
Sultan Jahangir memerlukan udara segar, kata para hakim memvonis. Dia kerap menderita asma akut yang membuatnya sulit bernapas di malam hari. Ada kalanya saat asma itu berhenti, digantikan oleh batuk yang mendera-dera dadanya yang tua. Lalu, suara gerak napasnya terdengar serak dan hampa tak berjeda. Dia tak lagi bugar, tidak pula perkasa. Uban telah bersarang di kepalanya, bahkan di janggutnya yang bulat dan lebat. Tak meninggalkan apapun kecuali warna putih pucat. Kini, ingatan Sultan Jahangir menumpul. Dia tak bisa mengingat dengan jelas apa-apa yang sidang istana putuskan di pertemuan sebelumnya. Dan kerap kali bertanya apakah ia memang memutuskan demikian, atau tak jarang menganggap bahwa putusan itu tak pernah ia jatuhkan. Sang Sultan juga menjadi penuh curiga. Dia menganggap para menterinya tak setia. Mereka semua acap kali ditanya apakah mendukung Pangeran Khurram atau dirinya. Dia menaruh curiga pada beberapa orang yang ia nilai telah merangkak naik lebih jauh ke sisinya untuk mengambil apa yang bisa mereka jangkau—lebih banyak uang dan kekuasaan. Surat pemecatan sering turun tiba-tiba dan seorang ningrat dapat dibuang ke sudut kesultanan.
Ibuku, Mehrunnisa, mengambil kesempatan untuk memerintah atas nama Sultan. Selama Sultan Jahangir terbaring lemah, tak tahu apakah ia akan kembali bernapas atau sekarat dalam ambang kematian, ibukulah tempat keputusan akhir sidang istana. Seluruh petisi, hadiah, surat kritik, hukuman, berkah, menemukan jalan masuk dan keluar dari zenana. Ibu pulalah yang memimpin jarokha di balik tabir saat pagi hari untuk rakyat jelata. Dan dia pulalah yang mendengar seluruh cerita mereka, memberi tanggapan, atau menolaknya dengan hina.
Jadi, rombongan kesultanan pindah ke Kashmir tahun 1626. Sultan Jahangir selalu memanggil-manggil tempat itu dalam tidur tak nyenyaknya. Kashmir terletak di utara. Berada di batas daerah kesultanan, bersentuhan langsung dengan Himalaya. Udaranya teramat dingin, bahkan lebih dingin dari Lahore, namun menjanjikan ketenangan yang tak mengancam. Kami kembali berjalan dalam parade raksasa yang dipamerkan di seluruh jalan lintas kesultanan. Orang-orang melakukan taslim dengan canggung saat Sultan mereka lewat. Gajah-gajah, unta-unta, kuda-kuda, tandu-tandu, kereta kencana, para menteri, para pasukan, para budak, ambil tempat mereka sendiri dalam prosesi panjang ini. Perkemahan Sultan berada bermil-mil jauhnya di depan, dipersiapkan khusus agar ketika Sultan sampai di tempat peristirahatannya, ia tak perlu bersusah-susah untuk menunggu agar tendanya didirikan. Di atas gajahnya kini, berada di urutan terdepan dari rombongan, Sultan Jahangir nampak susah diri. Dia terlalu sulit untuk bernapas, hingga seorang tabib ditempatkan khusus di sisinya di dalam howdah.
Di dalam howdah milikku sendiri, Arzani melompat-lompat kegirangan. Dia telah berumur tiga tahun, teramat lincah dan terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya. Dia telah belajar menulis beberapa huruf, terpatah-patah dalam bahasa Persia—sebab bahasa Persia adalah bahasa resmi kesultanan. Arzani suka menyeka tirai howdah, sementara aku berusaha menjamah tubuh kecilnya menjauh dari sana agar ia tak terjatuh ke bawah.
“Kau akan terjatuh, Sayang. Kapan kau akan belajar bahwa gajah terlalu tinggi?” Aku mengangkat tubuhnya kembali ke pangkuanku. Kuperhatikan matanya yang hitam legam berkilau bergerak-gerak, lalu kuusap-usap rambutnya yang lebat dikepang ke belakang. “Apa yang terjadi jika kau terjatuh dan gajah itu menginjakmu? Bunyinya akan terdengar seperti …”
“Seperti apa?” tanyanya padaku ingin tahu. Dipanjatnya tubuhku, lalu dilingkarkannya lengan mungil miliknya di sekitaran leherku. Kalung-kalung emasku bergoyang, menggesek kulit yang tipis. “Bisa tirukan suaranya?”
Kukecup bibirnya yang ranum. “Tidak. Aku tak bisa, Sayang.” Dan dia cemberut tak suka. “Pokoknya, aku dan nenek akan bersedih bila kau terjatuh. Bahkan Paduka Sultan. Kau ingin melihat Sultan kita menangisi cucu perempuannya?”
“Sultan sedang sakit,” katanya polos.
“Dia akan sembuh, insya Allah. Boleh aku menciummu, Sayangku?”
“Tidak,” jawabnya. Dia pergi tak jauh dariku. Merangkak menuju batas tirai.
Aku mengambil sulamanku dari balik tumpukan kain kerudung, memasukkan benang wol merah ke dalam jarum jahit berukuran besar. Punggungku merapat ke belakang, lalu kurapatkan lutut ke dadaku. Kulihat Arzani mencoba menyeka-nyeka tirai bagian depan, mengambil sebuah tongkat besi, lalu menusuk-nusuk si penunggang gajah di depan. Sontak, penunggang itu menoleh ke belakang. Tapi dia tahu bahwa pandangannya harus dipancangkan ke depan kendati Arzani melakukan hal macam itu.
