
Kaki waktu telah membawaku lari dari dunia mimpi menuju masa-masa hampa tanpa penantian. Mimpi dan khayalan yang menawarkan penghidupan ramah dan menawan telah berubah menjadi neraka kenyataan tanpa belas kasihan. Bintang-bintang yang anggun telah menjelma menjadi titik-titik darah. Mimpi buruk telah berubah wujud sebagai hantu kenyataan. Aku telah tenggelam dalam samudera kesedihan. Lalu aku menggapai-gapai kebahagiaan dengan kikuk dan kehabisan napas.
Aku telah menua sempurna sebagai seorang Janda Pangeran kesepian, dan habis masa dalam keterasingan diri di Lahore. Jiwaku telah berkata pada diriku sendiri bahwa masa yang tersisa hanya kepiluan kosong. Yang takkan sirna dengan ratapan dan doa. Aku menatap wajahku di cermin berkali-kali, menatap kehampaan dan harapan yang terbingkai di atas air muka yang menua. Mengamati bagaimana gairah masa muda melayang dan hilang. Kutelaah keriput yang pelan-pelan menciptakan alur, mengukir duka serta nistanya dari dalam jiwa. Aku merasakannya di bawah kulit jariku dengan kesal. Tak tahu kepada siapa harus mengumpat.
Aku hampir nelangsa mati-matian berada di tanah ini. Tak ada siapapun kecuali ibu, Arzani dan Nazeer Khan. Hari-hari terasa amat berat dan lambat. Tanpa cinta atau romansa, seperti mereguk pedar tanpa gejolak aneka rasa. Apa-apaan itu? Cintalah yang menuntunku untuk terus hidup. Kini cinta itu berhenti membelai tubuhku yang indah dan melalang buana jauh-jauh. Aku patah arang pada asaku sendiri, terhadap cintaku yang suci dan juga terlarang. Aku telah mengutuk diriku sendiri. Menangis dan meratap. Menyesal dan berdoa. Tapi tetap tak ada yang berubah.
Di sini, hanya sedikit pengharapan yang ada. Hidup kami telah terasingkan. Baik secara harfiah atau kiasan. Kami sendiri memanglah orang-orang asing. Aku adalah orang asing. Ibuku adalah orang asing. Kami memiliki darah Persia dalam pembuluh nadi kami, tapi kami hidup di tanah Mughal India dalam naungan Sultan Shah Jahan. Orang-orang asing yang hidup secara terasing. Ironi sekali. Dan kampung halaman kami berada jauh, bermil-mil jaraknya dari tempatku menatap matahari yang merekah menantang.
Aku telah mendengar bahwa Khurram, yang mulai sekarang akan kupanggil dengan nama Shah Jahan, memadamkan pemberontakan di daerah selatan, tempat ia dulu merajalela sebagai Raja-Rajaan konyol dan bersembunyi saat ayahnya memanggilnya ke utara. Pemberontak Deccan dengan suku-suku dan kerajaan Golconda telah menggerogoti daerah perbatasan—padahal ia pernah datang ke sana sebagai Pangeran pengemis yang minta dikasihani setelah hampir mati dikejar-kejar sebagai seorang pembangkang.
Para pemberontak itu tidak pernah kuat. Namun merepotkan. Mereka akan terus bermunculan sebanyak apapun kesultanan merongrong mereka semua untuk pergi. Bandit-bandit sok mengumpulkan anak buah mereka sejumlah seribu orang dan datang dengan konyol untuk menantang kesultanan besar tempat mereka menggantungkan hidup. Mereka merampok dan menjarah. Percaya diri sekali melawan tentara kesultanan. Pada akhirnya, sang Sultan Shah Jahan sendiri lah yang turun ke sana. Pergi dengan pasukan dan tenda di luar Benteng Merah Agra. Deccan dan daerah sekitarnya mendidih. Koakan burung-burung ganas yang lapar pada bangkai telah berputar-putar dan sarat di udara.
Aku sedang berdiri di balkon rumah kami, sebuah griya mewah yang dibangun ibuku saat ia masih berkuasa di sisi Sultan Jahangir. Rumah ini adalah rumah terbesar di desa Shahdara, tempat kami kini menetap di dalam kota Lahore, terasingkan di lahan kecil di luar tembok benteng kota. Ibuku telah menyulap kota ini sebagai pernak-pernik miliknya sejak lama, yang bisa ia cicipi kenikmatannya kini. Tanahnya amat gembur. Saat pagi, aku melihat para wanita dengan kain sari mengangkat pisang raja di atas kepala mereka, atau semangka atau labu yang mereka letakkan di keranjang anyaman tertutup. Anak-anak memainkan serunai bambu di atas kerbau gempal yang bergemul di kubangan lumpur sungai Ravi, menyanyikan satu dua lagu kekanak-kanakan yang konyol sambil berlari setengah telanjang memakan apel hutan.
