
Aku tak ingat pasti kapan diriku bertatapan dengan Jafar. Pada kala terakhir kami bersua, dia melepasku dengan air mata. Kuratapi hal itu, lalu kukutuk diriku, sebab amat memilukan berpisah dengan kekasih serta putra kami tercinta. Ketika aku kembali menjejakkan kaki ke rumah, baik Ibu dan Nazeer dan Arzani menyambutku dengan pelukan serta ucapan terima kasih pada Allah. Aku tak punya apa-apa lagi selain ketiga orang ini, yang bahkan lebih berharga dari diriku sendiri. Pada mulanya, mereka memerhatikan perutku yang mengempis, tapi kemudian enggan bertanya pada apa yang terjadi dengan anak itu. Apakah mereka mengira aku telah membuangnya? Atau membunuhnya? Atau memberikannya pada seorang wanita jelata? Yang mana pun, aku bersyukur tak ada pertanyaan, sebab segelintir pertanyaan hanya membawa sabetan luka.
Apakah Khusrow tumbuh besar? Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali aku mengingat teriakannya. Dia yang menangis, dia yang haus, dia yang lapar, dia yang mengompol, dia yang tertawa, dia yang menyatukanku dengan Jafar. Masih lagi kusimpan pakaian dalamku yang bebercak darah. Aroma amis yang menempel masih mengingatkanku pada kejadian malam itu, saat aku berlari lintang pukang, menghempaskan diri ke aliran air, melahirkan sendirian yang kukira akan menjadi akhir hidupku. Tapi kemudian, Khusrow lahir, seorang anak laki-laki. Teriakannya mengawali cinta, membawa berkah, sebab hal ini adalah pembuktian, bahwa benih Jafar berkembang sempurna dalam rahimku. Aku sering berkunjung ke tepi sungai Ravi, mendengarkan satu dua wanita membanting baju, atau pergi ke gubuk yang kini telah reot di tengah hutan seberang. Dan kala itu, aku akan meringkuk sendirian hingga masa menjemukanku.
Aku mendesah di atas balkon. Kini, sinar jingga matahari menyurup ke tepi barat cakrawala. Sejauh pengamatanku, tak ada hal yang lebih buruk dari kerinduan seorang Ibu pada anaknya. Aku tak pernah melihat Khusrow sejak kami berpisah. Aku tak dapat membayangkan seperti apa wajahnya, atau perangainya sebagai seorang bocah menyenangkan. Apakah Jafar memberikannya Ibu yang baik? Apakah anakku baik-baik saja? Ketika aku memikirkannya, dalam keadaan yang sama sekalipun, berulang-ulang, aku tetap menangis. Tiada penghiburan yang lebih nyaman ketika kedua orang itu pergi. Seluruh pesta dan jamuan dan kesenangan di rumah kami seakan sirna tanpa rasa. Aku tak dapat mengecap makanan dengan baik selama sepuluh tahun, tak dapat tidur dengan nyaman sebab mimpi tentang Jafar dan Khusrow datang menjerat. Ketika aku tersadar, guntur menggelegar murka di langit malam.
Kini, usiaku empat puluh tahun. Ketuaan datang padaku pelan-pelan, lalu ketika kusadari kemudian, aku telah terlambat. Ketuaan datang tanpa jeda, namun hasilnya menjanjikan. Kini, hidupku akan habis dalam penantian serta kehampaan janda tua. Jalanku lebih lambat, lalu suaraku tak lagi memekkan seperti dahulu. Umur habis dalam darahku, dan air kehidupan perlahan menguap dari tubuhku. Aku tak pernah mengingat Shahryar kendati aku adalah jandanya. Dia adalah bagian dari masa lalu yang memberikan sedikit penghiburan berupa Arzani seorang. Selain itu, seluruh darinya adalah mimpi buruk.
Suara batuk dari dalam ruangan mengagetkanku. Batuk itu datang bertalu-talu, mendera dada yang tua. Aku masuk pelan-pelan, tersandung sedikit, lalu membungkuk di tepi dipan. Ibuku bersandar di bantalnya. Matanya terpejam, menyipit menahan kesakitan. Napasnya basah, kotor oleh lendir di dalam paru-parunya yang tua. Rambutnya memutih sempurna, meninggalkan gairah kemudaan yang tergerus oleh masa pada kematian. Kadang kala, keringat membulir di atas lengan dan dahinya yang renta, hingga aku akan menghapusnya dengan pelan agar ia tak menggerutu kesakitan.
“Ladli,” katanya pelan-pelan. Aku menjawabnya dengan mengangkat punggung ke arahnya. Mata birunya masih secerah saat ia muda. Hanya itu saksi bahwa seorang wanita pernah memerintah kesultanan yang mahaluas di dataran Hindustant.
