Prince Charming And The Beast

Prince Charming And The Beast
Apakah ini akhirnya?


__ADS_3

Sang putri buruk rupa mengatakan, ia tidak bisa mencabut kutukannya. Sesungguhnya kutukan itu akan hilang jika penyakit hati Sang Pangeran hilang juga. Akhirnya sang Pangeran memutuskan untuk tinggal di istana tuan putri untuk menemukan cara menghilangkan penyakit hatinya. Satu per satu milikinya hilang, Kekayaan, pengawal, teman-teman. Ia benar-benar sendirian. Namun anehnya ia tidak merasa kesepian. Ia merasa ada yang aneh di dalam hatinya. Mungkinkah itu pertanda bahwa penyakit hatinya sudah hilang? atau sesuatu yang lain?


*


"Lu harus ikut kita !!!" Kata mereka lalu menarikku pergi. Apakah benar, sesuatu yang buruk akan terjadi lagi? Lebih baik aku ikuti saja. Aku juga penasaran apa yang akan terjadi, tetapi rasa sakit kepalaku malah makin menjadi, ah biarlah, tahan sedikit. Rasa penasaranku ini lebih kuat dibandingkan rasa sakit di kepala yang kurasakan.


Aku dibawa ke kantin oleh mereka dan di sana sudah ada kak Alan yang dikerubungi oleh para fansnya. Aku hanya menghela napas mendapatinya.


"Hal buruk sebenarnya akan benar-benar terjadi...," Batinku. Aku bisa menebak dari raut wajah kak Alan yang khawatir sambil menatapku, seolah dia memberitahu bahwa akan ada hal buruk yang terjadi.


"Kak Alan.., kak Alan gak mungkin,kan pacaran sama si jelek itu?" Tanya Vanessa. Mata kak Alan langsung menatap mataku. Ia benar-benar terlihat bingung, aku juga tidak mengerti apa yang membuatnya bingung, tapi aku harap dia tidak memberikan jawabannya yang egois.


Thalia menarik lengan kak Alan sehingga kak Alan menoleh ke arahnya,


"Kak Alan..., Kakak cuman di challenge sama kak Alvin dan kak Andra, kan buat pacaran sama si The Beast??? Aku dengar itu dari TEMEN TERBAIKNYA SHEILLA LOH, si REYNA...," Kata Thalia menekankan. Kata-katanya membuat jantungku ditusuk oleh duri besar, hal itu malah membuat kepalaku makin sakit. Tahanlah Shei.


Kak Alan menggigit bawah bibirnya singkat lalu menatapku lagi, ia seolah berkata, "apa yang harus kukatakan?"


Aku hanya mengedipkan mata pelan, semoga saja kak Alan tau maksudku.


Kak Alan mengambil napas dalam-dalam,


"Iya." Jawabnya membuat semua orang di sana serius memperhatikannya. Bahkan mataku ini menemukan kak Alvin dan kak Andra yang tak jauh dari situ yang juga berusaha mencuri dengar.


"Iya apa, kak???" Tanya mereka. Suara mereka semua cempreng, kak Alan benar-benar hebat bisa menahannya.


"Iya.., mana mungkin gue pacaran sama dia__," lirih kak Alan.


"Tuh,kan bener, cowok seganteng kak Alan mana mungkin pacaran sama si jelek Sheilla !!!" Kata Marina.


"Apa yang dibilang Marina bener,kan kak ???" Tanya mereka kompak, mendengar ocehan mereka membuat kepalaku makin sakit, diam-diam aku memijit-mijit kepalaku agar kak Alan tidak tahu.


"Iya...," Kata kak Alan lagi.


"Iya apa, kak?" Lagi-lagi mereka menuntut.

__ADS_1


Mata kak Alan yang menatapku mulai berkaca-kaca, ia seolah menahan sesuatu,


"Iya..., Gue sama Sheilla gak cocok..., Kita gak mungkin bersama."


Aku tersenyum pada kak Alan agar ia tahu apa yang ia katakan memang seharusnya ia katakan.


"Tuh, denger The Beast !!!" Perhatian mereka mulai beralih padaku


"Lu tuh jangan sok !!!" Beberapa orang mulai mendekatiku dan menoyor kepalaku,


"Lu sadar diri !!!" Telingaku sudah tak mampu mendengar lagi, mungkin mereka semua menyumpahiku, aku sudah tidak peduli lagi, kepalaku makin sakit.


"Kalian berhenti ! Dia bukan pacar gue, jadi gak perlu ganggu dia...," Aku masih bisa mendengar suara kak Alan. Apa karena ini ia begitu mudah merelakan hubungan ini? Tunggu, apa yang aku harapkan?


