Prince Charming And The Beast

Prince Charming And The Beast
Keputusan Alan


__ADS_3

Kutukan Tuan Putri terus berlanjut. Kini Sang Pangeran menerima dirinya tak berdaya lagi. Satu persatu orang-orang yang mencintainya pergi meninggalkannya. Ia seperti diasingkan. Kekayaan, ketampanan, kecerdasan semuanya tidak berguna lagi baginya. Hanya rasa sakit di hati yang ia rasakan, ia mulai khawatir rasa sakit di hatinya akan membunuh dirinya. Kini satu-satunya cara adalah membuat Tuan Putri yang mengutuknya untuk mencabut kutukan tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi Putri buruk rupa itu di kerajaannya.


*


*


*


Alan POV


Akhirnya aku mengantar Alvin ke UKS dan mengobati lukanya karena tidak ada guru UKS di sana. Di sana aku dan Alvin tidak bertemu dengan Shei. Mungkin dia memang tidak ke UKS.


"Lu aneh, Lan..," kata Alvin.


"Apa?"


"Lu yang mukul gue, lu juga yang ngobatin luka gue...,"


"Gue cuman merasa bersalah sama lu karena udah mukul elu...," Kataku.


"Lan.., sorry..," katanya.


"Buat apa?"


"Karena udah suka sama cewek lu." Katanya.


Aku berhenti, tapi hanya diam. Perasaanku campur aduk sekarang. Bisa-bisa dia habis kalau aku mengeluarkan semuanya.


"Tapi, bukannya lu main-main sama Shei?" Tanya dia lagi. Pertanyaannya membuatku tertohok.


"Awalnya..., Tapi sekarang enggak lagi." Kataku jujur. Aku hanya jujur padanya. Bahkan aku sering berbohong jika yang bertanya adalah Andra.


"Heheh...," Dia malah terkekeh.


"Ini karma kali,ya gara-gara kita udah sering mainin cewe bareng-bareng...," Kata Alvin. Selalu karma yang dia bilang.


"Tapi gue gak bisa nyerah buat Shei, Lan. Gue gak tau kenapa...," Kata Alvin jujur. Aku memasang plester di lukanya yang ada di tulang pipinya, lalu aku menatap matanya,


"Vin.., anggap aja ini hari terakhir gue jadi temen lu dan lu jadi temen gue. Gue gak bisa anggap lu temen gue lagi kalau begini. Sorry..," kataku berusaha bersabar.


"Apa?" Katanya. Kenapa hal itu yang keluar dari mulutnya. Apa aku juga punya arti baginya?


"Jadi.., kita gak bisa jadi rival secara sportif,ya?" Tanyanya.


"Gak ada rival yang temenan, tuh..., Jadi mendingan kita gak usah jadi temen lagi." Kataku. Aku benar-benar sudah sangat bersabar. Aku terpaksa memutuskan ini. Masalahnya aku tidak tahu kapan emosiku ini akan meluap lagi dan menghabisinya lagi.


"Gitu,ya...," ia pundung lalu terkekeh.


"Lan, moga aja lu sukses ya, UN nya..," katanya tiba-tiba gak nyambung.

__ADS_1


Aku malah tersenyum saat itu. Aku seakan lupa dengan perasaanku tadi.


"****, yang ada elu yang harus belajar lebih keras lagi !" Kataku lalu meninju pelan bahunya.


"Ih, sakit **** !"


"Lu yang **** !"


"Elu !!"


"Elu !!"


Kami terdiam lalu saling pandang,


"Pft....," Kami berdua malah tertawa bersama. Mungkin ini tawaku bersama Alvin yang terakhir.


*


Saat pulang sekolah. Lagi-lagi aku ngotot pulang dengan jalan kaki. Aku ingin memiliki waktu berdua bersama Shei. Aku ingin sekali memeluknya. Aku benar-benar bodoh malah mengabaikannya selama ini. Tapi aku tidak bisa menemuinya. Dia sepertinya sudah pulang duluan. Padahal hari ini aku hanya try out empat mata pelajaran, tapi malah tidak bisa bertemu dengannya. Akhirnya aku memutuskan jalan kaki menyusuri jalan yang kemarin kami berdua lewati.


Kini aku sampai di sebuah lapangan. Saat lewat sini, mata Shei tidak bisa berhenti memandangnya.


