Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB IX : CINTA DAN KASHMIR


__ADS_3

Sekaravan wanita Muslim dan Hindu akan pergi ke Kashmir minggu depan. Selama beberapa musim dingin, para wanita ini berusaha mencari kedamaian yang tak mengancam di daerah utara. Aku telah tahu bahwa hampir seluruh orang di desa Shahdara juga akan pergi ke Kashmir setiap musim dingin datang. Kuil-kuil Hindu akan sesak oleh asap dupa, dan para kaum Muslim akan menyesaki masjid dengan bacaan Al-Qur’an Yang Mulia. Aku berpikir kalau-kalau aku dapat bergabung di antara mereka, barangkali untuk sekadar liburan semata. Hari-hari di Shahdara sungguh menjemukan, dan tak ada yang dapat ditemukan kecuali kesenangan lama serta rutinitas membosankan.


Aku mengirimkan surat pada Jafar saat ia telah kembali, mencoba tahu, apakah sudi kiranya ia bergabung dalam karavan ini dan bergabung bersamaku di sana. Ini akan menjadi semacam pelarian cinta diam-diam, sebab baik Ibu atau Nazeer Khan takkan tahu soal ini sama sekali. Arzani akan tinggal, tentu saja, karena Ibu takkan mengizinkannya pergi ke luar Lahore apapun alasannya. Shah Jahan telah mengunci seluruh gerakan kami di sini, dan aku bertanya-tanya bagaimana bisa aku akan melewati setumpukan penjaga di perbatasan utara menuju Kashmir. Maka, aku mencoba bertanya di satu sore tentang hal ini, berdalih pada Ibu bahwa diriku yang hampa ini butuh sedikit penghiburan. Dan aku berjanji padanya akan menceritakan seluruh taman-taman dan sarai yang telah ia bangun di sepanjang jalan lintas kesultanan. Sebab Ibu telah membangun begitu banyak properti, namun tak dapat menyentuh hasilnya sama sekali. Surat dari Jafar datang padaku pada saat yang hampir sama ketika aku meminta restu Ibu. Dia setuju, katanya, dan aku akan pergi bersama rombongannya sebagai seorang pelayan biasa, ditutup oleh cadar tebal serta baju terusan dengan hiasan wol dibebatkan. Wazir Khan telah mengutusnya sebagai pemandu jalan bagi seluruh orang di Shahdara agar sampai di Kashmir dengan selamat, karena kami tak dapat menerka pencuri macam apa yang dapat menjarah harta kami dari atas pelana kuda.


Maka, kami pergi di akhir pekan. Musim dingin telah coba-coba datang dengan mengarak awan mendung tak ramah ke Lahore. Awan-awan itu kelabu, pekat di satu hari, hitam di satu hari yang lain. Kami tak dapat menerka apakah guntur yang akan menggelegar atau salju yang akan menghantam bumi bagai manisan gula-gula tepung. Aku pergi saat fajar pertama datang bersama seluruh orang yang bergabung. Kukecup pipi Ibu bertalu-talu, lalu kupeluk Arzani seerat yang kubisa, karena dia teramat terisak-isak, dan betapa aku ingin mengutuk isakan itu, sebab ia telah membawa rona mengagumkan dari diri putriku jauh entah kemana. Karavan ini akan memanjang sekitar beberapa kilometer, dengan barisan seluruh pria dan wanita dan anak-anak yang sama sekali tak beraturan, karena barisan ini sama sekali tak dikelompokkan, hanya dijaga oleh petugas kesultanan.