“Dia sedang menunggang, Arzani. Jangan ganggu laki-laki itu.”
Arzani memerhatikanku, meletakkan tongkatnya kembali di sisinya. “Apakah Kashmir jauh, Bu?”
“Sekitar seminggu perjalanan, barangkali.” Aku mengangkat bahu, “Entahlah. Ibu tak pernah ke sana. Mungkin lebih lama. Kita harus beristirahat di malam hari karena Sultan Jahangir tak bisa duduk nyaman di howdah-nya.”
“Tapi dia tak pernah terlihat menggerutu,” tukasnya dengan tingkah anak-anak. Dia berlari ke sisiku lalu memeluk pinggang sebelah kananku dengan nyaman. Dibuatnya aku seolah-olah bantal besar yang bergerak-gerak. Aku senang Arzani melakukannya. Dia adalah jantung hatiku. Satu-satunya alasan kenapa aku masih membiarkan diriku yang malang hidup. Ayahnya sendiri tak menginginkannya. Jadi dia telah praktis dibesarkan secara egois oleh seorang wanita patah arang.
“Kau merasa nyaman?” tanyaku padanya. Kuletakkan sulamanku kembali, lalu kuambil sebuah buku catatan sejarah Kesultanan Mughal dari belakang punggungku. Aku membuka bagian yang telah ditandai dengan pembatas, berupa kain sutra dengan benang emas. “Barangkali kau ingin mendengar aku membacakan sebuah cerita dari masa lalu?” Dia mengangguk, jadi kusambung kalimatku. “Yang mana yang kau pilih?”
“Sultan Humayun?”
“Oh? Kupikir kau menjadi tertarik karena aku menceritakan pelariannya, benarkan?” Dia mengangguk, membuatku bersemangat. “Tentu, Sayang.”
Maka, aku pun bercerita selama perjalanan panjang kami. Kuceritakan bagaimana Sultan Humayun bertempur dalam memperebutkan hak milik yang diwariskan ayahnya, Sultan Babur atas tanah taklukkan mereka di Hindustant. Kugambarkan bagaimana kengerian Sher Shah memporak-porandakan pasukan Humayun, bagaimana ia melarikan diri ke Persia dan memohon-mohon agar pasukan Mughal yang dibawanya diberi bala bantuan raksasa dari Safawi-Persia. Di akhir cerita, kubisikkan pula pada Arzani dengan lembut, agar rasa penasarannya mencuat-cuat, bahwa Sultan Humayun menikahi seorang Putri Persia, Hamida Banu Begam, dan melahirkan Sultan Akbar dari rahimnya.
Sesungguhnya, orang-orang Persia telah mempengaruhi begitu banyak hal di Mughal-India. Ibu dan ayahku adalah orang Persia, kakek dan nenekku adalah orang Persia, ibu Sultan Akbar adalah orang Persia. Tapi, kami selalu bersitegang dengan mereka kini. Secara halus, kami telah mengkhianati bangsa kami sendiri.
Perkemahan Sultan Jahangir berhenti pada malam hari di sekitar sungai Jhelum. Dia harus istirahat, kata hakim. Dan akan begitu hingga fajar naik setengah lintasan di atas kepala esok hari. Perkemahan itu telah disusun melingkar sejak awal, dengan tenda Sultan berada di tengah berwarna merah dan luar biasa besar. Perapian dipasang, obor-obor dinyalakan, lalu para koki istana mendentang-dentangkan periuk mereka di dapur. Tenda para wanita zenana diletakkan tak jauh dari tenda Sultan, namun dibatasi oleh beberapa sekat yang memungkinkan agar para menteri tak dapat melihat kami saat sidang istana berlangsung.
Saat itu, Arzani telah tertidur. Kubaringkan tubuh kecilnya di atas tumpukan bantal isi bulu besar, lalu badannya menggeliat dan jempolnya dimasukkan ke dalam mulut kecilnya. Kuamati dia begitu, pelan-pelan, dan lama aku duduk menatapnya, hingga perih merayap dalam tubuhku. Shahryar tak pernah mengakui Arzani, namun dia tetap berharap terlalu besar bahwa akulah yang akan melahirkan seorang putra untuknya. Tapi kutekankan padanya, secara terang-terangan, yang berhadiah sebuah tamparan, bahwa aku takkan memberikan anak lagi untuknya. Kuseka air mata yang merembes bagai sinar keperakan, takut kalau-kalau seseorang melihatku seperti ini.
Suara kaki kuda yang berderap memaksaku untuk bangun. Kulihat dari balik daun pintu tenda, empat ekor kuda poni cokelat tengah ditambatkan di sekitar perkemahan Sultan. Bulu tengkuknya yang jantan dikibas-kibaskan ke udara malam. Aku tak punya dugaan siapa itu, tapi pikiran dan telingaku terpaut-paut pada bisikan dan tawa dari para wanita zenana di balik tirai-tirai dan tenda seberang. Dan sejauh dugaanku, kendati dugaanku hanyalah bagian dari prasangkaku yang konyol, mereka tengah berbisik dan menertawai nasibku yang ditimpa mala ini.
“Mahabat Khan datang, Putri.” Suara Nazeer Khan mengagetkanku. Aku melihatnya mematung di depan tirai penghubung antara ruanganku dan ruangan Ibu. Air mukanya tak tenang, dan dia sendiri gelisah hingga turbannya melorot ke sebagian dahinya.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia dipanggil dari selatan?”
