Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB XII : PENGEJARAN


__ADS_3

“Tentara kesultanan datang mencarimu, Putri!” Nazeer Khan masuk terburu-buru. Kulihat peluh membanjiri dahinya, dan dia tampak panik bukan kepalang.


“Apa?” Aku bangkit dari dipan dengan susah payah. Mataku masih teramat sayu untuk sadar, dan kontraksi kecil-kecilan kerap datang. Setengah dari bayangan mimpi masih bersarang di hadapanku, tapi Nazeer Khan memaksaku untuk merekah. Tentara kesultanan telah datang. Aku mengintip dari balik tirai, menilik ke bawah balkon. Mereka telah berkumpul dengan obor-obor berpendar. Jumlahnya puluhan, dan terdapat empat ekor anjing pemburu di antara mereka. Gongongan anjing itu membuatku merinding, dan aku dapat membayangkan hal memilukan yang akan terjadi. Jantungku melesat, Shah Jahan pasti telah tahu, dan dia mengutus tentara kesultanan untuk membawaku pergi ke qadi kesultanan guna diadili. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku akan kabur? Atau mereka akan menyeretku paksa dari rumah menuju rumah sang qadi kesultanan?


Aku menuruni tangga. Langkahku amat berat sebab perut buncitku mengandung beban yang tak ringan. Anak ini mendesak keluar, sesekali menimbulkan kontraksi dan rasa nyeri yang menyakitkan. Nazeer Khan memegangi lenganku, takut kalau-kalau aku akan terjatuh ketika salah melangkah. Di bawah, Ibu duduk di atas tumpukan bantal. Matanya awas, kekhawatiran terpatri jelas. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja kecil sembari menyeruput chai. Dari luar, pintu diketuk secara tak ramah. Tentara kesultanan meneriakkan nama Ibu, membiarkan anjing mereka mengendus-ngendus sela bawah pintu, alih-alih, meneriakkan ancaman terang-terangan mereka pada kami.


“Kau harus pergi, Nak.” Ibu memegangi tanganku. Tangannya sendiri amat dingin. Kurasakan ketakutan berpadu satu di raut wajahnya yang menua. “Kau harus hidup, Ladli. Tentara kesultanan akan membunuhmu jika mereka tahu bahwa kau hamil.”


Aku mendesah, kebimbangan datang padaku. “Apa yang akan terjadi jika aku tak berada di sini? Mereka akan melukai kalian.”


“Mereka tak akan, Ladli. Shah Jahan takkan mau menyentuh Sultan Begam.”


“Bagaimana dengan Arzani?”


Kupalingkan wajahku pada sekeliling rumah yang dipeluk kegelapan. Seluruh benda tampak sama, dan aku tak dapat membedakan tirai berkisi-kisi dengan pintu. Di manakah anakku? Aku berjalan menuju kamarnya, membuka ruangan itu pelan-pelan, lalu kudapati ia duduk termenung di atas dipan miliknya. Wajahnya kosong, tapi kekhawatirannya menjadi-jadi. Barangkali, untuk anak seusianya, hal ini amat sulit diterima oleh Arzani.


“Apa yang terjadi, Sayang? Kenapa kau tak tidur?” Aku mengusap rambut hitamnya yang tebal. Kulihat sentuhan itu tak bermakna baginya.


“Apakah tentara kesultanan itu datang untuk bayi ini?”


Aku menunduk, malu pada keadaan serta jawabanku. Dia adalah anak perempuan, dan aku telah mengajarkannya hal-hal tak pantas selama bertahun-tahun. “Ya,” jawabku singkat. Entah apa reaksinya, namun kehampaan telah tercipta di sana.


“Ibu harus pergi,” katanya kemudian. Dia memegangi tanganku lemah lembut. Tatapannya berubah sayu seketika. “Dia harus lahir, tapi tidak di rumah ini.”


“Bagaimana denganmu, Sayangku?”


“Tentara kesultanan takkan menyakiti cucu Sultan Begam. Ibu harus pergi.”