Jafar menunggang kudanya di bagian kanan rombongan. Dia menggunakan mantel wol yang ditenun khusus, sebuah tunik berkilau, dan turban yang dihiasi bulu burung ****** biru dengan hiasan batu rubi merah sebesar telur puyuh. Aku amat terpesona dengan parasnya, hampir-hampir lupa bahwa ia adalah Jafah Husein, bukan Shah Jahan. Ketika dia melenggang, aku memerhatikan bahwa perhatiannya pada rombongan sepenuhnya teralihkan pada perhatiannya padaku seorang. Sesekali, saat ia meneriakkan pada seluruh rombongan ini agar beristirahat atau berjalan atau berhati-hati pada tumpukan salju dalam, dia akan berjalan amat lambat, sengaja, menungguku berjalan tepat di belakangnya. Dia akan berbisik pelan, bertanya dengan hati-hati “bagaimana keadaanmu, Kekasihku?” Dan selalu kujawab pertanyaan itu dengan kalimat yang sama sekali tak mengkhawatirkan, kendati kondisiku sendiri tak ubahnya bagai orang mati, sebab kaki-kakiku mati rasa, dan aku kerap kali tak dapat menahan salju yang menusuk-nusuk di bawah telapak kakiku yang lemah. Jafar selalu menghindari tempat-tempat rawan pengintai, penyamun, bandit-bandit jalanan di jalan lintas kesultanan. Kami jarang bicara, tapi aku tahu bahwa dia selalu mengawasiku di balik kelakuannya yang kaku.


Kami berhenti di garis perbatasan, tempat banyak sekali sarai-sarai untuk para pengelana berdiri kokoh. Aku memandangi seluruh sarai ini, yang keseluruhan arsitekturnya digambarkan di atas kertas dengan berani oleh ibuku. Aku telah melihat seluruh taman-tamannya di Anantnag dan Verinag, dan kupikir semuanya masih baik-baik saja sejak kali terakhir kuingat kami ke sana. Sarai dibangun khusus untuk para musafir dan pengelana, dikawal sempurna oleh para petugas kesultanan yang menjanjikan ketenangan dari tindak-tanduk para pencuri sebab sarai akan ditutup saat malam dan dibuka ketika fajar mengajak pagi untuk merekah.


Kamar Jafar terletak di bagian khusus dari sarai. Dia dan seluruh pelayannya ditempatkan di bagian berbeda, dengan sebuah sekat untuk memisahkan antara kamarnya dengan ruangan peralatan yang akan ditiduri oleh para pelayan serta budak. Aku mengira bahwa aku akan dipulangkan kembali ke Shahdara ketika seorang petugas memaksa seluruh perempuan bercadar membuka cadar mereka di hadapan para petugas perempuan. Dan mujur, sebab mereka tak pernah melihat wajahku, aku dianggap sebagai salah satu pelayan Jafar. Aku sedang merendam kaki-kakiku yang mati rasa dalam ember baskom berisi air hangat ketika Jafar masuk. Ketika itu, seluruh pelayan sedang mencari kayu bakar, karena kami khawatir tak ada lagi yang dapat dipersembahkan ke dalam tungku ketika api menciut dan padam.


“Kau baik-baik saja, Ladli?” Dia datang menyentuh kakiku yang memerah.


“Ya. Aku tak pernah berjalan di atas tumpukan salju kecuali untuk bermain.”


Dia mengambil kain wol yang kugunakan untuk memeras air dari dalam baskom. Dengan lihai, otot-ototnya yang liat merendam kain itu, memerasnya, meletakkanya di atas telapak tanganku. “Biar aku,” katanya sambil menyiram-nyiramkan setangkup air ke betisku yang kaku.


Kuperhatikan dia begitu, padahal dirinya sendiri tersengat kedinginan yang tak tertahankan. Bulu-bulunya menegang karena direngkuh kedinginan, dan aku dapat melihat sekumpulan uap yang keluar dari mulutnya ketika ia mengembuskan napas. “Bagaimana dengan dirimu sendiri?”


“Aku telah terbiasa dengan hal ini di Qandahar.”


“Terima kasih, Jafar,” kataku murung. Dia melihatku, tapi kuabaikan tatapannya yang jujur itu dengan hati-hati. Apa yang telah kulakukan? Pikirku sendirian. Dia bukan suamiku, dan aku ragu apakah aku mencintainya dengan benar, sebab kata-kata Ibu selalu bermain-main di benakku, bahwa hasrat ini bukanlah serta merta untuk Jafar. Dia hanya pelampiasan dari cinta yang tak tersampaikan, dan aku telah amat berdosa sebab memerlakukannya bagai tak berharga.


