Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB V : PENGASINGAN


__ADS_3

Sesuai perkiraan, Pangeran Khurram berarak menuju Lahore ketika tahu bahwa ayahnya telah meregang nyawa. Dia membawa sebuah pasukan besar siap mati dari tempat pengasingannya. Selama bertahun-tahun diabaikan dan keliru dari pengawasan ibuku, Pangeran Khurram telah membangun pertahanan dan pasukannya sendiri. Dengan baik menunggu momen sampai ia dapat meledakkan senjatannya sendiri. Arjumand ada, pasti, mendampinginya hidup atau mati. Jadi, mereka benar-benar berarak ke utara. Khan-i Khanan Abdur Rahim, Komandan Tentara Kesultanan, serta Mahabat Khan ada di pihaknya. Aku telah menduga sebelumnya, dan tahu bahwa kini dugaanku tidak salah sebab baik paman Abul Hasan atau Mahabat Khan telah merencanakan hal ini sejak penyanderaan Sultan.


Surat itu sampai terburu-buru, dituliskan dengan coret moret peringatan, yang ditekankan dengan nada serius, bahwa seluruh rombongan Sultan Jahangir harus pergi ke Lahore secepatnya. Tapi, Shahryar-lah yang telah kesana, si nashudani. Sementara aku dan ibu akan melaksanakan upacara pemakaman bagi Sultan Jahangir di sini bersama paman Abul Hasan. Seluruh hadirin laki-laki mengenakan tunik putih dan turban putih, dibuat sesederhana mungkin agar seluruh orang dinilai sama rata. Para perempuan menggunakan blus ketat putih, rok putih, cadar serta kerudung putih yang dibalutkan di wajah. Para mullah membacakan surat Al-Fatihah lagi, berulang-ulang, diteriakkan oleh seluruh hadirin, lalu seorang mullah memimpin doa. Cendana dibakar di sekeliling peti jenazah, lalu jenazah Sultan dibawakan ke sana untuk dibaringkan.


Sultan Jahangir telah dimandikan dengan air kamper, hingga baunya membuatku bersin berkali-kali. Dia dibungkus dalam kain kafan putih tiga lembar dan diletakkan di dalam peti. Kami akan bergerak ke Lahore sementara makanan untuk kaum fakir disiapkan oleh dapur kesultanan. Karena selama perjalanan, akan ada ribuan orang yang menagih jatah sekeping roti, yang diganti dengan doa untuk sang Sultan.


Ibu dan aku berdiri di depan tenda untuk menunggu kaum pria selesai dengan tugasnya. Saat peti jenazah dipikul oleh para kasim istana, paman Abul Hasan datang pada kami dengan mengendarai kudanya. Dia menambatkan hewan itu, lalu berlari ke sisi Ibu dengan serius.


“Apa lagi, Abul?”


“Maaf. Tapi kalian berdua takkan diizinkan memimpin iringan ini.”


Ibu mengernyit, hingga alisnya tampak sedang menyatu. “Apa? Kenapa? Bukan begitu kesepakatan kita.”


“Begitulah kesepakatanku, Mehrunnisa,” kata paman Abul Hasan, memanggil nama Ibuku dengan lembut. “Kau dan Ladli akan digiring dalam gajah kesultanan hingga kita tiba di Lahore.”


Tapi, Ibuku menggeleng, tak pernah setuju pada saran apa yang dijatuhkan orang padanya. “Tidak, Abul. Tidak.” Ibu maju beberapa langkah untuk melepaskan tambatan kuda paman Abul Hasan, tapi lelaki itu datang untuk memegangi lengannya. “Lepaskan aku, Abul. Apa kau tahu yang kau lakukan kini? Aku Sultan Begam, Janda Sultan.”


“Seorang janda, Mehrunnisa. Dan seorang janda tak boleh terlihat di atas kuda atau berjalan di khalayak ramai hingga empat bulan ke depan setelah ditinggal mati suaminya.”


Ibu melepaskan tangannya dari paman Abul Hasan, sementara yang kulakukan hanya memerhatikan keduanya dari depan tenda. “Oh? Sejak kapan kau belajar bersilat lidah, Abul? Hentikan kekonyolan ini dan bawa rombongan itu kemari.”


