
“Kemana kau pergi, Yang Mulia?”
Aku mengerjap, menyadari kesadaranku. Jantungku melompat, berdetak murka dalam nada yang seirama. Mataku berputar, dan aku merasa pusing karenanya. Untuk beberapa saat, aku sama sekali tak menyadari kehadiran apapun sebab tak satu pun kejadian-kejadian dan peristiwa hari ini terecap masuk ke dalam jiwaku yang
ringkih. Kaki-kaki kecilku saling menindih, seolah-olah menggerus bagian yang gatal. Padahal kutahu tak satupun dari punggung kakiku gatal. Napasku melaju datar. Tidak terlalu cepat, namun tidak juga lambat. Kurasakan udara pedih menyurup melalui lubang hidungku, lalu menciptakan luka di sana, hingga merembes melalui mata. Tanganku bertopang pada dagu. Kulihat cincin safir berwarna indigo mengisi sela jariku yang mungil, serta gemerincing
lingkar-lingkar gelang emas yang merosot ke bawah siku. Ketika matahari menyapu bagian permukaannya, cahaya keputihan menyusup ke mata.
Kulihat sekeliling, sekejap ke kanan, lalu berpaling ke arah kiri, tepat saat kusadari seseorang berdiri di sana. Kasim ibuku, Nazeer Khan, membungkuk sedalam yang ia bisa, melakukan konish dengan sempurna. Tangan kanannya dilengketkan ke dahi, sementara punggungnya membungkuk seperti pohon yang hendak rubuh.
“Aku tak kemanapun, Nazeer,” kataku padanya, memberi isyarat agar ia pergi.
“Jiwamu tak berada bersamamu tadi. Mungkinkah kau pergi?”
“Mungkin saja, barangkali. Jika diriku bisa.” Kutolehkan kepalaku ke belakang, ke arah tabir tipis berkisi-kisi, tempat begitu banyak orang meraung-raung dalam tangisan merdu yang serak. “Bahkan jiwaku sendiri terpenjara dan aku merasa selalu diawasi ketika aku berkhayal. Apakah ibuku yang memintamu melakukan itu, Nazeer?”
“Tidak, Putri.”
Aku kembali meletakkan daguku ke atas punggung tanganku. Melemparkan pandangan jauh-jauh. Sejak pagi meminta jatah waktunya pada dunia, atau ketika mataku merekah mengambil kesadaran dan telingaku menangkap lamat-lamat langkah para budak yang berlarian, atau ketika aku menyaksikan sapuan hangat pertama matahari ke punggung bebatuan rumah kami hari itu, aku hanya dipekakkan oleh suara tangisan. Semua anggota keluargaku menangis. Para bibi, para paman, para sepupu, kerabat jauh, para pelayan, pembawa berita, tukang kebun. Semua orang menjatuhkan diri di tempatnya dan menangkupkan tangan ke wajah. Terisak-isak bagai orang gila. Sebuah
tangisan menyedihkan. Terdengar seperti orkestra musik atau lagu-lagu perpisahan. Dan aku memaksa diriku sendiri untuk berduka pula. Pembawa pesan telah pergi meninggalkan kami. Tungkai kuda Arabnya menjauh dan menghilang. Tiga puluh menit kemudian, seluruh kesultananlah yang berduka.
Ghias Beg, kakekku, telah meninggal dunia. Dia adalah lelaki paling berharga di keluarga kami. Yang telah mengadu nasib sebagai seorang pelarian muda dari tanah bangsa Persia menuju Hindustant. Perjalanan, pengalaman, penderitaan dan mimpi telah melempar kenyataannya jauh-jauh. Selama bertahun-tahun, kakekku adalah abdi setia kesultanan. Kepalanya tertunduk patuh dan dia tak pernah berkata tidak atas farman yang turun padanya. Pria paling kenang budi dan tak lupa diri. Dia tak pernah mengambil apa yang bukan bagiannya. Tak pernah berkata bahwa ia dapat memiliki lebih dari apa yang harusnya ia punya. Pada pemerintahan Sultan Akbar, kakekku hanya kerani. Belakangan, ketika Sultan Jahangir memerintah, kakekku adalah diwan kesultanan, Bendahara Negeri. Jangan kira kekayaan yang ia miliki. Karena selain diwan, kakekku adalah mertua Sultan.