Dia tersenyum padaku, senyum yang nyaman. “Cinta itu aneh, Ladli. Ia adalah rahmat Allah yang tak bisa kau pahami dengan sekadar logika manusiamu, sebab cinta berada di balik logika para makhluk. Kau bertemu denganku sekali, dan begitu pula aku. Namun baik kau atau aku telah memiliki sekumpulan keberanian tak pantas yang telah membawa kita sejauh ini.” Lalu dia tertawa, dan suaranya terdengar amat merdu, diiringi kepulan uap di udara. “Apakah Sultan Begam tahu?”


“Tidak,” jawabku cepat, seperti terkejar-kejar, berhati-hati pada tanggapannya.


“Bagaimana jika beliau tahu. Apakah ia akan merestui hal ini?”


“Aku tak menemukan dugaan soal ini, Jafar,” jawabku. Semakin bersedih hatiku padanya, karena aku tahu bahwa dia telah menggap dirinya amat serius pada hal ini. Sedang yang hatiku lakukan hanya terombang ambing di antara perasaan dan pilihan. Saat itu, aku mengingat surat rahasia dari Shah Jahan. Apakah aku akan datang padanya dengan menjadi seorang istri? Dan apakah aku akan menjadi yang paling dicintai setelah Arjumand dan anak-anaknya? Banyak dugaan, tapi enggan aku menerka-nerka, karena apalah gunanya untukku. Keponakanku, Jahanara, anak tertua dari Arjumand, pasti takkan setuju jika kuambil posisi ibunya sebagai Padshah Begam zenana kesultanan. Kendati dia adalah Begam Sahib, Putri dari segala Putri, kekuasaannya telah melampaui prestise seorang Ratu.


“Barangkali, aku akan mengatakannya ketika aku siap.”


Aku tersenyum, namun amat masam, tapi dia tak menyadari hal itu karena terlalu sibuk pada kakiku yang memerah. Sesekali, mataku mencuri-curi pandang padanya, dan kusadari betapa aku memang keji pada dirinya yang jujur lagi bersemangat. Telah kulukai perasaan serta pengharapannya, karena aku bertanya-tanya apakah cintaku utuh atau terbelah menjadi dua.


“Maafkan aku,” kataku sambil menarik tangannya. “Bisakah kau meninggalkanku sendirian? Aku ingin beristirahat sebentar. Kepalaku terasa berputar-putar, dan aku merasa diriku tak sehat.”


“Tentu, Sayangku.” Dia maju untuk memelukku, tapi aku menghentikan langkah itu dengan menggeleng dan menjamah tubuhnya agar menjauh. Kurasakan dadanya yang bidang di telapak tanganku, lalu aku merinding sendirian. Dia mengerti pada hal ini, jadi dipaksanya dirinya sendiri untuk pergi kendati aku tahu bahwa dia masih lagi ingin tinggal lebih lama.


Jafar melangkah pergi. Kudengar langkah kakinya berdetak-detak seirama di atas lantai, kemudian mengecil dan menghilang. Ketika aku yakin bahwa dia telah pergi, kutarik lututku setinggi dada, dan kupeluk diriku sendirian. Api menyusut sedikit demi sedikit, meninggalkan sedikit sekali cahaya, tapi terlalu banyak ketakutan. Air mataku merembes, menggantikan kehangatan api yang sekarat untuk padam. Pada akhirnya, kayu bakar telah menjadi abu, sebab para pelayan belum kembali dari pencarian mereka. Maka, aku berada dalam rengkuhan kegelapan. Tirai-tirai tipis membawa angin dingin masuk melalui jendela, menggerogoti kulit rapuh di balik blus ketatku yang telah dilapisi kain wol. Kupeluk diriku sendiri saat kedinginan menjadi-jadi, lalu aku terisak bagai orang yang sedang tersiksa, padahal tak ada yang lebih tersiksa kecuali perasaanku pada orang-orang yang telah Allah berikan. Cinta datang tanpa aba-aba, pelan-pelan, namun akibatnya amat fatal. Bagai penyakit mematikan, dia telah memakan hampir seluruh jiwa untuk pergi berkhayal dan berandai-andai, bukan sejumput atau seonggok, membuat seseorang seolah-olah telah meneguk tiga pil opium sekaligus. Tapi cinta pergi bagai kutukan. Dia telah menorehkan luka, membilur tanpa tahu kapan akan kembali pulih seperti sedia kala. Ketika ia hilang, sang pecinta akan hidup dalam mimpi-mimpi tak nyaman, tercekik bahkan tak tahu apakah dirinya akan kembali tersadar saat fajar esok pagi menunggu untuk ditatap. Dan kini, hal ini amat menyakitkan untukku, karena keyakinanku ingin kutumpukan pada Jafar seorang saja.