“Aku di sini,” kataku.
“Aku pikir inilah saatnya. Di mana Nazeer?”
Aku menggeleng. “Dia sedang beristirahat di biliknya. Apa Ibu lapar? Akan kuambilkan sesuatu.” Aku hendak berdiri, tapi dia menahanku.
“Duduklah, Sayang. Kita hanya akan bicara.”
Berat hatiku melakukannya, karena hal ini lebih mirip sebuah perpisahan yang ia coba lunakkan dalam saat-saat manis. Aku duduk di samping, mendengar dengan saksama saat ia bicara.
Serentetan batuk menderanya, lalu ia bicara. “Aku masih ingat saat pertama kali aku menemui Sultan Jahangir di Bazaar Meena di Agra. Aku masih bisa mengingat bau parfumnya, jentikan jarinya yang lihai, serta wajahnya yang mengagumkan.” Dia tertawa kecil. “Dia amat cantik sebagai seorang lelaki.”
“Kupikir ia tampan, Bu.”
Ibu tertawa lagi, kali ini diselingi oleh batuk kecil. “Aku ingat daun paan pertamaku.”
“Bagaimana rasanya?”
“Menjijikkan. Kupikir aku akan terbiasa dengan paan saat memasuki zenana kesultanan. Tapi kau tahu betapa aku membenci daun paan kendati baik untuk gigi. Aku tak tahan dengan warna merahnya.”
Aku mengelus tangannya. Samar-samar aku tahu bahwa kehidupan telah ditarik darinya. Dia tengah bersiap menyambut kematian, yang ia hadapi dengan penuh persiapan. Karena bertahun-tahun lalu, Ibu telah merancang makam untuknya, dibuat saat ia masih lagi hidup, terletak di samping makam Sultan Jahangir. Dengan begitu, takkan ada yang dapat memisahkan mereka selamanya.
“Ladli,” panggilnya, seakan aku berada amat jauh dari jangkauannya.
“Aku di sini, Bu.”
“Aku tak pernah menanyakan ini semenjak sepuluh tahun yang lalu. Tapi, aku tahu kau adalah wanita yang pemurah. Jadi aku yakin, kau tak membuang atau membunuh anakmu, benarkan?” Dia menunggu reaksiku. Ada jeda dalam pembicaran itu sampai aku mengangguk. Lalu dia melanjutkan. “Apa kau memberikannya pada Jafar?”
“Ya,” jawabku. Air mata menggenang di pelupuk.
“Apakah kau pernah melihat anak itu, Ladli?”
“Belum. Tapi aku tahu dia akan tumbuh menjadi lelaki yang gagah.”
Ibu menaikkan alisnya, seakan-akan hendak melesat. “Ah, anak laki-laki pada akhirnya.” Dia berdecak, tersenyum polos. “Aku ingat betapa kau tak ingin anak laki-laki mulanya. Tapi Jafar melunturkan hasrat itu dalam dirimu. Apa yang membuatmu menyerahkan diri pada dirinya seorang, Nak.”
Air hangat melaju dalam garis lurus di pipiku. Kugenggam tangan Ibu yang melambat ketika bergerak padaku. “Karena cintanya, Bu. Dia memiliki cinta yang serta merta jujur padaku.” Aku menarik napas, tapi napasku basah karena kesedihan yang datang. “Dia tidak mencintaiku karena politik, atau mansab atau jagir yang bisa ia peroleh. Ini semua datang dari jiwanya. Dia adalah yang pertama bagiku, dan yang terakhir.”
“Bukankah Shah Jahan adalah yang pertama?”
Aku menggeleng sambil tersenyum. “Itu adalah cinta yang salah. Aku teramat malu pada cinta itu ketika kupikirkan baik-baik sekarang. Dia dan Arjumand telah ditakdirkan bersama, selamanya, di bumi cinta Allah.”
“Dan apa yang tersisa untukmu, Sayangku?” Ibu meremas jemariku, lalu pelan-pelan, betapa terkejutnya aku saat ia menangis. “Cinta mana yang akan menemani putriku? Apakah putriku ini, Ladli Begam ini, hanya ditakdirkan untuk meratapi nasibnya pada prahara. Apa yang akan kau bawa dalam kematianmu, Nak? Cinta mana yang akan menemanimu di syurga. Sungguh kejam jika Allah hanya memberikanmu kehidupan tanpa rasa.”