Arzani tumbuh sepenuhnya di tempat ini. Dia telah berkembang sebagai anak desa yang lincah. Hari-harinya telah habis dengan sungai dan ladang dan lumpur. Semua orang telah tahu, bahwa Sultan Begam dari Jahangir-lah yang menempati rumah besar di Shahdara. Bahwa cucunyalah yang sedang berlari dan tertawa di antara kerumunan anak-anak mereka. Yang kadang-kadang mencuri satu dua buah di ladang-ladang mereka. Bahwa anak sang Sultan Begam-lah si janda dari Pangeran Shahryar nashudani yang malang itu. Yang kadang-kadang membeli bumbu dapur di pasar. Tapi, tak seorang pun pernah menyinggung masalah itu. Atau sekadar pembicaraan gosip di kedai-kedai.
“Secangkir chai, Putri?” Nazeer Khan meletakkan secangkir chai di sisiku. Kulihat asap putih menggapai-gapai udara, lalu menghilang.
Aku mendesah, duduk di atas kursi dengan bantal beledu. Kubenamkan diriku dalam-dalam di lengan yang lemah. Gelangku bergemerincing, lalu kudapati bahwa matahari tengah berjuang naik ke lintasannya di orbit. Nazeer Khan adalah satu-satunya pelayan di sini, ditempatkan secara tak hormat oleh Shah Jahan guna melayani majikannya yang renta menunggu kematian. Aku terharu saat ia bersikeras bahwa hidup bersama kami tanpa digaji adalah sebuah kewajiban. “Sultan Jahangir telah menitipkan Sultan Begam bersama saya,” katanya ketika aku bertanya kenapa dirinya tak mengharapkan satu rupee pun dari kantong ibuku. Kendati kas kesultanan masih memberikan dana pensiun bagi ibu, yang memungkinkan baginya untuk merancang tempat ini menjadi lebih indah, hidup seperti ini tak menyenangkan. Satu rupee terbang, satu rupee yang lainnya datang. Ibu membangun taman-taman, sarai-sarai, pasar, dan memberi ratusan orang fakir makan setiap bulannya. Aku menatap diriku sendiri, mengasihani jiwaku yang akan mati tanpa romansa serta cinta.
Aku menyeruput chai milikku. “Berapa banyak gula yang kau masukkan kemari?”
“Dua sendok, Putri.” Nazeer Khan mengernyit. “Apakah terlalu manis?”
“Aku bahkan tak dapat membedakan apakah ini air hangat atau chai, Nazeer. Ambilkan gula untukku,” kataku padanya. Dia membungkuk dan pergi, namun aku menghentikan langkahnya saat ia akan menuruni tangga ke bawah. “Apakah Arzani sudah bangun?”
“Nona Arzani sudah pergi bermain, Putri.”
“Sepagi ini?” tanyaku tak percaya. Kutinggalkan tempatku duduk, dan aku melangkah cepat di anak tangga untuk turun. Arzani selalu pergi, tak tahu waktu, bahkan tak ingat apakah ia sudah makan atau belum. Dia akan kembali saat tubuhnya telah kotor atau seorang petani di sudut desa mengejar mereka sebab mencuri sebuah semangka. Dia seorang anak perempuan, cucu Sultan Begam. Dan itu sungguh tak pantas. Yah, kendati anak-anak perempuan di sini memang bertingkah macam laki-laki dengan memanjat dan berenang.
Ketika aku sampai di beranda, kulihat dia tak ada. Aku memanggil-manggil namanya di sekeliling rumah, berputar-putar di antara taman dan pepohonan. Dia tidak di sana, tapi jejaknya menandakan bahwa ia baru saja bermain di bawah pohon pepaya. Di batangnya tertoreh namanya dan nama teman-temannya, diukir dalam bahasa Hindi dan Persia. Aku memegangi alur tulisannya, tersenyum masam dan menangis bagai orang *****.
“Kenapa kau masih harus terus menangis, Nak?” Ibu berdiri di tepi daun pintu, berjongkok, lalu duduk. Wajahnya tampak segar, tapi semangatnya telah layu bagai bunga sekarat. “Kau sudah kehilangan segalanya sejak lama. Tidakkah cukup bagimu untuk membiarkan segalanya berlalu dan tenggelam?”
