
Pada mulanya, aku tak ingin menceritakan tentang kehamilanku ini pada siapapun. Kusimpan tanda-tanda ini sendirian, teramat dini untuk mengatakan bahwa aku sedang hamil. Tapi, seorang tabib berkata begitu padaku, dan aku menyuapnya agar ia tutup mulut pada aibku. Dia harus mengatakan kepada Ibu bahwa sang Putri menderita demam, dan harus istirahat agar kembali bugar. Tapi kemudian, saat kupikir semua situasi berada dalam rengkuhan kendali, Nazeer Khan tahu. Aku telah lupa bahwa ia telah amat berpengalaman di zenana kesultanan. Nazeer Khan telah melihat begitu banyak wanita hamil, telah tahu tanda-tandanya, dan kini, dia telah melihat tanda-tanda itu dalam tubuhku.
“Putri, apakah kau …” Dia memerhatikan sekujur tubuhku, menduga-duga, namun berhati-hati saat bicara.
“Diamlah, Nazeer. Kita harus lakukan sesuatu pada hal ini.”
Ketidakpercayaan datang padanya. Dia terperanjat bukan main, terjatuh di tempatnya dan meringkuk di kaki dipan. “Demi kasih Allah, apa yang telah kau lakukan, Putri?”
Aku mengatupkan tanganku di bibirnya, mengisyaratkan agar ia diam. “Ibu takkan tahu, paham? Ini hanya kau dan aku.” Dan kami pun mengatur siasat. Aku akan menggugurkan kandungan ini bagaimana pun caranya. Nazeer membawakanku berpuluh-puluh nanas, dan kuhabiskan buah itu dalam kamar sendirian diam-diam. Dia juga membawakan beberapa obat dari para tabib desa, yang dibayarkannya amat mahal, sebab mereka pun tahu bahwa Nazeer adalah kasim di rumah kami, dan mereka akan berkasak-kusuk tentang siapa pula yang tengah hamil. Aku meminum berteko-teko anggur, hampir muntah, namun tak ada kemajuan. Di satu hari, Nazeer pernah membawakanku sebuah air berlumut berisi jentik-jentik nyamuk. Dia berkata padaku bahwa air ini dapat menggugurkan kandungan. Namun, ketika aku meminumnya dengan susah payah, bayi ini tak juga keluar.
Bulan bergulir dalam hitungan masa, dan kehamilanku tak mungkin lagi ditutup-tutupi. Aku mulai habis asa dalam pengguguran ini, berpikir bahwa Allah memang telah menitipkan anak ini dalam rahimku yang fana. Jafar tak tahu, sebab kami tak pernah bertemu sejak kebenciannya padaku ditumpahkan malam itu. Shah Jahan telah kembali ke Agra dari Kashmir, kudengar ia tak terlalu suka pada hiburan semenjak peristiwa Bazaar Meena itu terjadi. Perutku mulai membuncit bagai semangka muda, dan semua orang akan tahu bahwa aku sedang hamil. Masalahnya adalah, orang-orang juga akan bertanya, siapakah Ayah dari anak Putri Ladli Begam itu? Dan Ibuku datang dengan murka. Dia masuk ke kamar tergesa-gesa, menerobos Nazeer Khan dan menamparku sekuat yang tangannya dapat lakukan.
Ibu memegangi blusku. “Lihat yang terjadi padamu, Ladli! Apa yang telah kau lakukan?” Napasnya tersengal, sedangkan amarah membakar wajahnya. “Kau telah mengandung anak zina! Kau tahu yang Al-Qur’an Yang Mulia katakan? Perempuan pezina dan lelaki pezina deralah seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan hukum Allah. Kau akan mati jika Shah Jahan tahu!” Dia menangis, namun geram lebih menguasai dirinya. “Dan kau telah menikah! Pikirkan hukumannya. Tubuhmu akan dibenamkan sampai ke dada, lalu akan dilempari dengan batu hingga kau mati. Qadi kesultanan akan melakukan itu saat Shah Jahan memerintahkannya. Dan apa yang akan orang-orang katakan tentang ini?”