Kakekku pergi di dini hari, saat kegelapan merengkuhnya. Namun dia pergi dengan damai. Seolah-olah
ia tengah tertidur dan akan bangun saat fajar menginginkannya. Tak banyak yang ia katakan sebelum ia pergi, sebagaimana ia tak banyak bicara saat masih lagi hidup. Anak-anak datang padanya, menanyakan kabarnya, bertanya apakah tempat tidurnya kurang nyaman atau supnya terasa hambar. Tapi dia terus berkata bahwa ia baik-baik saja. Dan, begitulah. Malam turun dan maut menciumnya. Memberikannya sayap. Menuntunnya pergi melintasi langit dan awan. Tak ada yang tahu. Ketika nenekku datang untuk memeriksa pakaiannya, tubuhnya telah dingin.
Maka, demi menghormati sang Itimauddaulah—Pilar Pemerintahan, Sultan Jahangir memerintahkan masa berkabung selama seminggu. Sedekah istana dibagikan. Rakyat kami diliburkan selama tiga hari. Orang-orang fakir dan papa berbaris-baris di sisi jalan, menunggu uang perak dilemparkan oleh petugas kesultanan. Ayat-ayat Qur’an Yang Mulia dibacakan di setiap masjid, dipekakkan di sidang istana. Ayat itu berbunyi “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah kamu ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syuga.” Para muezzin mendapatkan bayaran sekantong rupee emas yang cukup untuk hidup selama bertahun-tahun. Dan aku menyaksikan dari balkon, berpegang pada pilar-pilar melengkungnya, bahwa suara-suara mendayu mereka merekah dan sarat di udara.
“Kita akan bersiap untuk prosesi pemakaman, Yang Mulia,” ucap Nazeer, menyodorkan tangannya untuk menuntunku pergi.
“Aku tahu, Nazeer,” jawabku acuh, kembali menoleh ke belakang. “Apa menurutmu Arjumand akan datang?”
Nazeer menggeleng, mengangkat sikutku dan menarik lenganku agar aku bergerak mengikuti langkahnya yang kikuk. “Dia dan Pangeran Khurram terlalu jauh di Burhanpur, Yang Mulia. Terlalu panas untuk bergerak ke utara.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Lagi pula, Nona Arjumand mengandung lagi.”
“Ah!” Aku tak tahu kata apa yang tepat untuk menyampaikan kegetiranku pada kabar itu. Lagi? Sudah berapa kali sejak ia mengandung pertama kali? Dan kini, setelah bertahun-tahun pernikahan melelahkan, pelarian macam orang gila ke wilayah tikus-tikus rombeng pemberontak di selatan, tercekik udara panas, dia mengandung … lagi? Sudah berapa anak yang ia punya? Dan sudah berapa anak pula yang mati sia-sia? Barangkali, ketika aku berpikir
tentang tubuh Arjumand, dia tak semolek dahulu. Sebab menurut pengamatanku selama bertahun-tahun di zenana kesultanan, wanita akan terlihat gemuk dan jelek saat melahirkan banyak anak. Tapi aku salah.
Sebab sebelum kepergian Arjumand bersama Khurram ke Burhanpur, aku telah melihat dengan jeli, bahwa pesonanya masih serupa gadis perawan tujuh belas tahun.
Betapa merinding aku karenanya, dan betapa iri aku dibuatnya, sebab hingga kini aku menua
__ADS_1
sebagai perawan di zenana kesultanan. Tapi kini, sungguh disayangkan bahwa dia tak dapat hadir untuk mencium jenazah kakek kami yang telah meninggal. Dia telah dibawa oleh suaminya menuju tanah
kerontang di selatan, yang dihuni oleh beribu pemberontak kelas teri yang selalu berulah setiap kali ada kesempatan. Burhanpur adalah wilayah terjauh kesultanan. Terletak di bawah, jauh di selatan. Udaranya kerontang dan tak ramah. Tanahnya curam dan keras. Debunya membumbung bagai badai. Para raja-raja kecil dan kepala bandit memerintah sepetak dua petak tanah dan memberontak kepada kesultanan. Arjumand hanya mengamati Pangeran Khurram berperang dan pulang ke benteng mereka. Tak ada kekhawatiran selain apakah suaminya dapat kembali pulang padanya dengan atau tanpa kepala.
Pemakaman kakek diadakan saat siang meninggi, ketika matahari dengan spektakuler mengambang tepat di
atas kepala dan Agra berubah menjadi kota panas mendidih. Semua orang memakai baju putih berduka, berdesak-desakan untuk melihat jenazah kakek di pinggir jalan menuju pemakaman. Agra adalah ibu kota kesultanan, jantung pemerintahan, di mana jantung kesultanan itu sendiri terletak di diri Sultan Jahangir.
