Prince Charming And The Beast

Prince Charming And The Beast
Tidak Kuat


__ADS_3

"Penasaran? Mau ikut gue?" Tawarku.


Aku langsung mendatangi meja Shei, temannya dan Alvin. Sebenarnya sudah biasa semua cewek yang jadi kekasihku pasti juga akan didekati Alvin. Kami berdua sering bermain pangeran hitam dan pangeran putih dengan cewek yang sedang aku atau Alvin pacari. Tapi tidak untuk Shei, dia itu hanya milikku seorang.


"Hai Shei...," Sapaku ramah. Shei langsung berhenti tertawa dan menatap wajahku lalu matanya langsung mengarah ke tanganku yang kemarin terluka, tanpa basa-basi ia langsung mengambil tanganku dan memperhatikannya,


"Lukanya udah mau kering..," katanya dengan wajah lega. Rasa cemburuku yang membara tadi langsung reda karena melihat senyumnya.


"Emm..., Lu bisa misi,gak? Gue mau duduk di sebelah Shei." Kataku pada temannya Shei yang tidak aku tahu namanya.


"Namanya Reyna, kak...," Kata Shei.


"Okey, bisa,kan gue duduk di situ, Reyna?" Tanyaku lagi.


"Ooh.., bisa-bisa...," Katanya yang masih terpukau. Ia lalu pindah di sebelah Alvin, dan Andra yang tadi berdiri di sebelahku duduk di sampingnya.


"Kemarin tangan kakak gak biru dipukul sama kakak aku,kan?" Tanyanya mencari-cari memar di tanganku. Aku hanya memandangnya sambil tersenyum.


"Sepertinya enggak...," Katanya dengan wajah leganya sambil tersenyum.


CUP !


Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak menciumnya, tapi aku masih menahan diriku untuk tidak mencium bibir tebalnya.


Dia kaget dan terpaku, ia langsung melepaskan tanganku dan kini ia mengusap pipinya yang barusan aku cium. Aku melihat ke arah tiga penonton di hadapan kami yang juga terbelalak dan terpaku. Setidaknya aku bisa menegaskan pada Alvin kalau dia tidak boleh bermain-main dengan Shei.


"Gila lu, Lan !!" Kata Andra.


"Kak Alan apaan, sih??" Tanya Shei jutek sambil menghapus bekas ciumanku di pipinya. Aku benar-benar kesal melihatnya.


"Apa? Gue salah nyium cewek gu__,"


"SALAH !!!" Tegasnya membuat Alvin, Reyna dan Andra terhentak karena bentakannya.


"Pokoknya salah !!! Ugh..., Kak Alan emang nyebelin !!!" Katanya lalu beranjak dan pergi.


"Uhm.., Shei.., tunggu..," kata Reyna lalu pergi mengikutinya. Sedangkan Alvin dan Andra memandangku dengan heran.


"Gue salah?" Tanyaku enteng.


*


Reyna POV


Aku mengejar Sheilla ke kamar mandi. Aku yakin dia pasti sangat shock dengan perlakuan kak Alan tadi. Dicium seperti itu adalah pengalaman pertamanya dan ciuman pertamanya. Bahkan ayah atau ibunya sendiri tidak pernah menciumnya. Tapi aku heran, kenapa kak Alan bisa sampai mencium seorang Sheilla jika hanya ingin mempermainkannya? Atau ia hanya ingin membuat Sheilla melayang teralu tinggi. Sheilla benar-benar menghadapi cobaan yang berat.

__ADS_1


"Shei...," Aku memanggilnya saat masuk ke kamar mandi. Di sana ia sedang mencuci pipinya yang tadi dicium kak Alan dengan sabun.


"Shei..., Kamu baik-baik aja?" Tanyaku sambil menghampirinya. Ia yang melihatku dari cermin langsung berbalik, wajahnya terlihat khawatir,


"Reyna..., Ta,tadi kayaknya Thalia dkk ngeliat, deh..., Aku khawatir mereka dendam...," Katanya. Pantas saja dia marah tadi, sampai akhirnya dia hanya ingin melindungi dirinya sendiri.


Aku lalu memeluknya,


"Dendam kenapa? Kan kamu yang pacarnya kak Alan..," kataku berusaha menghiburnya.


"Enggak. Aku bukan pacarnya. Dia cuman mau mainin aku doang..., Lihat aja, setelah ini juga bakalan putus. Biasanya gitu...," Kata Sheilla. Sepertinya dia sudah sering memperhatikan kak Alan.