Aku diam, tak menjawab. Dia meninggalkanku sambil berkata. “Gugurkan anak itu, Ladli. Jika kau menyayangiku dan Arzani, gugurkan kandunganmu.”
“Telah kucoba, tapi tak berhasil.”
“Kita akan memanggil tabib.”
__ADS_1
“Tidak, kumohon. Biarkan aku melahirkannya.”
“Apa kau sudah gila? Kau akan mati.”
“Mungkin aku gila dan aku akan mati. Tapi biarlah aku mati dan Jafar akan melihatku mati dengan cintanya.” Kuhapus perutku, rasanya tenteram, namun mencekam kemudian. “Aku takkan katakan pada qadi kesultanan sekali pun bahwa Jafar adalah ayahnya.”
Ibu mendatangiku kembali. Dia menamparku bertubi-tubi, menangis pada tamparan itu. “Kau bodoh, Ladli! Kau gila! Kenapa aku melahirkan anak sepertimu?” Dia tetap pada sikapnya. Tangannya gemetar, dan bibirku mengeluarkan darah. Aku tak dapat merasakan memar di wajah, sebab hatiku masih lagi membekas kepiluan. “Ini bukan mimpi, Ladli. Kau akan dibunuh saat Shah Jahan tahu bahwa kau mengandung anak zina. Gugurkan dia!”
“Tidak!”
“Oh ya Allah.” Ibu meratap. “Demi kasih Allah, Ladli. Ini demi keluarga kita.”
Aku menghapus noda darah dari bibirku. Rasanya amat menyakitkan, sesaat, namun sakit itu hambar oleh derita jiwa. Aku mungkin telah gila, dan anak ini akan menatap kelahirannya sebagai akhir dari ibunya. Aku akan bernasib sama seperti Arjumand, namun kematianku meninggalkan aib baka dalam keluarga kami. Biarlah aku akan dirajam, tapi anak zina ini akan tetap hidup sebagai bagian dari darah utuhku. Aku mendesah, merasa berat seketika. Napasku terpatah-patah, lalu aku menangis di sana. Segalanya terasa amat berat, tak pantas dijalani oleh seorang wanita belia yang mengharapkan cinta dan romansa. Tapi di sinilah aku, dan aku menghadapi jelmaan angan-angan yang bertukar menjadi mimpi semata.
Dia datang padaku. Murkanya mencair, berganti kasih sayang tak terbatas. Didekapnya diriku dengan cinta, raungan di nada suaranya, dan dia mengecup pipiku bertalu-talu sambil terus meratap. Air matanya menempel di pipiku, rambutnya berantakan di lajur air mataku yang menciptakan alur tak rata. Blusnya melekat terlalu lama, menimbulkan kerut serta lipatan kulit dalam di wajahku. Aku terisak, sesekali ingin jatuh dan tak sadarkan diri, namun Ibu memelukku tanpa henti.
“Ragaku mengisyaratkan pada jiwaku bahwa aku tak sanggup. Aku telah teramat menderita. Telah begitu banyak nista serta prahara. Tapi aku selalu mengatakan pada hatiku bahwa kasih Allah-lah di atas segalanya. Aku bimbang pada banyak hal, tak tahu harus berkata-kata, dan aku memilih jalanku sendiri sebab aku tak punya tujuan. Ketika Allah memberikan Jafar padaku, di situlah kebahagiaanku berada. Namun segalanya tampak tak meyakinkan akibat segala peristiwa. Dan sekarang, aku merasakan tubuhku gemetar tak karuan. Aku ingin mati saja, Bu.”
“Oh, Ladli.” Ibu meraung. Tangisnya menjadi-jadi. Di sudut ruangan, Nazeer Khan menangis sedu sedan. Aku tak tahu di mana Arzani, tapi kuterka ia tengah bersembunyi di balik tabir berkisi-kisi.
__ADS_1
“Apa yang harus kulakukan kini?” isakku padanya.
“Gugurkan kandungan itu, Sayang. Gugurkan ia.”
“Aku tak bisa.”