Teramat pilu aku mendengarnya. Jadi kupeluk dirinya seerat yang kubisa. Kucium dahinya yang menua, lalu aku menangis di sana. “Ada banyak cinta. Cinta Ibu, cinta Arzani, cinta Nazeer Khan, dan cinta Allah.” Aku memelankan suara, terisak sendirian di sana. “Barangkali cinta Jafar ada padaku.”
“Dan anak itu.”
“Ya. Ya.” Aku menghapus air mataku di sana. Kali ini, aku yakin bahwa Allah telah menariknya pelan-pelan. Kakinya mendingin sesaat, diikuti rasa sakit yang pelan-pelan merambat. Aku tak pernah menyesal dijodohkan dengan Shahryar. Aku tak pernah menyesal dibuang bersama Ibu di Lahore. Karena kini, seluruh hidupku ada di tanah dingin ini. Ibu mencintaiku, dan itu sudah cukup. Aku tak ingin ia membuangku dari sudut hatinya akibat tindak-tandukku yang mengecewakan. Dan sekarang, dia meregang kematian sebagai seorang wanita pemberani. Sang Ratu Nur Jahan Padshah Begam! Aku tahu namanya akan tertoreh dalam buku sejarah. Namanya akan diingat sebagai penguasa nyata di balik cadar para wanita. Dan pada akhirnya, Ibu akan punya tempat tersendiri di kolom para wanita Mughal India.
“Aku masih ingat kata pertamamu, Ladli. Ibu. Apa kau akan menyebutkannya di kata terakhirmu kelak?” Dia tersenyum. “Barangkali tidak, sebab Allah punya hak dalam kata itu. Kau telah tumbuh hampir menyerupaiku, seorang nenek renta, padahal masih lagi terngiang dalam benakku wujudmu yang berupa seorang anak kecil yang berlari di taman zenana. Kini, kau telah melahirkan, padahal aku merasa kau baru saja dilahirkan. Siapa ...” Dia terbatuk. Napasnya terpatah-patah. Menggigil datang padanya. “… nama anak itu, Ladli?”
“Amir Khusrow.” Aku menangis kembali di sisinya. Dia berjuang setengah mati untuk menghalau kematian datang padanya, barangkali satu sampai dua detik saja.
“Seorang pujangga. Kau tahu syairnya yang terkenal? Jika ada syurga di dunia, di sinilah, di sinilah tempatnya.”
Kucium pipinya yang kendur, teramat lunak. “Aku tahu, Ibuku sayang. Beristirahatlah dengan cinta kasih Allah. Sebab Sultan Jahangir telah menunggu.”
“Hiduplah dengan cinta, Ladli. Dan ketika kau bertemu denganku di syurga, kau harus berjanji untuk menceritakan cucuku itu pada Ibumu ini.” Dia tertawa, menampilkan giginya yang putih memudar. “Kau harus jaga Nazeer. Dia telah melayani kita sepanjang hidupnya. Barangkali ini adalah karunia terbesarnya, karena ia amat nyaman tinggal bersama kita yang terasingkan.”
“Ya, ya.” Air mataku tumpah, pecah di punggung tangannya. Aku terisak amat kuat, tangisku memecah udara segar. Ketika itu, Ibu menggapai napasnya pelan-pelan. Dia merasakan sesak di dadanya menjalar ke seluruh bagian tubuhnya yang lain. Kini, inderanya tak berfungsi. Dia menggeleng-geleng, mengerjap tak pasti, seolah-olah tengah mencari-cari sesuatu dalam buruan matanya yang jeli. Kugenggam tangannya. “Aku di sini, aku selalu di sini.”
Kemudian, dalam satu tarikan napas, kulihat dadanya berjengit. Saat dada itu turun dan melemah, alur kehidupan telah tiada. Mata Ibu hampa, tanpa binar, cahayanya meredup dalam nyala dirinya yang telah padam. Aku melipat tangannya, menangis di sisi kananya. Kini, Ratu Nur Jahan Padshah Begam, atau Nur Jahan Sultan Begam, telah tiada.
***
__ADS_1
Sesuai wasiatnya, jasad Ibu diletakkan di dalam sarkofagus miliknya di dalam sebuah makam yang telah ia bangun. Makam itu terbuat dari batu pasir merah, dihiasi pilar melengkung dan relung-relung rumit dengan hiasan pietra dura serta kaligrafi Al-Qur’an Yang Mulia. Di sarkofagus marmer miliknya, terdapat sebuah tulisan dalam bahasa Persia. Di sini terbaring Nur Jahan Begam. Hanya Allah yang Maha kuasa. Makam itu terletak di sebelah makam Sultan Jahangir, yang menjadikan mereka sepasang kekasih selama kaki waktu berlari menuju akhir zaman. Seluruh harta Ibu, hartanya yang teramat banyak semenjak ia menjabat sebagai Padshah Begam hingga Sultan Begam, tumpah pada diriku seorang. Kami dapat hidup selama bertahun-tahun hingga kematian dengan uang ini, sebab jumlah harta yang ditinggalkan jauh melebihi apa yang kami butuhkan untuk hidup di Lahore. Ibu meninggalkan sarai-sarai, taman-taman, kapal-kapal, yang seluruh pajaknya dapat dinikmati hingga kapan pun juga, kendati Shah Jahan telah memotong setengah bagiannya. Namun, uang itu masih tak terkira jumlahnya.
