Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB X : GEJOLAK JIWA


__ADS_3

Shah Jahan akan mengadakan kunjungan ke Lahore tiga hari setelah kembalinya kami dari Kashmir. Dia telah mengirim surat pada Wazir Khan, yang dibocorkan Jafar dalam suratnya padaku, bahwa Shah Jahan akan mengunjungi makam ayahnya di Shahdara ketika mereka tiba. Ibu dan aku diminta untuk tak menampakkan diri, kecuali tak masalah bila kami akan diseret paksa kembali ke dalam rumah atau dibuang entah kemana. Aku telah mendengar bahwa Shah Jahan telah membangun sebuah makam untuk Arjumand di Agra. Dibeli dari seorang Raja bawahan, tanah makam itu berdiri di sisi tepi sungai Yamuna, dicitrakan sebagai penggambaran suci seorang wanita belia, dan akan menjadi monumen cinta paling populer sepanjang masa. Orang-orang dari seluruh penjuru kesultanan datang ke tempat itu untuk mengadu nasib. Alur sungai Yamuna diubah, diciptakan sesuai keinginan imajinasi sang Sultan. Batu-batu mulia didatangkan dari seluruh tempat, menghabiskan hampir sepertiga dari kas kesultanan untuk memulai proyeknya. Batu mirah, lapizlazuli, onyx, akik, zamrud, giok, safir, rubi, berlian-berlian dalam bentuk-bentuk tak biasa, serta ada begitu banyak marmer. Makam Arjumand akan dibangun dari marmer putih, dan akan rampung berpuluh tahun dari sekarang.


Ibu tertawa ketika mendengar ancaman konyol Shah Jahan pada kami. Dia memakai cadar tipis, berdiri di balkon bersama Nazeer untuk menghadap surya, seakan-akan ia bertindak sebagai terpidana mati yang tengah menatap fajar terakhirnya hari ini. Aku mengamatinya pelan-pelan dari balik pilar, mendengar bisik-bisik mereka yang kadang kala amat tabu untuk dicuri dengar. Aku tahu bahwa Ibu akan tetap berdiri di tempatnya itu kendati sang Sultan dan rombongannya akan tiba. Dan saat orang-orang melakukan taslim, ibuku akan menolak melakukannya karena ia adalah Sultan Begam.


Shah Jahan akan mengunjungi makam Sultan Jahangir di Shahdara, di taman Dilkusha, tak jauh dari rumah kami. Makam itu sendiri dibiayai oleh Shah Jahan sebagai bakti terakhirnya untuk sang Ayah. Tapi pekerjaan Ibu-lah untuk mengawasi setiap potong batu yang tertempel di dalam makam, setiap ukiran, setiap huruf Al-Qur’an, dan taman macam apa atau bunga-bunga yang mana yang akan menghiasi makam suaminya yang tercinta itu. Makam Sultan Jahangir terbuat dari batu pasir merah dan marmer, diapit oleh empat minaret besar yang menjulang, dirangkai indah dengan kaligrafi dan lengkungan pilar, simbol arsitektur Indo-Islam-Persia. Sultan Jahangir sendiri disemayamkan di dalam peti marmer, lalu bagian interior makam dihiasi oleh pietra dura dalam banyak detail serta rangkaian rumit berbentuk sulur-sulur bunga.


Tepat tiga hari setelah surat dilayangkan, parade besar datang ke Shahdara. Orkestra kesultanan menjadi pemicu bagi seluruh rakyat untuk berbaris di pinggir jalan lintas, melakukan taslim saat diperintahkan, menunduk saat diteriakkan, pergi ketika rombongan kesultanan berlalu. Parade itu masih sama, masih ribut dan sesak, tetap ramai dan susah dengan barang-barang bawaan mereka. Gajah Sultan berdiri di depan, dengan howdah bersepuh emas dan bertatahkan batu-batu mulia. Di belakangnya, sederet kuda-kuda para ningrat berderap. Kaki-kaki mereka mendang debu, lalu debu itu jatuh kembali ke tanah yang gembur. Gajah-gajah lain menyusul di belakang, kali ini pasti para wanita zenana, sebab sederet tandu-tandu kecil yang dulu sering digunakan para selir untuk bepergian tampak tersusun rapi di belakang. Aku berani bertaruh bahwa anak Shah Jahan-lah, si Jahanara, yang telah memimpin para wanita ini. Tak jauh dari mereka, segerombolan kasim serta pelayan bercadar lalu lalang dengan semua barang bawaan. Alat memasak, panji-panji, hadiah, alat tulis, kipas-kipas panjang, dan ada banyak lagi.


Ibu berdiri di tepi balkon, wajah dan tubuhnya condong ke depan. Sudah lama sejak ia tak lagi mencium bau khas kesultanan, bau yang memuakkan, namun penuh janji yang tak meyakinkan. Aku mengamatinya berdiri di sana, sedikit takut, namun aku tahu Shah Jahan takkan berani melukai kami semua. Orang-orang di bawah rumah berteriak “zindabad Sultan. Zindabad Sultan. Zindabad Sultan.” Lalu mereka melakukan taslim hingga rombongan ini berlalu. Shah Jahan membelah rombongannya menjadi dua, dengan satu rombongan lain menuju Benteng Lahore. Keluarga kerajaan akan berziarah ke makam Sultan Jahangir, dan aku tak ingin Ibu berada di antara mereka semua.


“Kita harus pergi, Ladli.” Ibu berbalik pelan-pelan, namun kuhentikan gerakannya.


“Kita takkan ke sana. Kita akan mati jika Shah Jahan melihat kita.”


Ibu mendengus, kesal di wajahnya. “Tak akan. Dia takkan membunuh seorang wanita tua. Dia harus tahu, si bi-daulat itu harus tahu, Ladli, bahwa aku-lah yang mendesain makam ayahnya. Bahwa selama bertahun-tahun hidup nyaman dalam hujan-hujan pujian serta kekayaan, aku-lah yang bersusah-susah untuk membangun makam suamiku itu untuknya.”