***

__ADS_1


Kami tiba di Srinagar, ibu kota Kashmir lima hari kemudian. Selama turun-temurun, Sultan-Sultan Mughal India telah menunjukkan status mereka melalui seni arsitektur bangunan di kota ini. Ketika musim panas membakar dataran Indo-Gangga, Sultan-Sultan Mughal akan pergi ke Srinagar, memindahkan ibu kota kesultanan, melakukan putusan, sidang harian istana, menurunkan hukuman serta berkah, dan akan kembali beberapa bulan kemudian saat musim panas berhenti memanggang. Srinagar diibaratkan sebagai tempat liburan yang menyenangkan, sebab suasananya amat damai dan sama sekali tak mengancam. Orang-orang yang hidup di sana adalah jumlah orang paling sedikit di seluruh daerah kesultanan, sebab tak ada satu pun orang yang mau hidup menetap di tempat yang bahkan mengangkut domba pun harus mengeluarkan uang ratusan rupee.


Sultan Jahangir mencintai Kashmir lebih dari apapun. Dia telah membangun begitu banyak properti pribadi miliknya di Srinagar, di tepi danau Dal, tempat ia akan berlibur bersama Ibu dua puluh tahun yang lalu. Tapi kini, tanpa restu dan mandat dari Shah Jahan, Srinagar hanya kota tanpa tujuan. Kami tiba di sana ketika rembang petang. Ketika kali pertama kami memasuki Kashmir, aroma udaranya sungguh berbeda. Asap-asap dupa melayang dan sarat di udara, karena saat musim dingin, orang-orang Hindu akan merayakan festival diwali, atau cahaya, selama lima hari berturut-turut. Festival ini menyangkut keyakinan mereka tentang Sri Rama, istrinya Sita, dan adiknya Ayodhya dari sebuah medan tempur dimana Rama membunuh Rahwana.


Kami terpisah menjadi dua bagian. Orang-orang muslim dan Hindu tahu tempat mereka di mana, hingga tak perlu lagi bagi petugas kesultanan untuk menggiring satu persatu dari mereka ke tempat tujuan masing-masing. Aku memisahkan diri dari sekumpulan perempuan, melangkah dengan hati-hati bersama kuda Jafar yang melenggang. Dia menatapku penuh cinta, tanpa kebohongan di matanya yang berbinar. Matahari telah menyurup, meninggalkan cahaya di hadapan kami, berdenyar-denyar jingga cerah. Bayang-bayang tampak teramat panjang, lalu miring, dan pergi dibawa rona hitam kegelapan. Aku berjalan sembari memerhatikannya, kendati dia sendiri amat canggung pada tatapanku itu padanya. Para pelayannya pergi untuk mengatur tempat peristirahatan, dan aku akan bermalam bersamanya.