Kuseka mataku lambat. Ibuku telah menjelma sebagai bangsawan tua dengan harta dan pangkat. Tapi sifatnya telah melunak. Aku bersyukur Allah telah merubah suasana jiwanya. Mungkin berada jauh dari jantung kesultanan dan menghirup udara tak mengancam setiap pagi telah menjinakkan nafsunya. Dia tak pernah berhadapan dengan farman atau stempel kesultanan. Tak pernah mengomel atas kelalaian satu dua orang ningrat. Tak pernah menjatuhkan hukuman dan pernyataan perang. Kemarahannya telah ditumpulkan oleh keadaan hidup.
Aku menyadari bahwa darmaku sebagai anak perempuan ditempah di sini. Tanpa para pelayan, aku harus mengurus seluruh keperluannya sendiri. Amat tak biasa baginya melakukan segalanya seorang diri sementara hari-harinya di belakang dilewati sebagai seorang Ratu yang dilayani. Begitulah hidup. Segalanya berputar dan berubah. Kakekku benar dalam hal ini. Kita mendapatkan sesuatu di belakang hari untuk diserahkan di hari-hari kemudian. Kita telah memulai hidup ini dengan orang-orang terkasih. Para ayah, para ibu, para kakek dan nenek, para paman, para bibi, para sepupu. Lalu, saat waktu menarik mereka satu persatu, kita akan kehilangan nama demi nama dalam benak kita, direngkuh oleh kematian.
“Selamat pagi, ibu” kataku lambat. Mengecupnya di pipi. “Nazeer dan aku telah membuatkan burfi kesukaan ibu tadi pagi. Tehnya juga sudah siap setengah jam sebelum ibu keluar kamar. Pagi ini tukang susu tidak datang. Jadi Nazeer pergi ke pasar setelah subuh tadi pagi. Di mana Arzani?”
“Nazeer dan kau. Aku tahu Nazeer yang mengerjakan semuanya, Ladli.” Ibu bersandar ke pilar, kakinya diluruskan ke depan. “Arzani sudah pergi sejak kau memukul karpet di balkon.”
Aku mengambil gunting di atas tumpukan bata, menilisik petak-petak mawar kami. “Anak perempuan tak baik keluar sebelum matahari naik separuh lingkaran.”
“Dia cuma anak-anak. Memangnya apa yang bisa dilakukan anak-anak di sini selain memandikan kerbau dan sapi?”
“Aku tak pernah mendapatkan kebebasan macam itu dulu,” kataku sambil menggunting cabang bunga mawar yang kecokelatan dan kurus. Dengan nada sok culas dan merajuk.
“Apa aku tak pernah mengizinkan kau menginjakkan halaman, Ladli? Apa aku mengurungmu bagai monyet?”
“Tetap saja. Aku tak pernah melihat sungai,” jawabku bercanda-canda. Mempermainkan emosinya.
“Kau ingin aku mengizinkanmu keluar benteng?”
“Tentu saja.” Aku membuang sampah dedaunan rusak yang telah dimakan ulat. “Kita sering melihat sungai ketika kita tinggal bersama ayah di Bengal. Kita bahkan sering mengamatinya dari dekat. Memperhatikan bagaimana para penjaring ikan kembali dengan kesal karena jaringnya kosong.” Aku menepuk-nepuk tanganku, membersihkan tanah dari sana. “Andai ibu bukan seorang Ratu.”
Apakah kata-kataku menyinggungnya? Ibu menatapku. Dia mengernyitkan dahi. Kupikir ia tak enak hati dengan perkataanku. Tapi dia berdecak sambil mengayunkan tangannya padaku. “Kemari, Nak.”
Maka, aku pun datang padanya. Kududukkan tubuhku di hadapannya. Dia menelaah wajahku bagai seorang penerawang, membaca peruntungan dan masa depan. Jarinya memegangi pipiku yang kering, seolah-olah meraba kesedihan dan malapetaka. Aku telah tenggelam dalam kolam-kolam air mata di malam-malam yang susah dan larut. Keheningan di tempat ini telah membawa lebih banyak momen dari masa lalu untuk diingat-ingat dan dikenang. Mataku telah lelah menangis. Namun dia tak berhenti mengeluarkan air. Bagai orang yang meminum air laut, ia akan tetap meminta kendati telah berkali-kali mereguk. Aku sendiri telah beranggapan bahwa hatiku telah menyusut dan kisut. Tak ada rongga yang tersedia untuk bahagia dan bersuka.
“Apa kau menyesali kehidupan kita, Ladli?”
“Tidak,” kataku berkata hati-hati.
“Apa kau merindukan istana?”
__ADS_1
“Tidak. Aku tak pernah berpikir untuk kembali ke sana.”
“Kalau begitu, apakah kau merindukan Khurram?”