Seluruh komoditas dagang berkumpul di sini. Dan aku dapat mengatakan bahwa kau dapat melihat seluruh dunia di Agra. Para syeikh Muslim, para pastor Jesuit, para pendeta Hindu dan Buddha, para pelukis, penjual batu berharga, penjual bumbu, penjual kain, penjual pernak-pernik, cenayang jalanan, pesulap, dan ada ribuan pengemis yang bertebar di jalanan. Seluruh benda, kaftan, katun, pewarna, sutra, brokat, gading, rempah-rempah seperti lada, kemiri, cengkih, pala, porselen, teh, akik, giok, lapizlazuli, mirah, onyx, mutiara, dan ada banyak yang tak bisa kusebutkan.
Anak-anak, para pria dengan tunik, para wanita bercadar, para lansia renta, ambil posisi dalam prosesi
berkabung. Selama prosesi pemakaman, para wanita dari keluarga kami dilarang ikut. Aku mengamati dari balik cadar di atas balkon saat rombongan itu menjauh dan mengecil, yang tampak bagai sekumpulan tepung gula-gula putih menggumpal di tepi jalanan tandus dan mendidih. Para wanita yang lebih tua masih menangis di
balik tabir. Bau kamper masih belum menghilang. Para kasim telah memercikkan air mawar ke seluruh ruangan. Tapi aku masih mencium bau itu di sana dan bersinkarena tak tahan.
Seluruh harta kakek, hartanya yang amat banyak itu, yang telah ia kumpulkan dan, dengan malang akhirnya ditinggalkan, akan dikembalikan ke kesultanan, tempat dimana ia memang berasal. Adalah hak privasi Sultan untuk mengembalikan seluruh harta itu pada ahli waris kakek. Dan dia memang melakukannya, namun tidak untuk semua anak, sebab dia hanya menaruh simpati untuk satu orang di antara seluruh anak-anak kakekku. Maka, seluruh harta dijatuhkan pada ibuku. Hal itu melangkahi Abul Hasan, pamanku, ayah Arjumand. Paman Abul Hasan adalah anak laki-laki. Dan anak laki-laki jauh lebih berhak atas harta yang ditinggalkan oleh orang tua mereka daripada anak-anak perempuan. Paman Abul Hasan takkan senang. Arjumand takkan senang. Khurram takkan senang. Dia takkan berdiam diri dan melihat mertuanya dimiskinkan oleh ayahnya sendiri. Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Dan Sultan Jahangir memijak hak-hak paman Abul Hasan itu dengan memberikannya pada ibuku seorang saja.
Ini salah, pikirku kemudian. Tentu saja salah. Sultan Jahangir tak bisa mencabut hak pamanku dan ibuku mestilah tahu. Aku sendiri ragu dia tak tahu. Tapi aku tahu juga bahwa suara yang kupunya amat kecil untuk diperhitungkan. Siapakah aku? Dan aku menerka-nerka bahwa diriku yang malang ini tak punya tempat di hati Sultan Jahangir, sebab aku bukanlah anaknya.
Jadi, di sinilah semua kejadian buruk bermula. Semua itu disebabkan oleh banyaknya uang, dalamnya luka kecemburuan, serta kekuasaan yang dipersaingkan. Teramat banyak yang terjadi di tahun-tahun yang akan datang, namun sisanya hanyalah kehampaan. Kisah itu kosong bagai gurun Thar, tapi menenggelamkan bagai sungai Yamuna. Pangeran Khurram takkan datang ke Agra untuk ini. Itu karena ibuku yang menginginkannya. Dia telah mengirim Khurram untuk operasi militer jauh di Burhanpur, tempat abangnya, Pangeran Parviz memerintah sebagai subahdar. Dan Khurram pun membawa serta abangnya yang lain, Pangeran Khusraw. Setengah buta, setengah gila, dan kehilangan sebagian besar pemikirannya untuk bertahan hidup setelah Sultan Jahangir membutakan matanya akibat pemberontakan memperebutkan takhta ketika Sultan Akbar meninggal. Apa yang dapat Khusraw lakukan di sana? Apa gunanya dia dibawa jauh? Di Burhanpur? Sementara ia harus terseok-seok agar bisa menarik tirai di kediamannya sendiri.