Wajah Ibu bersih tak becela saat ia meninggal. Ketika ia selesai dimandikan dalam air kamper, aku seakan-akan ditampilkan pada pemandangan seorang wanita muda dengan paras sempurna yang merengkuh kematian menuju kehidupan baka. Dia telah lelah berjuang selama berpuluh-puluh tahun di tanah asing ini, telah menunjukkan pada seluruh penjuru kesultanan, bahwa bintang peruntungan pernah bertubi-tubi jatuh telak di atas kepala dan pesonanya, yang menjadikannya wanita paling berkuasa dan kaya dalam sejarah Mughal India.
Aku adalah orang yang paling bersedih, sementara Nazeer tak pernah bicara semenjak Ibu meninggal. Tapi aku pernah mendengarnya menangis di malam hari, dan aku berani bertaruh, bahwa mahaduka datang saat ia tengah sendiri. Kini, Nazeer telah kehilangan majikan yang amat ia cintai. Dia telah menerima berkah yang luar biasa dengan meletakkan kepala di bawah kesetiaan pada Nur Jahan Begam. Sebagai seorang Kepala Kasim zenana kesultanan, Nazeer telah teramat pandai bermain dalam dunia wanita. Dia telah teguh berpegang pada Ibu, yang membuat mereka berdua teramat sulit untuk ditaklukkan. Karena jika seseorang berhadapan dengan zenana, hanya ada dua temali yang mengendalikan pedati kehidupan. Padshah Begam dan Kepala Kasim.
Karena kami tak lagi tinggal di Benteng Merah, maka takkan ada acara berduka selama seminggu atau sebulan secara berturut-turut. Para mullah mengatakan pada kami bahwa acara berduka hanya diadakan tiga hari saja. Maka, selama itu, para tetangga telah membantu kami untuk menyiapkan makanan bagi para hadirin. Kami disibukkan dalam acara ini, yang amat penting, karena setiap di akhir acara, akan ada doa yang digaungkan ke langit untuk Ibu seorang. Tapi kemudian, ketika kupikir jiwa Ibu telah pergi dengan cinta kasih dari orang-orang yang ia tinggalkan, sesuatu mengusikku kemudian. Aku telah lupa bahwa kini Arzani berumur dua puluh satu tahun, usia yang amat tua bagi rata-rata para gadis Mughal India untuk menikah. Tapi, aku sendiri masih bertunangan dengan Shahryar kala berumur serupa sepertinya. Selama bertahun-tahun, aku lupa kapan terakhir kali kusaksikan sendiri dirinya berkembang. Dia bukan lagi bocah ceroboh yang pergi ke sungai Ravi untuk mengambil ikan, atau anak-anak yang gemar mencabut semangka di ladang orang lain dengan nakal. Kini, tubuhnya meliuk indah, ramping tanpa cela. Rambutnya panjang, tergerai bagai tirai gelap. Wajahnya oval, hidungnya kecil namun mancung. Matanya berbinar ketika dikerlingkan ke satu arah, dan bibirnya merekah sempurna bagai mawar. Dia punya paras yang menjanjikan, tapi aku tak pernah mendengar ketertarikannya pada seseorang.
Kami sedang melipat kain sutra ketika itu. Kuperhatikan ia baik-baik, dan aku menyadari betapa cantiknya Arzani. Maka, aku menggenggam tangannya pelan-pelan, mencoba mendapatkan perhatian. “Sayang, umurmu sudah dua puluh satu. Kau tahu apa yang terjadi dengan gadis-gadis di umur itu? Mereka telah menimang dua atau tiga anak.”
Dia tersenyum, sesekali menampilkan giginya seputih susu. “Teman-temanku adalah pembuktiannya. Kadang aku merasa iri pada hal itu.”
Aku mengernyit, menyadari bahwa ia menginginkan sebuah pernikahan. “Carilah seseorang. Atau, pergilah ke zenana kesultanan. Jahanara pernah berjanji akan mencarikanmu seorang pria. Dia bisa saja mengatur pernikahanmu karena dia Begam Sahib.”