Paman Abul menggeleng, lalu memanggil lima orang penjaga kesultanan. Dia berbalik untuk memunggungi kami dan melepaskan tambatan kudanya dengan yakin. “Pangeran Khurram telah memerintahkanku, Mehrunnisa. Dan aku akan melakukannya sebab dia adalah menantuku.” Dia berderap pergi, menghindari tatapan ibuku secara kontras.


Saat itu, ibuku merekahkan matanya. Dia tahu bahwa kini, takkan ada harapan untuk kami. Kami telah membiarkan satu orang pengkhianat berkeliaran di sekitaran kami sendiri, membiarkan ia mendengar terlalu banyak, membiarkan ia tahu apa yang tak perlu ia tangkap. Pada akhirnya, kami membiarkannya menggiring prosesi pemakaman Sultan Jahangir kembali ke Lahore. Jika Shahryar tidak dihabisi oleh Khurram, maka dia akan dihabisi oleh paman Abul Hasan.


Lima orang pengawal menggiring kami masuk ke tenda, lalu seekor gajah ber-howdah dengan tirai tebal disiapkan di depan. Kami menaikinya dengan enggan. Ibuku terus saja mengumpat soal pengkhianatan abangnya itu. Jika saja dia memiliki pemikiran untuk membunuh abangnya di masa lalu sebab harta warisan yang mereka selisihkan, mungkin dia akan menyesalinya hari ini karena tak melakukan hal itu sejak lama.


“Terkutuklah kau, Abul. Dan jika Shahryar akan menjadi Sultan, akan kupastikan kau berada di penjara bersama menantu dan anakmu yang kau sayangi itu selamanya.”

__ADS_1


Namun, suaranya tak dihiraukan. Kami bergerak dengan lambat ke Lahore, sengaja, demi memuluskan jalan Pangeran Khurram untuk memotong kepala Shahryar dengan tangannya. Namun anehnya, di perjalanan, paman Abul Hasan memahkotai Dawar, anak dari almarhum Pangeran Khusrau, menjadi Sultan berikutnya, teramat tergesa-gesa karena dia mengira Pangeran Khurram teramat lambat dari selatan. Tapi kemudian, kami sampai di benteng Lahore lebih dulu dari Khurram. Paman Abul Hasan mendobrak gerbang dan mengalahkan seluruh pasukan Shahryar dengan mudah. Pasukan itu lari tunggang langgang ke selatan, yang akan disisir habis oleh bala tentara Khurram yang dipimpin oleh Mahabat Khan dan Abdur Rahim. Jadi, kini, kesultanan telah memiliki sang pemenang. Kesetiaan telah membengkak di pihak Khurram, bagai bisul yang siap memecah. Dan di sisi lain, di sisi Shahryar, atau secara harfiah, di sisi Ibu, orang-orang mulai merubah pikiran mereka untuk bertahan pada Pangeran nashudani itu. Paman Abul Hasan telah membujuk mereka, memberikan mereka jaminan untuk hidup jika membelot dari suamiku. Jadi, daripada ambil berisiko kehilangan kepala dan anak istri mereka dimiskinkan, para ningrat merubah haluan mereka dan kabur ke sisi Khurram.


Saat Benteng Lahore berhasil ditaklukkan, paman Abul Hasan menyeret Shahryar ke hadapan Dawar untuk bertekuk lutut. Dia teramat mengerikan dengan lepranya, bahkan aku ingin muntah saat memandanginya dari dalam howdah. Lalu, enam orang penjaga dipanggil ke sana. Satu orang memegang kepala Shahryar, dua orang memegangi kakinya, dua orang yang lain memegangi tangannya. Dia meronta-ronta, mengumpat, tapi kepalanya ditundukkan dengan paksa. Seorang penjaga terakhir mengambil besi yang telah dipanaskan. Warnanya merah cerah, berasap. Benda itu mendesis-desis, seolah-olah sedang memburu mangsa.


