Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB VII : KEYAKINAN


__ADS_3

“Wazir Khan datang berkunjung, Putri.”


Aku tersentak dari dipan, bangkit untuk mencari-cari Nazeer Khan di sekitar kamarku. Dia berdiri di balik tirai. “Apa dia membawa Jafar bersamanya?” Aku menunggunya menjawab, tapi dia tak mengangguk jua menggeleng. Namun, Nazeer menatapku dengan perasaan yakin, sesuatu yang telah menjawab hasratku tanpa diucapkan dalam bentuk kata-kata.


Lama aku mengerti. Dan saat keyakinan diriku ditimpalkan oleh sebuah senyuman dari bibirnya, aku berlari untuk mengambil kerudung dan cadar. Kuoleskan kohl di sekitar mataku, lalu aku berlari menuju aula tempat pertemuan. Tabir telah dibeberkan, menggantung di antara pilar dan permukaan lantai. Ibu duduk di bibir tirai, dengan cadar tebal dari sutra kesukaannya. Tak jauh di depan, Wazir Khan duduk dengan patuh. Sesekali, tangannya akan menggapai gelas keramik berisi chai atau menggaruk-garuk janggutnya yang putih.


Wazir Khan telah terlampau tua untuk menjadi seorang subahdar, namun kepiawiannya dalam tata negara serta hukum islam Mughal telah mengantarkan peruntungan lebih baik dari usianya sendiri. Aku bertanya-tanya kenapa Shah Jahan masih memerhatikan orang sepertinya. Tapi kini aku tahu bahwa Wazir Khan bukan orang sembarangan. Lelaki itu telah berbicara terlalu banyak, dengan kosa kata sempurna dan teratur tanpa menyinggung perasaan. Namun maknanya jelas. Untuk kali pertama, aku melihat ibuku lebih banyak mendengar daripada bicara.


Di belakang Wazir Khan, duduklah priaku—Jafar Husein Beg. Aku menatapnya dengan mata yang bahagia. Jantungku tengah berdentum-dentum layaknya dholak para pemusik. Napasku berat, dan aku tak tahu harus mengatur kosa apa ketika mungkin saja aku akan bicara. Pandanganku terpaku padanya, kendati sebanyak apapun aku mencoba mengalihkan mata. Dia memang mirip Shah Jahan, terlalu mirip. Dari balik tabir, aku bahkan tak dapat membedakan keduanya. Hanya saja, hidung Jafar lebih lurus dari hidung Shah Jahan yang bengkok bagai paruh burung. Selain itu, mata Jafar berwarna cokelat, sedangkan Shah Jahan berwarna hitam legam. Sedikit saja kekeliruan, aku akan menganggapnya Sultan yang kucintai.


Aku menggemerincingkan gelang dari balik tirai. Ibuku melirikku, tersenyum dan berkata-kata. “Putriku, Wazir Khan. Ladli.”


Wazir Khan melakukan konish di tempat ia duduk. “Salam hormat, Putri. Semoga Allah memberikan kesehatan pada Anda. Apakah udara Lahore membuat Anda tak nyaman?”


Aku tersenyum padanya. “Sudah tiga tahun, Wazir Khan. Dan kau baru bertanya soal udara padaku sekarang?”


Dia tertawa, amat ranum, tapi bibirnya tersembunyi di balik janggut yang tebal. Aku tak memerhatikan Wazir Khan, tapi pria yang sedang duduk di belakangnya. Jafar tak melirikku, tapi aku melihat kepalanya mendangak menghadap tabir ingin tahu. Seolah-olah dia terkejut dan menyadari sesuatu. Aku melihat dahinya mengernyit, dan bola matanya berputar-putar memikirkan sesuatu. Harusnya dia ingat. Dia pasti ingat. Tak ada wanita lain di dunia ini yang bernama Ladli. Lagi pula, aku telah mengundangnya ke griya kami. Dan dia telah datang.


Wazir Khan mengerling pada Jafar. “Sekretarisku, Yang Mulia, Jafar Husein.”


Jafar melakukan konish. “Keselamatan bagi Anda, Yang Mulia. Semoga Allah menganugerahi umur panjang dan hidup berarti.”