Aku mengecup pipi dan dahinya bertalu-talu. Kutangisi diriku yang kini amat hina. Anakku telah merelakan diriku sendiri untuk kabur dari maut, sedangkan aku sendiri bertanya-tanya apakah diriku sanggup melaluinya dengan keadaan yang melemah. Tenagaku tak cukup banyak tersisa, kebanyakan telah terkuras untuk menahan beban di rahim ini selama berbulan-bulan. Aku keluar dari kamar Arzani, memerhatikannya baik-baik, lalu pergi dengan hati terkoyak-koyak. Aku juga memeluk Ibu. Kutangisi dirinya, dan ia meratapi diriku saat tangis kami berpadu. Teramat perih hatinya menyaksikan kisahku kini, tapi dirinya sendiri tak mampu berbuat banyak. Dia menepuk-nepuk punggungku, mengucapkan satu dua patah nasihat sebelum aku pergi dari sisinya.


“Pergilah dengan cintamu. Berbahagia dan bercinta dan berlarilah hingga kalian lelah. Maafkan aku karena tak menyadari betapa pentingnya hal ini bagimu, Ladli. Aku telah menjadi orang tua yang buruk, dan kini aku akan melakukan sesuatu yang benar.”


Aku tersenyum padanya, sebuah senyum manis. “Terima kasih, Bu. Demi kasih Allah, aku akan kembali pada kalian.”


Anjing-anjing tentara menyalak, sejalan dengan ketukan mereka yang kasar. Aku berlari ke halaman belakang bersama Nazeer Khan. Kugunakan pasmina milikku, lalu aku keluar tanpa cadar. Nazeer mengambilkan sebuah tangga, menempelkannya di tembok belakang. Dia membetulkan posisinya, sesekali melirik ke belakang ketika salah satu obor tentara tampak oleh kami.


“Berhati-hatilah, Putri.”


“Katakan pada Jafar untuk menemuiku di tepi sungai Ravi.” Aku memegangi tangga, naik pelan-pelan ke atasnya. Aku tak berpikir tentang pelarian macam ini, tapi kini aku benar-benar melakukannya tanpa pikir panjang. Keselamatan anak ini adalah yang utama.


Tubuhku merosot dari sisi tembok yang lain. Ketika pelan-pelan tubuhku seutuhnya berada di luar, Nazeer mengangkat tangga kembali ke gudang. Kudengar langkahnya bergerak menjauh seirama, dan aku melangkah pelan-pelan, setengah berlari ke arah hutan. Kelelahan datang padaku sekejap saja. Aku dapat merasakan kontraksi dan nyeri bergantian di perutku. Apakah ini masanya? Kumohon ya Allah, berikan sedikit lagi waktu sampai Jafar datang. Aku terus menyisiri bagian hutan, berlari kecil-kecilan melangkahi satu dua kubangan air hujan. Ketika jalanku perlahan melambat, sebuah suara mengagetkanku dari kejauhan.


Suara itu datang bagai guntur, menggelegar membawa ketakutan. Tentara kesultanan datang padaku. Mereka telah tahu bahwa aku tak berada di rumah. Mungkinkah mereka menerobos beberapa saat setelah aku pergi? Aku berlari tersengal-sengal, napasku melaju tanpa batas, terpatah-patah oleh ketakutan itu sendiri. Anjing-anjing menyalak di kejauhan, menggonggong dan mengendus, lalu teriakan para tentara lebih membuatku ketakutan setengah mati. Mereka berlari. Kudengar derap sepatu mereka melangkah tak seirama. Jantungku berdebar murka, dan tubuhku ibarat tanpa beban. Aku berlari menuruni bukit, turun dengan terburu-buru. Bagaimanakah anak ini akan selamat? Apakah dia akan selamat? Aku merasakan jantungku berhenti berdetak, lalu kembali memacu dalam ketukan yang sama, ketukan ketakutan. Aku bersembunyi di balik pohon, sesekali berjongkok, hampir mati rasa karena kelelahan. Tapi aku tahu bahwa diriku tak diperbolehkan untuk jeda berlari. Aku meninting sepatu sutraku, melepaskan pasmina dan melilitnya di leher. Aku tak boleh mati, aku tak boleh tertangkap. Aku harus berjuang agar anak ini lahir dengan selamat. Kubawa diriku semakin jauh mendekati sungai Ravi. Jafar akan datang, dia pasti akan datang, atau pertolongan Allah-lah yang akan tiba. Namun saat aku berharap, kejadian menjadi lebih buruk.