Shahryar didongakkan dengan paksa, dipaksa melihat langit biru yang hampa. Ketika dia menggapai-gapai penglihatan itu untuk dirinya, besi panas ditancapkan di matanya. Dia meronta-ronta, menjerit kesakitan, lidahnya dijulurkan untuk membantu suaranya memekik bagai lolongan anjing jalanan. Aku menutup mulutku ketika menyaksikan pemandangan menyedihkan ini di hadapan mataku, sementara yang dilakukan Ibu hanya menangisi menantunya yang lepra serta malang. Ketika mereka selesai, Shahryar dibiarkan di atas tanah, meringkuk seorang diri, kesakitan pada nasib dan dirinya. Tak lama kemudian, tabib istana datang untuk mengobati luka di matanya. Dia buta.


Tiga hari kemudian, saat kami berlima bisa duduk di dalam ruangan: Aku, Ibu, Nazeer Khan, Shahryar, dan Arzani, berita sampai pada paman Abul Hasan bahwa Pangeran Khurram akan sampai sebentar lagi. Jadi, dia melemparkan Dawar, yang telah ia nobatkan secara terburu-buru, ke ruangan yang sama seperti kami. Meskipun ruangan ini adalah bagian dari benteng, kami tak diizinkan untuk menjejakkan kaki kemanapun kami mau. Secara halus, paman Abul Hasan telah memenjarakan kami semua. Aku berdoa pada Allah agar semua ini tak terkesan lebih buruk lagi. Apa lagi setelah ini? Aku tak berani menduga, sedangkan si Shahryar ***** itu kini meronta-ronta saat denyut di matanya menjadi-jadi. Kuurus dia sebisa mungkin, tapi dia menolak dengan kasar. Kendati begitu, aku tetap membawakan pakaian dan makanan dan selimut padanya.


“Ibu, apa yang terjadi saat Pangeran Khurram kemari?” Arzani menatapku kosong. Sungguh menyedihkan melihat anak berumur tiga tahun mencoba memahami ini semua sebagai bagian dari memori masa kecilnya. “Apakah dia akan menyakiti kita?”


“Dia takkan menyakiti cucu Sultan Begam,” kataku menanggapinya, karena hanya itu yang bisa kuucapkan, sedang tanganku memeluk kepala kecilnya dalam pangkuanku.


Ibu mengamati kami semua. Teramat pedih hatinya kini, tapi tak ada satu kalimat yang dapat dia ucapkan sebagai perwakilan kesedihannya sendiri. Bahkan dia tak diizinkan untuk melihat jasad suaminya tercinta untuk yang terakhir kalinya sebelum dikubur dalam tanah. Dialah yang pernah dijuluki Nur Jahan Begam itu, yang kata-katanya ditakuti, murkanya diratapi, suaranya bergema dari balik tabir berkisi-kisi, tapi kini, dia adalah Janda Sultan yang malang seorang diri.


Tepat saat hari yang dijanjikan, Khurram datang ke benteng Lahore. Kami dapat mendengar teriakan Zindabad! Zindabad! Zindabad! Shabash, Alam Pana! Shabash, Alam Pana! Dia pasti datang dengan prosesi besar, sebab orkestra kesultanan berdegung-degung kegirangan saat menemukan Pangeran dambaan mereka tiba di gerbang benteng. Aku menduga bahwa kini dia pasti lebih tampan. Memikirkan rupanya yang menawan, kilatan matanya yang memburuku, telah merusak mimpi-mimpi malamku menjadi kehampaan tanpa benda. Kini, setelah sekian lama, Khurram datang kembali ke hadapanku.


Pintu besi terbuka ketika dua penjaga mengangkat Shahryar dan Dawar dari kami. Ibu mengentikan mereka dengan paksa, mencampakkan seseorang ke lantai. “Apa yang kalian lakukan? Siapa yang memerintahkan kalian?”


Ibu mengernyit. “Apa? Bi-daulat itu telah menobatkan diri? Lihatlah betapa tak tahu malunya ia. Apakah dia naik takhta atas izin Allah?”


“Tentu saja, Sultan Begam. Beliau adalah pemenang yang direstui Allah.”


“Cukup jawab pertanyaanku dengan singkat, Badmash! Apakah Arjumand adalah Padshah Begam?”