Ibu mengangguk dua kali. “Hidupku memang berarti, Tuan Jafar. Aku telah melewati masa-masa yang tak dapat dipikul oleh tiga, empat, lima orang perempuan. Allah telah memberikan begitu banyak pengajaran dan aku telah memungutnya. Walaupun mungkin aku baru melakukannya saat itu semua telah berlalu dan terlambat.” Ibuku tertawa. “Aku bukan tipe orang yang mudah menyesal, Jafar. Tapi berada di desamu telah membuatku murah hati.”


“Keadaan hidup telah menuntun kita untuk menjadi lebih baik, Yang Mulia. Kekerasan yang kita torehkan di belakang hari akan kita kenang sebagai sebuah dosa. Dan hari-hari yang datang akan kita pergunakan untuk memperbaiki segalanya dan menyembuhkan luka.”


“Dia pemuda yang baik, Wazir Khan. Dari mana kau berasal, Jafar?”


“Multan, Yang Mulia.”


“Apakah ayahmu menteri atau ningrat?”


“Ayah saya pelarian Persia, Yang Mulia. Kami pindah dari Qandahar setelah Sultan Jahangir dan Shah Abbas melakukan peperangan. Ayah saya meninggal di Multan, dan saya menjadi sekretaris Wazir Khan melalui ujian negara.”


Ibu mengangkat dagunya. Akankah dia menyukai pria ini? Aku bertanya-tanya. “Oh? Kita punya persamaan dalam hal masa lalu, Jafar. Ayah dan Ibuku adalah pelarian Persia.” Ibu mengambil gelang emasnya, menyodorkannya pada Jafar. “Ambil, Jafar. Ambil. Kau takkan menolak pemberian dari Sultan Begam, bukan?”


Jadi, dia mengambilnya, terhuyung-huyung ke depan, mengambil gelangnya dengan amat berat hati, dan mundur ke belakang dengan hati-hati pula. Saat dia terlalu dekat, hampir saja aku bisa melihat wajahnya dari jarak beberapa hasta sekali lagi.


“Berapa umurmu, Jafar?”


Dia menatap wajah Ibu kikuk. “Dua puluh lima musim semi, Yang Mulia.”


“Dan belum menikah?” Ibu menelengkan kepalanya ke kanan.


“Saya harus terus fokus pada pekerjaan ini sampai saya benar-benar yakin bahwa saya siap menikah. Wanita dan anak-anak akan menuntut perhatian terlalu banyak, jadi saya tak mau terlalu buru-buru pada dua hal ini.”


Aku tersentak. Kami seumuran. Dia dilahirkan di tahun yang sama denganku, dan aku tak perlu lagi menerka-nerka berapa jarak yang terentang di antara usia kami berdua. Dua puluh lima musim semi, dan belum menikah pula! Hasrat cintaku bangkit dan terbakar, dibawakan oleh harapan yang tergesa-gesa. Aku berperasaan seolah-olah aku adalah gadis muda belia dengan keperawanan sempurna. Namun aku tak sadar bahwa diriku telah menjanda. Aku memiliki sejuta impian sebagai seorang gadis, tapi terkurung oleh kewajiban serta kata tabu dari balik jeruji status janda.


“Kalian seumuran, Ladli.” Ibu menoleh ke belakang, lalu aku mengangguk tanpa berkata-kata. Dia menatap Wazir Khan kembali dan berbicara padanya. “Akan ada peringatan ulang tahunku dua hari lagi, Wazir Khan. Kuharap kau sudi untuk datang kemari sekali lagi. Aku bertanya dalam diri siapa lagi yang sudi mendatangi Janda Sultan kesepian. Tak ada yang sudi menghormati orang-orang buangan, benarkan? Para tahanan politik biasanya menghabisi hidup mereka dengan cara-cara paling rendah. Aku tak ingin mati sebagai orang miskin, Wazir Khan. Aku adalah Sultan  Begam. Suamiku adalah penguasa India.”