Arzani menggeleng. Beberapa helai rambut menutupi bola matanya yang menghitam. “Aku tak ingin perjodohan. Hidup di dalam Benteng Merah takkan menyenangkan. Apakah aku akan menikahi salah satu Pangeran? Siapa? Aurangzeb? Murad? Biarkan aku menemukan seseorang, barangkali suatu hari nanti.”
Maka, kami tak lagi pernah membicarakan tentang hal ini sama sekali.
Di satu siang, Nazeer datang padaku di balkon. Dia juga telah menua sempurna, dengan garis keriput dalam di wajahnya yang lembut. Kadang, kupikir itu bilur luka, tapi itu memang garis keriput sempurna yang menghitam. Usianya lebih tua lima tahun dari Ibu, tapi ketuaan di diri Nazeer tampak tak kentara.
“Dia datang, Putri,” bisiknya pelan.
“Lama sekali, Nazeer. Sudah sepuluh tahun.” Aku tak memalingkan wajahku padanya. Di hadapanku, panorama desa Shahdara mengalun lembut. Cakrawala membengkok, warnanya biru cerah, menciptakan tempat tersendiri bagi surya untuk menyurup ke dalam saat senja. Aku tak tahu yang kurasa, tapi ini menciptakan kepahitan yang dibalut oleh rasa rindu membuncah tak tertahankan. “Bagaimana keadaanya?”
“Dia menua sempurna, Putri.”
Aku tersenyum masam. “Dan anak itu?”
“Putri harus melihatnya sendiri.”
Aku mendesah, mataku menyipit pada berkas-berkas sinar matahari. Apakah aku akan mendapatkan bundaran itu ketika aku berlari menggapainya? Tapi kini, usiaku telah menua, dengan kaki-kaki yang kadang kala terantuk pada batu-batu dan lantai. Mataku tak lagi awas, tapi aku dapat membedakan sesuatu kendati telah rabun perlahan. Apakah Jafar akan tertarik padaku? Laki-laki bisa menyimpan ratusan selir dalam rumah mereka ketika para istri menua dan tak lagi mengasyikkan. Dan kini, aku akan bertanya pada diriku, kemudian meyakini, bahwa aku tak lagi semenarik dahulu. Aku pernah mendapati sehelai uban di rambut, jadi aku tahu bahwa kematian datang padaku tanpa tertatih oleh jeda waktu panjang.
Aku memegangi kerut di pipi. “Apakah … maafkan aku bertanya padamu, Nazeer. Apakah aku masih menarik?”
Dia terkikik, geli yang ditahan. “Tentu, Putri. Apakah kau takut?”
“Para lelaki menganggap kami boneka jerami. Mereka bisa menyimpan selir dalam jumlah ratusan. Para ningrat melakukannya. Dan … Jafar adalah lelaki, jadi tak ada salahnya menanyakan hal itu padamu.”
“Aku tak begitu yakin bahwa Jafar akan melakukannya.” Dia menarik napas, terasa berat. “Ketahuilah, Putri. Dia teramat mencintaimu.”
“Bagaimana rasanya, Nazeer? Bagaimana rasanya tak merasakan apa-apa?” Aku mengerling padanya. Di mataku, bayangannya sama sekali tak bergerak, sementara bayangan hitam kami berdua diarak memanjang oleh matahari. Aku ingin tahu, barangkali sedikit saja, bagaimana rasanya tak merasakan apa-apa sama sekali. Bagaimana seseorang dapat bertahan tanpa rasa cinta? Apakah Nazeer sudi menjawabnya? Kendati rahasia, aku ingin dia mengatakan sesuatu.
“Apakah kau pernah jatuh cinta, Nazeer.”
“Aku ragu, Putri.”
Aku mendesah, kemudian mengangguk. “Antarkan aku padanya.” Dan dia mengangguk pula.
Kami berkuda ke sungai Ravi. Aku mengenakan cadar tebal sutra, yang dipadukan dengan kerudung seirama. Tunikku berwarna hijau, bergaris-garis oleh benang emas. Nazeer masih memiliki kelihaian sebagai seorang joki kuda. Suaranya masih lantang, dan dia menarik dan menghempas tali kekang seolah-olah berumur setengah dari umurnya kini. Di tepi sungai Ravi, tempat masa laluku bersarang, seseorang berdiri tegak. Tubuhnya menghadap aliran sungai, amat tenang dan bersahaja. Aku turun pelan-pelan dari kuda, berjalan tertatih menuju undakan tanah yang dipenuhi dedaunan kering basah. Semakin mendekat aku padanya, semakin nelangsa pula hatiku. Air mata mengembang, kemudian meluncur seirama dengan langkah kakiku yang mulai gontai. Aku membuka cadar, mendekat dengan hati-hati. Ketika jarak di antara kami berdua tampak tak lagi renggang, dia berbalik padaku.
