Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
PROLOG


__ADS_3

“Di kuburan orang asing yang malang ini, biarkan tak ada lampu atau mawar. Biarkan tak ada


sayap kupu-kupu juga nyanyian bulbul.”


                                                                —Tomb of Nur Jahan, Lahore, Pakistan


 


 


 Untuk Umi dan Sriti, penuh cinta




*


    Kehidupan adalah rangkaian kehilangan. Begitu yang selalu dikatakan kakekku, Ghias Beg. Kita

__ADS_1


menerima sesuatu hari ini untuk diserahkan kembali di hari-hari kemudian. Terserah apakah api melahap rumahnya, atau seorang penyamun mengambil unta dan barang dagangannya. Tidak. Itu contoh mengerikan dan terlalu kasar untuk diperhitungkan. Cinta, kekayaan, status, kekuasaan, datang pada kita dan pergi secepat ia tiba. Kakekku pergi dari tanah kelahirannya karena kekayaan itu diambil darinya. Padahal ia adalah orang terpandang sebelumnya. Dan berubah menjadi pelarian dengan batu dan kotoran kuda dilempar-lempar di belakangnya.


    Dahulu, para sepupuku sering mengajarkanku bermain catur. Katanya, ini persoalan bertahan hidup. Memakan atau dimakan. Dan aku selalu membiarkan milikku dimakan dan kalah. Mungkin aku tak begitu lihai soal pengetahuan bertahan hidup. Tapi tahun-tahun setelahnya yang datang telah membuktikan bahwa itu semua salah. Jika saja aku bisa, aku akan kembali pada para sepupuku dan berkata bahwa filsafatnya tentang catur cuma omong kosong.


    Ah, para pembacaku tersayang. Dari manakah harus kumulai cerita menyakitkan ini? Yang bahkan tak sanggup kutorehkan dalam lembar-lembar prosa yang panjang, atau puisi-puisi penderitaan dan kerinduan. Aku pernah membaca kitab—banyak kitab saat usiaku muda dan bergairah. Dan tak ada satupun kisah di sana yang dapat mewakili kisahku yang hampa dan pilu. Kau sendiri, pembacaku tersayang, mungkin takkan mengerti apapun sampai kau menyelesaikan bacaanmu sendiri. Apakah kau akan jijik atau merasa simpati, itu urusan hatimu. Aku sendiri telah mati malu pada prasangka dan pendapat orang lain. Ditumpulkan oleh air-air mata dari masa lalu.


    Aku telah memilih menyimpan penderitaanku bertahun-tahun. Tersembunyi di balik cadar hitamku yang panjang. Tapi kini aku menuliskannya dengan berani sebab diriku sendiri telah terlalu renta untuk menanggung derita. Walau kutahu apa yang kutulis, seperti kataku tadi, tak dapat mewakili apapun dari kisahku yang hina. Dan aku berjalan-jalan di pasar-pasar, di taman-taman, di makam-makam, di setiap celah gedung tinggi dengan memikul masa lalu yang memalukan. Aku menyaksikan orang-orang tertawa bersama anak-anak mereka. Para muda mudi yang melarikan diri ke bawah lingkupan bayang-bayang untuk bercinta, para pemuda yang menunggu kekasihnya di bawah balkon yang tertutup. Tapi aku tak merasakan apapun. Seolah-olah gairah hidupku telah menguncup tandas.


    Aku pernah bertanya-tanya, siapakah yang akan menguburkanku. Di sini, tak ada sanak keluarga. Tak ada rekan taulan. Tak ada seseorang yang dengan ramah akan berkata, “akulah temannya.” Tulang-tulang iga yang berani dikunyah oleh tanah. ***** dengan cepat. Jasad-jasad yang tertanam hanya meninggalkan batu nisan dengan kalimat dari Al-Qur’an sebagai penanda. Kebanyakan dari mereka dilupakan oleh waktu dan kemajuan negeri. Tak pernah diingat pernah hidup dan menelan prahara di masa lalu. Tak dapat menjerit dan bercerita tentang betapa pahit kehidupan sebelum kematiannya.


     Aku dilahirkan dari rahim wanita paling perkasa dalam sejarah Mughal India. Wanita yang suaranya didengarkan, perintahnya dijalankan, murkanya ditangisi, keberadaannya diakui, namun akhirnya, kematian dan kepergiannya disambut bahagia dan sama sekali tak diratapi.


    Selama bertahun-tahun, keluarga kami adalah abdi setia bagi Sultan-Sultan Mughal India. Kakekku adalah diwan kesultanan. Ibuku, setelah kematian Ayah tahun 1607, adalah dayang istana Ratu Ruqaiya, Padshah Begam zenana Sultan Akbar. Di bawah pesonanya yang jelita, mata biru cerlang, geraian rambut hitam tebal, dan lekuk tubuhnya bagai kayu eboni yang dihaluskan, ibuku telah memikat hati memikat Pangeran


Salim, anak Sultan Akbar yang kelak akan menjadi Sultan Jahangir Padshah Ghazi.


    Maka, pernikahan mereka diadakan tahun 1611. Empat tahun setelah ayahku meninggal—atau dibunuh, jika aku menyetujui desas desus yang berseliweran sebab ayahku dan Sultan Jahangir terlibat hubungan yang sama sekali tak harmonis sejak dulu. Pesta itu diadakan di Benteng Agra, kediaman Sultan-Sultan Mughal India. Dengan begitu banyak hadiah, pesta mubazir, batu-batu berharga, bergulung-gulung sutra dan beledu, kuda-kuda, tanah-tanah, dan tentu saja, gelar dan restu kesultanan. Sejak ibuku menikahi Sultan Jahangir, gelarnya adalah Nur Mahal, Cahaya Istana, dan diubah menjadi Nur Jahan, Cahaya Dunia. Dan ibuku berubah menjadi istri yang paling dicintai. Padshah Begam. Ratu segala Ratu di zenana—harem kesultanan.