“Saya akan datang, Yang Mulia. Sebuah kehormatan untuk menghadiri jamuan dari Nur Jahan Sultan Begam.” Wazir Khan meminum chai miliknya, menimbulkan suara.

__ADS_1


***


Kami telah menyewa beberapa pekerja untuk mendekorasi rumah. Ketika tahu bahwa Sultan Begam akan mengadakan peringatan ulang tahun, para tetangga berkasak kusuk, lalu datang memadati pintu menawarkan bantuan. Tentu saja hal ini disambut baik, karena kami tak yakin dapat menyelesaikan pesta ini berempat orang saja. Selama dua hari, rumah ini selalu diributi oleh dentang-dentang palu, periuk, kuali, suara teriakan para pekerja, kayu yang dipukul-pukul dan dihaluskan, pukulan dari karpet tebal Persia, gelaran sutra dan beludru, suara air yang tumpah atau bergemericik, derak kereta kuda atau lembu jantan, belum lagi suara hewan-hewan yang disembelih atau dibawa pergi. Aku kerap menutup hidung saat bau anyir darah menusuk-nusuk hidungku, atau ketika kepulan debu membentuk pumpunan di sudut-sudut rumah. Cadar tak pernah lepas dari wajah, sebab ada terlalu banyak pria, dan terlalu banyak debu untuk dihadapi. Para wanita Hindu dan Muslim mencuci peralatan memasak, berkumpul di satu kuali besar untuk memasak kari ayam dan daging domba. Aku tersenyum pada keakraban mereka ini, yang kerap kuikuti saat waktu memungkinkan bagiku untuk bergabung dengan mereka. Saat aku bersama semua orang-orang ini, merasakan kenikmatan dan kelelahan menjadi orang biasa, memercikkan keringat yang jatuh serta menetes, aku sadar bahwa tertawa dan canda amat berarti di tengah-tengah para wanita susah ini. Mungkin itulah yang telah membuat mereka hidup, dan itu pulalah yang membuat mereka teramat dekat kendati berbeda keyakinan.


Buah-buahan dalam jumlah besar dibawa dalam kereta kuda, diturunkan hati-hati oleh anak-anak desa. Pisang raja, semangka, labu, apel hutan, pir, plum, nenas, delima, jeruk, buah naga, anggur, melon, jambu air, jambu batu, dan ada begitu banyak sayur-sayuran segar seperti brokoli, sawi, wortel, lobak, bayam, terong, ketimun, tomat, kacang-kacangan, serta rempah seperti merica, kunyit, pala, cengkih, lada, dan kayu manis. Nazeer Khan memeriksa bahan-bahan ini dengan cermat ketika para anak-anak meletakkannya di mana ia perintahkan.


Tak jauh darinya, Ibu memerhatikan saat lampu-lampu minyak yang dibingkai dalam tempat berukir digantung. Cahayanya dimainkan dalam bentuk beberapa gambar, terpantul di lantai atau dinding. Lalu, karpet Persia digelar di seluruh rumah dengan warna senada. Aku memeriksa sampai benar-benar tak ada bagian rumah yang tak tetutupi sama sekali. Kemudian, tirai-tirai dipasang di setiap batas relung. Warnanya beraneka, cerah indah tanpa cela. Gadis-gadis remaja merangkai sulur-sulur melati dan mawar dan aster, melilitkannya di pohon-pohon rambutan, mangga, serta lampu-lampu taman. Lampu-lampu minyak dibariskan di sepanjang jalan berbatu, dinyalakan saat malam agar tak satu pun bagian rumah ini terengkuh kegelapan.


Ketika rembang petang, seluruh hidangan disiapkan di atas meja panjang. Biryani, burfi, samosa, paneer, khumbi, chaat, rasagola, assam, poori, idli, vada, bondai, baiji, paan, chappatis, chai, ghee, jelebi, nan, dan ada bergentong-gentong anggur fermentasi di sana. Para wanita mulai menghias diri. Pasta-pasta henna membanjiri kulit kami, dan aku merasa bahwa ini bagaikan pesta perkawinan. Di punggung tanganku, henna telah diukir membentuk alur bunga mawar, dan di baliknya, di telapak, seekor merak dengan ekor memanjat ke bagian lengan melenggang indah.