“Di situlah masalahnya kini.” Dia menyeka tenda, melihat sekitar. “Aku telah memerintahkan para wanita untuk tak berdiri di balik tempat mereka di tenda Sultan. Pertemuan mereka amatlah rahasia. Dan sejauh yang kulihat,” dia melihat sekeliling tenda, menyadari bahwa tak seorang pun berada di sekeliling kami kecuali Arzani yang tengah terlelap. “Ini bukan pertemuan yang baik.”
“Kenapa? Maksudku, apa alasan Sultan memanggilnya dari perbatasan? Apa yang terjadi dengan Khurram, Nazeer?”
Dia menggeleng, lalu melepas turbannya. “Tidak ada. Pangeran Khurram telah diasingkan, tidak lagi berada di selatan. Tapi Mahabat memiliki sekumpulan pasukan besarnya sendiri dengan orang-orang Rajput di pihaknya.”
“Maksudmu dia memberontak? Kenapa dia datang ke tenda Sultan?”
Mahabat Khan telah mengalahkan seorang Pangeran yang berumur separuh dari usianya kini. Dia telah berupa seorang kakek tua, namun berparas meyakinkan hingga berhasil menang telak dalam pertempuran besar-besaran melawan Pangeran Khurram yang berarak gila-gilaan ke utara. Tapi, baik Sultan Jahangir atau ibuku telah lupa, bahwa Mahabat Khan tak pernah dihargai atas jasanya itu. Tak pernah dipanggil untuk menerima gelar atau berkah atau lahan tanah atau bahkan sebongkah batu safir pun dari Sultannya. Secara harfiah, dia telah diasingkan di tempat pengejarannya, berbulan-bulan penantian akan panggilan yang tak kunjung ia dapatkan. Semua orang tahu bahwa dia sengaja dipanggil untuk dibuang. Ketidaksukaan ibuku padanya masih mengurat darah dan, kendati Mahabat dipanggil untuk diminta tolong, dia tak benar-benar dianggap ada di sisi Sultan.
Namun akhirnya, muak karena merasa dipermainkan, Mahabat Khan datang sendiri ke utara setelah mendengar Sultan Jahangir akan pindah ke Kashmir. Berarak dengan parade besar dengan gaya pamer pada Sultan bahwa ia telah memiliki kekuatan dan pasukannya sendiri. Bahwa si Mahabat Khan yang berjasa itu telah terlalu amat kaya hingga dapat membeli pasukannya sendiri. Siapa yang dapat menghentikannya kini? Orang yang diberi perintah mengusir para pemberontak kini memberontak kepada tuannya sendiri. Sekarang, Sultan Jahangir akan tahu apa yang telah ia perbuat.
“Aku mendengar bahwa hubungan Pangeran Khurram dan Mahabat telah membaik, Putri.” Nazeer Khan berbisik ke telingaku, kepalanya direndahkan.
“Benarkah? Apa menurutmu—”
Aku belum menyelesaikan kalimat itu ketika suara jeritan dari tenda Sultan memekik murka. Kami berdua tersentak, lalu mengeluarkan kepala ke luar, menyadari bahwa sesuatu telah terjadi pada Sultan Jahangir atau pada ibuku. Empat kuda yang tertambat melesat terlalu cepat di tengah malam. Kabur dengan seseorang tawanan di belakang kuda mereka. Aku berlari melewati Nazeer Khan menuju tenda ibu. Dia tak berada di sana, jadi aku berjalan dari tenda itu menuju tenda milik Sultan Jahangir. Anggur-anggur tumpah dan merekah, menimbulkan noda di karpet. Botolnya telah berupa serpihan berserakan.
__ADS_1
Dari balik tabir, aku mencondongkan diri ke depan, menempelkan bibir ke sana, melihat sekeliling dengan samar. Sultan tidak ada. Mahabat Khan juga tidak di sana. Ibuku duduk di atas bantal beledu, farman di kirinya, stempel di kanannya. Dia duduk bersila dengan teko anggur di hadapannya, gelas-gelas keramik pecah berserak di sana. Daun pintu tenda terbuka lebar, mengelepak dimainkan angin. Di muka kami, alam telah menampilkan panorama sungai Jhelum berwarna indigo. Air itu tampak tenang, namun beriak murka di tepiannya. Di atasnya, bulan telah bertengger di cakrawala, berenang-renang dia atas awan. Angin malam berlomba bergelung-gelung, berputar di sekitaran tenda dengan niat menakut-nakuti.
Aku masuk tanpa memberi hormat, langsung menuju ke hadapannya. Kulihat air mata telah mencoreng mukanya. Tangannya bergetar, dan bibirnya dikulum dalam gigi-gigi yang bergemeretuk seirama dari balik cadar sifon yang ditutup rapat.
“Apa yang terjadi? Di mana Sultan?” tanyaku sambil memegangi tangannya.
“Mahabat!” teriaknya. “Kau badmash! Badmash, Mahabat! Aku bersumpah akan menyayat-nyayat tubuhmu saat kau masih hidup di kemudian hari!”
Kududukkan dirinya untuk tenang kembali. Urat-urat telah melukis alur di sekitar leher dan dahinya, membuat Ibu tampak begitu tua. Aku menuang anggur ke dalam gelas, memberikannya, namun dia merasa enggan. “Apa yang terjadi dengan Sultan?”
“Si Mahabat ***** itu telah membawanya sebagai sandra.” Ibu meraung-raung di sana, mengucapkan doa dan harapan kutukan pada Mahabat dari bibirnya. “Aku telah melihat suamiku sendiri dibawa pergi. Oh, pikirkan ini. Betapa malangnya nasibku.”
