Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB VIII : KEMATIAN ARJUMAND


__ADS_3

Aku tersentak. Guntur telah menggelegar, menimbulkan hujan tak terbatas. Suara air dalam jumlah besar jatuh di atas atap, turun dalam bentuk memanjang dan patah-patah di tengah udara. Aku bangkit untuk sadar, tapi aku tetap merasa berada di alam khayal. Aku telah terjaga dengan baik, bahkan mataku telah menampik diriku sendiri untuk kembali terpejam dan terlelap. Di luar, tak ada pemandangan yang lebih pantas daripada hujan yang tumpah ke tanah Shahdara. Rumah-rumah basah, dan tak ada hewan atau manusia yang berani menjejakkan kaki di luar rumah, sebab tanah lembab menanti kaki-kaki yang ceroboh untuk tenggelam.


Guntur kembali menggelegar. Kulihat kilatnya mengakar di langit, berusaha menggapai-gapai bumi. Itu adalah sebuah peringatan, peringatan kematian dan duka bagi seluruh kesultanan. Berita ini dibawakan oleh petugas negara, dibacakan di tengah kota, lalu kabar duka diteriakkan di seluruh masjid serta kuil. Aku nelangsa setengah mati, merosot ke bawah dipan. Tubuhku berat, hingga tak dapat kurasakan bahwa darah sedang melaju di urat nadiku yang berdenyut. Telingaku mencerna kalimat yang dibawakan Nazeer terburu-buru padaku pagi ini. Dia keluar untuk membeli madu, lalu kembali dengan terburu-buru hingga lupa bahwa madu itu tertinggal entah di mana. Ibuku menangis sedemikian keras saat Nazeer berkata-kata, lalu dia pingsan saat itu juga. Dan aku, aku yang malang ini, tak punya kosa yang tepat untuk mewakili kesedihanku sendiri, bahkan di beberapa sisi, aku tak tahu apakah aku senang atau bersedih pula.


Arjumand telah meninggal! Atau lebih baik kusebut dia Ratu Mumtaz Mahal Padshah Begam. Dia meninggal di Burhanpur, di dalam tenda merah perang yang digunakan Shah Jahan sebagai tenda pribadi milik Sultan. Khan Jahan Lodi, pemimpin Bijapur, telah menarik seluruh pasukan Mughal untuk berperang di dataran kerontang selatan, walau kekalahan telak telah tertimpa di pihaknya seorang. Tapi, kematian Khan Jahan telah dibayar setimpal. Dia telah dihibur setelah kematiannya, yang diisi oleh kematian sang Ratu Mumtaz Mahal sendiri. Arjumand meninggal ketika anaknya yang keempat belas dilahirkan dari rahimnya yang fana. Seorang anak perempuan yang diberi nama Gauhara Begam. Arjumand sempat bicara setelah melahirkan, namun kosanya terpatah-patah oleh rasa sakit yang memeluknya sendirian. Ketika para tabib berkata bahwa sang Ratu menderita pendarahan hebat, yang menyebabkan mereka bertanya-tanya akankah Ratu ini dapat bertahan atau tidak, Shah Jahan panik bukan kepalang. Dia telah berusaha untuk cintanya. Malam terakhir Arjumand berada di dunia dihabiskan Shah Jahan untuk berlutut dan sujud di atas tikar sajadah miliknya, menghadap ke arah barat, ke arah Makkah yang suci, memohon kasih-kasih dari Allah yang semata-mata ia harap sebagai sang Sultan penguasa dunia. Namun, Shah Jahan patah arang pada usahanya sendiri, sebab Arjumand meninggal tak lama kemudian.


Aku berdoa pada Allah agar dosa-dosa Arjumand dapat diampuni, agar kelak ia dapat berkumpul dengan kami semua di syurga, barangkali untuk menghabiskan dua tiga teguk anggur sambil bersenda gurau sebagai keluarga yang utuh. Dia telah bersama kakek dan nenek dan Ayah dan Sultan Jahangir. Pelan-pelan, seluruh keluargaku tersisir kematian, lalu satu persatu dari kami akan memadati meja-meja emas bersepuh dengan lapisan kain sutra hijau di dalam syurga.