Aku mendecak, tapi dia menerobos tubuhku sebelum aku bicara. Aku sempat mengejarnya hingga ke beranda depan, namun langkah kami semua berhenti ketika penjaga kesultanan berdiri di depan rumah kami untuk berjaga-jaga. Belati mereka tersarung sempurna, sedang tangan-tangan mereka memegang tombak runcing dengan hiasan panji bendera Mughal Agung berwarna hijau dihiasi singa meringkuk. Syukurlah, pikirku demikan. Shah Jahan telah mengambil tindakan cepat untuk mengatasi tindakan Ibu yang terburu-buru. Dan mujur, Ibu tak ingin melawan penjaga kesultanan ini. Dia kembali ke kamar bersama Nazeer. Rona membakar wajahnya.


Kunjungan Shah Jahan berlalu singkat, tak sampai setengah jam. Dia kembali ke Benteng Lahore kemudian, diiringi sepasukan pengawal kesultanan pribadi, dipuji-puji lagi di sepanjang jalan oleh rakyat-rakyatnya tercinta. Dari balik tirai, aku berusaha mendapatkan siluet wajahnya, tapi apapun tak terlihat sebab ia tertutup rumbai-rumbai howdah. Ketika sepasukan penjaga di depan beranda kami pergi, seorang bocah membawakan sebuah surat untukku. Aku tahu itu Jafar, jadi kubuka suratku cepat-cepat.


Ladliku sayang.


Sultan Shah Jahan telah memberikan sedikit penghiburan untuk Shahdara, sebab Nouruz akan diadakan di sini selama Sultan menetap. Itu berarti akan ada Bazaar Meena, dan para wanita akan berduyun-duyun terjun ke dalamnya untuk menjajakan perhiasan serta pakaian. Aku ingin kau hadir di sana, Cintaku. Bawalah apapun yang bisa kau jual, sebab bukan barang itu pula yang terpenting, tapi dirimu sendiri. Aku akan ada bersama Wazir Khan. Para ningrat akan berkeliling tenda untuk membeli barang yang tak mereka perlukan, tapi aku akan berkeliling untuk membeli cintamu padaku. Aku akan katakan secara tak langsung, melalui sikapku, pada Sultan bahwa aku ingin menikahimu. Sebab diperbolehkan meminang wanita mana pun di Bazaar Meena kendati hanya sebagai selir semata. Tunggulah aku di sana, di sebuah tenda kokoh di pojok taman, dan jangan terima siapapun kecuali aku di dalam tendamu. Karena sesungguhnya, bukan barang dagangan yang diincar, namun si penjual yang masih belia. Atas cintaku padamu, Ladli. Dan atas cinta Allah pada kita, aku akan datang.


Aku menutup suratnya, mencium bau harum surat itu pelan-pelan. Jafar sungguh berani, teramat berani untuk mengatakan secara tak elok pada Shah Jahan, bahwa dia berhasrat untuk menikahi seorang Janda Pangeran. Nouruz akan diadakan seminggu lagi, dan setelahnya, rombongan Sultan akan berderap maju menuju Kashmir. Aku mengumpulkan segala perhisan yang bisa kutemukan. Cincin perak, gelang emas, gelang kaki, cincin hidung, anting permata, anting hidung, hiasan kepala, kerudung sutra, cadar, rempah, bahkan batu mulia seperti batu mirah dan giok. Semua barang ini diletakkan di keranjang berbeda, dikelompokkan, lalu disiapkan hingga festival tiba. Kukatakan hal ini pada Ibu, dan dia berjengit untuk marah. Aku tahu yang kulakukan penuh risiko, dan pada mulanya, dia sama sekali tak merestuinya, sebab ia tahu bahwa tujuanku hanyalah pamer pada Shah Jahan bahwa aku yang kini terasingkan telah menemukan seorang pria tampan yang jujur.


Tapi, keras kepala menguasaiku. Aku akan tetap pergi, kataku acuh tak acuh, dan Ibu setuju kemudian. Dia tak mengatakan apapun, tapi memberikanku beberapa ratus rupee untuk menyewa orang mendirikan tenda di dalam benteng. Bazaar Meena diciptakan oleh Sultan Humayun, diadakan setiap pergantian kelender Hijriyah terjadi, ketika tanggal satu Muharram jatuh dalam penanggalan islam tradisional. Seluruh wanita, para dayang, para selir, para pelayan, para wanita ningrat, para gadis perawan, para janda kesepian, akan berjualan di balik tenda tanpa cadar. Hanya untuk satu malam, sang Sultan dan para menteri serta Pangeran-Pangeran muda akan mencari-cari kesenangan di antara tenda, kebanyakan akan mencari selir baru untuk zenana di rumah mereka masing-masing. Tapi, konsepku telah terencana dengan baik, bahwa Jafar-lah yang akan datang ke tendaku, bukan orang lain. Dan melalui cara itu, pernikahan akan terjadi, sebab jika sang wanita setuju di tempat itu, restu Sultan telah diberikan secara tak langsung.


Seminggu kemudian, Benteng Lahore dibuka saat malam. Para wanita dituntun dalam penjagaan ketat, diperiksa dengan cermat oleh para wanita penjaga Kashmir, ditelaah dengan teliti barang macam apa yang mereka bawa ke dalam. Kami memiliki tempat masing-masing, dan hiasan serta barang dagangan menandakan status sosial orang itu sendiri di mata para pria. Tendaku terbuat dari kanvas merah, dihiasi tirai-tirai berkisi dari sutra kuning, menyala dengan lampu minyak taman-taman. Sulur-sulur melati berada di sekelilingku, menguarkan aroma memuakkan. Aku menjajakan perhiasanku di depan, terhampar di atas kain sutra merah. Di sana, aku telah menyusun perhiasan dan batu mulia, sedang rempah berada di dalam anyaman. Para kasim akan berkeliling untuk memastikan bahwa semua telah siap, dan pada sentuhan terakhir, semua cadar akan dilepas.