Cukup mengesankan, pikirku kemudian. Namun aku sama sekali tak menduga bahwa Mahabat terlalu berani untuk menyandera Sultan Jahangir seorang diri. Dia telah tahu risikonya, tahu bahwa kepalanya mungkin saja—tidak, pasti—akan bergulir menggelikan di atas panggung eksekusi. Atau tubuhnya yang akan disula atau berayun-ayun di pohon beringin. Tapi, Mahabat, pikirku cukup tenang, telah menunjukkan kecakapan dirinya pada Sultan Jahangir. Bahwa mereka, baik Sultan atau Ibu, keduanya harus menyadari bahwa Mahabat patut diperhitungkan.
“Nazeer! Nazeer!” teriak Ibu. Kasimnya terbirit-birit datang tanpa turban. Saat ia berdiri memancang di ambang tirai, ibuku melanjutkan kata-katanya. “Panggil Abul Hasan dan Shahryar. Katakan pada keduanya untuk memimpin pasukan pengejar ke pasukan Mahabat Khan. Aku ingin seluruh gajah ikut, dan tak ada yang boleh berhenti sebelum kepala Mahabat diseret padaku. Sekarang!”
Nazeer Khan berlari tanpa memberi hormat. Kulihat dia menghilang dari balik tirai. Lalu, saat dia pergi, para budak datang untuk membersihkan noda dan mengutip pecahan keramik yang berserakan. Aku mengamati Ibu, ingin menanyakannya sesuatu, tapi dia terlalu sibuk dengan farman kesultanan. Ibu membubuhkan segel, menempelkannya, menulis farman yang sama, lalu menempelkan stempel lagi. Saat aku ingin bicara, dia akan berkata, “jangan sekarang, Ladli.”
Jadi, aku diam. Butuh waktu lama sampai Ibu benar-benar siap dan berdiri dari pekerjaannya. Dia mengencangkan cadar di wajahnya, mengambil cermin kecil untuk menyiapkan wajah indahnya lagi di hadapan umum. “Siapkan pakaianmu. Kita akan berkendara sekarang.”
“Tapi, para pasukan sedang istirahat. Dan kuda-kuda kita sedang tertidur di istal.”
“Ikut saja, Ladli! Dengarkan kata-kataku karena aku memerintahkannya.”
Kami bergerak satu jam kemudian dengan pasukan besar. Shahryar dan paman Abul Hasan memimpin pasukan di depan. Aku bertanya-tanya dalam diri apakah benar untuk menempatkan kedua orang itu di garis depan. Shahryar bukanlah pemimpin ulung. Terlalu ceroboh, idiot, tanpa semangat pula. Paman Abul Hasan memang mengesankan, berpengalaman di atas pelana kuda kesultanan. Tapi, paman Abul Hasan adalah ayah Arjumand, mertua dari Khurram. Aku mulai berpikir bahwa ia bisa saja mengkhianati kami demi menantunya. Tak ada yang pernah lupa apa yang telah dilakukan ibuku padanya soal harta warisan. Dan aku tahu, kendati dia tersenyum dan menurut, luka masih menganga di dadanya.
Pasukan kami mengejar pasukan Mahabat dalam kegelapan, teramat kikuk dan bingung untuk menjejakkan kaki di tanah lunak yang basah oleh hujan dan riak-riak air sungai Jhelum. Kaki gajah kerap masuk ke lumpur dalam. Pasukan kami, setengah sadar, lembek dan loyo dalam berjalan, mati-matian mengeluarkan hewan itu di kegelapan malam yang menggigit. Aku mulai ragu pada pencapaian kami.
Di sebelahku, Ibu mengencangkan cadar tebal miliknya. Dia menegakkan punggung, mengangkat lampu minyak ke depan wajahnya agar jalan-jalan terlihat sempurna dalam rengkuhannya. Kemudian, suaranya berteriak lantang. Saat dia berteriak, pasukan kami menegakkan tengkuk mereka yang layu dan berjalan sebagaimana mestinya. Lampu-lampu berjalan bersama kami, seolah-olah kami bergerak dalam satu kepungan rayap. Aku tak bisa mendengar apapun dari dalam howdah. Terlalu banyak suara, tapi tak satupun suara tersangkut akrab di benakku. Kenapa rombongan Mahabat Khan tak juga terlihat? Seberapa jauh pula ia? Sedang yang kami lakukan hanya berputar-putar mengendus-endus jejak samar kudanya, yang entah lari ke sisi yang mana dari sungai.
Saat aku merebahkan diri ke belakang, kulihat Arzani terlelap di sana. Aku memindahkannya terburu-buru dengan bantuan Nazeer Khan untuk naik ke howdah. Arzani tak mengatakan sepatah kosapun kendati dia sempat sadar tengah dinaikkan ke atas gajah. Ketika gajah pertama di barisan depan menginjak lumpur dalam, suara teriakan membahana di sekeliling kami. Aku tak tahu suara itu muncul dari mana, tapi seluruh pasukan mengelilingi kami bagai semut yang melindungi gulanya. Mereka berkumpul dan merapat, lalu lampu-lampu minyak berpendar di sekitaran kami. Aku tak dapat melihat apapun lebih jauh. Mataku menyipit untuk menyimpulkan satu dua bayangan yang bergerak-gerak di bawah kegelapan mencekam. Tapi, yang kudapat hanya lesatan anak panah mengerikan. Hujan anak panah menghantam pasukan kami, termasuk gajah yang kunaiki.