Aku menghentikan pergerakanku. Memalingkan muka. Merona. “Aku mencoba menata penghidupanku yang baru di sini. Tak ada waktu untuk merindukan pria itu.”
“Bersumpahlah atas nama Allah bahwa kau tak merindukannya.”
Aku diam.
Dia melepaskan cengkeramannya di wajahku. Mundur dan menatap langit. Awan-awan telah berkejar-kejar di seputaran bumi. Dan matahari tak lagi malu-malu. “Aku tak menyalahkanmu,” kata ibuku. Dia menatap lingkar-lingkar gelang di lengannya. “Kau tak pernah mencintai siapapun di masa lalu. Dan Khurram adalah yang pertama bagimu. Ibuku pernah berkata bahwa kita tak pernah bisa melupakan cinta pertama kita.”
Aku menatap matanya yang intens. “Apakah ibu pernah memilikinya? Maksudku, cinta pertama?”
“Tidak. Aku tak pernah. Allah melindungiku dari pahitnya kasih tak sampai. Sultan Jahangir adalah yang pertama dan aku bersyukur telah memilikinya—atau, aku memang harus memilikinya. Dan aku memang mandapatkannya menjadi milikku. Ya. Milikku. Aku lebih beruntung darimu, kau tahu,” ujarnya meledekku.
Tapi dia cepat-cepat mengambil lenganku sebelum suasana hatiku berubah. “Dengar. Kau punya kehidupan baru di sini. Ada banyak hal yang jauh lebih berarti dari sekadar berharap dan bermimpi bahwa Khurram akan datang dan berlutut di sisimu. Memohon-mohon bagimu untuk pergi ke Haremnya. Itu takkan pernah terjadi. Kau tahu itu mustahil. Dia Sultan dan dia tak punya waktu untuk memikirkan wanita cengeng yang telah dia asingkan. Kita hidup dalam pengasingan, Ladli. Anggaplah bahwa dia tak pernah mengenal kita dan kita tak hidup di bawah pemerintahannya. Lagi pula, Arjumand ada di antara kalian. Dan dia takkan pernah suka dengan percintaan yang kau bangun. Yang perlu kau lakukan, Sayangku, hanya membiarkannya berlalu dan memulai hidup baru sebagai perempuan merdeka. Jiwamu di sini, Ladli. Di sini. Merdekakan perasaanmu sendiri. Kau bukan budak yang terpasung. Yang harus berprahara bila majikannya terluka atau binasa.”
“Tapi aku merasa bahwa aku telah diperbudak oleh cinta.”
“Omong kosong,” marahnya. “Cinta yang kau katakan itu cuma hal-hal konyol. Dia tak merubah apapun selain membuatmu tampak menyedihkan dan lebih buruk. Tak ada cinta yang dapat menghidupimu. Dia tak dapat membuatmu kenyang. Dia hanya menyiksamu sebagai orang gila. Dia membuatmu kurus dan kuyu. Dia membuat matamu cekung dan pipimu tirus. Dia telah membuat rambutmu kasar dan rusak. Dia telah menyita tidurmu. Dia telah membuatmu terjaga untuk menyesali dan menangis. Katakan padaku. Apa yang kau dapat dari cintamu selain kekonyolan? Kau pikir kisah cintamu akan ditulis oleh para penyair macam Amir Khusrau? Tidak, Ladli. Tak ada waktu melirik kisah wanita bodoh macam dirimu.”
Hatiku terasa dihantam oleh cabar-cabar petir. Dan aku dikutuk menjadi sebuah batu yang keras kepala. Ibuku telah berkata dan aku telah mendengarkan. Aku telah mengasihani diriku jauh sebelum dirinya simpati—jika simpatinya baru saja tumbuh belakangan. Aku memalingkan wajah darinya, menghadap ke arah pohon apel yang dahannya ditempati oleh seekor monyet liar. Di bawah, Nazeer Khan mengambil sapu untuk mengusirnya, sementara hewan itu melemparinya dengan potongan buah apel yang ia gigit.
“Aku … tak tahu,” jawabku pelan. Hampir tak yakin dengan yang kukatakan. “Aku sendiri tak yakin pada diriku. Aku telah mencoba menata penghidupanku sendiri. Tapi bentengku cepat rubuh dan pertahanannya sulit dibangun.”
Ibu menepuk bahuku, meremas jemariku yang panjang serta kurus dengan tangannya yang lain. “Lihat dirimu, Ladli. Lihat dirimu yang menyedihkan! Kau harus belajar melupakan Khurram-mu, Ladli. Dia bukan lagi Khurram. Dia Shah Jahan. Sultan Shah Jahan.”
“Bahkan jika dia adalah ********, aku akan mencintainya.”
