
Keesokan harinya,
Aku turun ke bawah untuk sarapan, namun tiba-tiba ada seseorang yang mengejutkanku,
"Selamat pagi little brother...," Suara laki-laki yang sangat aku rindukan. Aku langsung mencarinya dan ternyata dia sedang memakai celemek sambil membawa masakannya dari dapur,
"Mas Fadlan !!!!" Kataku heboh lalu langsung menghampirinya dan mengambil piring berisikan telur mata sapi itu dan meletakkannya di atas meja.
"Ya ampun.., kamu seneng banget, sih Mas ada di sini...," Katanya menggodaku.
"Ya senenglah.., di rumah sekarang cuman berdua doang sama Elena." Kataku. Mommy juga sedang menghadiri pelatihan di luar kota yang diadakan organisasi profesinya dan Mommy menjadi pengisi acaranya.
"Terus bosen gitu kalau sama Elena doang?" Protes Elena yang tiba-tiba muncul.
"Yah, enggaklah sayang...," Kataku sambil memeluk dan mencium kening adik Perempuanku itu.
"Jangan langsung mengintimidasinya begitu, Elena.., eh?" Kata Mas Fadlan saat melihat wajahku.
"Muka kamu, kenapa memar-memar gitu?" Tanya Mas Fadlan.
"Tau,tuh mas Fadlan.., katanya berantem sama temennya..," kata Elena mengadu.
"berantem? Kenapa? Cewek lagi?" Tanya Mas Fadlan terkekeh, ia tahu betul kebiasaanku yang suka berpacaran dengan banyak gadis sekaligus.
"Enggak..," kataku lalu duduk di kursiku.
"Terus?" Tanya Mas Fadlan.
Aku menghela napas,
"Ini soal Daddy..," kataku lagi yang membuat Mas Fadlan dan Elena menoleh padaku.
"Soal Daddy?" Tanya Mas Fadlan. Ia juga sangat tahu kebiasaan buruk Daddy yang suka bersenang-senang dengan banyak wanita tanpa memandang statusnya.
Aku menelan ludah lalu mulai menceritakannya.
*
Mas Fadlan mengantarkanku ke sekolah,
"Alan...," Mas Fadlan memanggilku.
"Kenapa Mas?" Tanyaku yang tidak jadi pergi,
"Mas mau ketemu sama Shei.., nanti weekend bawa dia ke rumah,ya." Kata Mas Fadlan. Aku memang menceritakan tentang Shei pada Mas Fadlan. Aku tidak bisa berhenti memujinya.
"Oke.., Alan tanya dulu sama orangnya,ya..," kataku. Kemungkinan besar Shei pasti akan menolaknya, apalagi sebentar lagi kami berdua akan segera putus.
*
__ADS_1
Aku tersenyum mendapat balasannya. Kukira dia akan menolak lagi. Aku tidak tahu kenapa Mas Fadlan ingin Shei datang ke rumah. Tunggu, bukankah ini seperti acara lamaran? Ya ampun, aku bahkan belum lulus SMP, kenapa memikirkan hal begini?
*
Sheilla POV
"Jadi lu langsung pulang abis ini?" Tanya Farel padaku. Entah kenapa sejak duduk sebangku kami jadi akrab.
"Enggak.., aku mau makan siang bareng kak Alan." Kataku.
"Woah? Jadi bener gossip itu kalo elu pacaran sama kakak itu?" Tanya Farel malah kaget.
"Uhm.., udah anggap aja gossip." Kataku yang tidak mau orang lain tahu.
"Ehm!" Tiba-tiba kak Alan muncul sambil melipat tangannya.
"Eh, kak.., maaf..," kata Farel langsung menjauh.
"Tuh lu tau, kalo Shei itu cewek gue...," Kata kak Alan jutek. Dia kalo kayak gini agak mengerikan.
"Ayo, Shei.., pak Anjar udah nunggu." Kata kak Alan lalu jalan duluan. Mungkin ia masih marah.
"Aku duluan,ya Farel.., makasih..," kataku pamit.
"Iya." Kata Farel.
*
"Kak Alan gak pegel cemberut terus?" Tanyaku.
"Lagi gak bisa diajak bercanda. Lagi bete!" Kata kak Alan yang mengerti kalau aku memang meledeknya.