Tapi, betapa terkutuknya diriku ini, sebab di satu sisi dalam hatiku, aku lega pada berita kematiannya. Selama bertahun-tahun dalam cinta konyol yang tak tersampaikan, Arjumand adalah satu-satunya celah yang harus dilewati, namun celah itu sendiri lebih kokoh dari apapun yang menerobosnya. Arjumand telah ada untuk Shah Jahan selama bertahun-tahun. Cinta mereka terdengar sangat konyol, namun itulah adanya, karena baik Shah Jahan atau Arjumand tahu, bahwa pasangan yang telah Allah berikan pada masing-masing dari mereka, adalah pasangan baka hingga kehidupan selanjutnya nanti. Dia telah memberikan begitu banyak anak, empat belas, namun tujuh yang bertahan hidup kini. Aku pun telah mendengar bahwa putrinya yang tertua, Jahanara, menjabat sebagai Padshah Begam di zenana Shah Jahan, menggeser posisi istri-istrinya yang lain. Dan Jahanara pun diberi gelar Begam Sahib, Putri dari segala Putri, yang menyebabkannya menjadi wanita paling kaya di tanah Hindustant.


Tak banyak yang dapat kuterka dari kematian Arjumand. Namun satu hal, aku tahu bahwa si Shah Jahan itu akan berduka untuk istrinya tercinta. Untuk berapa lama, aku tak tahu, namun bisa saja seumur hidupnya, karena Arjumand adalah hidup itu sendiri. Jika saja takdir membawaku ke zenana-nya sejak lama, aku akan berada di sebelahnya, menawarkan bahu atau dada yang bisa ia peluk sesuka hatinya, sekeras apapun lelaki itu akan menangis dan berteriak sepanjang hari, aku akan berada bersamanya, sebab cintaku ada padanya pula. Tapi kini, aku rasa dia telah menjadi lelaki paling menyedihkan yang patah arang.


Jafar mengirimiku surat di keesokannya. Dia memanggilku ke sungai Ravi, jadi aku datang padanya dengan tergesa-gesa. Aku tak menyuruh Nazeer ikut, karena aku tahu dia akan menolak hal ini dengan segala cara. Jadi, aku pergi dengan rombongan para wanita yang hendak menyuci. Aku pergi dengan keranjang kosong, yang kututup dengan anyaman lain dari bambu. Saat tiba di sana, pelan-pelan aku memisahkan diri dari mereka. Aku berjalan dengan hati-hati, menyusuri jalanan setapak berlumpur yang menuntunku ke sebuah pohon cemara. Di sana, Jafar berdiri sendiri dengan kuda cokelatnya. Dia menyadari bahwa aku hadir, dan saat itu pula punggungnya menegak sempurna.


Aku datang padanya dengan tergopoh-gopoh. Cadarku melambai-lambai, jadi kulepas benda ini agar leluasa. Kugenggam tangannya yang kasar, dan kutatap matanya yang berbinar. “Ada apa, Jafar? Apa kau sudah mendengar tentang …”


“Ya, Ladli. Semoga Allah meridhoi jiwa Padshah Begam,” katanya murung. “Aku akan ke Agra hari ini.”


Aku mengernyit, lalu mataku awas padanya. “Apa? Kenapa?” Ketakutan datang padaku tiba-tiba. “Untuk berapa lama? Kenapa kau harus pergi saat aku membutuhkanmu?”