__ADS_1


Langkah kakiku yang lemah telah kalah oleh kaki-kaki para tentara yang terlatih itu dalam hal berlari. Mereka menyusulku dengan segera, dan namaku diteriakkan dari bibir mereka yang menghitam. Obor- obor telah membawa penerangan dalam cahaya kematian lebih dekat. Aku tak menoleh ke belakang, karena anjing menyalak kegirangan saat mangsanya ditemukan. Aku tak tahu di mana diriku kini, tapi aku tahu bahwa semakin menjauh dari rumah, aku akan tiba di sungai Ravi. Diriku berpacu dengan napas dan maut. Aku maju untuk mencari sungai, namun betapa ngeri ketika aku hanya menjumpai tebing. Sungai Ravi mengalir di bawahnya. Alirannya tak diragukan, dan air itu seolah-olah telah memanggilku untuk terjun ke dalam gelombangnya yang deras.


Aku menoleh ke belakang, menyadari bahwa jarak yang terentang antara aku dan mereka sudah semakin dekat. Aku tak punya waktu untuk kembali menimbang dan berpikir, jadi kuhempaskan tubuhku terjun ke dalam air deras. Aku berdoa pada Allah, demi kasih sayang-Nya, kiranya masih Ia perbolehkan diriku untuk tetap bertahan dan hidup. Maka, tubuhku berjuang dengan kerasnya air. Kurasakan air-air ini membanjiri mulut serta telingaku, mengaburkan pandanganku, sedang aku berusaha bertahan dalam gejolaknya yang dalam. Kakiku berusaha mengagapai-gapai di dalamnya, dan tanganku bergerak tak leluasa. Aku terperangkap di dalam aliran air. Di atas, samar-samar nyala obor memadati mulut tebing. Tentara kesultanan masih di sana, tapi diriku telah menghanyut ke bagian bawah sungai. Allah telah berbaik hati untuk memberikanku kesempatan, sebab kurasakan kekuatanku timbul untuk membawa diriku dari jeratan sungai menuju permukaan. Kepalaku menyempul keluar, dan bibirku menggapai-gapai napas yang hilang. Aku memerhatikan sekeliling. Kegelapan datang padaku. Aku berenang pelan-pelan ke arah tepi, ke bagian lain dari sisi sungai.


Tubuhku lemah. Aku berjalan terseok-seok kelelahan. Diriku bersandar di sebuah batu besar, tapi aku yakin bahwa tepi sungai takkan aman. Air telah membanjiri paru-paru, dan aku terbatuk-batuk karenanya. Tentara kesultanan akan menyisiri bagian tepi sungai, bila perlu akan menyeberang. Takkan mungkin mereka kembali dengan hampa. Setidaknya, mereka diharapkan kembali dengan sebuah mayat atau sehelai kain dari sang buruan. Jadi, aku berlari ke dalam hutan. Kandunganku menimbulkan kontraksi, menyengatkan rasa sakit di punggung serta rahimku. Aku menahannya, menarik napas, mengucapkan nama Allah Yang Maha Tingi untuk berjuang. Kulihat sebuah undukan tanah menjulang, dan di bawahnya, dataran terlihat lebih rendah. Aku menuruni tanah itu, bersandar ke tanah. Di atasku terpancang sebuah pohon perdu. Kuharap benda ini dapat melindungiku, sebab bayi ini menendang-nendang tak sabaran.