Aku mengamati diriku sendiri di balik cermin kecil berpinggir emas. Apakah Jafar akan tertarik dengan penampilanku malam ini? Aku menggunakan blus ketat lengan panjang berwarna putih, rok berbuku-buku dari sutra dengan warna serupa, serta hiasan berupa mutiara sebesar biji jeruk di seluruh pakaiannya. Lingkar-lingkar gelang memadati lengan, dan cincin pernikahanku masih terbebat di jari manis. Ini adalah baju tarian kathak-ku bertahun-tahun lalu, ketika aku dengan polosnya menjajakan diri untuk Shah Jahan semata. Tapi kini, aku akan menawarkan diriku untuk Jafar, dan dia akan membawa kemenangan atas diriku di hadapan sang Sultan.


Angin malam datang membawa ketidaknyamanan. Aku memeluk diriku sendiri di dalam tenda, ngeri pada apa yang bisa terjadi kemudian. Bagaimana jika Shah Jahan tak setuju, bagaimana jika dia takkan pernah setuju? Dia telah mengirimkanku sebuah panggilan, dan aku tak pernah menjawab surat itu dengan atau tanpa alasan. Aku tak lagi ingin mengharap-harapkannya, tapi pesona Shah Jahan masih kerap berbayang-bayang dalam mimpi serta otakku. Dan apa pula nanti yang akan terjadi pada Jafar? Apakah dia akan mati ketika menantang Sultannya? Aku tersadar ketika para kasim berteriak. Seluruh hadirin berdiri untuk melakukan taslim. Dan begitulah yang kulakukan. Tanganku menempel di dahi, turun, lalu menempel lagi sebanyak tiga kali. Rombongan Shah Jahan datang ke dalam acara. Para wanita berteriak kegirangan, memanggil-manggil sang Sultan dengan pesona dan kecentilan mereka pribadi. Aku merinding dengan sikap itu, karena para wanita terhormat sekalipun dapat berubah serendah gadis nautch di pasar kota.


Shah Jahan memakai tunik sutra, sebuah turban yang dililit rumit di atas kepalanya, terbuat dari sutra hijau berpadu putih. Sebuah bulu bangau dipapah sebutir berlian merah berdiri kokoh di tengah-tengahnya, berayun-ayun oleh angin senada. Ikat pinggang Shah Jahan ditaburi berlian, kerlap-kerlip bagai bintang di langit malam. Dia melangkah dengan pasti, dengan punggung tegak serta senyum memesona. Aku telah bertaruh bahwa ia telah keluar dari masa berdukanya untuk Arjumand, dan masa berduka itu akan digantikan oleh pengabdian abadi sebuah makam memesona di Agra. Dia duduk di atas bantal beledu, diikuti oleh sederet ningat. Di sisi kanannya, berdirilah Wazir Agung, Sadullah Khan, seorang pria gempal cerdas. Di sisi kirinya, berdirilah Wazir Khan, subahdar Lahore. Aku tak melihat Jafar di sisi Wazir Khan, tapi kekhawatiranku terhapus ketika rombongan ningrat lain memadati sisi-sisi sang Sultan. Aku menduga dia telah berada di antara mereka semua, tapi tindak-tanduknya tak terlihat kentara. Tak lama setelah sang Sultan, para Pangeran dan Putri kesultanan datang. Mereka adalah anak-anak sempurna, ditempah tanpa cela, diajarkan menjadi sebaik-baik keturunan ningrat untuk membawa wibawa kesultanan itu sendiri.


Anak tertua, Jahanara, adalah Begam Sahib, Putri dari segala Putri, penguasa di zenana Shah Jahan  di usia yang amat muda. Anak kedua, seorang laki-laki ceria, toleransi pada seluruh agama, cerdas dan bibirnya pandai menorehkan intelektual tanpa buku. Dialah Dara Shikoh, Pangeran Mahkota. Anak ketiga adalah Shah Shuja, seorang Pangeran tampan, tinggi, namun terburu-buru. Anak keempat, Roshanara, seorang Putri. Wajahnya tak seindah Jahanara, namun ia memiliki aura keningratan sejati. Roshanara tak bersahabat dengan Jahanara sejak kakaknya adalah Begam Sahib, dan baik Rosahanara atau Jahanara, keduanya memilih untuk bersaing dalam tindakan mereka, sejauh apa perbuatan keduanya memengaruhi cinta kasih Ayah mereka serta kesultanan. Tapi, Roshanara telah kalah sebab Ayah mereka teramat mencintai Jahanara serta Dara Shikoh, terlalu mengesampingkan anak-anak yang lain, yang membuat Roshanara pun membenci ayahnya, berkeyakinan untuk menolak Dara sebagai seorang Pangeran Mahkota. Untuk itu, dia memihak anak kelima, Aurangzeb, seorang lelaki pemurung, penyendiri, fanatik pada agama Islam yang selalu ia sebarkan bahkan di medan laga. Aurangzeb tak menyukai Dara, dan dia merasa bahwa toleransi yang abangnya sebarkan sungguh amat tercela. Dalam skala kecil, perpecahan telah terjadi, karena masing-masing anak Shah Jahan telah terpecah menjadi dua kubu. Jahanara untuk Dara Shikoh, dan Roshanara untuk Aurangzeb. Anak keenam adalah Murad Baksh, masih kecil, belum menikah, dan sifatnya amat ******* masa kekanak-kanakan itu sendiri. Dan pada akhirnya, anak terakhir, Gauhara, seorang Putri yang merengkuh ibunya ke dalam kematian. Dia adalah anak terakhir, si bungsu yang terlupakan, tapi kelahirannya selalu diingat, sebab kemunculannya di dunia membawa kematian bagi Arjumand.


Acara Bazaar Meena dibuka ketika orkestra kesultanan bedengung-dengung kegirangan. Bergentong-gentong anggur digelindingkan ke atas karpet para ningrat, lalu tawa mereka merekah di langit malam, membuatku bergidik sendirian. Ketika malam hampir saja menua menjadi dini hari, dan aku mulai jenuh pada suasana monoton ini, kasim Shah Jahan maju ke tengah lapangan untuk berteriak.


“Tundukkan pandangan kalian semua!”