“Seluruh ningrat dan menteri akan mengadakan upacara kematian sang Ratu. Aku akan berada di sana, karena jika tidak, itu akan dianggap sebagai pengkhianatan.” Dia mendapati wajahku yang muram. Teramat takut aku pada jiwanya yang akan melabuh jauh di selatan, bermil-mil jaraknya dari Lahore. Dan dia bisa saja, dengan wajah tampannya yang memesona, akan memikat satu dua wanita lain di perjalan. “Aku akan kembali dalam satu bulan, Ladli. Kami harus menunggu sampai Sultan beranjak pergi dari Burhanpur.”


“Aku tahu itu,” kataku padanya, tapi ketakutanku terus menjadi-jadi dalam diri. “Akankah kau menjaga cintaku bersamamu?” tanyaku padanya, berharap terlalu banyak.


“Tentu, Sayangku. Aku akan kembali untukmu.”


Aku tersenyum. Kuhapus pipinya yang lembut, lalu kurasakan dadanya yang bidang naik turun memutar napas., terbungkus oleh tuniknya yang berkilau. Teramat ingin aku memeluknya, tapi aku tahu bahwa diriku takkan bisa. Kendati aku telah bicara, dan dia telah mengerti bahwa betapa kami saling merasa, aku tak bisa melangkah terlalu jauh. Risikonya terlalu besar, baik padanya atau padaku pula.


“Kau harus kembali, Kekasihku. Aku tak ingin Sultan Begam tahu hal ini.” Dia menyapu pipiku, tersenyum amat manis, seolah-olah tertular oleh milikku yang telah kuguratkan di bibir untuknya.


Aku memakai cadarku kembali. “Aku akan menunggumu, atas izin Allah, Jafar.”

__ADS_1


Dan aku berlalu, meninggalkannya sendiri tanpa memandangnya kembali.


Ketika aku sampai di pekarangan rumah kami, kuletakkan keranjang kosongku di samping gentong-gentong air. Arzani pasti telah pergi bermain, entah kemana, namun akan kembali saat rembang petang datang. Sandalnya tak berada di tempatnya, jadi aku yakin bahwa ia tak berada di rumah. Saat pelan-pelan aku masuk, menembus tirai tipis berkisi-kisi di ruang utama, Ibu menyentakkan diriku dengan duduk di atas karpet Persia, bersandar pada bantal-bantal beledu isi bulu miliknya. Raut wajahnya tak senang, jadi aku menduga bahwa ia tengah murka.


“Duduk, Ladli,” katanya dalam suara samar. Aku bahkan tak dapat menerka ujung kalimatnya tadi, karena teramat aku terpaku pada pandangan matanya saja. Aku duduk pelan-pelan di hadapannya. Kakiku bersila di sana, sementara gemerincing gelang kakiku berbunyi kecil-kecilan. “Jawab pertanyaanku sebab aku adalah Ibumu.”


Aku mengangguk, jantungku berdegup tak nyaman.


“Apakah kau memiliki hubungan khusus dengan Jafar Husein?”


Aku tersentak, napasku tersengal. Jantungku memompa darah terlalu cepat, menimbulkan hawa panas yang bersarang di sekujur tubuhku. “Siapa yang telah memberitahukan hal ini pada Ibu? Apakah Nazeer? Atau para wanita?” tanyaku pelan-pelan.


“Bukan itu masalahnya sekarang, Ladli. Aku minta kau menjawabnya!”


Aku diam cukup lama, lalu menjawab. “Dan bagaimana jika itu memang … benar?”


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Aku terkejut pada tamparan itu, sebab Ibu tak pernah menamparku sebelumnya, kendati ketika aku melakukan sebuah kesalahan sekalipun. Tapi kini, ketika tamparan itu benar-benar mendarat di wajahku, menyisakan bercak kemerahan panas, aku melihat bahwa dia tengah murka. Tiada kesempatan bagiku untuk menghadapinya kini, tapi kuusahakan diriku untuk bertahan sebisa mungkin walau aku akan menangis.


“Dia orang Persia, Bu. Sama seperti kita.”