Aku telah mengatur tata rias ini sejak sejam lalu. Setelah orang-orang beriman dipanggil untuk sujud dalam tikar sajadah mereka dan berkata “maha suci Allah Tuhan yang maha tinggi lagi maha terpuji,” para undangan mulai berduyun-duyun dalam pesta meriah. Aku memerhatikan segalanya dari balkon, menunggu-nunggu, kapan kiranya Jafar Husein tiba dengan rombongan Wazir Khan. Seiring dengan berlalunya pesta, aku merasa hampa namun berharap-harap. Ketika dholak dan sehnai bedengung-dengung seirama di bawah, sedangkan seorang penyanyi melantunkan syair cinta dan harapan, aku menangisi diri. Kini, aku harus menerima bahwa cinta serta harapan kembali berlabuh dalam diriku. Aku berlari ke kamar untuk membenarkan hiasan. Sederet kohl bersinar-sinar di sekitar alisku, lalu tikka dari mutiara digantungkan di kepala. Aku mengolesi bibir dengan cairan buah murbei, yang membuat merahnya merekah dalam rona sempurna. Henna milikku telah mengering, tapi warnanya amat jelas tanpa cela. Aku mengambil kerudung dan cadar yang seirama dengan blus putih polos dan rok berbuku-buku dari sutra. Ketika aku siap, aku menyadari, bahwa inilah kali pertama aku berdandan serta merta sepenuh hati. Setidaknya, pertama kali setelah keinginanku untuk menarik perhatian Shah Jahan di festival pasar malam.


“Dia datang,” kata Nazeer Khan mengagetkan. Dia berdiri di ambang pintu, memerhatikan diriku untuk menatapnya.


Aku menatapnya saat merapikan cadar. “Katakan padanya untuk menemuiku di sudut tergelap dari taman, Nazeer.”


“Apa? Kau gila, Putri.” Dia masuk ke dalam untuk berdiri di hadapanku. “Ini rumahmu, dan kau seorang Putri. Bagaimana bisa kau mengajak Jafar untuk bertemu di bawah payung kegelapan. Pikirkan risikonya. Pikirkan bagaimana jika ibumu tahu.”


“Dia tidak akan tahu jika seseorang tak membocorkannya,” kataku sambil memakai sepatu sutra. “Aku berdandan untuk Jafar. Dan itu sudah lama sekali sejak Shah Jahan, Nazeer.” Kugenggam tangannya yang keriput, memohon belas kasihannya. “Kumohon. Biarkan Janda Pangeran ini bersuka untuk satu malam. Aku sudah lama mencari peruntunganku. Dan kini, Jafar telah membawanya secara langsung. Aku mencintainya sejak satu kali pandang. Dan betapa aku ingin melihatnya terlalu sering sebab perasaan ini bermain-main di hatiku.”


“Bagaimana bisa kau mencintainya? Kau baru memandangnya sekali, Putri.”


“Allah punya rencana, Nazeer. Allah punya cinta untukku.”


Dia mendecak. “Dan apakah cinta itu Jafar?”


“Kita takkan tahu sebelum ada pembuktian. Turuti kata-kataku. Bawa dia ke sudut taman tergelap, tempat pohon perdu bersemayam sendirian. Aku akan di sana beberapa menit lagi.”


Dia menggeleng tak percaya. Teramat sulit bagi kasim ini untuk mencerna. Tapi aku tak terlalu perduli, sebab cintaku adalah hal yang akan kucerna seorang diri. Aku telah mengatakannya dengan jelas, tanpa terpatah-patah, bahwa aku menginginkan Jafar Husein di antara lindungan kegelapan pohon perdu. Dan dia akan membawakannya kendati dia tak suka, sebab aku yang memerintahnya. Pertemuan seperti ini punya risiko, pasti. Aku akan dianggap amat tercela jika ketahuan menemuinya seorang diri, dengan aku yang memanggilnya pula. Ibu akan murka, dan aku tak dapat menerka amukan macam apa yang ia punya untuk ini. Tapi, kita bisa menerka kepala siapa yang akan digulirkan dari atas tiang eksekusi. Pasti kepala Jafar, sebab dia bukanlah keluarga Sultan. Nazeer mundur untuk memandangku sekali lagi, wajahnya dipenuhi kerut. Sesaat kupikir dia telah menua tiba-tiba, tapi itu adalah eksperesi sedih yang ia punya.