Mereka mengangguk, memerhatikan satu sama lain. Kemudian mememerhatikan tampang ibuku yang menua. “Ya, Sultan Begam. Baginda Sultan memberikannya gelar Mumtaz Mahal.”


“Apa?”


Aku bergidik, rasa takjub datang menyurup padaku. Mumtaz Mahal. Yang dipilih di istana. Entah kebahagiaan macam apa lagi yang mungkin bisa Khurram lakukan untuk istrinya. Namun, ini, gelar, sebuah berkah, tanda restu, Mumtaz Mahal adalah hal berharga tak ternilai. Aku sendiri merinding mendengarnya. Ibuku lemah, jatuh dari tempatnya. Khurram telah memperingati semua orang, jika ayahnya bisa memberikan gelar Nur Jahan bagi istrinya, maka dia bisa saja melakukan hal serupa dengan memberi gelar Mumtaz Mahal untuk Ratunya. Saat itu, Dawar dan Shahryar dibawa dari hadapan kami, menghilang dari balik pintu besi yang terbuka. Ketika aku merenung, jantungku memompa darah terlalu cepat. Aku bahkan dapat mendengar benda itu berdetak-detak masam di dalam sangkar tulang igaku.

__ADS_1


Aku melihat pintu besi berkilauan, lalu dua orang masuk pelan-pelan. Saat dua orang itu berdiri di hadapan kami, dan kami mendongak tanpa komando, kulihat Khurram di sana, dan Arjumand. Arjumandku sayang.


Dia berlari ke sisiku untuk memelukku dengan akrab. Aku menangis di bahunya, berharap, jika saja bisa, luka yang bersarang di diriku dapat ia buang jauh-jauh. “Oh, Arjumand,” ratapku. “Maafkan aku. Maafkan aku.”


“Tidak, Ladli, tidak. Lupakan itu. Sst. Semuanya sudah berakhir, Ladli,” katanya sambil melerai, memerhatikan Arzani di sisiku dengan canggung. Dia mencium anakku dengan lembut, memeluknya akrab dan menggendongnya di rengkuhan tangannya yang lembut. “Oh, Sayangku. Kau masih terlalu kecil untuk melihat ini semua.” Dia pun berisak, mungkin amat sedih pada peruntunganku sebagai sepupunya. Dan yang ia tahu, kisah pilu itu diiringi pengkhianatan kejamku pada perasaannya. Sebab ia tahu aku mencintai suaminya.


Aku menghapus air mataku pelan-pelan, memerhatikan Arjumand kembali. “Aku akan membawa Arzani pada anak-anak,” katanya lembut. Dan ketika aku mengangguk, dia pergi dengan anak itu. Aku tak punya pemikiran macam-macam. Arjumand adalah perempuan murah hati. Tapi hal lain menggangguku kemudian. Khurram—yang mulai sekarang akan dikenal sebagai Shah Jahan, berdiri di hadapanku. Kutelaah lekuk tubuhnya. Dadanya yang bidang, sikapnya yang tegak, mata indahnya, bibir tipis meronanya, dan tulang rahang yang tegas. Pangeran ini, kekasihku, tak berubah sejak terakhir kali kulihat dia berarak ke Burhanpur untuk operasi militer. Dia telah berubah menjadi lelaki dewasa, dan Sultan pula. Wajahnya merona oleh matahari, sedang wajahku merona karena cinta ini.


“Apa yang kau inginkan?” Ibu  melemparkan pandangan ke sembarang.


“Dengarkan aku, Mehrunnisa.” Khurram mengangkat dagunya. Dia tahu bahwa sebab beberapa alasan, dia telah diabaikan oleh ibuku. Jadi dia duduk, menuntut perhatiannya pada kami. “Atas izin Allah, aku akan mengeksekusi Shahryar dan Dawar esok hari. Kami akan pulang ke Agra dengan seluruh gudang harta. Dan sementara kami prgi, kalian akan tinggal.”


“Berdua?” tanya ibuku, menatap langsung ke arah matanya yang berbinar. Aku nelangsa setengah mati ketika tahu bahwa suamiku akan kehilangan kepalanya esok hari. Jadi, aku menangis sedu sedan, terisak sendirian, sementara ibuku gemetaran.