"Maaf,kak Alan kalo aku salah..," kataku merajuk. Tunggu, sejak kapan aku bisa merajuk seperti ini?
"Ah.., sial..," kata kak Alan mulai melemaskan wajahnya,
"Kalau kamu imut gini, gimana aku bisa marah sama kamu??" Tanya kak Alan sekarang mencubit lembut kedua pipiku.
"Kak, Farel itu temen aku doang." Kataku.
"Iya, aku juga tau..., Tapi, kesel aja gitu dia akrab banget sama kamu." Kata kak Alan.
"Iya,iya.., lain kali gak akan teralu akrab...," Kataku.
GREB!
Kak Alan memelukku,
__ADS_1
"Kamu itu punya aku. Ingat itu...," Kata kak Alan lagi. Kini aku membalas pelukannya.
"Iya, aku ingat." Kataku.
*
Aku tidak tahu kenapa kak Alan mengajakku untuk makan siang bersamanya di rumahnya. Namun sepertinya aku akan diinterogasi oleh kakak laki-laki kak Alan yang wajahnya sama persis dengan kak Alan ini. Bedanya dia punya jenggot sedikit di dagunya. Berbeda lagi dengan adik perempuan kak Alan yang dari tadi menatapku sinis, seolah tidak menyukaiku. Adik perempuannya bahkan cantik sekali. Kata kak Alan dia seumuran denganku.
Banyak hal yang ditanyakan oleh Mas Fadlan tentang diriku. Dia benar-benar mengorek segala sesuatu tentang diriku bahkan sampai pekerjaan dan latar belakang kedua orang tuaku. Sayangnya aku ini memang terbiasa jujur.
Setelah selesai acara interogasinya tiba-tiba Elena mendatangiku, dia menatapku seperti Thalia and the geng menatapku,
"Heh, siapa nama kamu...," Katanya jutek.
"Sheilla..," jawabku.
"Nah, Sheilla, aku boleh memanggilmu dengan nama saja,kan ? Yah.., meskipun kamu pacar kakakku, tapi kamu seumuran denganku..," katanya masih jutek.
"Boleh..," kataku ramah.
Dia kesal padaku, maka aku tidak boleh kesal padanya, meskipun agak menyebalkan juga mendengarnya bicara dengan nada yang jutek.
"Aku heran, kenapa kak Alan bisa-bisanya membawamu ke sini sebagai pacarnya, setahuku pacar kak Alan itu cantik-cantik semua, tidak ada yang sejelek kamu!!"
"Ah.., begitu, ya..," Aku selalu bingung harus menanggapi hal ini dengan apa. Tapi sepertinya adik perempuannya ini sangat mengkhawatirkan kak Alan. Ya, menjadi orang tampan, jenius dan kaya memang agak rawan didekati cewek-cewek parasit.
"Ugh ! Kamu ini udah menghipnotis kakakku ya supaya suka sama kamu??!!"
"Iya!! Iya!! Dia udah menghipnotis gue !! Kenapa ??!!" Kata kak Alan yang tiba-tiba datang. Dia malah membelaku.
"Kak Alan, kenapa marah sama dia? Dia hanya sangat menyayangi kak Alan...," Kataku.
Ia terdiam.
"Ugh.., apaan, sih kamu!" Katanya tiba-tiba membuang mukanya lalu pergi. Aku heran, dia itu kenapa?
"Kak Alan, dia kenapa?" Tanyaku.
"Entahlah.., biarkan saja.., oh,iya.., sekarang aku antar kamu pulang,ya..," kata kak Alan.
Aku hanya menganggukkan kepalaku menurutinya.
*
Hari-hari berlalu hingga akhirnya hari perjanjian tiba. Hari dimana aku bisa bebas dari status pacar Alan Madaharsa Antara. Seharusnya aku bahagia, tapi entah kenapa perutku terasa sakit, seolah akan ada hal buruk terjadi padaku.
BRAK !!!
Aku baru kembali dari kantin setelah membeli beberapa cemilan untuk mengisi energiku dan tiba-tiba Marina dan Vanessa, teman Thalia menggebrak mejaku,
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyaku berusaha tenang. Ah,sial.., tiba-tiba aku merasa kepalaku sakit, tapi aku harus mendengarkan ocehan mereka.
"Lu harus ikut kita !!!" Kata mereka lalu menarikku pergi. Apakah benar, sesuatu yang buruk akan terjadi lagi?