
1857
Dua orang Inggris melenggang di jalan setapak desa. Mereka mengetuk-ngetuk rumah, menunggu jawaban, kadang kala harus mendorbaknya dengan paksa. Orang Inggris ini menggunakan jas ketat, kerah berbuku-buku, sepatu bot tinggi, serta senapan laras panjang yang digantungkan di bahu kiri. Mereka mengamati satu dua tanaman, menghirupnya, lalu kembali mengetuk rumah warga. Tapi, tak ada jawaban. Orang-orang telah pergi, dan mereka hanya sekadar melakukan evakuasi. Mereka kembali berjalan, kini dihadapkan pada sebuah tempat yang hampir tak layak huni. Rumah-rumah telah hancur, beberapa rumah dindingnya telah mengelupas. Jendela kayu menggantung di atas taman yang telah berubah menjadi semak, lalu rubuh ke tanah. Orang Inggris itu memasang masa awas, lalu berjalan pelan-pelan ke utara.
Kesultanan Mughal telah runtuh! Secara berurutan, tanah Lahore ini telah dikuasai oleh kekuatan yang berbeda. Orang-orang Afgan, orang-orang Sikh, dan pada akhirnya, orang Inggris menguasai seluruh anak benua India. Mereka telah menginvasi seluruh negeri, mengasingkan Sultan Mughal terakhir, Bahadur Shah Zafar ke Myanmar bersama seluruh anak dan istrinya. Kini, Hindustant adalah negara persemakmuran Inggris. Ratu Victoria di London telah memerintah sebagai Ratu dengan kerajaan terluas di seluruh dunia. Dan Inggris, yang awalnya hanyalah sebuah pulau dengan komoditas wol, berubah menjadi negeri adidaya di Eropa.
Dua orang Inggris itu melewati semak belukar, mencabut belati dari pinggang, dan mengempas-hempaskan benda itu ke semak tajam. Ketika mereka selesai, sebuah tempat dari batu pasir merah terpancang indah. Di sekelilingnya, taman-taman hijau membentuk jalan setapak, walau kondisinya amat memprihatinkan. Seorang dari mereka lari kegirangan ketika melihat pohon apel berbuah di tepi bangunan.
“Jangan makan itu! Kau tak tahu apakah itu beracun atau tidak,” teriak seorang lagi.
Tapi, orang Inggris itu memetiknya, memuaskan hasrat lapar yang memanggil-manggil di tubuhnya. Dia menggigit daging buah, hingga air merembes dari mulutnya yang kering. Dia terus memanjat, memetik lagi, lalu duduk bergantung di atas dahan kuat.
“Kemarilah. Ini tak apa,” katanya sambil terus makan.
“Lupakan itu. Kita harus kembali ke pantai minggu ini. Kita masih harus memerika tujuh desa lagi. Kau akan ketinggalan kapal di Goa nantinya.”
Dia turun, lalu sepatu botnya yang hitam menghantam bumi. “Tidak. Mereka akan menunggu. Selain itu, kau tahu apa itu?” Dia menunjuk bangunan dari batu pasir merah itu, memandanginya seolah-olah pernah melihat, entah di mana. Orang itu melenggang, meninggalkan temannya. Dia memasuki pilar melengkung, berputar-putar di sekelilingnya. Mereka sering menyaksikan bangunan seperti ini di seluruh Hindustant. Tapi mereka tak tahu bahwa sebuah tempat megah telah berdiri di bekas desa Shahdara. Orang itu mendekat ke sarkofagus dari marmer. Di atas sarkofagus, terdapat tulisan Persia. Dia mengayunkan tangan untuk memanggil temannya, lalu bertanya. “Apa yang tertulis di sana?”
__ADS_1
“Di sini terbaring Nuruddin Muhammad Jahangir. Hanya Allah yang berkuasa.”
“Siapa dia?”
“Seorang Sultan, jika aku tak salah. Dia pernah berhubungan dengan British East India Company sebelumnya. Tapi, aku tak tahu banyak. Seorang duta Inggris pernah kemari saat ia berkuasa. Namanya …” Dia mengingat-ingat, mengadah ke langit-langit, kemudian menjentikkan jari. “Ah, Sir Thomas Roe.”
“Ah, Roe, ya?” Yang satunya lagi mengangguk. “Aku pernah mendengarnya. Ada satu lagi di sana.” Dia menunjuk ke sebelah bangunan. Mereka kembali berjalan melalui taman, melangkahi pagar seenaknya, lalu menyurup ke dalam makam di sana. Pilar melengkung, hiasan arsitektur yang tak mereka mengerti, semuanya terasa amat familiar dengan makam sebelumnya. Hiasannya hampir sama, namun ketika mereka mendekat, ada dua sarkofagus di sana. “Apa yang tertulis di sini?”
Temannya menyipit. “Di sini terbaring Nur Jahan Begam. Hanya Allah yang berkuasa.”
“Siapa dia?”
Yang satunya lagi tertawa. “Jangan bercanda. Wanita tak punya suara di balik cadar.”
Pria tadi mengangkat bahu. “Aku tak tahu. Mungkin itu hanya gosip.”
Mereka duduk di atas sarkofagus, bersikap kurang ajar pada jasad yang terbujur di bawahnya. Mereka memandang sekeliling, namun tak ada hiasan yang dapat dicuri di sini. Mereka telah mendengar bahwa makam di Agra, atau yang disebut Taj Mahal memiliki hiasan bagai kemerlip bintang. Orang-orang telah menjarah banyak perhiasan di sana, tapi di sini, tak ada apapun kecuali puing desa yang ditelantarkan.
__ADS_1
“Kita melupakan yang satu ini,” kata salah satu dari mereka, yang sedari tadi lebih banyak bicara, namun buta tulisan Persia. “Lihat, makamnya lebih kecil. Siapa ini?”
Temannya mendesah, lalu berjongkok. “Di sini terbaring Ladli Begam. Hanya Allah yang berkuasa. Kita harus pergi. Aku lapar dan aku ingin sesuatu untuk disantap,” gerutunya. Dia mengangkat senapan, membidiknya ke depan. “Kita harus berburu. Kudengar hutan di sini memiliki nilgau dan kijang.”
“Kau ingin makan nilgau?”
“Kenapa?”
“Itu menjijikkan.”
“Tak ada salahnya mencoba.”
Mereka bergerak lambat sambil menepuk-nepuk bagian belakang yang berdebu. Makam ini sendiri lebih mirip tempat usang yang tak diurus. Mereka merinding sendirian ketika berdiam di sana. Saat seorang dari mereka menepuk bagian belakang di depan makam, dia memanggil temannya lagi. “Hei, kita menduduki sesuatu tadi.” Orang itu mengembus pumpunan debu yang menumpuk, lalu temannya mendekat.“Apa yang tertulis di sini?”
“Di kuburan orang asing yang malang ini, biarkan tak ada lampu atau mawar. Biarkan tak ada sayap kupu-kupu juga nyanyian bulbul.”[]
__ADS_1