Betapa aku terkejut padanya. Dia telah menua. Uban telah bersarang di rambut-rambut kelam yang mencuat dari turbannya. Janggutnya bulat, bercorak kelabu samar. Saat ia tersenyum, bibirnya terseret membentuk sabit bulan. Kerut-kerut membuatnya seolah-olah amat lelah pada pengembaraan panjang. Aku menangis bahagia saat itu. Kami tak berkata apa-apa selama beberapa saat, namun hati kami telah melonjak oleh hasrat yang menggebu-gebu. Dia menangis, begitu pula aku. Kami terisak, kami saling berpegangan, pada akhirnya, dia mendekapku dengan cinta. Dekapannya amat erat, tak berubah sejak kali terakhir aku mengingatnya. Dia menciumi tengkukku, dan aku terisak di tengkuknya. Selama sepuluh tahun, inilah kali pertama, dan inilah mungkin satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk bertemu denganku. Aku memeluknya, namun tanganku tak melingkar sempurna di balik punggungnya yang dipenuhi otot liat.
“Bagaimana keadaanmu, Ladli?” Dia masih menangis di pelukan itu.
“Atas rahmat Allah, Jafar. Aku telah diberikan kekuatan hingga hari ini tiba. Aku hampir lelah. Kau tahu bahwa ini terlalu lama.” Kupejamkan mataku di sana, lalu lebih banyak air mata merembes ke tuniknya yang berkilauan.
“Maafkan aku. Tapi inilah satu-satunya kesempatan. Pangeran Aurangzeb telah membawa kami ke Deccan. Aku tak bisa lari darinya, sebanyak apapun kami melakukan parade keliling kesultanan. Shah Jahan selalu memerintahkan kami ke Deccan, jauh ke selatan untuk operasi militer sia-sia. Mungkin dia tahu aku di sana, maka dijauhkannya pula kita berdua.”
Aku menggeleng, lalu melerai pelukan. “Tidak, Jafar. Dia tak tahu kau berada di sana. Aku telah mendengar bahwa pusara untuk Arjumand telah rampung sebagian. Jadi dia hanya fokus pada makam kekasihnya daripada kisah konyol kita berdua.”
“Kupikir begitu.” Dia menghapus air matanya, memegangi pinggulku sambil tersenyum. “Bagaimana kabar cintamu, Ladli.”
“Allah telah menjaganya untukmu, selalu, dan selamanya, Jafar.”
“Aku membawakanmu sesuatu. Kuharap kau suka.”
Aku mengernyit. Kemudian, Jafar melepaskanku. Pandangannya terpancang pada salah satu pohon cemara. Ketika dia menjeda kalimatnya beberapa saat, sesuatu muncul pelan-pelan dari batangnya yang kokoh. Seekor kuda, dan seorang anak lelaki. Aku menyipit pada mulanya, namun kemudian air mataku tumpah ruah tak tertahankan. Anak itu berdiri tegak, berjalan dengan langkah pasti. Rahangnya tegas, matanya bulat, alisnya meliuk indah di atas matanya yang hitam. Hidungnya kecil namun mancung. Bibirnya masih merekah, merah bagai cairan buah murbei. Kulitnya bersih, hanya sedikit kecokelatan akibat terpanggang sinar matahari di Deccan.
Kami saling menatap untuk beberapa saat. Kemudian, dengan canggung, dia berjalan pelan ke arahku. Langkahnya membuatku tersedu sedan. Saat ia berjarak satu hasta, aku dapat mendengar napasnya yang menembus jalur paru-parunya. Aku tersenyum padanya, dan dia tersenyum padaku. Kujongkokkan diriku di hadapannya. Tanganku merentang bebas, lalu dia berlari memelukku.
“Apa kau tahu siapa aku?”
“Ya.” Dia menangis di bahuku. Rasanya amat menyakitkan, namun inilah keadaannya. Jafar terisak tak jauh dari kami, sedang Nazeer Khan memerhatikan kejadian ini tanpa bersuara.
“Panggil aku.”
“Ibu.”
__ADS_1
“Sekali lagi, Nak. Kumohon.”
“Ibu,” katanya. Dia memelukku lebih kencang, kali ini terisak di sana.
“Cium aku. Cium aku, Khusrow.”