“Kau harus. Kepalamu berada di ambang pedang, Ladli.”
“Tidak, Bu. Seseorang harus memberi tahu hal ini pada Jafar. Dia harus tahu bahwa aku sedang mengandung benihnya.”
***
Kemudian, secara perlahan-lahan, keluarga ini telah menerima dengan baik kehamilanku. Aku telah melihat perubahan pada sikap mereka yang semula acuh tak acuh menjadi perduli. Ibuku memberikan madu, menyiapkan susu segar dari sapi perah kami di halaman belakang. Nazeer Khan memanen banyak buah-buahan segar, dan dia juga membeli minyak ikan di pasar Shahdara. Kandunganku terawat sempurna pada akhirnya. Kurasakan bayi ini kerap menendang-nendang, menyatakan padaku bahwa ia masih baik-baik saja. Semula, Arzani tak ingin menyentuh perutku. Dia kerap menjauh sesering apa pun kuucapkan namanya. Ketika aku mendekat, dia mengabur, wajahnya muram, kebahagiaan tak bersarang bersamanya, lebih mirip sebuah pemikiran pada penderitaan. Aku sempat bersedih pada mulanya, namun kemudian dia datang dengan polos, bertanya dengan nada lembut.
“Apakah aku akan memanggilnya adik?” tanyanya saat itu. Disentuhnya perutku yang membuncit, sesekali ia takut ketika kontraksi datang padaku, namun kukatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Arzani memanggil dirinya sendiri kakak, menyiapkan segala sesuatu yang adiknya ini perlukan, bersikap seolah-olah ia telah cukup umur untuk mengerti. Satu hal, Jafar tak pernah datang, baik secara terang-terangan maupun menyelinap. Selayang surat tak pernah sampai, mungkin ia telah melupakanku dari hidupnya. Para pria memiliki daya tarik luar biasa, dan kupikir ia telah memikat wanita lain. Nazeer Khan tak pernah bercerita mengenai dirinya, kendati sebanyak apa aku menjejalnya dengan pertanyaan dan permohonan. Apakah berita ini telah sampai padanya? Apakah ia mengerti bahwa aku telah mengandung anaknya? Baik Ibu atau Nazeer Khan enggan bicara, dan aku tak memiliki dugaan tentang hal ini.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, aku lelah menghitung, dan kandungan ini kemudian telah mencapai masanya. Orang-orang telah tahu, tapi tak sudi membuka pembicaraan. Tapi aku tahu pula, bahwa setiap makan malam, setiap mereka akan terlelap, setiap perkumpulan kecil terjadi, setiap para pedagang menawarkan harga, kisahku telah tersebar bagai kunang-kunang. Aku mengabaikan cibiran itu baik-baik, karena anak ini memang benar adanya. Kenapa aku harus menutup-nutupinya? Kendati rahasia ini akan terkunci amat rapat, berapa lamakah hal itu akan tersimpan? Barangkali, ketika teriakan pertama setelah persalinan memekakkan, orang-orang pun akan tahu bahwa seorang bayi telah menjerit di alam dunia, dan bayi itu berasal dari rumah Sultan Begam. Tak lama lagi, hanya menunggu waktu, berita ini menjalar bagai kobaran api. Dia telah merambat dalam daerah kesultanan, disebarkan oleh bibir-bibir yang tamak serta penggosip pasaran pada kaum ningrat dan segelintir keluarga Sultan. Berita itu sendiri telah ditambahkan sedemikian rupa, dilebih-lebihkan oleh bumbu kebohongan, agar lebih nikmat bagi pendengarnya. Sultan Begam menyimpan seorang lelaki untuk anaknya. Putri Ladli menyewa beberapa orang lelaki sebagai pemuasnya. Dan begitulah, kini tak satu pun orang tahu kebenarannya.
Kemudian, di satu sisi, saat hari persalinan berada di ujung pandangan, dan aku kerap menghitung jemari untuk memerkirakan waktu yang berlalu dan habis, kematian datang mengetuk-ngetuk pintu.[]
__ADS_1