
Kak Alan lalu melempar bola ke ring dan masuk !
"Yes !" Kataku ikut senang. Kak Alan tersenyum bangga. Lalu tiba-tiba kak Andra muncul dan mendekati kak Alan dan,
Bug!
Kak Alan jatuh tersungkur. Aku yang tadi bertopang dagu langsung berdiri tegak, Mungkin kak Andra salah pukul,
"Brengs*k lu anak ******* !!!!" Teriak kak Andra.
Kata-kata kak Andra membuat aku mematung. Kenapa tiba-tiba kak Andra mengatakan itu? Bukankah masalahnya padaku? Seharusnya kak Alan tidak bersalah.
Kak Alan lalu berdiri sambil mengusap sudut bibirnya yang tadi di pukul kak Andra, dari atas sini aku jelas bisa melihat cairan kental merah keluar dari sudut bibirnya. Aku menggigit bibir bawahku, rasanya aku ingin ke sana dan mengobatinya, tapi itu tidak mungkin.
"Apa, sih maksud lu, Ndra?" Tanya Kak Alan masih tersenyum. Ia pasti berpikir kalau kak Andra sedang bercanda.
"Asal lu tau, gara-gara bokap lu, keluarga gue hancur !!! Nyesel gue kenal sama lu, anak ******* !!!!" Kata Kak Andra. Suara kak Andra begitu lantang, mungkin semua orang bisa mendengarnya. Kak Alan pasti sedih mendengarnya. Tapi kak Alan diam saja, tidak marah, tidak sedih, tidak menyangkal juga.
"Kenapa? Lu diem aja? Berarti yang gue bilang bener,kan??" Kak Andra berusaha memancing kak Alan.
"Brengs*k lu Andra !!!" Kata kak Alan lalu melayangkan tinjunya. Aku hanya bisa memejamkan mataku, aku tidak mau lihat pertengkaran sengit itu.
*
Kak Andra dan Kak Alan akhirnya dipisahkan oleh Pak Tristan. Mereka langsung disuruh pulang setelah diinterogasi oleh Kepala sekolah. Selama jam pelajaran aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan keadaan kak Alan. Sebenarnya aku ini kenapa?
BRAKK !!!
Tiba-tiba Thalia datang dan memukul mejaku, membuatku terhenyak,
"Heh, The Beast !!!" Katanya.
"Semua gara-gara lu,kan ?? Gara-gara lu persahabatan tiga A hancur tau, gak !!!" Katanya lagi malah menyalahkanku.
"Coba aja lu gak sok keganjenan sama kak Alan, sama kak Alvin dan kak Andra, mereka itu masih bareng !!!" Kata Thalia lagi.
Aku berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Thalia tidak salah juga. Aku juga merasa begitu. Andai saja aku tidak pernah melempar sepatuku dan mengenai wajah kak Alan, andai saja aku tidak berkata ya waktu Reyna bilang aku suka pada kak Alan, andai saja aku tidak menghubungi kak Alvin saat aku penasaran penyebab kak Alan gak masuk, andai saja aku tidak pernah bersekolah di sini dan bertemu mereka semua.
BRAKK !!!
Lagi-lagi Thalia menggebrak meja,
"Jawab !!!! Jangan sok **** deh, lu !!!" Kata Thalia membentakku.
"Apa yang harus aku jawab? Pertanyaan yang mana yang mau kamu tanyakan? Jawaban apa yang mau kamu dengar? Aku mengatakan apapun juga kamu gak akan peduli dan cuman fokus untuk memojokkanku...," Kataku. Posisiku akan hancur jika aku mengikuti kemauan mereka yang ingin aku merasa bersalah, meskipun sebenarnya aku memang merasa bersalah.
"The beast yang posisinya sangat kuat. Capek gue ngomong sama batu kayak lu !!" Kata Thalia lalu pergi.
Farel yang tadi pura-pura cuek lalu melirikku,
"Gila lu, kuat juga sama nenek lampir kayak dia...," Katanya lalu membetulkan kacamatanya.
"Buat aja pertahanan yang kuat...," Kataku.
"Gue mah ogah berinteraksi sama cewek kayak dia."
__ADS_1
"Shuut..., Nanti kamu jadi incerannya loh..," kataku mengingatkan. Tapi diam-diam aku tersenyum, entah kenapa ekspresi dia itu lucu bagiku.
*
Pulang sekolah. Aku selalu keluar kelas terakhir karena sudah menjadi rutinitasku untuk merapikan isi tasku sebelum pulang.
Tok
Tok
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas yang terbuka. Aku langsung mengangkat kepalaku dan aku langsung bisa mengenali siapa yang datang,
"Pak Anjar?" Dia adalah sopir kak Alan. Beberapa barang yang masih di meja langsung aku masukkan ke dalam tas asal. Aku langsung menghampiri pak Anjar,
"Kak Alan baik-baik saja?" Tanyaku.
"Den Alan nunggu Non Sheilla di mobil...," Kata pak Anjar.
*
Alan POV
Aku menunggu kedatangan Sheilla. Ya, aku benar-benar membutuhkannya sekarang. Aku sudah menyuruh Pak Anjar untuk memanggilnya. Pokoknya dia harus datang, aku sudah menunggunya berjam-jam di sini.