Aku melesat ke arah Arzani. Kubungkus tubuh kecilnya dalam selimut sutra dan wol hangat. Anak panah datang kembali, diiringi teriakan serbuan dari serdadu-serdadu kami. Dari balik kegelapan, yang perlahan-lahan tak lagi samar ketika cahaya naik dari banyak arah, pasukan Mahabat Khan memekik mengerikan. Orang-orang Rajput yang dibawanya melaju murka tanpa sehelai baju. Mereka hanya menggunakan dhoti putih yang digulung hingga ke lutut, bebercak-bercak lumpur sungai. Aku berani bertaruh bahwa Mahabat Khan telah membayar mahal mereka. Di manakah ia?
Ketika pasukan kami tercerai berai, ketakutan menguasaiku. Dan aku mulai berpikiran yang tidak-tidak sambil merasa bahwa tenggorokan tercekat entah karena apa. Rinai turun dari langit hitam, disusul kilat putih yang mengakar, menggapai-gapai ke bumi rendah. Pelan-pelan, aku menggigil di atas gajah. Hewan ini sempat oleng karena gemuruh senapan laras panjang yang dipekikkan di udara, tapi kembali normal saat pawang mengendalikannya penuh keahlian.
“Tidurlah, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Ibu berada di sini,” jawabku sambil mengatupkan mulutnya dengan jari telunjuk. Tapi, kondisiku sendiri tak lebih baik dari anak itu, sebab aku panik bukan kepalang. Seluruhnya bermain di benakku kini. Apa yang akan terjadi jika pasukan kami kalah? Bagaimana jika salah satu dari kami bertiga—aku, Arzani, ibu—tertembak?
Ibu mengambil senapannya, mengangkatnya di atas bahu, lalu menekan pelatuk untuk membidik seekor kuda di depan. Hewan itu melengking saat peluru timah menembus rinai hujan. Si penunggang terpelanting, jatuh tertimpa kudanya. Tak jauh dari kami, aku melihat Mahabat Khan dan Sultan Jahangir di atas kuda Arab. Dia tampak panik dan ketakutan. Sedang Sultan Jahangir bagai terpidana mati yang hendak dilarikan untuk menghindari hukumannya.
“Kejar si badmash pengkhianat itu!” pekik Ibu.
Di depan, kuda paman Abul Hasan berderap di antara mayat-mayat musuh yang mati konyol. Dia melompat dari hewan itu, menarik pedang dari sarungnya yang bertatahkan permata, melemparkannya ke kuda Mahabat. Hewan itu memekik, menjatuhkan si penunggang ke belakang. Lehernya terkoyak oleh batu tajam, lalu matanya menatap hampa. Mahabat Khan terpojok, sementara Sultan Jahangir terjatuh tak jauh darinya. Dia mengerang kesakitan.
Mahabat bergerak cepat. Dia mengambil sebuah belati dari sakunya, bangkit dari sikap terpuruknya di atas tanah. Mahabat berlari ke arah Sultan, berniat menggantungkan belati di antara tangan dan dada Sultan Jahangir. Tapi, paman Abul Hasan tak tertandingi. Dia menangkap Mahabat Khan, menjatuhkannya di atas tanah, membekuknya agar ia tak lagi leluasa. Belati itu kini tertancap di punggungnya. Kupikir Mahabat Khan sudah mati, tapi sepertinya tusukan itu hanya untuk menggertak orang-orangnya. Saat itu, tahu pemimpinnya terancam kematian atau pengampunan, seorang perwira Mahabat berlari dengan panji, meneriakkan isyarat untuk mundur ke garis belakang. Hujan datang tanpa ragu-ragu. Saat kami bertahan lebih lama di sana, hujan turun semakin gila.
Aku tak dapat menerka apa yang terjadi selanjutnya. Kilat datang menakut-nakuti, ditemani lengkingan suara yang menggelegar di antara kedua pasukan. Terlalu banyak yang terselip di balik arus orang-orang yang kembali berarak ke belakang. Dan ibuku mencampakkan diri ke belakang, terlalu lelah, tapi semangatnya belum lagi mereda. Dia meminta untuk dibawakan pada Mahabat, tapi penunggang gajah hilang kendali sebab pasukan kami berlari-lari di sekitaran kaki gajah.
“Di mana Abul Hasan?” tanya ibu padaku.
Aku memicing, mencari-cari sosok pamanku di balik punggung-punggung para pria yang lari lintang pukang dari kematian. Di ujung sana, di tempat dimana paman Abul Hasan telah melumpuhkan Mahabat, ia sedang bicara padanya. Aku tak tahu itu soal apa. Tapi raut wajah pamanku sama sekali tak mengancam. Mahabat Khan memerhatikan wajahnya, mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya berderap pergi bersama kudanya yang lihai menuju ke sisi lain sungai Jhelum. Dia pergi ke selatan dengan pasukannya, meninggalkan pasukan kami dengan hampa, tanpa perhitungan atau ancaman. Namun aku bertanya-tanya mengapa paman Abul Hasan melepaskannya pergi begitu saja. Aku tak ingin menerka apapun. Atau sekadar bertanya. Ibuku mempertanyakan keputusannya yang tak bijaksana. Kenapa dia melepaskan buronan kesultanan? Kenapa dia membiarkannya kabur? Sementara kami bisa saja menggantung Mahabat besok pagi sebagai pengkhianat. Kekurangajarannya dan kemarahan ibuku sama sekali tak setimpal dengan membiarkannya melenggang bebas. Dan paman Abul Hasan menjawab dengan santai bahwa Mahabat dan pasukannya telah diperintahkan untuk lari ke selatan, menjauh dari Sultannya untuk mengasihani diri sebab kini, seluruh kesultanan menolak kehadiran Mahabat di mana-mana. Praktisnya, Mahabat diperintahkan untuk mengasingkan diri di bawah pengawasan sebagai ganti atas nyawa dan pengabdiannya pada Sultannya. Dan memang, Mahabat Khan mengembalikan Sultan pada kami dengan selamat, tanpa luka atau bilur.