Kontraksi datang padaku, menimbulkan nyeri. Kubaringkan tubuhku sendiri, lalu kuikat pasmina pada akar yang mencuat dari tanah. Air hangat keluar dari antara kedua selangkanganku. Rasa sakit menyusul, dan jantungku berpacu dalam detak mengerikan. Aku mengingat perkataan para tabib, bahwa aku hanya perlu menarik napas, tenang, menghembuskannya, dan mendorong si bayi agar keluar. Aku berharap tak ada apapun pada kelahiranku kini, sebab aku tak tahu bagaimana harus mengeluarkan bayi sungsang seorang diri. Semoga ya Allah, aku berharap bahwa bayiku adalah bayi normal. Kontraksi datang, dan kutarik napas dalam, lalu kudorong bayi ini kuat-kuat. Sakitnya amat mengerikan, hingga aku menangis karenanya. Kugigit pasmina yang kuikat, lalu kudorong lagi bayiku dengan segenap kekuatan. Oh, Ya Allah, kurasakan darah merembes, tapi tak ada kemajuan. Apakah aku akan mati? Apakah bayiku akan mati? Apakah Nazeer telah menyampaikan pesanku pada Jafar? Oh, Ya Allah, berikan aku kekuatan. Aku menangis, terisak sendirian. Ibu tak berada di sampingku, jadi rasanya amat mengerikan sebab kontraksi dan kesakitan datang di saat yang sama.


Aku menarik napas, mengembuskannya, mendorong si bayi. Teriakanku menjadi-jadi. Kurasakan rahimku terkoyak-koyak, menimbulkan luka di sana. Air mataku merembes, lalu aku menangis. Aku tak tahu apa yang terjadi pada bayiku, tapi kuusahakan untuk berjuang kendati kini tenagaku tertatih-tatih. Bayiku, ya Allah, bayiku. Selamatkan dia, rintihku. Aku mengucapkan doa dan puji-pujian pada Allah, memohon sebuah pertolongan, mukjizat barangkali, tapi tidak. Aku ragu apakah Allah akan memberikan pertolongan pada para pendosa. Neraka adalah tempatku, sebab anak ini adalah hasil zina. Anak yang akan lahir ini, anak Jafar ini, aku tak tahu bagaimana membawanya kembali ke rumah. Eranganku memekakkan udara yang tengah sepi. Aku tak dapat mendengar riak air atau apapun. Tak ada satu pun makhluk yang sudi bicara, seakan-akan telah menunggu kelahiran anak ini semata.


Ketika erangan terakhir kuteriakkan bersama segenap kekuatan yang perlahan memupus serta padam, kurasakan kepala bulat anak ini menggelincir. Kurasakan anak itu perlahan menggapai-gapai tanah, lalu dengan lemah kuambil dirinya yang berdarah. Kucium dirinya, dan aku menangis sekencang mungkin. Para tentara telah pergi. Mereka tak juga tampak walau dalam ketukan kaki yang samar. Aku duduk untuk tegak, melepas lelah. Anehnya, pendarahanku berhenti dengan sendirinya. Anak ini menangis, matanya menyipit tak terlihat, dan rambutnya hitam legam. Kulitnya putih, memancing diriku untuk menghapusnya dengan jemariku pelan-pelan tanpa harus menyakitinya. Tangannya bergumul dengan dada, seolah-olah siap bertarung. Aku mendekapnya dengan cinta, merengkuhnya dengan air mata. Betapa aku terperanjat ketika tahu bahwa ia adalah anak laki-laki. Anak laki-laki pada akhirnya, Ya Allah. Jikalau ia lahir di masa lampau, Shah Jahan pasti telah membunuhnya. Tapi kini, seorang anak laki-laki dari rahimku. Aku bertanya-tanya mampukah aku membawanya kembali?


Kubuka kancing blus, anak ini merayap, menggapai buah dada untuk mengisap asi. Kuperhatikan ia lama, dan aku larut pada duka. Jafar harus melihatnya, dia harus melihat anak lelakinya. Bibirnya bagai kuncup mawar, sedang hidungnya bagai paruh burung. Aku mengecupnya, membasahinya dengan air mata yang mengalir di pipi kecilnya tanpa terhalang. Sedih merasukiku, lalu aku terlelap sepanjang malam sendirian.