“Dia memang badmash! Oh, Ya Allah, apa yang terjadi dengan anak ini? Kau sudah dewasa, Ladli. Waktunya bagimu untuk hidup sebagai wanita kuat hati.”
“Kedewasaan harusnya membuat pemikiran kita maju. Tapi aku merasa jiwaku telah berhenti di masa kanak-kanak. Dan membuatnya terlalu jujur mengartikan perasaan. Aku tak dapat membohongi diriku sendiri. Dan aku akan menangis bila aku memang menginginkannya. Tak ada dusta antara aku dengan jiwaku. Tapi aku mencoba mendidiknya pelan-pelan agar ia mau menuruti perintah ibu.”
Ibuku menarik tangannya. Bisa kurasakan geram di wajahnya. Jadi, dia bergerak untuk bangkit. Dipapahnya dirinya sendiri untuk bertahan sambil memegangi pilar yang diukir indah. “Aku akan biarkan kau begini sampai kau belajar soal kenyataan. Hidupmu berada di Shahdara, Ladli. Kita berada di Lahore. Tak ada yang berkenan melawat kita. Kita manusia buangan. Dan Sultanmu, Sultanmu yang amat kau cintai itu, takkan sudi berjalan ke Lahore dan melihat tahanan politiknya.”
Saat itu, Arzani berlari menggapaiku. “Ibu!” pekiknya kegirangan. Aku menyimpan kotak itu kembali dan mencari-cari suaranya. Betapa terperangahnya aku saat Arzani kembali dengan blus dan rok berlumpur. Kerudungnya melambai-lambai. Aku tak tahu apa yang dilakukannya, atau ke mana anak-anak desa membawanya bermain. Saat aku mendatanginya, dia tersenyum polos. Ada noda lumpur di giginya dan ia basah bagai ikan yang menggelepar saat keluar dari permukaan air.
“Demi kasih Allah, lihat dirimu Arzani. Apa yang kau lakukan, Sayang? Lihat,” kuangkat tepi roknya yang bernoda.
Dia tertawa, lalu menyodorkan sesuatu di tangan yang ia sembunyikan di balik punggung yang tegak. Di dalam ember kayu, seekor ikan menggeliat. Kutatap wajah anakku, dan dia menjawab dengan tenang. “Anak-anak desa membawaku ke sungai Ravi untuk menangkap ikan.”
Aku menggeleng-geleng. “Kau telah melakukannya berkali-kali. Memangnya apa yang lebih buruk dari ini?” kataku mengambil embernya. “Jika kau bermain lebih jauh di bawah sinar matahari, kau akan membuat dirimu hitam legam.”
“Kami hampir mendapatkan yang lebih besar dari ini.” Dia melebarkan tangannya. “Jika saja paman berkuda tak berkata pada kami untuk naik dari air. Dia pria ramah yang mengajarkan kami bagaimana caranya menunggang kuda.”
“Seorang nigrat? Siapa?”
“Entah. Mungkin dari Benteng.”
Aku kembali menatap ikannya yang sekarat. “Baik. Kau akan makan ini untuk malam nanti, Arzani. Sekarang mandilah atau kau takkan mendapatkan bagianmu.”
“Aku akan,” katanya berlari.
Ketika aku melihat Arzani masuk untuk mandi, gentong-gentong air dan kendi sudah hampir kosong. Aku harus mengisi keseluruhan dari benda itu atau kami takkan punya setetes air pun malam ini. Jadi, aku mengajak Nazeer Khan untuk mengangkat benda itu ke atas kereta yang ditarik oleh seekor lembu jantan dengan kanopi dan tirai penutup. Kami berkereta ke sungai Ravi untuk mengisi air bersama para wanita lain yang akan mencuci.
Sungai Ravi terletak di selatan desa Shahdara. Pinggangnya meliuk indah sepanjang tujuh ratus dua puluh kilometer. Bermulut di sungai Chenab, sungai Ravi menampilkan panorama air indah dengan gunung dan tebing serta dataran naiknya. Lembah sungai Ravi dipenuhi vegetasi buah kenari, pohon cemara, pohon pinus, pohon murbei, chinar, daphne, cedrela dan kakkar. Saat siang meninggi, sungai Ravi menampilkan bebatuan licin sebesar buah semangka berlumut yang diriaki oleh gelombang air murka. Akan ada ikan segar di sekelilingnya yang menunggu ditangkap dengan jala atau tombak. Sungai ini juga dijuluki sungai Lahore, dan pemandangannya sungguh amat tak menjemukan sebab aku dijamu oleh udara tak mengancam serta gunung-gunung yang menjulang bagai tembok. Tupai-tupai bercicit riang, memukul-mukul buah kenari ke dahan atau saling mengejar di dahan yang rendah. Ketika sore tiba, gerombolan burung bulbul dan sriti kembali ke sarang tinggi mereka di antara pohon pinus.