Inilah yang menjadi perhatian kami kini. Kesehatan Sultan Jahangir menuntut perhatian. Demam menyerangnya, terlalu tinggi, dan kami ragu apakah ia dapat bertahan di udara seperti ini. Hujan menghantam bumi dengan murka, dan guntur menjerit-menjerit tanpa ampun. Ibu memegangi Sultan Jahangir di gajah utama, sementara aku memegangi Arzani di gajah milikku.
Di manakah Sharyar kini? Aku tak melihat si Nashudani bertarung di tengah-tengah medan laga, mengadu pedang, menembakkan peluru dari senapannya, atau meneriakkan perintah pada seluruh perwira. Aku berdoa, atas izin Allah, semoga dia mati di medan laga saja. Tapi belakangan, setelah menanyai seorang perwira, aku tahu bahwa Shahryar tak ikut dalam pertempuran ini. Dia sakit, katanya, dan teramat tak memungkinkan untuk keluar di udara yang mengancam. Dia mengamankan bokongnya sebagai seorang pengecut di balik tenda sementara kami hampir-hampir mati tertusuk panah dan pedang.
Sultan Jahangir dibawa kembali ke tendanya dengan aman. Dia dibaringkan di atas dipan, dihangatkan dengan perapian yang hangat dan harum. Ibu memanggil lima orang hakim, duduk di antara mereka untuk mendengarkan, berdoa menghadap Makkah. Kiranya Allah tidak sedang bosan pada kami, hingga Ia memberikan Sultan Jahangir cukup umur, setidaknya, sampai kami tiba di Kashmir. Udara di sini amatlah mengancam, dan kami tak tahu pemberontak macam apa lagi yang datang pada perkemahan ini. Selain itu, Pangeran Khurram masih patut diperhitungkan. Selama bertahun-tahun diasingkan, dia mungkin telah mengira bahwa ia kembali layak untuk keluar memimpin pasukan. Kenapa dia harus bertahan di tempatnya sebagai orang buangan sementara ayahnya telah sekarat dan tak berdaya. Mahabat telah memberikannya pertunjukan terbuka. Dia tahu ayahnya takkan-atau tak bisa, mungkin, melawan. Hanya sepenuhnya bergantung pada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Jadi aku berani bertaruhbahwa kekasihku itu telah bersiap di tempatnya.
Setelah memastikan bahwa Arzani aman di atas dipan, aku mencari Shahryar kemana-mana. Dia tak berada di antara wanita zenana, jadi dia pasti berada di kediamannya. Penyakit macam apa yang telah melumpuhkan si pengecut ***** itu? Yang kini menganggap bahwa dirinyalah yang pantas diperhitungkan menjadi Sultan berikutnya. Saat aku masuk ke kamarnya, dia melempar sebuah vas. Aku mundur ke belakang, menyadari bahwa kini aku sedang berhadapan dengan manusia setengah binatang.
“Jangan datang! Pergi!” teriaknya. Dia bersembunyi di balik selimut tebal.
Aku melangkah masuk, mengangkat rok dan berjinjit untuk menghindari pecahan benda.
“Apa yang terjadi, Tuanku?”
“Pergi kubilang! Siapa yang menyuruhmu kemari, gadis nautch! Aku tak pernah meminta, sementara kau datang sesukamu. Apa Padshah Begam yang memerintahkannya? Apa Sultan telah meninggal di tangan Mahabat Khan?”
__ADS_1
“Jaga mulutmu, Tuan. Dia masih hidup. Dan aku kesini sebab aku perduli.”
Dia menyibakkan selimut, keluar dari persembunyiannya. Benda itu bergerak-gerak, dan jantungku terasa berdetak marah. Saat ia muncul secara kasar, aku terperangah tak menyangka. Napasku tertahan, mulutku terbuka tanpa berucap. Tidak ada sehelai rambut, bahkan alis, bahkan bulu mata, bahkan kumis, bahkan janggut sekalipun. Aku mundur, seolah-olah tengah bermimpi, mimpi yang buruk. Makhluk itu tertawa mengerikan, yang membuat bulu kudukku meremang dan tegang. Inikah Shahryar? Inikah lelaki yang kunikahi? Ada apa dengan tampangnya? Kemana semua rambut di wajah dan kepalanya? Kenapa dia botak? Dan, kulitnya, kulit yang menyentuhku tanpa cinta itu, mengelupas dan membusuk.
Dia tertawa, bangkit dari tempat tidurnya ke arahku. “Kau perduli padaku, Ladli? Kemari, Sayang. Kemari. Dan cium aku,” katanya dengan air muka mengerikan.
“Apa yang terjadi?” tanyaku terpatah-patah. Pandanganku masih memancang pada wajahnya yang mengerikan. Dia lebih mirip seekor anak monyet yang baru lahir. Kutolehkan kepalaku ke arah pelayan di samping pintu. “Ada apa dengannya?”