Dia melerai pelukan kami. Diciumnya pipi dan bibirku berkali-kali. Kukecup dahinya penuh cinta, lalu kulit kepalanya secara bergantian. Aku memeluknya sekali lagi, seolah-olah tak ingin ia pergi. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penantian, dia datang padaku dengan sikap seolah-olah telah berkembang menjadi seorang anak remaja, padahal dirinya masih bocah. Tapi, keteguhan dirinya telah terlihat. Dia akan kuat, sebab Jafar melatihnya dalam medan laga dan peperangan. Aku menciumnya sekali lagi.
“Apakah kau merindukan Ibumu ini?”
“Ya, Bu. Aku telah menunggu, terlalu lama.”
“Maafkan Ibu, Sayang. Ibu tak punya pilihan. Dan ayahmu tahu itu.”
Dia mengangguk mengerti, kemudian menatap Jafar. Lelaki itu datang pada kami untuk memeluk sekencang yang ia bisa. Dalam rengkuhan tangannya, kami menangis bersama-sama. Duka ini sama sekali tak tertahankan, yang lebih mirip sebuah pelarian dan cinta rahasia. Ibuku sudah meninggal, Shah Jahan sudah acuh tak acuh pada hal ini, tapi kami masih bertindak seolah-olah kami tengah diburu oleh selusin tentara kesultanan.
Khusrow sedang tertidur di pangkuanku siang itu. Kami menghabiskan waktu di dalam hutan hingga rembang petang datang menyisir waktu. Tangan kami berpautan, kadang kala Khusrow memeluknya amat erat, seolah-olah ia telah dijanjikan hal ini sedari dilahirkan. Dan memang, aku telah meminta Jafar membawakannya padaku saat itu. Kini, dia menepati janjinya. Aku tahu aku mencintai orang yang benar.
“Terima kasih telah membawakan Khusrow padaku.” Kupilin rambutnya yang hitam.
Jafar tersenyum, ranum di wajahnya. “Terima kasih telah menjaga cintamu untukku. Aku tak tahu harus berkata apa, sebab aku bukanlah seorang penyair cinta. Tapi, aku merasa bahwa kedamaianku kini telah ada. Selama bertahun-tahun, aku telah menunggu hal ini.”
“Apakah kau menikah?”
“Ya,” jawabnya muram. Sebelum aku bertanya siapa wanita beruntung itu, dia menjawabnya sendiri. “Seorang gadis. Aku menemukannya di Delhi.”
“Apakah dia tahu siapa Khusrow? Dan siapa pula ibunya?”
“Tentu. Aku memberitahukannya semua itu ketika kami akan menikah.”
Aku mengernyit. “Dan apakah ia tak keberatan pada hal ini? Apakah ia cemburu?”
Jafar tertawa, terdengar syahdu di antara gesekan air sungai dengan batu berlumut. Dia menggenggam jemariku, dan aku tahu apa artinya. “Bahkan jika ia cemburu, dia takkan mengatakan apapun. Dia telah belajar banyak darimu, sebab aku menceritakan segalanya tentangmu padanya.” Jafar menarik napas, tampak kelegaan padanya. “Dia senang. Amat senang. Karena seorang Putri memberikan putranya pada seorang gadis jelata.”
“Kuharap begitu.” Aku tertunduk, memerhatikan Khusrow menarik napas dalam tidurnya. Sesekali, akan ada nyamuk kecil, dan aku menepuknya sambil bergumam marah pada hewan itu.
“Ikutlah denganku, Ladli. Pergilah dari Shahdara, pergilah dari Lahore. Aku membutuhkanmu di sampingku. Khusrow membutuhkanmu. Dan apa kau berpikir bahwa dia tak teramat sedih ketika tahu bahwa Ibunya tak berada di sampingnya setiap malam? Barangkali untuk menceritakan satu dua kisah. Kita pernah menangis bahagia bersama saat ia baru dilahirkan. Dan kini, aku ingin kita menangis saat ia beranjak dewasa.”
Aku tersenyum. Kutarik napasku dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Kakiku menggesek-gesek dedaunan basah di bawah. Kumantapkan diri untuk berbicara, agar Jafar mengerti betapa kukuhnya aku pada pilihan ini. “Tidak, Jafar. Aku tak bisa.”
“Sultan Begam sudah meninggal, Ladli.”
“Darmaku ada di sini, selamanya. Aku takkan meninggalkan Ibuku sendirian di sini. Lagi pula, Arzani akan menikah, pasti, suatu saat, dan aku tak ingin ia kesepian terasingkan di sini.”
Dia mendecak, muram di wajahnya. “Tidakkah kau mencintaiku?”