“Sebab ada cinta di dirinya, Nazeer. Cinta Allah.”


Aku menunggu Jafar di bawah pohon perdu sepuluh menit kemudian, seperti yang kujanjikan pada Nazeer. Di sudut taman ini, aku berhasil melindungi diri dari jamahan cahaya nakal. Pohon perdu telah menjanjikan perlindungan dari balik batangnya yang kokoh, serta dari bayangannya yang gelap mencekam. Selama aku menunggu, selama itu pulalah aku berdoa pada Allah. Aku berdoa agar tak seorang pun tahu bahwa Ladli Begam tengah menunggu kekasih rahasianya di balik batang cokelat sebuah pohon. Dari sini, suasana gegap gempita. Para pekerja dapur sedang memindahkan hidangan ke aula depan untuk dijamukan pada para hadirin pesta. Suara penyanyi melengking, sarat di udara malam. Aku memeluk diriku sendiri, menyadari ketakutan. Sudah lama sekali sejak cinta ada, dan kini dia datang dengan cara yang tak terlalu benar. Shahryar telah membuatku berpikir bahwa seorang Pangeran Kerajaan sama sekali tak semenarik gelar mereka. Dan Shah Jahan adalah pembuktiannya. Bahwa bahkan seorang Pangeran ningrat sekalipun takkan lepas dari kungkungan tradisi serta cinta wanitanya, istrinya, kekasihnya, pada akhirnya, ibu dari anak-anaknya. Aku bergumul dengan naluriku. Apakah Jafar bukan pelampiasan? Sebab dia mirip, teramat mirip dengan Shah Jahan. Aku jatuh cinta pada pesona itu, bukan pada sikap jujur dan nyamannya sejak awal, walau hal itu adalah alasanku kemudian. Tapi, aku mulai takut bahwa aku atau dia bisa saja meninggalkan satu sama lain karena sebuah alasan. Ia adalah pejabat negara, kendati seorang sekretaris, dan dia bisa pindah ke provinsi mana saja sesuai perintah Sultannya.


Aku menggigit bibir bawahku. Telapak tanganku basah oleh keringat. Kurasakan hawa lembab di blus sutraku yang dikibar-kibarkan oleh angin malam, lalu merambat ke rambut yang digerai di balik kerudung. Aku mendesah, apakah ini cara yang benar? Ketika aku menimbang-nimbang, aku melihat dua orang berjalan dari kejauhan. Mereka telah bergerak dari kumpulan berkah cahaya menuju kegelapan. Aku mengamatinya dengan amat gelisah, dan tahu bahwa itu adalah Nazeer Khan dan Jafar. Dia makai turban merah, dengan tunik putih dan sepatu sutra seirama. Ketika dia berhenti, pandangannya menunduk. Sesekali, dia memerhatikan seluruh pakaianku, lalu menampik dirinya sendiri untuk melihat lebih jauh.


“Tinggalkan kami berdua, Nazeer,” kataku dalam deru napas yang panas.


“Tapi, Putri.”


“Tinggalkan kami sebab aku memerintahkannya.”


Maka, Nazeer pergi dengan amat bimbang. Dia meninggalkan kekasihku sendirian, memancang tegak di hadapanku bagai pohon kukuh. Aku mengamatinya dengan jeli, merasa bahwa dadaku akan melesak keluar dari balik tulang iga. Tapi, Jafar tak jua bicara. Lama kebisuan merentang di antara kami berdua, hingga aku merasa sedang tak berhadapan dengan siapa-siapa. Sesekali, dua orang lewat tak jauh dari kami, tapi mereka bahkan tak memerhatikan.


“Ada apa, Tuan Jafar?” kataku padanya, seolah-olah dia amat jauh.