"Mungkinkah di ada di sini?" Kataku bicara sendiri sambil memandangi lapangan itu dan orang-orang yang sedang asyik bermain sepak bola. Aku lalu menoleh ke depan dan orang yang aku cari tiba-tiba ada di hadapanku,


"Shei !" Kataku. Aku mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apa aku berhalusinasi atau tidak. Aku membuka mataku lagi dan Sosok Sheilla masih berdiri di sana sambil tersenyum. Ada luka di pipinya. Apakah di ditampar ? Masa bodo. Aku langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang.


"I'm sorry, Shei.., forgive me please...," Kataku. Aku bisa mencium aroma tubuhnya. Bukan aroma parfumnya, ini aroma tubuhnya. Ini tidak salah lagi, dia pasti Shei milikku. Shei lalu memegang tanganku yang memeluknya lalu melepasnya. Ia lalu berbalik. Ia menatapku tajam. Mungkinkah aku langsung bisa jadi batu sekarang juga?


"I Miss You...," Kataku. Ia terdiam sambil membuang pandangannya ke arah lain. Lalu tiba-tiba ia terisak.


"Shei, kenapa?" Tanyaku.


"Kak, kenapa, sih kakak gak putusin aku aja?" Tanyanya.


"Gak bisa, Shei..., Aku masih butuh kamu...," Kataku.


"Apa?"


"Please.., sebentar lagi,ya...," Pintaku. Bodoh, kenapa malah bilang sebentar lagi ?


"Sebentar itu berapa lama?" Tanyanya dingin.


"Mungkin sampai aku ujian..,"


"Satu bulan lagi?" Tanyanya.


Aku memaksa diriku untuk mengangguk, hatiku benar-benar sakit.


Ia menatapku tajam lalu mendesah, "Baiklah." Katanya.

__ADS_1


*


Aku berjalan di belakangnya sambil terus memandangi punggungnya. Dia diam saja. Apa dia masih marah padaku? Ah, pasti iya.


"Shei...," Aku mengejarnya agar bisa lebih dekat lagi. Tapi dia tidak menjawab apa-apa.


"Kak Alan udah baikan sama kak Alvin?" Tanyanya tiba-tiba membuat aku kaget.


"Hah?" Dia mau bicara denganku.


"Udah...," Kataku.


Ia lalu tiba-tiba berhenti dan berbalik, aku kaget saat melihat wajahnya yang basah. Jadi isakannya masih berlanjut. Ia lalu menghampiriku dan mengambil tanganku,


"Tuh, kan, luka lagi...," Katanya. Aku lupa tangan yang tadi aku buat pukul Alvin adalah tanganku yang terluka kemarin. Padahal baru saja lukanya sembuh.


"Kak Alan nyebelin tau, gak !" Katanya lalu memindahkan tas ranselnya ke depan dan mengambil antiseptiknya. Ia lalu memberikannya pada lukaku,


"Aww.., sssh...," Rintihku.


"Tahan." Katanya lalu mengambil tissue dan mengelap tetesan cairan antiseptik yang menetes. Diam-diam aku memandangnya, Kukira dia membenciku, tapi malah masih peduli padaku.


"Thanks..," kataku.


Ia lalu memandangku,


"Kak Alan kalo mau berantem itu sama penjahat, jangan sama temen sendiri." Katanya malah mengomeliku.


"Pft...," Aku menahan tawaku melihat ekspresinya,


"Kalo temen sendiri penjahat, gimana?" Kataku meledeknya.


"Kak Alvin tapi bukan penjahat ! Kak Alvin itu orang baik. Baik banget." Kenapa dia malah memuji Alvin di depanku, senyumku tadi langsung pudar dan berubah menjadi cemberut.


"Emangnya sebaik apa, sih dia? Jangan-jangan dia cinta pertama kamu,ya?" Kataku cemburu.


Dia menghela napas,


"Dia gak akan menjadi cinta pertamaku atau cinta aku yang lainnya. Dia seru aja kalo dijadiin temen ngobrol." Kata Shei membuat aku tenang. Bukankah ini artinya Alvin tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk merebut Shei-Ku?


"Baguslah...," Kataku senang lalu berjalan mendahuluinya.


"Oh,iya.., kak Alan mau anter aku Sampai rumah lagi?" Tanyanya.


"Iya...," Kataku.


"Gak usah. Kak Alan pulang aja." Kata Shei mengusirku lagi.


"Tapi...,"

__ADS_1


"Jangan ngikutin aku lagi." Tegas Shei lalu mempercepat jalannya. Aku hanya memandanginya yang lama-kelamaan menghilang.


__ADS_2