Shahryar duduk di atas karpet merah. Dia tersenyum, lalu mengambil buah apel yang tergeletak di sana. Hatiku mendadak mengeras dan pedih, namun di sudut-sudut hatiku yang kejam—ya Allah, ampuni aku—aku telah bersyukur pada Allah sebab Dia telah membuat Shahryar menjadi makhluk menyedihkan. Dia takkan menjadi Sultan. Tidak dalam kondisi macam ini, pikirku masam. Takkan ada yang mau menobatkan Sultan botak dengan kulit busuk. Aku masih berdiri di tempatku, pelan-pelan mundur untuk merapatkan diri ke dinding tenda.
Shahryar mengamati lengannya. “Ini sejenis lepra,” katanya tenang. “Bersyukurlah kau telah menikahi seorang lepra, Ladli.” Dia menjeda kata-katanya untuk menggigit apel itu, mengunyahnya hingga *****, lalu menelannya. “Aku tidak apa-apa. Semuanya normal. Aku tak merasakan demam dan tak kepayahan mencerna apapun. Hanya kulitku saja yang bermasalah.”
“Kau menyedihkan, Syahryar,” kataku sambil menggeleng-geleng. “Allah tengah murka padamu.”
“Bah!” Shahryar meludah, melemparkan apelnya padaku. “Tahu apa kau tentang murka Allah? Al-Qur’an Yang Mulia berkata “Dan mengapa kamu heran ketika tertimpa musibah sementara kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat.”
“Kenapa kau mengutip ayat itu?” tanyaku padanya. “Jika kau berpikir, Shahryar, kaulah musibah bagiku. Kaulah yang telah menamparku bertubi-tubi, memperlakukanku bagai binatang. Di mana letak kasih sayangmu? Aku bahkan tak pernah merasa bahwa aku telah menikah dan dicintai. Tak ada cinta dalam dirimu sejak awal. Apa bedanya aku dengan gadis perawan di luaran sana? Aku tak pernah merasa bahwa aku telah bersuami. Bahwa hubungan kita hanya sebatas hubungan untuk memiliki anak. Kau hanya datang padaku saat kau menginginkannya. Dan kita berdua selalu macam orang asing di muka ramai. Aku tak pernah merasakan yang mereka katakan soal cinta suami-istri. Kini, Allah telah menghukummu. Sebuah hukuman yang memalukan. Sadarlah bahwa Allah telah meninggalkanmu.”
“Diam!” pekiknya. “Diam atau kuhajar kau!”
“Kau akan mati jika Khurram berhasil mencapai Lahore untuk mengalahkanmu.”
“Dia tidak akan!” Kini, dia mengomel sambil menggaruk-garuk kulitnya. Jari-jarinya yang kotor menggerus bagian itu hingga kulitnya berdarah dan berserakan di atas karpet. Betapa menjijikkannya ia. “Aku yang akan menjadi Sultan, Ladli. Khurram takkan keluar, dan takkan pernah, dari pengasingannya karena seluruh kesultanan telah menolaknya. Dan jika dia mencoba-coba, aku akan mematikan pedangku akan membunuhnya.”
Aku menggeleng, hendak mengejek, namun pancangan mataku tidak berubah padanya. “Kau terlalu lemah, nashudani. Kau orang badmash yang lemah!”
“Berhenti memanggilku badmash karena aku bukan ********!”
Dia melemparku dengan pinggan emas. Pinggan itu pecah ketika dinding tenda memantulkannya kembali ke atas karpet, bertubruk dengan tanah yang dilapisi. Aku mengambil serpihannya dan melemparkannya kembali. Betapa muram aku kini, dan dia, yang tak sadar apakah akan terus hidup atau mati, masih saja keras kepala. Seandainya Shahryar tak begitu tercela, aku akan mencintainya perlahan. Namun dia lebih buruk dari **** sekalipun. Pedih datang padaku, dibalut oleh senandung kata untuk marah. “Bodoh! Kau badmash! Apa kau pikir anakmu akan sudi melihatmu seperti ini? Berapa banyak anak lelakimu kini? Bodoh!” kulemparkan pecahan-pecahan itu padanya sambil terus mengumpat. “Pikirkan apa yang terjadi jika kita punya anak laki-laki sebelum kau naik takhta. Pikirkan jika Khurram datang menyerangmu! Anak siapa yang akan ia bunuh? Tentu saja anakmu! Kau *****, Shahryar. Khurram takkan membiarkan anak laki-lakimu hidup sebab ia dapat menuntut takhta ayahnya di kemudian hari. Untuk apa semua ini kau lakukan padaku? Dan sekarang,” kujeda kalimatku untuk berisak, sementara air mata menetes-netes dari daguku. “Kau menyalahkanku atas semua yang menimpamu? Di mana pikiranmu? Demi kasih Allah, Shahryar, lihat dirimu.”
Aku diam. Kutarik napasku dalam-dalam untuk tenang. Wajahku memucat, lalu merona karena amarah. Jika zenana Sharyar dapat mendengar pertengkaran ini, biarkan mereka tahu bahwa anak-anak lelaki mereka bisa saja mati jika Khurram menundukkan kepala Shahryar di bawah kakinya.
Dia tersenyum, lalu menggaruk lengannya lagi. “Apa kau masih mencintai Khurram, Ladli? Setelah sejauh ini?”
Aku tersentak pada pertanyaannya. “Apa? Apa yang kau katakan?”
“Jawab aku!” jeritnya.
“Apa yang kau tahu soal apa yang berada di antara aku dan Khurram?”
“Dia bidaulat, Ladli. Dia bidaulat yang menentang ayahnya.”
“Lebih baik dari nashudani,” jawabku muram.