“Tentu aku mencintaimu. Sebab aku mencintaimulah, maka aku memberikan Khusrow padamu. Agar kiranya, suatu hari, bila aku mati jauh darimu,” aku menggenggam tangannya lebih keras. Ada kesedihan di wajah kami berdua. “Akan ada Khusrow yang menggantikanku. Barangkali, kau hanya akan tahu kematianku ketika kau berkunjung kembali ke mari. Dan itu entah kapan, Jafar. Atau mungkin kau telah mati di suatu tempat di daerah kesultanan.”
Dia menghapus pipiku. “Kenapa kau harus mengatakan itu, Kekasihku?”
“Sebab aku ingin hidup baka denganmu di syurga.”
Kami berpisah saat muazzin meneriakkan waktu pada orang-orang yang beriman untuk sembahyang. Kami dipisahkan oleh suara adzan, dan entah kapan akan kembali bersua. Nazeer memacu kuda kami teramat pelan, memberikanku sedikit waktu dan kesempatan untuk mengamati Jafar dan Khusrow yang mengecil seiring kami berjalan jauh. Perpisahan kali ini tak amat menyakitkan, sebab aku tahu baik kekasihku dan anakku dapat hidup di dalam kesultanan, terselubung oleh begitu banyak perwira dan tentara yang bertebar dalam pasukan para Pangeran. Khusrow sempat menangis ketika aku akan pergi, tapi Jafar berjanji padanya bahwa mereka akan datang lagi lain waktu. Entah kapan, aku masih ragu, teramat ragu, namun itu senjata yang ampuh bagi anak-anak seusianya. Kudaku melenggang bebas melalui jalan setapak menuju desa, meninggalkan pemandangan yang kuratapi diam-diam. Barangkali, jika Allah berkehendak untuk berkasih-kasihan pada kami, kedua orang itu akan kembali ke sisiku. Dan kami, mungkin, suatu hari, untuk waktu yang singkat, sebab aku akan amat renta nantinya, akan hidup sebagai satu keluarga yang utuh.
Aku dan Nazeer memandangi bintang langit malam di rumah kami. Punggungku bersandar pada pilar, sedangkan tanganku memegang pakaian dalam bebercak darah milik Khusrow. Nazeer duduk di bawah tangga yang mengarah ke taman belakang, tempat aku dan Jafar bertemu diam-diam dalam rengkuhan kegelapan. Apakah aku punya sebuah kenangan dari Jafar? Aku berusaha mengingat, namun tak kudapati apapun. Biarlah kenangan darinya hanya tertinggal di satu masa di masa lampau, yang telah membilur dan mengeras sepanjang sisa hidupku yang kadangkala suka dan kadangkala penuh nista. Sebutir bintang jatuh dari angkasa, melesat kebiru-biruan. Aku mengamatinya, terpesona, namun tak menyuarakan apapun. Kilaunya bagai berlian.
“Sebuah bintang jatuh, Putri. Buatlah permohonan.”
Aku tersenyum padanya. “Itu tak perlu. Aku takkan bermohon apapun karena segalanya telah lebih dari cukup.”
“Apa kau tak menginginkan bertemu mereka lagi?”
“Tentu aku ingin. Tapi aku yakin dia akan datang. Suatu saat, mungkin jika pusarakulah yang berdiri kokoh, aku akan menyambut mereka dari balik kematian.”
Nazeer melihatku, lalu berpindah ke sisi pilar yang lain. Lututnya ditekuk ke dada, kepalanya disandarkan ke pilar. Dia mengantuk, demikan pikirku. Jadi dia memejam lemah. “Maafkan aku karena telah memberi tahu hal ini pada Ibumu, Putri. Itu kesalahan yang takkan pernah kumaafkan sendiri.”
Aku tertawa. “Tidak apa, Nazeer. Kisahku takkan berjalan sempurna tanpa hal itu.”
“Akankah kau bahagia dengan kehidupan ini, Putri?”
Aku mendesah, lalu memasukkan jariku ke sela-sela geraian rambut. “Mulanya, aku ingin mati. Tapi kini aku tahu bahwa Allah memberikan hidup yang tak cuma-cuma.”
“Kau telah hidup berkasih-kasih, Putri. Berbahagialah dengan hal itu.”
Aku tersenyum. Kami duduk di sana hingga malam menua, meninggalkan langit pelan-pelan untuk menyurup ke dalam awan hitam yang tak ramah. Cahaya peraknya bedenyar, sesekali jatuh pada dahiku yang mulai berkerut. Kuperhatikan Nazeer yang terlelap. Dia mendengkur tadi, tapi kini aku bahkan tak dapat melihat dadanya naik turun. Kupikir dia tidur, namun aku tahu napasnya kini telah tiada. Nazeer telah pergi.[]
__ADS_1