“Diam!” Dia menamparku sekali lagi. “Kau bersikap seolah-olah gadis nautch. Apa-apaan itu? Kau seorang wanita terhormat. Kau Putri Ningrat.”


“Aku Begam biasa,” jawabku. Nada suara milikku serius pada matanya. “Ayahku bukan Sultan Jahangir. Ayahku Ali Quli Istalju.”


“Apa perbedaannya?”


“Tentu saja berbeda. Darahku darah Persia murni, bukan campuran dengan kaum Indo. Anak-anak Sultan Jahangir dilahirkan dari istri-istri Hindu. Sekarang aku yang bertanya, apa-apaan itu? Kenapa ini semua terlarang? Sebab aku mencintai Jafarlah maka aku berlari padanya.”


Ibu mendecak-decak, tersenyum, tapi lebih mirip mengejek. “Kau tidak mencintainya, Ladli. Dia hanya pelampiasan milikmu sebab ia mirip Shah Jahan.”


Aku menyanggahnya. “Itu tidak benar.”

__ADS_1


“Aku tahu itu! Aku tahu kebohongan milikmu. Dan betapa kejamnya perasaan cintamu tertumpah ruah untuknya seorang, sementara perasaan itu bukan diperuntukkan baginya pula.”


Aku menggeram, tapi tak tahu harus berkata-kata. Rona membakar wajahku, malu pada tindakanku sendiri. Air mataku merembes, keluar dari pelupuk mataku bagai air hangat. Allah telah memberiku cinta, namun cinta yang kini kupunya tertahan oleh sebab-sebab yang tak masuk akal. Kenapa Ibu harus menolaknya? Dia telah memberikan gelang emas miliknya kepada Jafar, dan melalui hal itu, melalui kepatuhan Jafar pada kehendaknya, Ibu harusnya mengerti, bahwa dia adalah lelaki baik-baik yang jujur. Aku memekik dalam diri, demi kasih Allah, apakah Jafar harus dilenyapkan dari pikiran dan cinta?


“Aku mencintainya sebab aku menginginkannya, hanya itu,” kataku pelan-pelan pada akhirnya. Aku berusaha untuk tegar, namun bendungan dalam diriku tak ubahnya bagai secarik kertas basah. “Kumohon untuk tak mengusik kebahagiaan ini dariku. Aku tidak bisa  hidup sebagai orang suci tanpa cinta selama sisa hidupku. Di mana letak kebahagiaanku? Aku bukan para sufi. Aku tak bisa menemukan kebahagiaan hanya dengan mencintai Tuhan semata. Aku perlu pembuktian cinta Tuhan dalam diri manusia. Oleh karenanya, aku perlu Jafar untuk menyempurnakan cintaku pada Allah.”


“Oh? Kau pandai sekarang. Apa Jafar yang mengajarkanmu hal itu?”


“Demi kasih Allah, Bu. Hentikan.”


“Lupakan dia, Ladli. Lupakan dia!”


“Tidak!” pekikku kuat-kuat. Ibu tak bicara saat itu, karena dilihatnya untuk pertama kali aku menolak perintahnya, menebar murka di hadapannya. Aku pikir ia akan marah, tapi dia diam tanpa kosa. Tangannya gemetar, namun ditahannya getaran itu agar tak kentara. “Aku telah berusaha melupakan Shah Jahan dengan cara ini. Engkau telah perintahkan aku untuk hal itu, dan kini, oh, Ibu, demi kasih Allah, kenapa? Aku telah menemukan kebahagiaanku bersamanya? Dan selama bertahun-tahun, hidup dalam penjara Shahryar nashudani itu telah membuatku hambar pada rasa. Aku telah meyakinkan diri untuk tak lagi percaya pada cinta. Tapi Jafar datang padaku. Bukan aku yang memintanya, sebab Allah-lah yang memiliki rencana.” Aku terisak pada kalimatku sendiri, menyadari bahwa aku telah bicara secara terang-terangan. “Jafar adalah lelaki yang jujur. Dia telah hidup penuh penderitaan, dilahirkan dari rahim seorang Ibu pelarian Persia. Dan dia berjuang mengemban karirnya seorang diri dengan menjadi sekretaris Wazir Khan. Aku tak pernah meminta lebih, seperti yang kuidam-idamkan dahulu dari seorang pria. Aku tak akan memintanya untuk hidup mentereng seperti mimpiku, sebab ia punya lebih dari sekedar harta untuk tajir. Kupikir Ibu akan setuju sebab kita dan dia memiliki latar belakang yang sama. Tapi kini aku tahu bahwa aku salah.” Aku bangkit, berjalan ke arah tangga sambil terus berisak. Di balik tirai, Nazeer Khan berdiri di sana. Aku mengabaikan kehadirannya dan pergi menaiki undakan tangga. “Di mana kebahagiaan yang kupunya? Coba jelaskan, Bu?”