Ketika mataku merekah, kudapati diriku sendiri dalam kehangatan. Sebuah selimut wol terbebat di tubuhku. Tak jauh dari sini, sebuah perapian menyala dan padam, seolah-olah teramat takut untuk muncul ke permukaan kayu yang dibakar menjadi abu. Siapa pula yang melakukan ini? Aku menegakkan punggung perlahan-lahan, menyadari kesadaran. Kemudian, sesuatu mengusikku. Di manakah anakku kini? Aku tak dapat menemukannya dalam dekapanku, jadi betapa paniknya diriku sendiri. Aku bangkit, teramat susah sebab sakit yang kuderita belum menunjukkan kebaikan. Hanya pendarahannya yang berhenti. Sebuah tangan memegangi bahuku, lalu orang itu melesat ke depan.


“Kau belum pulih, Ladli.” Dia mendudukkanku kembali. Sejenak, aku tak tahu siapa orang ini, namun pelan-pelan kutelaah bahwa dia adalah Jafar. Jantungku hampir melompat.


“Jafar,” kataku, tak percaya pada kenyataan. Dia merengkuh anak kami, senyuman di wajahnya merona, kadang kala bibirnya mengecup anak ini dengan cinta. Kuperhatikan dirinya kini. Selama berbulan-bulan, telah ada perubahan yang tampak. Janggutnya tampak lebih lebat, namun tulang rahangnya masih nampak tegas. Dia masih memiliki pesona, dan aku masih jatuh hati pada pesona itu sendiri.


Dia memegangiku, kemudian mengecup dahiku. “Terima kasih, Sayang. Dia anak laki-laki.”


Aku tersenyum padanya. “Maafkan aku, Jafar.” Aku khawatir kalau-kalau masih ada dendam di antara kami berdua.


“Oh, Jafar.” Aku terisak di sana. “Betapa aku mencintaimu. Betapa aku ingin, teramat ingin, hidup denganmu. Kau pernah bicara tentang seorang anak, dan kini aku memberikanmu seorang anak. Laki-laki pula.”


Dia memelukku, kemudian mengecup dahi dan pipi dan bibirku bertalu-talu. Isakan ada juga pada dirinya, karena dia menangis dalam air mata yang ditahan-tahan. Kami berdua telah menderita karena cinta ini, amat sulit membayangkan dan melakoninya. Hidup kami bagai drama, namun inilah kenyataannya kemudian.


Jafar meleraiku, melirik anak kami yang tertidur di pangkuannya. “Kita harus memberikannya nama.”


“Nama apa yang kau inginkan?” tanyaku padanya pula.


“Amir Khusow. Aku amat menyukainya, dan aku menginginkan anak ini mengecap keindahan nama Khusrow dalam dirinya. Dia akan tumbuh sebagai seorang pujangga, pujangga yang hebat pula. Pujangga dengan cinta.”


Aku tersenyum. Kubelai anak kami, buah cinta kami berdua. Anak laki-laki. Dia harus belajar memanah dan berenang dan duduk di atas pelana kuda bersama Jafar. Ayahnya akan membawanya pada kesejatian seorang pria. Aku tak ingin ia terkungkung dalam kehidupanku, jadi, dengan pahit, aku bertekad bahwa anak ini akan bersama Jafar.


“Kau belum makan, Ladli. Aku telah memanggang seekor ikan untukmu.”


Tak jauh dari kami, dua ekor ikan sungai telah dipanggang di atas perapian. Baunya bermain-main di hidungku, mencairkan air liur, sebab melahirkan telah membuat tenagaku terkuras tanpa sisa. Bibirku kering, pecah di seluruh bagiannya yang tipis. Makanan itu dibawakan padaku. Mulanya, aku ingin melahapknya sendiri, namun Jafar berkeras bahwa hal ini adalah bagiannya. Dia menyuapiku dengan lembut, memberikan minum ketika aku tersedak karena terlalu terburu-buru saat mengunyah. Kurasakan cintanya kembali bersarang dalam dadanya yang bidang. Tidak, cinta itu ada bersamanya, selalu, selamanya.