    Aku telah mengenal ibuku dengan baik. Tahu bahwa ia menolak terkungkung atas tradisi dan kejumudan hidup. Dia telah, lewat caranya yang rumit dan tak kumengerti, mendobrak seluruh tradisi suci bangsa Mughal, menempatkan dirinya di posisi khusus sidang istana, menempelkan segel kerajaan di farman kesultanan dengan segel khusus miliknya sendiri. Dan karena itu pulalah, yang menyebabkan tanah-tanah dapat dijarah, hutan-hutan dapat digunduli, sungai-sungai dapat dikeringkan, pajak-pajak dapat ditarik, perang dapat diumumkan, orang-orang

__ADS_1


mulai takut padanya. Tahu bahwa wanita ini hadir sebagai ancaman. Sebab para ningrat dan menteri Mughal meyakini bahwa wanita harus merendahkan suara mereka. Duduk di balik tirai. Berjalan dengan cadar bagai hantu. Tak punya suara di sidang istana balairung kesultanan. Pada akhirnya, wanita tak punya tempat untuk memerintah.


    Selain ibuku, anggota keluarga kami yang lain juga telah diikat darahnya dengan Sultan. Sepupuku, Arjumand, adalah tunangan Pangeran Khurram, anak kesayangan Sultan Jahangir dari Ratunya yang lain, Jagat Gosain. Arjumand adalah wanita tercantik dalam keluarga kami. Tubuhnya ringan, dengan tungkai yang lincah hingga seolah ia selalu terbang di balik roknya. Bibirnya tipis dan  merah tanpa buah murbei. Matanya, mata yang paling indah dalam rengkuhan mataku, berwarna cokelat pekat, dihasi alis melengkung hitam. Wajahnya dibingkai oleh rambutnya yang panjang dan tebal, serta dihiasi oleh sepasang telinga mungil dengan anting-anting besar dari permata. Sungguh teramat ***** jika Pangeran Khurram tak tertarik dengan Arjumand.


    Pangeran Khurram sendiri bukan pria dengan tampang memuakkan. Dia memiliki tulang rahang tegas, mata berwarna hitam legam, hidung mancung bagai paruh burung bengkok, serta guratan senyum yang membuat seolah-olah jantung ditarik oleh dua ekor singa kelaparan. Dia tak bercela. Sama sekali tidak sebab kesultanan telah memberikannya penghidupan yang layak serta wanita yang molek.


    Namun, karena berbagai hal, dia tak menikahi Arjumand untuk lima tahun. Aku mengamati hubungan menjemukan mereka tanpa pertemuan, yang diikat dengan kata-kata suci saat pertunangan, yang ditandatangani Sultan di atas farman kesultanan. Namun, pernikahan sama sekali tak menunjukkan haluan. Khurram menikahi Arjumand sebagai istri ketiganya lima tahun kemudian, setahun setelah ibuku menikah dengan Sultan Jahangir. Ada gosip pasaran zenana yang mengatakan bahwa pernikahan itu terlaksana karena ibuku yang memintanya. Dan mujur, peruntungan jatuh telak di atas kepala Arjumand, dia menjadi istri yang paling dicintai. Dia telah memberikan beberapa anak untuk Khurram, anak-anak yang menakjubkan.


    Tapi, masalah muncul dalam diriku kemudian. Sejak ibu adalah Padshah Begam zenana kesultanan, aku hidup di sana bersamanya, bernapas dalam ruang lingkup para wanita cantik. Yang ditempa khusus untuk menghangatkan ranjang dingin Sultan setiap malamnya. Seluruh gadis, dari usia kira-kira enam belas tahun, telah bekerja sebagai pelayan. Dan jika mereka beruntung, Paduka Sultan akan memanggilnya dan statusnya akan naik menjadi selir yang diecap untuk satu malam saja. Dan aku, aku yang malang ini, adalah seorang Putri tanpa peraduan. Di manakah tempatku dapat mengadu sementara diriku terjerembab pada harapan dan mimpi tentang pria. Putri Ratu, namun bukan Putri Sultan. Aku memang Putri ningrat, namun perlu digarisbawahi bahwa ayahku bukanlah Sultan.


    Jadi, di situlah diriku, mengadah ke barat, ke Arah Makkah, untuk berdoa, kalau-kalau Allah memberiku jalan terang untuk keluar dari zenana menyedihkan yang lebih mirip labirin ini. Paling tidak untuk memuaskan dahaga mimpiku sendiri dengan keluar bersama seorang lelaki tampan, yang liat ototnya, yang mentereng hidupnya, yang berkasih-kasih sifatnya, yang lembut perangainya. Kenapa? Aku seorang putri ningrat dan aku tidak jelek rupa.


Aku merasa diriku sendiri pantas mendapatkan apa yang mesti ditagih gelar dan statusku.


    Namun sayang, aku telah jatuh hati pada lelaki yang salah. Sebab ia telah diikat oleh janji suci, telah dieratkan oleh doa dan harapan. Karena ia telah dimiliki, telah menjadi kekasih orang lain, suami seorang wanita, ayah dari anak-anaknya. Dan yang lebih dianggap nista, kekasihnya adalah keluargaku sendiri.


    Aku jatuh hati pada Pangeran Khurram.


    Kisah gila-gilaan ini dimulai.[]

__ADS_1


__ADS_2