Jafar mengulurkan tangan padaku, tersenyum manis. Aku mengambil tangannya ketika dia amat yakin untuk menarikku ke atas kuda. Kami berderap mengejar surya, tertatih-tatih namun pasti, dan pada akhirnya kuda Jafar membawa kami ke tepi danau Dal. Tempat ini lebih mirip cekungan raksasa berisi air dengan ratusan shikara, sebuah perahu berkanopi dengan tempat duduk di dalamnya, serta bunga teratai yang mengapung. Orang-orang Hindu berjalan beriringan ke tepi danau ketika senja menyurup, digantikan oleh malam yang menggeliat bersama kerlap-kerlip bintang. Mereka menunggu untuk sesaat, mendengar dengan saksama saat Rahib-Rahib Hindu membacakan doa. Ketika itu, hampir di saat yang bersamaan, adzan dipekikkan dari seluruh masjid. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas nabi.” Dan ditutup dengan kata-kata “Tiada Tuhan selain Allah.”


Jafar menghentakkan tali kekangnya, mengisyaratkan pada kudanya untuk berderap maju ke bawah. Kami berhenti di tepi, ketika orang-orang Hindu sibuk dengan ritual mereka. Aku tak pernah melihat festival diwali seumur hidupku, karena orang-orang Hindu selalu punya cara sendiri untuk melaksanakan ajaran agama mereka. Jadi, kami harus menunggu, kata Jafar, dan kami melaksanakan sembahyang bersama-sama di tepi danau. Ketika kami selesai memanjatkan doa ke langit berwarna indigo, mengusapkan telapak tangan ke wajah sambil bergumam “perkenankanlah Ya Allah,” orang-orang Hindu menyalakan lampu di atas sebuah tempurung kelapa yang telah diukir, lalu melepaskannya ke danau. Ada begitu banyak cahaya berpendar di atas air, dan kami menikmatinya bagai malam-malam penuh romansa.


Anak-anak membagi-bagikan manisan serta makanan kepada seluruh hadirin. Aku mengambil dua buah ladoo manis sebagai penghargaan atas keceriaan bocah-bocah lucu ini pada kami, kendati mereka mungkin tahu bahwa kami bukanlah orang Hindu. Aku juga diberikan sebuah tempurung kelapa dengan hiasan sebuah lilin menyala.


“Buatlah permohonan, Nona. Lalu lepaskan lampu itu ke danau,” kata bocah itu, menunggu reaksiku untuk bergerak.


“Aku pikir tak ada salahnya mencoba, benarkan?” jawabku. Kendati hal ini tak pernah diajarkan oleh para mullah, dan aku ragu apakah Al-Qur’an Yang Mulia serta junjungan kami Muhammad memperbolehkan hal ini, aku maju ke tepi danau, membuat sebuah pengharapan, lalu melepaskan lampu itu pergi untuk mengambang.


Anak itu tersenyum padaku, mengangguk lalu pergi. Kutelaah saat ia berlari kecil-kecilan bersama beberapa anak lainnya menuju kerumunan orang Hindu. Aku duduk memeluk lutut bersama Jafar di sisi kanan kudanya yang mengibas-ngibaskan ekor. Orang Hindu percaya bahwa lampu-lampu ini telah membawa harapan dan angan-angan mereka pergi untuk dikabulkan, dan walau aku masih tak bisa menjelaskannya secara nalar, kupikir mereka punya kebahagiaan tersendiri ketika acara ini dilangsungkan. Aku tak tahu banyak soal orang-orang Hindu itu, tapi festival diwali cukup menyenangkan. Mercon-mercon China meledak di langit malam. Warnanya merah, biru, kuning menyala, hijau toska, violet, putih, lalu perpaduan dari keseluruhan warna itu semua. Asap-asap mercon sarat di udara, masuk ke lubang hidung, menimbulkan sesak tak tertahankan.


Jafar menggenggam tanganku, amat nyaman, dan kurasakan seluruh cintanya menderas dalam kelakuan itu. “Kau suka, Ladli?”


“Ya. Apalagi setelah ini?”


Dia memerhatikanku, dan mataku menelaah wajahnya yang tertutup kegelapan, sesekali tercerahkan oleh warna mercon yang meledak. Dia mencium bibirku amat pelan, begitu lembut, hingga aku menikmatinya. Dia melepaskannya dan kami hanya berjarak satu jari. “Kita sudah terlalu jauh. Kita tak bisa terus lari. Akan ada risiko untuk ini.”