Maka, seluruh wanita menunduk, berharap-harap, malu-malu pada takdir mereka yang akan tiba. Aku berharap Jafar akan melesat, memegang tanganku, lalu membawaku keluar untuk meminta restu dari Shah Jahan. Aku dapat mendengar bisik-bisik para wanita di beberapa tenda, lalu mereka tertawa karena bisikan mereka sendiri. Mereka telah membayangkan hal-hal menggelikan, tapi mereka tak dapat menerka apa yang akan tiba. Aku memeriksa seluruh pakaianku, takut jika penampilanku amat tak memuaskan bagi kekasihku sendiri. Ketika kudengar derap langkah sepatu sutra menyusuri taman, hatiku melesat kegirangan. Dadaku dipenuhi taburan impian, yang serta merta berubah menjadi pengharapan. Di ujung taman, para wanita lain telah berteriak, bersyukur pada apa yang telah menghampiri mereka. Seorang lelaki kaya, mentereng, berkasih-kasih, seorang pujangga, mereka bisa saja mendapatkan salah satu dari tipe itu. Satu persatu teriakan mulai memadati, lalu wanita lain mengerling cemburu buta. Aku merasakan seseorang datang padaku. Dia mendekat hati-hati, dan siluet wajahnya di bayang-bayang setapak membuatku tenang. Itu Jafar! Dia datang padaku! Pekikku dalam diri. Tangannya diulurkan padaku, jadi kugenggam tangannya hati-hati. Namun, sesuatu terasa berbeda. Tangan Jafar tidak selembut ini, tidak pula dihiasi berbagai batu mulia berharga. Ketika kukira tangan kekasihku-lah yang merangkulku, sang Sultan Shah Jahan-lah yang tengah memaku di hadapanku. Tatapan kami bertemu, dan aku menggeleng, teramat malu serta canggung pada sikapku. Aku telah salah! Aku tak tahu di mana Jafar, dan kenapa ia begitu lama? Kenapa sang Sultan pula yang datang?


Shah Jahan memandangiku lekat-lekat. Tatapannya turun menjelajahi tubuhku yang ramping, tidak berubah sejak kali terakhir ia mengingat. Aku tak mengatakan apapun, begitu pula ia. Dunia terasa membeku untuk sesaat, karena di balik riuh rendah para ningrat, aku tak dapat merasakan apapun kecuali kesedihan. Kami terkurung oleh suasana hati kami masing-masing, seakan-akan telah berbicara tentang hasrat dan kerinduan. Kulepas tanganku pelan-pelan, lalu aku menggeleng, takut pada diriku sendiri. Tanganku bergetar hebat, dan kubawa diriku kabur dari tempat ini. Masih di sana, Shah Jahan tak bergerak dari tempat ia berdiri. Aku tak memerhatikan tatapan orang-orang padaku. Beberapa telah tahu bahwa aku adalah Ladli Begam, tapi suara mereka tertahan oleh keingintahuan yang melampaui sang Sultan.


Malam itu, mimpi buruk dalam bentuk kenyataan datang padaku.


***


Aku tak pernah berhenti menyesali keputusan untuk ikut dalam Bazaar Meena malam itu. Pandangan Shah Jahan masih berada di benakku. Matanya telah bermain-main dengan tubuhku, menjalari apa yang ia inginkan, seakan-akan ia telah berharap terlalu banyak pada perasaan serta ragaku. Tapi aku menampiknya secepat kilat. Aku membawa lari semua hal itu melewati para penjaga, menangis sedu sedan hingga ke rumah. Tak pernah terpikir olehku bahwa beginilah jadinya. Kutulis surat untuk Jafar, berkali-kali, bahkan aku lupa berapa. Kupertanyakan banyak hal di dalamnya. Di manakah ia saat itu? Apakah ia melihat kejadian yang disorot oleh semua orang malam itu? Apakah ia tahu di mana tendaku berada? Tapi, seluruh pertanyaan itu tak terpuaskan, sebab tak satu pun suratku terbalas.


Harapanku pupus pada saat itu juga. Shah Jahan telah melihatku? Apa pendapatanya soal diriku yang masih belia ini? Akankah dia mencoba kembali untuk memanggilku ke zenana-nya? Barangkali kubiarkan saja ia berharap, agar ia mengerti betapa pedihnya berharap terlalu banyak pada cinta yang mustahil tersampaikan. Ibu atau Nazeer Khan tak pernah membahas soal ini. Aku hampir melupakan Arzani, bahwa dia adalah anakku satu-satunya, bahwa hanya karena keberadaannyalah aku bertahan hidup, bahwa cinta kasihku padanyalah yang telah membawaku sejauh ini. Berkali-kali kukutuk diriku, menyesali tindakan. Untuk apa aku berada di antara para wanita itu semua? Berjualan seolah-olah aku adalah gadis nautch pasaran. Aku meminta maaf pada putriku berkali-kali ketika ia terlelap, saat dia tuli dan bisu pada murka yang meledak. Kutangisi ia, dan bertetes-tetes air mata jatuh di helaian rambutnya.


Surat dari Jafar datang padaku di satu rembang petang. Aku membuka suratnya hati-hati, amat bimbang pada mulanya. Dia memintaku untuk datang ke tepi sungai Ravi saat malam datang, tepat ketika purnama menggantung indah di langit barat. Maka, diam-diam aku pergi. Entah sudah berapa lama aku lepas dari pengawasan Ibu, tapi aku menerka bahwa tak mungkin ia tak tahu. Kuambil seekor kuda Arab dari istal, lalu kupacu hewan ini untuk berderap di kegelapan malam. Aku menggunakan baju terusan hitam, kerudung serta cadar dengan warna serupa. Kini, aku bagaikan hantu gentayangan, sebab di bawah kegelapan, tubuhku hanyalah sebuah fatamorgana di atas kuda.