Aku sampai di sana ketika Nazeer menambatkan kereta kami di sebuah pohon pinus besar di tepi sungai. Kudengar keretaku berderak mengagetkan, lalu berhenti saat lemuhan lembu jantan terdengar. Aku keluar dari kanopi bertirai kereta kami, melesat, lalu menurunkan gentong kosong dengan hati-hati. Tangan-tanganku menuntun benda ini ke bawah, sedang Nazeer Khan membawanya dengan tergopoh-gopoh ke tepian sungai. Aku membantunya membawakan beberapa, berhenti di tepi sungai yang dangkal. Kendati tak dalam, ikan-ikan melenggang gemulai di sekitarku. Di bawah, para wanita Hindu dan Muslim membanting-banting cucian mereka ke atas batu. Tak, tak, tak, bunyinya. Mereka saling tertawa dan bergosip, seperti yang biasa para wanita lakukan. Para istri akan menceritakan tentang anak-anak dan suaminya, sedangkan para gadis akan berbisik tentang satu dua cinta pada pemuda mentereng atau tampan.
Nazeer Khan mengambil sebuah ember kayu, membenamkan benda itu ke dalam air, lalu memasukkannya ke gentong. Aku melepas sandal sutraku, duduk di atas batu besar yang separuh bagiannya terendam air deras dangkal. Dari sini, aku bisa melihat bagian seberang sungai yang disesaki oleh pohon-pohon palem atau cemara. Seekor rusa liar mengintip, telinganya bergoyang-goyang, lalu dia kabur kembali ke dalam hutan.
Riak air telah mengambil pikiranku untuk mengambang. Pertanyaan dari ibu pagi ini muncul kembali di benakku. “Apakah kau merindukan istana?” Ya, apakah aku merindukan istana? Kenapa tidak? Kenapa aku menjawabnya tidak? Dusta sekali bila kukatakan bahwa aku tak merindukan istana. Siapa yang tidak ingin dibebat dengan bordiran benang emas? Siapa yang tak tergiur dengan kerlap-kerlip batu mirah atau lapislazuli atau giok atau permata atau safir atau rubi yang berpendar cahayanya di bawah temaram lilin?
Aku mendesah, lalu air mata merembes keluar. Ketika bola api matahari pelan-pelan telah meraih posisinya di langit timur, hawa panas menyentuh desa Shahdara, memancarkan berkas-berkas cahaya yang tertahan oleh awan mendung Lahore. Aku membenamkan wajahku ke lengan, mengabaikan Nazeer Khan atau para wanita yang berbisik-bisik di kejauhan. Kini, pilu melanda hatiku kembali. Aku telah berharap terlalu banyak pada cinta Khurram, yang sama sekali tak pernah diwujudkan secara nyata. Cintaku padanya adalah realita, sedangkan kasihnya padaku hanyalah fatamorgana.
__ADS_1
“Kau mendengarku, Putri?” Nazeer Khan menepuk bahuku, mencoba membawaku kembali dari pikiran menyesakkan itu.
Aku menoleh padanya. Menampilkan muka dicorengi air mata. Dia merunduk, pura-pura tak melihatnya sementara aku menghapusnya cepay-cepat dalam keterkejutan. “Ya?”
“Kau pergi lagi? Ke mana kau kali ini?”
Aku mengerjap. Pelan-pelan, aku menggapai tubuhnya yang gempal dan berjalan ke tepi. Gelang kakiku bergemerincing, dan aku mengibas-ngibaskannya ke udara. “Tak ada,” kataku menanggapi pertanyaannya. “Itu hal yang tak penting. Apa gentongnya telah terisi?”
“Sudah kunaikkan ke atas kereta.”
Aku mengernyit. “Tega nian kau melupakanku. Kenapa kau mengangkat benda itu sendirian? Aku harus mengemudi di atas lembu jantan sekarang sebagai gantinya.”
Dia tertawa, terdengar begitu ranum dan nyaman. “Mari,” tuntunnya pada lenganku. Aku mengikuti langkahnya untuk naik ke atas kereta. “Saya takkan menceritakan apa yang saya lihat pada Sultan Begam,” katanya tersenyum. Tapi dengan kepala tertunduk patuh.
Aku tersenyum. “Aku tahu kau akan.”