“Maafkan saya, Putri. Saya tak tahu itu Anda.” Dia menjawab seadanya, seolah-olah kata-katanya di lain hari amat tercela. “Saya tak tahu bahwa Anda adalah anak Sultan Begam. Maafkan kelancangan saya untuk bicara lebih dulu di sungai Ravi.”


Aku tertawa. Kulepas cadar agar ia leluasa memandangi wajahku yang dirias khusus untuknya. “Dan apakah itu permasalahan, Jafar? Kami adalah keluarga Sultan yang terbuang. Kau telah mendengar cerita bahwa Sultanmu telah mengasingkan ibu tirinya di Lahore, bukan? Lagi pula, ayahku bukanlah Sultan. Ayahku Ali Quli Istalju, seorang prajurit Persia. Kenapa kita harus mempermasalahkan kedudukan itu? Aku bukanlah Putri, Jafar. Aku hanya Begam biasa. Sebab tak ada darah ningrat dalam pembuluh nadiku.”


Dia mengangkat wajahnya ketika aku mengungkapkan hal itu. Wajahnya amat manis, dan aku mengutuk kegelapan ini sebab hal itu menghalangiku menjamah kenyamanannya dengan leluasa. “Apakah Engkau menikahi Pangeran Shahryar, Putri?”

__ADS_1


Aku mengangguk, air mukaku masam padanya. “Ya. Di masa lalu, aku adalah istrinya. Dia nashudani, kau tahu? Kupikir tak ada satu orang pun di kesultanan yang tak tahu bahwa suamiku dulu adalah nashudani.”


“Maafkan aku, Yang Mulia. Aku tak bermaksud.”


“Tidak, kumohon. Jangan ada kata maaf dari bibirmu untukku.” Aku menggenggam tangannya tiba-tiba. Dia memerhatikan hal ini, terkejut pada tindakanku, tapi dia tahu dirinya sendiri terjebak dalam perasaan yang sama, hingga enggan pula dilepaskannya cengkeraman tanganku. “Jangan panggil aku Putri atau Yang Mulia. Aku bukan Putri ningrat. Aku hanya Begam biasa, Jafar.”


“Ya, Ladli,” katanya pelan, tersenyum manis di ujungnya. “Bagaimana dengan itu?”


“Lebih baik. Apa kau keberatan ketika Nazeer Khan membawamu kemari?”


Dia menggeleng, mengangkat punggungnya agar tegak. “Tentu saja tidak. Aku takkan pernah punya jawaban untuk menolak panggilanmu. Saat dia berkata, di situ pulalah aku melesat bersamanya.”


“Demi kasih Allah, Jafar. Terima kasih.”


“Dan akan ada banyak kasih Allah padamu, Ladli.”


Aku mengernyit padanya. “Kasih macam apa?”


“Kau ingin kasih macam apa? Kau tahu Allah akan mengabulkan impian.”


“Bukan impian yang murahan, pastinya.”


Dia tertawa kecil. Di antara gegap gempita pesta, suara kami teredam oleh kebisingan yang mendominasi. Aku menatap wajahnya tak henti-henti, tertawa dan tersenyum berkali-kali karena kata-katanya amat manis di daun telingaku yang kecil. Malam ini, aku telah melangkahi dua hal. Pertama, aku membuka cadarku di depan lelaki asing. Dan kedua, aku telah menyentuhnya tiba-tiba bagai gadis nautch murahan. Aku bertanya-tanya di mana akal sehatku berada, tapi cinta telah membawaku melewati masa. Ingin aku memperingati jiwa, namun dayaku telah kosong oleh harapan akan kasihnya. Aku ingin dia berkata “aku mencintaimu.” Aku ingin kosa itu tak tertahan di dalam bibirnya, hingga aku dapat mendengarnya dengan amat baik dan yakin, bahwa tak ada keraguan dalam hatinya padaku, dan apakah dia mencintaiku atau tidak, aku harus tahu sekarang.


Dia menggenggam tanganku kini, dan aku merasa jantungku berdentum-dentum seirama. Tubuhku memanas, hingga aku merasa bahwa tubuhku kopong tanpa jiwa. “Berapa lama kau telah menunggu agar terbebas dari kutukan cinta, Ladli?”