Hewan ini berderap cepat. Kupacu jantungku untuk tak berdetak mengancam kendati aku menduga sesuatu terjadi tak semestinya. Ketika aku sampai ke tepi sungai Ravi, kudaku melenggang ke jalan setapak tempat biasa kami bersua. Di bawah rimbunan pohon, tempat kegelapan duduk dan menetap hingga fajar cerah tiba, Jafar berdiri di sana. Alih-alih menatapku, punggungnya tegak, dadanya menghadap aliran sungai berwarna indigo dengan sinar keperakan bulan di sekitar alurnya yang damai. Aku menambatkan kudaku di sebuah pohon perdu, melangkah hati-hati untuk mendekatinya agar ia tak terkejut. Tapi, ia seakan menjauh, amat jauh hingga tak dapat kujamah tubuh maupun suaranya. Seiring dengan langkahku, tubuhku gontai, dan aku mulai ketakutan. Kakiku menginjak ranting-ranting basah, daun-daun yang bertebaran di bawah jalan, menimbulkan suara, namun Jafar tak terusik olehnya. Dia tahu aku datang, tapi enggan diolengkan kepala berturbannya itu kepadaku.


Aku berhenti tepat di belakang punggungnya, tapi dia tak jua berbalik padaku. Aku menarik napas. Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi? Kenapa dia membeku? Jiwa Jafar tak berada di sini, dan dia layaknya seonggok es berbentuk manusia. Kutarik napasku dalam, lalu kupanggil namanya pelan-pelan. “Jafar,” kataku. Dia tidak berbalik. Kesunyian telah merentang pada keadaan kami sejak awal, menimbulkan bisik-bisik dan gumam diri pada kami berdua. “Jafar,” kataku lagi. Dia tak berbalik. Napasnya ditarik sempurna, dadanya bergerak sejalan dengan punggungnya yang layu lalu tegak. Aku ingin memeluknya, tapi kuurungkan kembali niatan itu. “Kekasihku, ada apa?”

__ADS_1


“Jangan panggil aku kekasihmu, Ladli.”


Aku tersentak. Ada apa dengannya? Suaranya tajam, kurasakan kekerasan dalam nada suara itu. Aku maju pelan-pelan. “Ada apa, Jafar? Kenapa kau tak ada dalam Bazaar Meena itu? Aku telah menunggumu, aku telah …” Aku berhenti pada kata-kataku, enggan memberi tahunya peristiwa tentang Shah Jahan padaku, tapi aku ragu bahwa ia tak tahu.


“Lanjutkan, Ladli.”


“Kenapa? Apa maksudmu?”


“Apa kau tak puas setelah bertemu kekasihmu? Aku telah mendengar bahwa dia telah memegang tanganmu, tapi kau lari kemudian. Ada apa, Ladli? Kenapa kau tak tinggal lebih lama demi dirinya?”


Aku melangkah lagi, kali ini tergesa-gesa. “Apa yang kau bicarakan, Jafar? Demi kasih Allah, aku tak paham pada pembicaraan dan sikapmu.”


Dia tertawa, namun terasa amat pedih, bukan tawanya yang biasa. “Kasih Allah?” Dia berbalik padaku. Ketika wajahnya ditampilkan padaku, bertepatan dengan sinar keperakan bulan menyapu wajahnya, betapa aku terperanjat pada kesedihan yang tertoreh di sana. Dia telah menangis, membuatku merinding. Bibirnya datar, bukan bagai kuncup mawar yang biasa. Garis-garis kesedihan itu membuatnya lebih tua, hingga aku tak bisa meyakinkan diriku bahwa ia sedang bersedih. “Kasih Allah, Ladli? Apa yang kau tahu tentang kasih Allah? Kau telah menipuku dengan caramu, dan betapa aku terkecoh karenanya.”


“Apa? Kenapa kau bicara seolah-olah aku telah menyakitimu?”


“Hal ini telah bicara.” Dia mengeluarkan sebuah kertas yang digulung dari balik tuniknya. Sebuah surat, dan dia mencengkeram surat itu dengan geram. “Sampai berapa lama lagi tipu daya ini akan berakhir padaku? Sampai berapa lama lagi kau akan sudahi kepalsuanmu? Kenapa aku, Ladli? Kenapa?”


Aku mengernyit. “Aku tak pernah mengirimimu sebuah surat.”


“Mungkin, tapi Ibumu.”


Dia melempar surat itu ke tanah. Aku membungkuk untuk mengambilnya. Kubuka surat itu dengan hati-hati, lalu jantungku melompat. Darahku menderas, memanas menjadi murka dan kesedihan.


Tuan Jafar.


Aku tahu kau telah meletakkan pengharapan dan cinta pada putriku Ladli. Dan aku pun telah tahu bahwa pengharapan itu telah berubah menjadi sebuah impian semata seorang pemuda yang jujur. Namun maafkan aku mengatakan ini padamu, Tuan Jafar, sebab Ladli sama sekali tak mencintaimu. Kau telah menerima kasih yang serta merta bukan milikmu. Alangkah bodohnya kau tak tahu hal itu. Putriku baru bertatap dengan wajahmu sekali, dan dia mengatakan padamu bahwa ia teramat mencintaimu? Jangan konyol. Aku memang tak tahu apa saja yang kalian lakukan di Kashmir, tapi aku tidak tuli, Tuan Jafar. Aku adalah Sultan Begam, dan aku tahu tindak-tanduk anakku lebih baik daripada dirimu. Apakah kau berpikir bahwa ia mendatangimu sebagai Jafar Husein? Ladli mencintaimu sebab kau mirip dengan Shah Jahan, Sultanmu sendiri. Kau telah tahu bahwa Ladli mencintai seseorang di masa lalu, dan dengan teramat pahit kukatakan bahwa pria itu adalah Sultanmu sendiri. Apa kau bahkan belum pernah melihat wajah Shah Jahan? Ada kemiripan tanpa cela di paras kalian berdua, dan Ladli, yang telah menderita begitu lama pada cinta yang tak tersampaikan, memutuskan untuk memberikan kasih sayang tak pantas itu padamu. Tak lebih, Tuan Jafar. Aku pun mulai bertanya-tanya apakah ia pernah menganggapmu selain sebagai sebuah pelampiasan semata? Betapa sedih kisahmu, Tuan Jafar, sebab kau telah dipermainkan oleh putriku. Maka, tolaklah ia. Pergi darinya. Jangan pernah panggil atau pergi bersamanya lagi. Sebab kau telah tahu, bahwa seluruh kasih sayang yang tumpah ruah padamu, sejatinya bukanlah milikmu. Itu milik Shah Jahan, dan kau tak lebih dari sekadar penghiburan semata.