Saat kakiku hampir menjejak di atas kereta, mataku merengkuh sesuatu. Seekor kuda poni cokelat berderap di kejauhan. Berhenti. Dan Nazeer menghentikan langkah kami. Apakah itu dia? Jantungku mengerjap, melesat dalam nada-nada yang tak ramah. Aku mengamati si penunggang dengan jeli, dan teramat canggung pada diriku sendiri. Apakah mataku telah menipuku? Apakah ini kenyataan atau mimpi yang kejam? Itu Khurram! Dia berderap dengan turban hijau putih, memakai tunik putih senada dan sepatu sutra. Kudanya meringkik, napasnya berasap di udara. Aku mematung di tempatku, tak memercayai mataku sendiri. Saat kuda itu mendekat, dan si penunggang melenggang di atas pelananya, aku terus memerhatikan lelaki itu berderap maju melewati kami berdua. Dia meneriakkan kata-kata baik pada kudanya, yang membuat hewan itu meringkik kegirangan.
Orang itu turun dari kuda. Dia membiarkan hewan itu tak tertambat, lalu berjongkok untuk mencuci muka. Aku berjalan ke arahnya, sebagaimana sihir-sihir menuntun para korbannya untuk bunuh diri. Tanganku menggapai udara, seolah-olah teramat berhasrat untuk menyentuh punggungnya yang tegak. Otot-ototnya liat, dan aku berkeyakinan bahwa dia memang Khurram. Dia sedang bercanda. Kenapa dia bermain dan tak memerhatikanku.
Hanya tinggal beberapa langkah darinya ketika Nazeer Khan menangkap tanganku. “Cadarmu, Putri. Apa yang kau lakukan?”
Aku menatapnya, namun tatapanku hampa. Orang itu sontak dan menghadap ke belakang, menyadari bahwa seseorang berada di dekatnya. Ketika dia berbalik, aku memerhatikan wajahnya, lekuk alisnya, lengkung bibirnya, rahangnya yang tegas, dagunya yang lancip, turban yang membingkai wajahnya, otot-ototnya yang liat, dan aku tersentak pada diriku. Dia bukan Khurram. Seorang pemuda, pemuda asing pula. Sekilas, akan ada persamaan, persamaan yang amat kentara. Tapi, saat benar-benar diperhatikan, dia orang lain. Aku sadar pada yang kulakukan, dan kutarik cadar menutupi bibir hingga sebatas hidung.
Lelaki itu membungkuk, melakukan konish. “Maaf. Apakah saya mengganggu Anda?” katanya dalam bahasa Hindi.
“Tidak,” kataku sambil memalingkan wajah. Rona membakar wajahku, karena betapa aku malu pada tindakanku. “Maafkan aku, Tuan. Kupikir kau seseorang yang kukenal.”
“Ah,” dia mengangguk. “Bolehkah saya tahu dengan siapa saya bicara?”
Aku memerhatikan Nazeer Khan, tapi dia menggeleng tak setuju. “Ladli Begam, Tuan.” Dan, Nazeer Khan mendesah sambil menutup mata. Pandangannya berubah awas.
“Ladli? Yang dicintai? Apakah Engkau orang Persia? Sebab Ladli adalah bahasa Persia.” dia mengganti bahasanya dengan bahasa Persia.
“Barangkali begitu, Tuan,” kataku padanya. Dia pemuda yang amat sopan, tercermin dari tatapannya yang jujur. Senyumnya menggelora, membakar jiwaku. Dia memang bukan Khurram, namun sesuatu yang lain, sesuatu seperti dirinya, sesuatu yang serupa, namun bukan dia. Aku menarik napas, menahan degup jantung yang berdebar dalam tulang iga. “Bolehkah saya tahu berbicara dengan siapa?” tanyaku padanya.
Dia melakukan konish lagi. Aku amat canggung dengan sikapnya, tapi dia tahu sedang berbicara dengan bukan sembarang wanita. “Jafar Husein Beg, Nona,” jawabnya.
“Nama yang indah.” Aku tersenyum padanya. Inilah kali pertama aku tersenyum tulus pada seseorang. Dan, seorang lelaki pula. Allah akan mengutukku untuk ini, tapi aku tetap bersikukuh untuk berbicara padanya. Sesuatu di dalam dirinya telah menarik diriku untuk berbicara lebih jauh, sementara Nazeer Khan menarik-narik ujung rokku dengan kikuk. “Apakah kau orang asli atau pendatang, Tuan Jafar?”
“Saya orang Persia, Nona. Ayah saya membawa keluarga kami untuk pindah dari Isfahan ke Multan. Lalu, saya pindah ke Lahore untuk menjalankan tugas negara.”
“Apakah Ayahmu seorang ningrat? Atau seorang menteri Mughal?”