“Apa Sultan Begam tak setuju tentang hubungan ini?”


Aku menggeleng. “Aku tak tahu.”


“Demi kasih Allah, apakah kau mencintaiku?”


“Tentu. Dan kenapa menurutmu aku memutuskan untuk berlari bersamamu ke Kashmir? Aku mengejar cinta dalam dirimu. Aku tak pernah mendapatkan cinta itu dari siapapun, sebab hidupku diliputi lara serta nista, tiada hari tanpa bersusah dan angan-angan. Aku berharap mati saja di masa lalu, tapi kini aku berdoa agar aku tak pernah mati.” Kupegang pipinya yang halus. “Oh, Jafar. Sudah terlalu banyak aku menderita, dan aku tak tahu kapan terakhir kali kebahagiaan menyurup dalam diriku. Tapi kau datang menghadirkannya untukku.” Aku menangis, terisak kecil-kecilan. Tanganku terpaut bersamanya, dan dipeluknya aku dengan cinta. Kehangatan ada pada kami berdua, tapi isakanku meledak bagai bendungan bocor.


“Diamlah, Kekasihku. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu.”


“Berjanjilah atas cinta Allah padamu atau padaku, Jafar.”


“Aku berjanji, Ladli. Bahkan Allah tak dapat memisahkan cinta suci ini.”


Aku melerai pelukannya. Dia menggiringku untuk berdiri, lalu kami berderap lagi bersama kudanya untuk pergi. Rok sutraku melambai-lambai ketika angin menyisiri buku-bukunya yang halus. Kutinggalkan danau Dal yang memesona, dan kini, Jafar membawaku ke Shalimar Bagh, sebuah taman yang dibangun Sultan Jahangir untuk ibuku. Aku memerhatikan sekeliling, merasa prihatin atas kekejaman Shah Jahan untuk tak merawat properti indah ini, karena hampir seluruh tanaman meranggas, pohon-pohon tak ditata indah, daun-daun cokelat berserak di taman-taman terbuka, bunga-bunga hampir layu, dan paviliunnya kotor oleh pumpunan debu. Hanya ada satu tempat yang tak terjamah oleh kerusakan, terdapat di ujung taman, berhadapan langsung dengan panorama danau Dal. Aku bisa melihat ratusan shikara yang mengapung, serta ada begitu banyak lampu yang dihanyutkan. Kolam-kolam Shalimar Bagh dipenuhi air mancur, diisi oleh ikan-ikan koi yang menggeliat kegirangan.


Aku duduk di sebuah tempat terbuka yang dihiasi bantal isi bulu serta karpet Persia. Di sekitarku, Jafar menyalakan lampu minyak, menimbulkan kenyamanan dari cahayanya yang berpendar. Dia duduk untuk memelukku. Saat itu, aku melihat kelopak-kelopak mawar berjatuhan di sekitar kami, berserak namun indah. Aku bertanya-tanya apakah Jafar telah mengatur ini semua atau hanya sebuah kebetulan. Napasnya melaju di balik rambutku, hangat serta menenangkan. Kini, dia dapat melihat seluruh wajahku tanpa cadar atau kerudung, sebab aku telah menanggalkannya tak jauh dari tempat ia memelukku kini. Kudengarkan dia bersenandung, dan suaranya amat tak diragukan. Aku menikmati rengkuhan tangannya yang erat, otot-ototnya yang liat, serta dadanya yang bidang. Dia melepas turbannya, meletakkannya di sampingku dengan hati-hati.


“Kau tahu yang mereka katakan, Ladli. Jika ada syurga di dunia, di sinilah. Di sinilah tempatnya.”

__ADS_1


Aku mengernyit. “Siapa yang mengatakan itu?”


“Seorang pujangga, Amir Khusrow.”


“Ah.” Aku mengangguk. Aku pernah mendengar tentang Amir Khusrow, seorang pujangga dari abad ke-13. Syair-syairnya telah bercerita mengenai banyak hal. Tuhan, filsafat, cinta, serta puisi tentang kerajaan yang berjaya atau tandas menunggu kehancuran.