Bruk !


Aku tak kuat lagi menahan rasa sakit kepala yang sangat berat ini dan aku jatuhkan begitu saja di atas meja.


"ALAN !! BRENGESEK LU !!" Suara kak Alvin adalah suara terakhir yang kudengar.


*


Sheilla membanting kepalanya. Dia kenapa? Apa aku keteraluan? Tanganku tidak tahan jika tidak menyentuh kepalanya, tapi semua orang memperhatikan,


Bug !


Aku langsung tersungkur jatuh. Semua orang terpaku melihat kejadian ini. Lagi-lagi aku dipukul, padahal luka dari pukulan Andra juga belum sembuh.


"ALAN !!! BRENGSEK LU !!!" Alvin yang menyukai Shei berdiri paling depan di saat seperti ini. Aku menyeka cairan kental merah di sudut bibirku lalu bangkit. Aku tidak melawannya. Aku tahu aku salah. Aku hanya menepuk pundaknya,


"Jaga Shei...," Bisikku. Menyerah atas Sheilla Inggrid, tidak ada dalam kamusku. Hanya saja hubungan kami dimulai dengan cara yang salah. Hubungan seperti ini sebaiknya tidak perlu dilanjutkan.


*


Alvin dan beberapa guru membawa Shei ke rumah sakit. Sejak saat itu Shei tidak masuk sekolah. Aku berkali-kali berusaha untuk tidak memikirkannya. Aku harus fokus pada ujianku, tapi tidak bisa, akhirnya aku menyerah dan meminta Calvin, sekertaris ayahku untuk mencari informasi tentang dirinya.

__ADS_1


Sekarang aku ada di sini. Di depan ruang 1102. Ini adalah ruangan kelas III sebuah rumah sakit swasta. Calvin bilang Shei dirawat di sini. Ia terkena penyakit demam berdarah. Akhir-akhir ini penyakit itu memang sedang mewabah, banyak korban yang meninggal karena penyakit ini, tetapi Shei-ku sepertinya sedang tidak sekarat. Aku menghela napas lalu membuka pintu itu. Kamar ini berisi 3 tempat tidur dan semuanya terisi, bahkan mereka menutup semua gordynnya. Haruskah aku memeriksanya satu per satu?


Akhirnya aku memutuskan memeriksanya satu persatu, aku memilih tempat tidur di tengah dan mengintipnya,


"Cari siapa, Mas?" Seorang wanita paruh baya yang ada di dalam situ, aku langsung melirik tempat tidur dan di situ seorang anak perempuan bermata besar dan berkulit putih yang sedang tertidur, jelas itu bukan Shei-ku.


"Maaf, saya salah...," Kataku lalu pergi. Aku pergi ke tempat tidur dekat jendela dan mengintipnya,


Mataku langsung bisa menangkap sosok Shei yang sedang membaca komik, itu komik yang dibeli bersamaku waktu itu. Aku langsung tersenyum,


"Shei....," Aku memanggil namanya. Shei langsung mengangkat kepalanya,


"Kak Alan?" Ia bahkan kaget dan menjatuhkan komiknya.


Aku langsung mendekatinya dan memeluknya. Ia diam saja tidak melawan,


"Kak...," Ia menegurku.


"Eh, maaf, Shei..., Aku kangen banget sama kamu...," kataku melepas pelukanku dan duduk di bangku yang ada di situ.


"Kok kakak bisa ada di sini?" Tanyanya kaget, bahkan matanya berkaca-kaca.


Aku menggaruk-garuk kepalaku,


"Maaf, Shei...," Lirihku.


"Kalau mau bicarain tentang putus, aku udah maafin." Katanya dingin. Apakah hanya perasaanku yang masih tersisa. Apakah dia sudah melepaskannya begitu saja? Atau lebih parahnya, sejak awal dia memang tidak memiliki perasaan apapun padaku. Tidak. Itu tidak mungkin. Dia bahkan menangis untukku.


"Kamu masih hidup?" Tanyaku lagi-lagi ngelantur.


"Masih hidup? Ya iyalah kak Alan. Emangnya kak Alan kira aku hantu?" Tanyanya.


Aku langsung menundukkan kepalaku, aku malu sekali.


"Kak Alan ke sini mau melihat keadaanku? Aku baik-baik aja. Jadi kak Alan boleh pulang." Dia bahkan mengusirku sekarang?

__ADS_1


"Tapi, Shei....,"


"Kita,kan udah bukan siapa-siapa lagi." Potongnya. Kalimatnya membuat aku tidak bisa bergerak. Benarkah ini semua sudah berakhir?


__ADS_2