Entah sudah berapa lama sejak kami habiskan hari-hari dalam keteduhan hutan. Aku tak pernah menghitung hari, tapi fajar dan senja telah bicara, bahwa kami telah terlalu lama berada di sini. Aku tak pernah mengirim sepucuk surat pada Ibu. Dia tak tahu, tapi mungkin telah berdoa, bahwa anaknya selamat di dalam rimbunan pohon hutan. Aku merasa bersatu dengan alam. Jafar telah membangun sebuah gubuk kecil, cukup bagi kami bertiga untuk tertidur. Dia keluar diam-diam ke pasar untuk membeli segala perlengkapan, dan akan kembali ketika rembang petang. Seiap malam, akan selalu ada perapian yang menyala. Aku dan Jafar kerap menciumi Khusrow saat ia terlelap. Sesekali, bulu mata kami bertemu, jemari kami berpaut di atas tubuhnya yang mungil, dan kadang kala kami berdua menangis bahagia. Aku pernah berpikir, akan lebih baik jika kami hidup di dalam hutan hingga Khusrow cukup umur untuk segera melihat kehidupan di luar sana. Tapi, aku harus kembali. Aku tak bisa hidup di tempat ini. Pakaianku telah usang oleh noda darah dan serbuk kayu bakar. Khusrow harus hidup di tempat yang layak, maka hutan bukanlah ranahnya. Jafar juga harus kembali pada Wazir Khan, dan dia membutuhkan itu untuk membiayai kehidupan Khusrow kelak.


Kami sedang duduk di atas batang kayu kering kala itu. Angkasa masih berwarna indigo, namun pelan-pelan cahaya putih kekuningan akan merekah dan berdenyar dari ufuk timur. Bintang-bintang berkedip. Sesekali hilang, kemudian timbul di tempat yang berbeda. Jafar sedang menimang Khusrow. Dia bersenandung ria, kecil-kecilan, namun suaranya menenangkan. Anak kami kerap kali tertidur pulas bersamanya, hampir-hampir tak ingin direngkuh dalam dekapanku.

__ADS_1


Aku bergeser ke sisinya. Kuperhatikan rambut Khusrow yang menghitam. “Kau harus membawanya, Jafar.”


“Apa maksudmu? Kita akan membesarkannya bersama-sama.”


Aku menggeleng. Dia mengernyit, lalu tatapannya berubah awas.


“Bawalah ia. Khusrow tak bisa hidup dalam keluarga kami. Akan ada terlalu banyak masalah serta tangan-tangan yang menginginkannya diambil dariku. Aku tak dapat menjaganya sebagai seorang ibu. Kau harus …” Aku menarik napas, air mata jatuh dari pelupukku. “Kau harus menikah, Jafar.”


“Aku takkan menikah, Ladli.”


“Kau harus. Khusrow butuh seorang Ibu.”


Wajahnya mengeras bagai batu ketika menatapku. “Jika aku akan menikah, aku akan menikahimu. Tak ada wanita lain selain kau, Ladli.”


Aku menggenggam tangannya, menyatakan bahwa aku siap jika ia harus mengambil pilihan pada hal menyakitkan itu. Aku akan bertahan kendati anakku harus dibesarkan oleh seorang wanita asing. Aku akan melihatnya dari jauh, mendengar namanya terjun ke medan laga, lalu kembali dalam kemenangan. Aku puas dengan hanya menyaksikannya bertempur dari daerah terasingkan, maka kukukuhkan tekad bahwa ini harus dilakukan. “Kau akan menikah. Kau akan menemukan wanita lain. Pergilah keluar Lahore. Barangkali kau perlu berekspedisi bersama para Pangeran kesultanan. Kau hanya memilih anak-anak Shah Jahan saja. Dara, Shuja, Aurangzeb, atau Murad.”


Dia mendengus, tampak tidak senang. “Tidak keseluruhannya.”


“Aku tidak bisa menikah lagi, Jafar. Kau harus menerima itu.”