Dia berdiri. Aku tahu aku telah berbicara terlalu banyak, dan itu tak teramat memuaskan dirinya. Dia pasti akan datang padaku, menyakiti tubuhku untuk yang kesekian kalinya dengan girang. Dia bangkit untuk maju, lalu Nazeer Khan muncul tiba-tiba di ambang pintu. Wajahnya mengeras memerhatikan Shahryar, lalu memerhatikanku pula.
“Maaf, Yang Mulia. Sultan Jahangir sedang sekarat. Anda berdua diharapkan hadir di tendanya sekarang.”
“Kita harus pergi, Shahryar.” Aku menoleh padanya.
“Kau yang harus, bukan aku! Aku takkan keluar dengan keadaan seperti ini.” Dia bersikeras.
Aku menarik napas, menyadari bahwa dia terlalu bodoh untuk ukuran seorang Pangeran Kerajaan. Jadi, aku berderap murka dengan Nazeer Khan. Aku masuk ke tendaku, menerobos ke tenda ibu, lalu masuk dengan pelan ke balik tabir di tenda Sultan Jahangir. Dia sedang berbaring. Tangannya menggenggam jemari ibu, terlalu lemah, dan tak ada kosa yang diucapkannya pelan-pelan. Napasnya bersuara, tapi tak jernih, terlalu berisik saat naik dan turun. Matanya berkedip, lalu sesaat memejam. Ibuku menangis di sampingnya, berdoa agar Allah memberikan kemudahan bagi sang Sultan. Tapi, Allah tampaknya sedang mendatangkan kematian. Sultan Jahangir mengerang dua kali, dadanya bagai ditarik ke atas, dan matanya merekah mengerikan. Dia menarik napas, menggapai-gapai udaranya sendiri dengan ragu. Lalu, sesaat kemudian, saat seluruh tatapan orang-orang terlalu awas, saat orang-orang menunggu, saat pembawa pesan tengah bersiap dengan tungkainya yang laju, saat orang-orang telah siap namun penuh perhatian, Sultan Jahangir telah meninggal.
Ibuku mencium leher suaminya itu dengan perih. Dia meraung, sesekali mengucapkan doa-doa dari para mullah untuk pengampunan. Aku tak tahu seberapa perih rasanya, namun kupikir sebagian dari jiwanya kini telah mengambang bersama jiwa Sultan Jahangir. Napas terakhir itu telah memberikan isyarat pada semua orang, bahwa kebahagiaan dan kehidupan telah ditarik darinya. Sultan Jahangir telah meninggalkan seluruh kesultanan di bawah Pangeran-Pangeran yang masing-masing bisa mengklaim takhta atas namanya. Namun, sebuah peluang tampak terbuka bagi Khurram atau Shahryar, karena hanya berselang beberapa menit, sebuah kabar dari Burhanpur sampai, bahwa Pangeran Parviz telah meninggal. Bertahun-tahun hidupnya yang malang dan seluruhnya dihabiskan untuk anggur. Yah, aku menduga bahwa kabar itu sama tak pentingnya dengan kabar lain bagi ibuku. Dia telah memikirkan satu hal. Bahwa jika Sultan Jahangir meninggal, Shahryar-lah yang akan naik takhta. Sebab jika Khurram berhasil mengalahkan adiknya, secara harfiah, berarti membunuh Shahryar, kami takkan punya tempat di sisi hati Khurram atau Arjumand.
Kabar duka tersiar di seluruh kesultanan. Hari-hari yang dinanti kini telah tiba, namun ditunggu tanpa melakukan apapun, sebab hanya kematian yang datang. Sultan telah meninggal dalam damai, dipercayai tengah meminum anggur-anggur syurga. Seluruh menteri dan satuan militer kini telah menimbang, dengan teramat hati-hati, di manakah kepala mereka akan diletaksetiakan? Jadi, arus kekuasaan pun bergolak setelah kematian. Ayat-ayat Al-Quran Yang Mulia dipekakkan di seluruh kesultanan. Ayat itu dikutip dari surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan lantunan doa sakral untuk sang Sultan.
Terlalu terburu-buru, sebab Ibu takut bahwa Pangeran Khurram akan merebut gudang harta istana menjadi miliknya, Shahryar dikirim ke Lahore, suka atau tidak suka, untuk memimpin sidang istana darurat, memaksa seluruh orang untuk mengakuinya sebagai Sultan yang diatasnamakan oleh ibuku, Ratu Nur Jahan Begam. Dengan begini, wanita itu telah menjamin, bahwa kami akan tetap hidup dalam rengkuhan pemerintahan Shahryar. Dan jika Shahryar dapat mencapai Lahore tanpa gangguan, dia akan menjadi Sultan Mughal India. Dan aku adalah Padshah Begam zenana kesultanannya.
Saat Shahryar berarak ke Lahore dengan terburu-buru, kami telah melupakan seseorang di antara kami. Paman Abul Hasan masih bersama kami, masih, walau telah terlupakan, menyimpan dendam yang membuncah di dalam dirinya untuk ibuku. Pada tahun-tahun yang dilewatinya, paman Abul Hasan tak mendapat bahkan satu rupee pun dari harta warisan kakekku Ghias Beg. Paman Abul Hasan tak mendapat posisi apapun di istana, kecuali gelar sebagai mertua Pangeran dan abang dari Ratu Nur Jahan Begam. Jadi, dia menginginkan lebih dari itu. Jika Paman Abul Hasan dapat memperoleh apa-apa yang bisa dimilikinya lebih dari apa yang bisa ia dapatkan, ia pasti akan memihak anak dan menantunya.
Jadi, Paman Abul Hasan mengkhianati kami.[]
__ADS_1