Khurram mengangguk, tak menyuarakan apapun.


“Kau gila, Khurram. Kau telah membunuh seluruh orang demi takhta ayahmu. Aku pun bertanya-tanya apakah anakmu tidak akan meniru sifat ayahnya? Ada ironi dalam hal ini, sebab anak-anak akan belajar. Bahwa Ayah mereka telah duduk di kursi Sultan dengan cara yang kotor dan hina. Jadi, anak-anak itu pula yang akan menirunya. Anak-anakmu, Dara Shikoh, Shah Shuja, Aurangzeb, dan Murad, akan meniru hal yang sama. Kau boleh tarik lidahku jika salah satu anakmu takkan memberontak di kemudian hari.”


“Mengesankan,” tanggap Khurram. Dia bangkit untuk pergi. “Aku datang kemari sebagai Sultan, lalu kau berceramah seolah-olah kau adalah ibuku. Ingatlah, Mehrunnisa,” dia menolehkan kepala ke sisi kanan, memerhatikan ibuku dengan buruan matanya. “Kaulah yang bertanggung jawab atas kematian ibuku. Aku takkan bertanya bagaimana, tapi aku tahu kau yang melakukannya. Al-Qur’an Yang Mulia telah berkata “Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian atas kejahatan itu akan ada pada dirimu sendiri.” Jangan salahkan aku, Mehrunnisa. Sebab kaulah yang berencana meletakkan adikku yang ******** itu di atas singgasana. Apa-apaan itu?”


Ibuku menelan ludahnya, menarik napasnya dalam-dalam. Kulihat dia menggeram saat Khurram berbalik untuk pergi. Dua kesimpulan. Satu, kami akan ditinggal. Dua, akan ada kejadian buruk di masa pemerintahannya. Sebab kutukan yang ia tanamkan bukan saja untuk ibuku, melainkan untuk dirinya pula, karena ia membunuh saudara-saudara dan seluruh keluarga yang memiliki hubungan darah dengan Sultan. Dan ayat tadi, ayat yang ia kutip dari Al-Qur’an Yang Mulia, telah mengahantam jantungnya sendiri. Kupikir dia sendiri pun tahu. Jadi Khurram berderap pergi meninggalkan kami.


“Aku punya satu pesan, Mehrunnisa.” Dia berbalik sekali lagi. “Kalian takkan dibiarkan pergi dari Lahore selamanya.”


“Kau badmash!, badmash!” Ibu melemparkan sebuah porselen ke arah pintu, yang pecah saat menghantam lantai. Kemudian, Khurram pergi. Aku hanya melihatnya untuk sekejap saja, dan dia pergi macam hantu dengan sikap acuh tak acuhnya. Dia telah pergi, bertahun-tahun, dalam operasi militer, dengan Arjumand selalu di sisinya, anak-anak di ranjangnya. Dan aku kini punya jawaban, bahwa perasaan yang Khurram punya, baik itu secercah atau sebongkah, kini sirna tanpa sisa.


Esoknya, sesuai yang dijanjikan, Shahryar dan Dawar dan dua sepupu Khurram yang lain dieksekusi. Mereka dibariskan di luar benteng, dengan tangan diikat, serta mata yang dibalut kain sutra hitam. Para mullah membacakan doa di sekitarnya, memainkan gerak algojo yang berderap tanpa ragu bagai haus darah. Berselang dua menit, kepala dan leher mereka berdesis ketika pedang melengkung lewat di antara keduanya. Jasad mereka dibiarkan membusuk, sedangkan bagian kepala ditancapkan di depan gerbang benteng. Aku menangis ketika itu. Kendati Shahryar teramat tercela, dan sedikit-dikitnya, aku bersyukur Allah telah mengambilnya, dia adalah suamiku. Aku tak ingin Arzani mengingat bahwa ayahnya dibunuh secara hina oleh pamannya sendiri.


Siangnya, ketika matahari naik di atas lintasan kepala, rombongan kesultanan bergerak ke Agra dalam parade besar. Kami ditinggal di Lahore. Secara kasar, diasingkan. Selamanya![]

__ADS_1


 


 


__ADS_2