Tuk
Tuk
Ada yang mengetuk kaca jendela mobilku. Senyumku langsung mengembang saat tahu siapa yang datang. Aku langsung membuka pintu mobilku,
"Shei...," Kataku hampir menangis karena bahagia.
"Masuk...," Kataku.
.
.
Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya sambil memeluknya. Dia hanya mengelus-elus telapak tanganku yang sedang memeluknya. Kami tidak berkata apa-apa, tapi aku benar-benar merasa nyaman dengan kehadirannya.
"Shei...,"
"Hm?"
"Tadi kamu kemana? Kenapa kamu lama sekali?" Kataku manja.
"Aku.., aku kira kakak udah pulang..., Maaf,ya kak...," Katanya penuh dengan rasa bersalah.
"Mana mungkin aku bisa pulang tanpa ketemu kamu dulu...," Kataku makin manja.
"Maaf,ya kak Alan..," tiba-tiba suaranya parau. Aku langsung mengangkat kepalaku, kedua tanganku yang memeluknya langsung beralih menarik kedua wajahnya. Dia menangis.
"Why.., why you cry, baby?" Tanyaku padanya sambil menghapus butiran-butiran bening yang terus-menerus keluar dari sudut matanya itu.
"Gara.., gara-gara aku, Kak Alan jadi dijauhin sama temen-temen kak Alan.., gara-gara aku hidup kak Alan berantakan...," Katanya lalu mengambil tanganku yang sedang sibuk menghapus air matanya lalu menciumnya.
__ADS_1
"Shuut.., Shei.., enggak, enggak.., kamu gak salah..," kataku berusaha menenangkannya.
"Andai saja.., andai saja kita gak pernah ketemu__,"
"Shuut...," Aku langsung menempelkan telunjukku di bibirnya, Matanya yang basah itu langsung menatapku. Aku membalas tatapan bingungnya. Ternyata dia sangat cantik kalau dari dekat. Aku langsung menempelkan keningku dengan keningnya.
"Shei.., asal kamu tahu..," kataku.
"Tahu apa?" Tanyanya. Aku tahu kalau dia masih menatapku, tapi dia tidak menolak aku yang menempelkan kening kami.
"Pertemuan denganmu adalah pertemuan yang paling tidak aku sesali. Aku selalu bersyukur bisa mengenalmu...," Ungkapku.
"Tapi kenapa? Karena aku kak Alan bertengkar dengan kak Alvin, karena aku kak Alan dipukul Kak Andra__,"
"Shuut.., no..," kataku lalu melepaskan kening kami.
Aku lalu menatap matanya lekat-lekat,
"Andra memukulku karena Daddy....," Kataku jujur. Interogasi di ruang kepala sekolah benar-benar membuatku sangat malu.
"Apa?"
"Perempuan yang kemarin Daddy cium adalah tantenya Andra...," Ceritaku.
"Apa??"
"Andra itu anak yatim piatu dan dirawat oleh om dan tantenya karena katanya mereka tidak bisa punya anak." Kataku.
"Andra sudah menganggap mereka seperti orang tua kandungnya sendiri, tapi surat cerai itu ditemukan oleh Andra semalam...," Kataku.
"Su,surat cerai?"
Aku mengangguk,
"Ya.., tantenya Andra menggugat cerai omnya demi bersama Daddy...," Kataku. Sebenarnya aku yang tahu fakta ini pun merasa miris. Aku tahu dengan sangat jelas kalau Daddy tidak akan pernah menikah lagi karena Ibuku adalah satu-satunya menantu yang direstui oleh kakekku. Makanya aku juga sangat tahu kalau apa yang dilakukan Tantenya Andra adalah hal yang sangat sia-sia.
"Apa Daddy-nya kak Alan mau menikahi tantenya kak Andra?" Tanya Shei.
Aku menggeleng,
"Seharusnya tidak. Tapi aku juga gak tahu keputusan Daddy..," kataku yang belum mengkonfirmasi pada Daddy. Seingatku Daddy tadi pagi langsung terbang ke Shanghai karena urusan perusahaan.
Shei tiba-tiba memelukku lagi,
"Kenapa orang dewasa itu bertindak seenaknya !! Benar-benar menyebalkan!!" Katanya marah. Aku lalu tersenyum dan membalas pelukannya.
"Asalkan ada Shei, sepertinya aku bakalan baik-baik aja..," kataku.
"Uugh.., kak Alan.., coba, aku mau lihat luka kak Alan dulu..," katanya lalu melepas pelukannya dan mengangkat kepalaku, dia memperhatikan wajahku dengan seksama sampai mengernyitkan dahinya,
"Kenapa? Gantengnya berkurang?" Ledekku.
"Iih.., apaan, sih..," katanya malu. Wajahnya langsung memerah.
"Terus kenapa serius banget ? ini nanti juga lama-lama sembuh..," kataku lalu melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Nanti sampai di rumah, mandi terus obatin lagi...," Katanya agak mengomel.
"Iya,iya...," Kataku sambil diam-diam tersenyum. Rasanya hatiku sedikit lega setelah menceritakan kesedihanku padanya.