“Di mana syurgamu terletak, Ladli?” tanyanya padaku.


“Di sini,” kutunjuk dadanya yang bidang. “Ada padamu.”


Dia tertawa, amat ranum. “Apa kau menggodaku, Cintaku?”


“Tentu saja tidak. Kenapa aku harus menggodamu? Aku telah punya keyakinan bahwa syurga seorang wanita terletak pada lelakinya. Dan wanita mana yang lebih beruntung daripada diriku kini, Jafar?”


“Akankah aku menjadi suamimu, Ladli?”


“Suatu hari, mungkin.”


Dia menatapku, pandangan kami bertemu. Saat itu dia mencium bibirku lagi, lebih manis, lebih lembut, dan amat nyaman dari sebelumnya. Tak ada keraguan dalam ciuman itu, sebab dia telah berkata-kata, dalam hal yang tak bisa ia sebutkan dalam patahan kosa, bahwa ia amat menginginkanku. Keberadaanku adalah hal penting baginya, dan aku menangisi diri karenanya. Aku terisak saat ia menciumku. Napasku kotor oleh hal itu, yang menyebabkannya melerai ciuman itu untuk sesaat.


“Ada apa, Kekasihku?”


“Betapa aku bahagia bersamamu, Jafar. Aku teramat … ingin …” Kalimatku terpatahkan sendiri oleh hasratku yang mencuat-cuat. Kelu lidahku mengucapkannya. “Aku teramat ingin hidup bersamamu.”


“Kau akan mendapatkannya. Kau akan mendapatkan diriku di atas ranjangmu setiap hari, berbaring dan mengecupmu penuh cinta saat pagi mengetuk-ngetuk diri kita untuk merekahkan mata. Kau akan dapatkan aku sebagai suamimu, sebagai ayah dari anak-anakmu. Dan aku akan menentang apapun kendati Sultan Shah Jahan tak merestui pernikahan kita.”


Aku terkejut mendengarnya. “Kau tahu soal itu?”


“Ya.” Dia merunduk, hatinya muram kemudian. “Aku tahu Janda Pangeran takkan pernah bisa menikah.”


Dalam hati, aku mengutuk tradisi mengerikan itu. Entah siapa yang menciptakannya, tapi itu sungguh tak adil, karena kini aku terjebak antara kewajiban dan juga cinta. Jafar tahu, dan dia datang untuk menentang hal itu terang-terangan, kendati murka Sultannya bisa saja berarti kematian. “Berjanjilah bahwa kau akan bersamaku seumur hidupmu, Jafar.”


Dia mengecup dahiku. “Tentu, Sayangku. Demi kasih Allah, demi kasih sayang Allah padamu, Ladli. Aku akan bersamamu sampai Allah telah menakdirkan diriku untuk pergi.”


“Kemana Allah akan membawamu, Jafarku sayang?”


“Ke dalam kematian, mungkin.”


“Bawalah aku bersamamu dalam rengkuhan kematian, sebab aku tak tahu apakah aku dapat bertahan hidup tanpamu di dunia yang mengerikan ini seorang diri. Bawa aku dalam cintamu, dan semoga Allah menyampaikan kita pada keabadian semata.”


“Ya. Ya.” Dia memelukku dengan cinta. Ketika mercon terakhir berdentum di langit, menimbulkan suara riuh rendah dalam shikara atau tepi danau, saat orang-orang Hindu memainkan teater serta musik mereka tentang cinta dan sakit hati serta kekejaman dunia pada diri-diri tak berdosa, saat suara mereka sarat di udara, dan saat angin malam malu-malu bersemilir di antara kami berdua, Allah adalah satu-satunya saksi di malam yang indah itu. Sinar keperakan bulan menghujani kami, berdenyar dan menjanjikan. Bagai gerhana, semuanya berlalu dengan cepat, tapi menimbulkan kenangan manis tak larut oleh masa. Sebab kami bercinta saat malam menua.[]


 

__ADS_1


 


__ADS_2