"Tunggu, jadi kamu marahin dia itu sengaja? Biar dia mutusin kamu?" Tanyaku. Dia mengangguk pelan.


"Aku mau melepas hubunganku dari dia..., Aku mau lupain pernah kenal sama dia...," Kata Sheilla dengan mata yang berkaca-kaca. Aku gak ngerti kenapa matanya berkaca-kaca, mungkinkah karena dia merasa kesal dimainin atau hatinya berlawanan dengan kata-katanya?


*


Aku memberanikan diri menunggu kak Alan. Aku mau membuat perhitungan sama kak Alan, aku mau memojokkannya supaya cepat-cepat putus sama Sheilla yang begitu tersiksa.


"Loh? Lu Rina,kan?" Bukan kak Alan yang aku temui, malah kak Andra. Ya ampun, dia manis banget kalau dari Deket.


Aku menggeleng,


"Reyna, kak...," Kataku.


"Ma,mau ketemu kak Alan...," Kataku jujur.


Dia tersenyum, dia juga saksi kejadian tadi di kantin, jadi pasti tau maksudku,


"Mood Alan lagi jelek banget, gak berhenti-henti cemberut gara-gara dimarahin Sheilla...," Kata kak Andra. Apa berarti aku sebenarnya memasuki. Kandang harimau?


"Ja,jadi...,"


"Atau gini...," Kak Andra lalu mendorongku dan mengajakku duduk di bangku depan kelasnya,


"Lu mau ngomong apa, biar gue yang menghadapi amukan harimau itu buat elu...," Ya ampun, kenapa pemikiran kita bisa sama?


"Uhm.., itu.., kakak janji bakalan sampein ke kak Alan?" Tanyaku mulai serius.


Ia mengangguk sambil tersenyum.


"Uhm.., jadi gini,kak.., aku mau minta kak Alan putusin Sheilla." Kataku tanpa basa-basi dan berhasil membuat kak Andra kaget.


"Wait.., bukan gara-gara tadi,kan Sheilla nyuruh lu ngomong gini?"

__ADS_1


Aku menggeleng,


"Kak, sebenarnya Sheilla tau kalau kak Alan cuman main-main doang..., Makanya, dia mau kak Alan berhenti dan langsung lupain Sheilla...," Kataku.


Kak Andra terlihat menelan ludahnya, wajahnya terlihat kebingungan, sepertinya dugaan Sheilla kalau ia hanya dipermainkan memang benar.


"Kak Andra?" Tegurku.


Saat sadar aku memanggilnya, wajah bingungnya itu langsung ia ubah dengan senyuman,


"Oke.., nanti gue sampein. Gue juga mulai bosen sama permainan Alan. Jadi lu tenang aja,ya...," Kata kak Andra.


"Iya, makasih ya,kak..," kataku. Rasanya aku lega mendengarnya. Setidaknya Sheilla tidak akan merasa harinya terasa berat lagi.


*


Alan POV


Aku langsung pulang seperti kata Daddy. Suasana hatiku benar-benar buruk karena Shei malah marah gara-gara aku menciumnya. Benar saja saat sampai di rumah Daddy sedang sibuk menonton film action di televisi sambil memakan popcorn.


"Sore Daddy...," Sapaku setelah meletakkan sepatu dan tasku di tempat yang seharusnya,


"Sore...," Kata Daddy yang masih sibuk dengan filmnya.


"Sudah selesai ngerecokin Mommy?" Tanyaku.


"Sudah. Mommy berhasil mengusir Daddy karena sibuk di rumah sakit." Kata Daddy.


Aku tersenyum miring,


"Poor you are...," Ejekku.


"Hmph! Alan juga pasti abis diusir sama siapa itu.., cewek Alan,kan?" Daddy tidak mau kalah. Meskipun begitu aku tertohok juga.


"Ck, apa sekarang Daddy juga seorang peramal?" Ledekku.


"Haha.., kamu ini...," Kata Daddy lalu mengunyah popcornnya,


"Kalo cewek kayak gitu, putusin aja.., udah jelas kalian gak akan bersama, kecuali dapet wasiat kayak Daddy dan Mommy...," Kata Daddy santai.


"Emangnya kalo gak dapet wasiat, Daddy mau pisah sama Mommy?" Tanyaku iseng.


Daddy terdiam,


"Mungkin." Kata Daddy singkat lalu fokus pada filmnya. Entah kenapa mendengar itu membuat dadaku sesak. Apa keinginanku itu memang tidak akan pernah terkabul?

__ADS_1


"Dad.., Alan mandi dulu,ya..," pamitku lalu langsung ke kamar.


*


__ADS_2