan memilihku ? Ah, tapi aku saja mencintainya selama 10 tahun.
Sheilla kini menatapku tajam. Membuat aku semakin gugup. Lalu ia tersenyum. Eh ? Apa arti dari senyumnya ?
*
*
*
Bagi Pembaca Prince Charming and The Beast, Sebenarnya cerita extra Story ini udah ada dari kapan tau, tetapi mama Uzda menunggu performa dari novel ini, semoga kalian bisa menikmati cerita extranya ya 😊😊🙏🙏
__ADS_1