Air mataku mengambang, sakit hati datang padaku bertubi-tubi. Tega nian Ibu menuliskan surat macam ini pada Jafar. Di bawah surat, tertempel sebuah stempel lama milik Ibu. “Atas berkah Nur Jahan Begam.” Aku tak tahu harus mengatakan apa, atau harus menjelaskan dengan kosa yang bagaimana, sebab satu-satunya yang tertancap di otakku adalah perasaan Jafar yang terkoyak-koyak tanpa ampun. Pada awalnya, dia mungkin menerima surat ini dengan cinta, tapi cintanya tercabik-cabik ketika surat ini dibeberkan di hadapannya.


“Aku bisa menjelaskan ini padamu,” kataku terpatah-patah.


“Tidak, Jafar. Aku tak menipumu. Pada malam itu, aku mendatangimu sebagai Jafar Husein, bukan Shah Jahan. Kumohon dengarkan aku.”


“Diam, Ladli!” Suaranya memecah malam. Dua ekor rusa liar berlari ke semak-semak, bersembunyi dari murka Jafar yang mengamuk. Kini, dia sekeras batu, takkan goyah walau aku memberikannya kata-kata cinta semanis apapun jua. “Katakan yang sebenarnya padaku.”


Aku maju beberapa langkah. “Aku memang berdosa pada cinta itu, Jafar. Pada mulanya, aku memang menganggapmu seperti itu, sebuah penghiburan semata, sebab cintaku bersusah-susah dan amat sulit tersampaikan.” Dia memejamkan matanya ketika kalimat itu keluar dari bibirku, dan dia menangis dalam diam. Kusambung kalimatku dengan berani. “Tapi, ketika semua ini berlalu, aku telah lupa bahwa kepura-puraanku pada perasaan ini larut dalam cinta utuh. Kau adalah satu-satunya yang memberikan cinta itu dari matamu. Kepribadianmu amat luhur, dan kau dapat memuaskan dahaga jiwaku akan cinta yang tak berkecukupan. Di masa lalu, aku telah terlalu banyak berharap, sakit pada harapan yang kubuat-buat sendiri. Aku tak bisa melupakan Shah Jahan kendati telah dinikahkan dengan Shahryar, sementara yang dilakukan Shahryar hanya memerlakukanku bagai anjing tololnya. Bagaimana aku dapat bertahan dari hal itu?”


Dia diam. Ditariknya napasnya dalam-dalam. “Sultan Begam sudah bicara, Ladli. Dia tak merestui hal ini. Kau seorang Putri. Dan aku pun telah tahu bahwa setelah kematian Padshah Begam Mumtaz Mahal, Sultan tertarik padamu.” Jafar membuang pandangannya ke aliran sungai. Dia memainkan jari-jarinya untuk menggerus kulit pohon yang dalam.


“Dia Sultan Begam, Jafar. Sultan Begam yang terbuang.”


“Dia ibumu!”


Aku terdiam, air mataku tumpah, berseluncur di kedua pipiku. Napasku sesak, dan aku terisak karenanya. Malam ini, aku berhadapan dengan orang lain, bukan kekasihku. Dia amat jauh. Kelembutannya telah pergi, sejalan dengan rasa perih yang menjadi-jadi. Ini semua salahku. Aku yang telah memulainya dengan terburu-buru, tak tahu apakah jalan yang kupilih benar atau harus dipertimbangkan dengan masak. Tapi kini, semuanya telah terlanjur. Jafar telah tahu kisah tersembunyi itu, dan tahu awal mula kenapa aku jatuh hati padanya.


“Jika alasannya adalah rupaku, Ladli, aku akan memilih untuk tak berparas daripada menjadi sekadar pelarian. Amat pilu hatiku membaca surat itu, terkoyak-koyak nadi serta jiwaku pada kata-kata ibumu. Dia amat tak menyukaiku, dan kuharap kau bisa kembalikan gelang emas ini padanya.” Dia mengeluarkan gelang yang pernah diberikan Ibu padanya. Gelang itu bersinar, berkilau ketika cahaya bulan jatuh di atasnya. “Aku akan lepaskan kau untuk cintamu yang lain, Ladli. Aku akan menganggap bahwa ini semua tak pernah terjadi. Bahwa perjalan kita, pelarian kita, cinta kita, hanyalah sekadar sebuah angan-angan dan mimpi. Tapi aku salah, karena sebanyak apapun aku tertidur dan terjaga, kau adalah kenyataan. Allah telah mengutukku dengan cinta ini.”


Aku menyeka air mata yang mengalur di pipi. “Aku tak pernah berharap untuk hidup dengan seorang lelaki lebih darimu, Jafar. Demi kasih Allah, karena begitulah apa adanya.”


“Kembalilah pada ibumu, Ladli. Barangkali dia tahu bahwa kau datang padaku, dan dia tak ingin anaknya menemui badmash sepertiku.”


“Kau bukan ********.”


“Tapi ibumu telah mengatakan hal itu dengan amat hati-hati di suratnya.”


“Oh, Jafar.” Aku berusaha memeluknya, tapi ia menolak. Semakin aku mendekat, semakin terlukai hatinya.


“Kita tidak sedang dalam fatamorgana, Ladli. Hidup adalah kenyataan. Aku bukan pujangga, begitu juga kau. Aku tak punya kata sebanyak para penyair untuk mengungkapkan sakit hati dan rasanya dikhianati. Tapi aku cukup mengatakan padamu betapa perihnya diriku kini. Aku bahkan tak punya daya untuk sekadar bangkit dari dipan dan duduk tegak. Jemariku gemetar, sakit hati membakar dadaku, dan aku menangis bagai lelaki lemah. Aku telah berpengalaman dengan pedang dan tombak, menjadi garang di medan laga, terluka dan berdarah-darah, namun sakitnya dapat dipulihkan. Tapi ini … ” Dia memegangi dadanya. “Aku tak tahu kapan ia akan pulih.”