“Dan bagaimana dengan anak ini? Dia harus tahu bahwa kau adalah ibunya?” Air mata mengembang dalam tatapannya yang kaku, kemudian meluncur tanpa diberi komando. Kuperhatikan air itu menetes ke atas pipi putra kami yang terlelap.


Aku tersenyum. Kuhapus air itu dari pipi Khusrow, dan dia menggeliat sedikit. “Dia akan tahu. Kau yang akan membawanya padaku suatu hari, Jafar. Mungkin saat itu aku telah tua renta, atau telah menunggu kematian datang. Yang mana pun,” aku memegang jemarinya, menghapus air mata di pipinya. “Kau harus berjanji untuk membawa anak ini padaku. Dia harus melihatku, walau sekali. Dan itu sudah cukup. Aku tak ingin apa-apa. Bawa dia padaku, lalu kau bisa membawanya kembali pada istrimu.”


Dia terisak, kesal dalam dirinya. Tubuhnya bergetar karena amarah itu, tapi dirinya sendiri masih kuat untuk bertahan. Aku telah melihat lelaki yang amat kucintai menangis demi wanita serta anak yang ia cintai pula. Aku tak ingin apa-apa lagi. Aku telah melihat cinta dalam diri kami berdua, dan itu sudah cukup. Aku akan hidup dengan cintanya, sejauh apapun ia bawa tubuhnya mengembara. Tapi, saat malam berlalu menjadi fajar, aku akan menyelinap dalam mimpinya diam-diam, sebuah dunia yang hanya bisa ia miliki seorang. Lalu kami bisa becinta dan berciuman dan berpelukan seperti sedia kala.


Dia menciumku, rasanya manis. Ciuman ini telah lama sekali berlalu, aku pun hampir lupa kapan Jafar memberikan ciuman hangat ini terakhir kali. Aku menangis pada ciuman itu, terisak seperti dirinya, dan tingkah laku kami membangunkan Khusrow.


“Berjanjilah, berjanjilah bahwa kau akan merindukanku, Jafar,” kataku saat melerainya.


Dia mengusap pipiku. Kurasakan cintanya pada sentuhan itu. “Demi cinta Allah, Ladli. Aku berjanji. Aku akan merindukanmu setiap malam, setiap saat, setiap nadiku berdenyut, setiap kali tubuhku berkata pada diriku bahwa aku masih lagi hidup untuk bernapas. Dan kusebut namamu dalam embusan napas itu bersamaku.”


“Akankah kau datang padaku, walau dalam mimpi sekali pun.”


“Tentu. Tentu, Sayangku.” Dia berjanji ketika fajar pelan-pelan merekah dari ufuk, menembus batas cakrawala untuk tampil gagah pada pemandangan dunia.


Kami menangis lagi hingga lelah. Pada akhirnya, aku telah bertekad bahwa aku harus kembali pada Ibu. Jafar tetap membiarkan gubuk serta perapian kami berdiri kukuh ketika kami harus meninggalkannya. Aku berjalan terseok-seok. Kurangkul tangannya yang dipenuhi otot liat, kemudian berjalan tersungut-sungut di bawah ketiaknya. Khusrow berada dalam rengkuhanku. Aku telah menyusuinya untuk yang terakhir kali. Dan aku akan merasa nyaman sebab darahku telah menderas dalam nadinya. Inilah anak yang kucoba untuk gugurkan, tapi kemudian kelahirannya datang membawa cinta kasih. Selama sembilan bulan, aku makan untuknya, dan kulahirkan ia dengan sebuah pengharapan. Kini, bebanku terangkat sempurna. Aku seperti tak pernah dirubungi persoalan, sebab pikiranku lempang tanpa noda.


Ketika kami sampai di tepi sungai Ravi, Jafar menyeberangkanku melalui air yang rendah. Kami sampai ke tepian, lalu berpisah pelan-pelan. Setiap kakiku melangkah menjauh darinya, bisa kurasakan jantung Jafar berdetak menyakitkan. Dan aku bertaruh bahwa ia telah menangis. Karena ketika aku berbalik, kulihat alur telah membekas di pipinya.[]


 


 

__ADS_1


__ADS_2