“Lebih lama dari yang kau kira, Jafar,” jawabku. “Aku telah habis penantian untuk hal semacam ini. Telah bersusah-susah pula hidupku, dan aku merasa bahwa hidupku di masa lampau hambar tanpa rasa. Bagai berada di usus neraka.”


Dia mencengkeram tanganku lebih kuat, bahkan beberapa saat terama sakit. “Bukankah ada cintamu di masa lalu?”


“Sebatas pengabdian, dan pengabdian yang konyol pula.” Aku menangis di hadapannya. Bagai sinar keperakan, air itu merembes keluar dari pipiku untuk mengatakan pada Jafar betapa pedih hatiku tersiksa oleh perasaan dan kewajiban yang dibuat-buat. Dia menghapus air mataku, menyapu pipiku dengan lembut, dan saat itulah aku berkata. “Tidakkah kau tahu betapa aku ingin seseorang melakukannya untukku?”


“Aku telah melakukannya untukmu, Ladli.”


“Dan apakah kau akan melakukannya lagi ketika aku meminta?”


Dia menatapku, sebuah tatapan yang tenang, damai tanpa harus meminta. Dia tak meminta apapun dariku, tak mengharapkan sebuah jagir atau mansab dari Ibu. Sebab dia tahu bahwa tak bisa pula seseorang berharap banyak dari sang Sultan Begam. “Bukankah terlalu buru-buru untuk memulai ini, wahai wanita?”


Kulepaskan tangannya pelan-pelan dari wajahku, lalu kutatap wajahnya yang rupawan lagi tak bercela. “Bukan kita yang terburu-buru, sebab cintakulah yang datang terlalu cepat padamu.”


“Kita bukan pujangga, Ladli. Cinta macam apa yang engkau punya.”


“Cinta mana yang kau pilih dariku, Jafar? Aku akan memberikannya saat kau meminta. Apalah aku tanpa cinta? Dan kenapa pula kusembunyikan cinta ini darimu? Aku telah berdandan khusus untukmu, agar kau tahu bahwa aku telah berharap dan menanti, bahwa aku pun ingin kau mengerti tentang hasratku yang bergejolak murka ini. Betapa aku ingin mati karenanya, Jafar.”


Dia menghapus pipiku yang lembut dan halus. Ditelaahnya seluruh lekuk wajahku, dan dia sadar betapa aku mencintainya kini. Jafar telah melihat keyakinanku, tapi aku belum melihat secercah keteguhan di matanya yang jujur. Dia condong ke depan. Dikecupnya dahiku yang halus, dan betapa aku merasa bagai terbang di angkasa terbuka. Sudah berapa lama sejak, aku tak dapat mengingatnya, tak pernah mungkin, seorang pria melakukan ini padaku. Ayahku meninggal saat umurku dua tahun. Aku tak dapat mengingat apakah ia pernah menciumku atau tidak. Dan baik Shah Jahan atau Shahryar, keduanya tak memberikan apa-apa selain nista dan kepiluan. Maka, Jafar adalah yang pertama memulainya. Dia adalah lelaki biasa yang cintanya dapat kurasa. Aku tak perlu pengakuan itu darinya, sebab dia telah melakukannya dengan mencoba menarik diriku keluar dari mala dan lara.


“Kita akan bertemu lagi, Kekasihku,” katanya. “Aku harus kembali.”


“Atas izin Allah, Jafar. Atas izin Allah. Kembalilah padaku nanti.”


Dia pergi dari balik rengkuhan kegelapan, meninggalkanku sendirian dengan rasa sedih yang larut dalam cinta. Kebahagiaan datang bertubi-tubi, disusul perasaan dan kegelisahan muram dalam jiwa. Dalam diri, aku telah berkeyakinan bahwa dia akan memilikiku dengan cepat, dan kami akan menikah dengan suka cita. Tapi, aku melupakan satu hal kemudian, bahwa Janda Pangeran takkan pernah bisa menikah lagi.[]

__ADS_1


 


 


__ADS_2