__ADS_1


“Aku tak pernah mengkhianatimu, Jafar.”


“Kembalilah, Ladli.”


Dia memunggungiku. Napasnya ditarik pelan, lalu dia mendesah perlahan-lahan. Sakit hati telah mengaburkan cintanya untukku, bahkan aku tak tahu apakah cinta itu masih bersarang di hatinya ataukah tinggal kenangan saja. Jafar menaruh harapannya padaku, teramat percaya diri, lalu hampir mati karena harapannya sendiri. Dia berbicara padaku tentang harapannya pada pernikahan, kendati ia tahu bahwa mustahil bagi Janda Pangeran untuk menikah. Dia telah bertekad menentang Shah Jahan, tapi kini dia tahu bahwa cintaku ada untuk Shah Jahan pula.


Aku menarik napasku, kesal datang dalam diriku. “Kau bodoh, Jafar! Kau pengecut! Apa yang membuatmu berpikir bahwa surat ini serta merta memanglah perangai hatiku? Ibuku yang menuliskannya, bukan aku. Sultan Begam-mulah yang telah meracuni cinta kita. Apa kau berpikir bahwa aku akan bersusah payah untuk melarikan cinta Shah Jahan padamu dengan perjalan ke Kashmir? Akankah seseorang melakukan itu? Apakah aku akan menyerahkan tubuhku padamu di malam itu? Wanita mana yang rela? Wanita mana yang sudi bercinta dengan lelaki yang bahkan tak dicintainya? Aku bukan gadis nautch. Dan kau bukan penjaja kenikmatan. Kita para pecinta, dan kita tahu apa yang harus kita lakukan sebagai pecinta. Tiada dusta dalam rasaku, dan tiada yang dipalsukan dalam pengharapanku padamu, bahwa aku hanya ingin hidup bersamamu, bukan di zenana Shah Jahan itu.” Aku berbalik untuk pergi. Kunaiki kudaku, lalu kupacu hewan ini berderap dengan marah. Sebelum aku pergi, kubalikkan tubuhku menghadapnya. “Aku takkan pernah menemuimu lagi. Demi kasih Allah, takkan pernah!”


Dia bergeming di tempatnya. Kudaku melangkah dalam kesunyian, karena seakan-akan malam tak berhasrat untuk bicara. Aku tak bisa mendengar suara jangkrik muda, atau cicitan tikus dan aliran air sungai Ravi dengan jernih. Pikiranku datang dan pergi, namun bersikeras untuk tak kembali. Sepanjang perjalanan, aku menangis dan terisak sendirian di atas kuda. Kututup wajahku dengan cadar, lalu bibirku berdarah karena kutarik bagian itu dengan gigiku yang putih. Ketika beberapa langkah mencapai pekarangan rumah, aku turun dari kuda, takut kebisingan ini membuat Arzani terjaga dari tidurnya. Kubimbing kudaku dalam langkah yang terhuyung-huyung menuju istal. Saat kakiku menjejakkan rumput basah, dua orang perempuan melangkah dari balik bayang-bayang. Aku memicingkan mata, kuseka air mataku agar tak kentara. Itu Jahanara, dan dayang ibunya, Satti Khanum.


Dia melakukan konish. “Assalamu’alaikum, Bibi.”


“Waalaikumussalam, Jahanara. Apa yang kau lakukan di sini?”


Dia melepaskan cadarnya, tersenyum indah. “Aku mengunjungi Sultan Begam dan Arzani. Kudengar dia kesepian, jadi aku datang kemari.”


“Ah,” tanggapku padanya. Di usia yang amat muda, Jahanara telah merengkuh seluruh zenana milik ayahnya. Dia adalah wanita paling berkuasa dalam kesultanan, dengan kekayaan yang tiada bandingnya, dan kecantikan luar biasa. Namun sayangnya, aku mendengar bahwa seluruh putri Shah Jahan takkan diperbolehkan untuk menikah. “Dia anak yang ceria, Jahanara. Dan terima kasih telah berkunjung.”


Dia berlalu untuk pergi. Ketika jarak antara kami berdua hampir saja terentang jauh, dia berbalik padaku. “Maafkan aku mengatakan ini, Bibi.” Dan aku berbalik. Di wajahnya, tergurat sesuatu yang telah ia tahankan. Dia kemari bukan untuk Sultan Begam, namun untuk hal yang lain. “Apakah …” Dia berdeham. “Apakah ayahku mengirimkan sesuatu pada Bibi?”


Aku mengernyit, ketidaksukaan merajai hatiku. Apa yang ingin anak ini ketahui? “Apa kau mendengar sesuatu yang tak pantas, Jahanara? Jika iya, sebaiknya kau tak perlu memerdulikannya. Kau Begam Sahib, dan kau punya tanggung jawab yang besar.”


Dia merunduk. “Aku tahu itu. Dan maafkan aku, Bibi. Jika Ayah memang mengirimkan sesuatu, entah dalam bentuk apapun itu, akan lebih baik jika Bibi menolaknya. Takkan ada ruang untuk Bibi di zenana kesultanan. Ibu telah berkata padaku, bahwa takkan ada istri yang lebih dicintai Ayah kami setelah kepergiannya.”


Aku menatapnya tajam-tajam. Jahanara pasti telah tahu tentang hal ini, dan dia, dengan pongahnya, berdiri untuk menyatakan prestise dan statusnya di zenana kesultanan. Teramat lancang bagi seorang bocah untuk berkata-kata di depan bibinya. “Apa yang kau pikirkan, Jahanara? Apa kau pikir aku amat berhasrat pada ayahmu? Pikirkan baik-baik. Aku tidak menginginkan sebutir pun batu rubi atau berkahnya. Dan kau harusnya tahu itu, sebab sudah terlalu lama aku terasingkan. Lancang sekali kau bicara padaku, seolah-olah berkata bahwa kau lebih baik daripada aku. Aku pun telah mendengar bahwa Shah Jahan teramat mencintaimu, dan timbul pula gosip bahwa kalian berdua terjebak dalam hubungan tak pantas.”