“Yah, saya tak tahu bagaimana harus berkata. Ayah saya bekerja pada Shah Safawi-Persia di Isfahan lalu Qandahar. Karena beberapa hal, keluarga kami mengabdi pada Sultan Jahangir Padshah Ghazi ketika pindah ke Multan. Ketika Sultan wafat, Ayah saya wafat di sana lima puluh hari kemudian. Saya pindah ke Lahore untuk menjadi sekretaris Wazir Khan.”
Aku mengagguk. Dia orang Persia. Sama seperti kami. Betapa ajaibnya pertemuan ini. “Apakah itu berarti, maaf aku bertanya seperti ini, ayahmu seorang pelarian?”
“Ya, Nona. Pelarian yang beruntung,” katanya sedih, dan aku mengutuk pertanyaanku sendiri.
“Itu bukan aib, Tuan Jafar. Kakek dan nenekku juga pelarian dari Persia.” Dia mendangak, terkejut. Saat itu, Nazeer Khan mencubit bagian belakang tubuhku, menandakan bahwa aku telah bicara terlalu jauh. Jadi, aku mengalihkan ke yang lain saat ia terperangah. “Di mana kau tinggal, Tuan Jafar?”
“Tak jauh dari sini.” Dia menunjuk jalan setapak yang menuntun kami keluar dari hutan ke desa Shahdara. “Di pojok desa Shahdara, dekat dengan Benteng Lahore. Saya tinggal di griya milik tuan Wazir Khan.”
Wazir Khan adalah subahdar, gubernur Lahore. Aku pernah melihatnya memberi hormat pada ibu sekali, dan aku bertanya-tanya apakah ia pernah membawa Jafar ke tempat Ibu. Sungguh disayangkan karena aku tak pernah menyadari keberadaan lelaki ini sama sekali.
“Datanglah ke rumah milik kami, Tuan Jafar. Kami tinggal di rumah besar di tengah desa dengan taman-taman petak di sekitarnya. Akan ada sepiring biryani dan secangkir chai untukmu di sana.” Aku tersenyum padanya, lalu beranjak pergi karena Nazeer Khan telah mencengkeram lenganku teramat kuat. Aku mengikuti langkahnya yang kikuk, dan pandangannya yang tertunduk. Aku tak tahu apakah ia masih akan memegang janjinya untuk tak menceritakan apapun yang ia lihat pada ibuku.
Jafar mengangguk, melakukan konish terakhir kali. “Ya, Nona. Saya akan, atas izin Allah, datang ke sana.” Dia mengangkat punggungnya ketika kami berlalu.
Aku mengamatinya dari balik tirai kereta. Jafar mengambil kudanya, menaikinya dan berderap mengikuti di belakang kami dari jarak yang amat jauh. Nazeer Khan mengomentari sifatku yang terburu-buru. Dia berkata bahwa hal tadi amat tak pantas dilakukan oleh seorang wanita ningrat, Janda Pangeran pula. Tapi, aku mengabaikannya. Dia tak tahu, Jafar tak tahu bahwa aku adalah seorang janda, sebab umurku masih jelita dan tak terjamah penuaan dini. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku memerhatikan wajahku kembali. Aku harus berpikir untuk menghias dan memoles diri sebaik mungkin. Untuk pertama kalinya pula aku tidur pulas setelah tahun-tahun kepahitan. Jafar telah membawa sesuatu. Seperti berkah. Nyawa. Hidup yang telah hilang. Dia telah membawa sebuah kenyataan, bukan khayalan. Bahwa tadi itu benar-benar terjadi di antara kami berdua, bahwa dia tengah berbicara pada seorang Putri ningrat, bahwa dia telah berkata dalam bahasa dan tatapan yang jujur serta merta dari hatinya, bukan dipaksakan atau dibuat-buat.
Tapi, aku tak mengerti. Pantaskah ini disebut cinta? Aku pernah mendengar bahwa cinta dapat terjadi pada tatapan pertama. Saat jiwa yang membara dan cinta yang kehausan tergambar di bola matanya. Kini, aku mencoba untuk mempercayainya. Matanya yang jujur telah berbicara bahwa dia adalah pemuda baik-baik. Kata-katanya sopan terangkai, tak pongah atau acuh tak acuh seperti Shahryar dan Shah Jahan. Apakah Allah sedang berbaik hati, atau sedang memberi ujian kembali? Ah, kali saja ini adalah jawaban. Jalan keluar. Penghiburan. Tak ada masa lagi untuk bersusah dan berduka. Allah telah memberikan jawaban melalui cara yang paling menakjubkan. Pada akhirnya, setelah sekian lama, aku merasa pemikiranku telah bebas.[]
__ADS_1