“Kau baru bertemu dengannya sekali, Ladli. Dan bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau mencintainya?”


“Tidak sekali.” Kutajamkan kalimatku agar ia mengerti. “Aku telah yakin bahwa ia amat mencintaiku.” Lalu, aku berlari menaiki tangga. Lenganku hampir goyah membimbing tubuhku sendiri saat melangkah. Ketika itu, Ibu berkata untuk yang terakhir.


“Kau lupa satu hal, Ladli.” Aku menoleh padanya, lalu disambungnya kalimat itu. “Bahwa Janda Pangeran takkan pernah bisa menikah lagi.”


“Apa?”


***


Aku habis masa dalam penantian. Ibu telah membuat segalanya tampak mengerikan kini, tapi aku tak tahu apa yang bisa lebih buruk dari pada itu. Jafar telah pergi dengan Wazir Khan beberapa hari yang lalu, dengan unta-unta, kuda-kuda, tenda, makanan, dan banyak sekali pelayan serta budak. Aku mengamati Benteng Lahore yang memancang bagai cangkang putih tak bercela dari atas balkon. Tak jauh dari benteng, terdapat griya besar milik Wazir Khan, dan aku membayangkan Jafar tengah duduk di atas balkon, meneriakkan namaku sambil melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan kini. Tapi, aku tahu bahwa diriku sedang berandai-andai. Aku kerap menangisi diri kembali belakangan ini. Kehampaan datang kembali, menjatuhkan diriku dalam kelam dan warna hitam pekat. Tak ada yang dapat diartikan oleh warna itu, sebab aku tahu bahwa hitamnya benakku tak berarti sebuah kebahagiaan. Arzani sering kali datang, tapi kehadirannya hanya membawa lebih banyak kesedihan, karena aku akan menciuminya bertalu-talu agar menenangkan diriku yang gundah.


Sudah hampir dua bulan, tapi baik Wazir Khan atau Jafar tak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka sudah kembali ke griya besar itu. Tak ada kabar angin, bahkan surat yang menandakan bahwa mereka masih hidup. Dia tak tahu bahwa kami takkan pernah bersatu, takkan sudi diikat oleh janji suci pernikahan, sebab aku telah lupa bahwa tak ada pernikahan kedua bagi seorang Janda Pangeran. Cinta ini amat terlarang, dan juga tak pernah direstui baik oleh Sultan atau dari Ibu. Tapi aku tak henti berharap dan berandai-andai.


Lalu, saat aku hampir-hampir pupus pada harapan bahwa Jafar akan kembali padaku, sebuah surat datang di suatu pagi. Harumnya telah lama terlupa, bahkan aku hampir-hampir tak mengingat ciri khas baunya yang sirna oleh waktu serta penantian. Ketika aku mengira surat dari Jafarlah yang datang, aku telah salah kemudian. Karena itu surat rahasia dari Shah Jahan. Dia memintaku untuk datang ke zenana-nya sebagai seorang istri.[]


 

__ADS_1


 


__ADS_2