“Itu tidak benar,” gerutunya. “Seseorang telah menyebarkannya.”


Satti Khanum menggiring sang Putri itu untuk pergi. “Kita harus kembali, Putri. Sultan sudah menunggu.”


“Dengarkan dayangmu bicara, Jahanara,” kataku padanya.


“Perhatikan baik-baik keadaan kalian di sini, Bibi.” Dia berjalan sembari memasang cadarnya. Rona telah membakar seluruh eksperesi dalam raut wajah Jahanara. Dia telah salah jika berpikir aku akan mengambil ayahnya untuk menjadi suamiku. Dan dia telah amat tercela dalam pandanganku sebab tak tahu malu dengan mengata-ngatai bibinya sendiri. “Arzani mungkin akan membutuhkanku suatu saat nanti. Dan jika memang begitu, datanglah ke zenana sebagai seorang sepupu, bukan saudara tiri. Karena bisa saja aku akan mengatur sebuah pernikahan untuknya suatu hari nanti.”


Aku menyeringai. “Kupikir aku akan membutuhkan itu, Jahanara. Terima kasih.”


Satti Khanum menggiring Jahanara untuk menaiki sebuah tandu, lalu empat orang pria mengusungnya amat lembut. Aku tak memeriksa apakah ia tengah berjalan dan menjauh pergi, karena tatapanku terpancang pada rumah. Kuda ini telah menunggu terlalu lama untuk ditambatkan di istal, jadi kuletakkan hewan tungganganku dan melesat menuju rumah.


Rokku menyapu lantai, terseret oleh kakiku yang gontai. Ibu duduk di tumpukan bantal, menyeruput secangkir chai bersama Nazeer Khan. Mereka tertawa, sesekali berbisik penuh rahasia. Aku mendekat dengan hati-hati. Surat Ibu berada di tanganku, kukepal dengan geram. Ketika aku mendekat, kuletakkan surat itu dengan hati-hati.


“Apakah pantas untuk mengirimkan surat ini pada Jafar?”


Tawa mereka meredup, tatapan Ibu menjelma awas. Diambilnya surat itu, lalu diletakkannya kembali sembarangan. “Aku telah mengatakan kebenaran itu padanya.”


“Kebenaran macam apa?” tanyaku setengah berteriak. Kini, aku menangis di hadapannya. “Apa Ibu pernah berpikir akibatnya? Dia hampir mati karena surat ini. Apakah Allah suka pada perbuatan ini? Apa yang telah kami lakukan? Aku hanya mencintainya dan itu tidaklah sulit.”


“Kau seorang Putri, Ladli. Dan tak pantas apabila …”


“Aku Begam biasa! Ayahku Ali Quli Istalju!” selaku. Kini, teriakan memadati rumah. Aku melihat Arzani datang dan mengintip dari balik tirai berkisi-kisi. Tak seorang pun bicara ketika aku terisak di hadapan mereka, jadi kulanjutkan kata-kataku di tengah tangisanku yang menjadi-jadi. “Jafar adalah pria yang jujur, baik serta santun. Tiada cela dalam dirinya, sebab hidupnya bersusah dan penuh penderitaan sejak awal. Dia telah ditempah sedemikian rupa menjadi lelaki dengan otak. Aku telah …” Kududukkan diriku di sana, jatuh di atas karpet. “Aku telah menunggu hal ini sekian lama. Aku masih teramat muda ketika Shahryar meninggal, dan kini, dengan teramat pilu, aku telah menemukan gantinya. Demi kasih Allah, Bu, kasihanilah putrimu ini. Kasihanilah cintanya yang sekarat. Kasihanilah dirinya yang meratap, sebab tak ada kehampaan yang lebih buruk daripada kehilangan cinta.”


Ibu mengoreksi kalimatku dengan baik. Dia mengambil chai-nya, menyeruputnya pelan-pelan. “Dengarkan aku, Ladli. Aku tak pernah mengharapkan apapun darimu. Kau telah melahirkan Arzani dan itu sudah cukup. Pada mulanya, kupikir akan lebih baik jika seorang anak laki-laki yang lahir, namun kau lebih memilih jika seorang perempuanlah yang bersarang di rahimmu. Aku tak mengerti pada mulanya, dan sadar kemudian, bahwa jika anak laki-laki yang lahir, pasti Shah Jahan akan membunuhnya.” Dia berusaha mendapat perhatianku, tapi yang kulakukan hanyalah menangis. “Maka, aku tak ingin menghalangi kebahagiaanmu. Bukan maksudku menyentakkan sinyal pada Jafar agar ia pergi darimu. Hanya saja, aku tak siap pada kenyataan ini.”


“Pikirkan kebahagiaanku. Aku telah menderita terlalu lama. Kasih Allah datang padaku sekarang. Aku melihat cinta Allah dalam diri Jafar. Aku tak pernah meminta apapun selain kebahagiaan ini, yang telah kutemukan melalui jalanku sendiri.” Aku meratap di hadapannya. “Kumohon, perbaiki segalanya, Bu.”


Dia menggeleng, kekeraskepalaannya menjadi-jadi. “Tidak, Ladli.”


Kemudian, aku pergi. Aku telah putus asa pada kejadian ini, tak tahu apa yang terjadi kemudian. Ibu telah bersikukuh untuk menghancurkan segalanya tentang ini, dan ia akan tetap bertekad sampai dirinya meninggal di atas ranjang. Kakiku melangkah ke atas, gemetar tak karuan. Air mata telah membuat kepalaku berputar-putar, dan aku hampir mati rasa kerenanya. Ketika semua ini berlalu, kurasakan sakit datang di perutku, lalu mual menyusul. Aku tak berhasrat pada apapun, tak ingin makan sesuap nasi atau khichri dari atas piring. Mulanya kupikir aku sakit, namun kemudian aku sadar dengan lambat, bahwa aku hamil.[]


 

__ADS_1


 


__ADS_2