Makam kakek terletak di pinggir sungai Yamuna, di dekat punggungnya yang meliuk. Makam itu akan terbuat dari marmer putih, yang dihiasi dengan mozaik serta kerlap kerlip perhiasan batu safir, rubi, lapizlazuli, akik, dan giok. Ibukulah yang memerintahkan pembangunan itu, dengan berani menggariskan tinta dan menggambar
dihaluskan, dibentuk dalam bidang yang sama, dicetak ke bentuk selera, paman Abul Hasan mengirimi ibu surat. Isinya sederhana, hanya dua baris, tidak bertele-tele namun menebar murka. Paman Abul Hasan meminta bagiannya, katanya, yang merupakan anak tertua dari kakek. Dia telah mengatakan, di hari-hari yang lalu, bahwa ia
takkan pernah menjadi seorang ningrat. Mereka semua, anak-anak kakekku, akan menjadi anak seorang pelarian Persia selamanya, terlepas seberapa kaya dan tingginya pangkat mereka di kesultanan. Kata-kata itu telah menggarisbawahi ibu. Bahwa kendati dia adalah Ratu Nur Jahan Begam, dia tetap anak seorang pelarian. Dan
dia hanya meminta bagiannya, dengan tegas berkata-kata. Terserah ingin diapakan sisanya.
Namun, ibu menolak. Dengan amarah dan kata-kata tak bermartabat berkata bahwa keinginan Paman Abul Hasan takkan terkabulkan sebab Sultan telah memberikan seluruh harta kakek padanya. Dia telah mengirimnya sebuah surat balasan. Dengan yakin memperingati tempat abangnya sendiri untuk bicara. Maka, lelaki yang murka itu pergi dengan hati yang patah. Dia tak punya jalan lain, yang akan menjadi kehancuran bagi kami, selain memihak Pangeran Khurram. Sementara seluruh kesultanan telah tahu, tak menjadi rahasia belaka, bahwa Pangeran Khurram membenci ibuku.
***
Sejak keberhasilannya dalam mengatasi pemberontakan di Deccan oleh Malik Ambar, Sultan Jahangir telah memberikan Khurram gelar Shah Jahan, yang berarti Raja Dunia. Maka kini, dia telah membuktikan bahwa gelar itu bukanlah semata-mata simbolis konyol yang tak berguna. Yang hanya ia kenakan karena ayahnya memberikan restu itu padanya. Khurram telah mengirimkan sejumlah surat kepada Sultan Jahangir di Benteng Merah Agra beberapa minggu setelah operasi militer ke Burhanpur. Yang ditulisnya dalam bentuk yang dramatis. Semata-mata untuk sekadar mengumbar kemenangannya yang gilang gemilang di selatan sana. Namun semua orang tahu, dan aku takkan menduga apapun soal ini, kemenangannya takdiindahkan di istana. Dia pergi, Khurram pergi, si Shah Jahan itu pergi. Hal itu hanya semata-mata untuk menjauhkannya dari jantung kesultanan. Semua ningat tahu itu. Kami semua tahu itu. Sejak cekcok awal antara Khurram dan ibuku meledak-ledak di dalam Benteng Merah—kecurigaan Khurram pada kematian ibunya yang tiba-tiba pada ibuku, pemaksaan kehendak yang sama sekali tak ia inginkan, serta kekuasaan ibuku yang ia nilai telah jauh melampaui miliknya sendiri sebagai seorang pewaris kesultanan—telah mengangakan jurang dengki di antara kami. Maka, tak perlu dipungkiri, bahwa Khurram pun telah tahu, bahwa kepergiannya memang diharapkan, namun kepulangannya sama sekali tak diinginkan.
Selama mereka pergi dalam operasi militer menjemukan itu, aku kehilangan beberapa hal dalam hidupku. Beberapa keping jiwaku yang polos serta lugu. Beberapa itu menyangkut alasan pribadi, dan beberapanya tak dapat kuungkapkan sendiri. Aku nelangsa setengah mati, merasa kehampaan menyurup-nyurup kesenangan dalam
jiwaku. Aku merasa dua ekor gajah tengah menindih dadaku. Dan aku merasa sesak sekaligus marah. Aku mondar mandir keluar kamar, duduk di pinggir kolam, memeluk lutut di balkon, merasakan hawa dingin menggigil menembus kulit sariku, melumuri tangan-tanganku dengan pasta henna, atau makan mangga dan manisan, namun aku bertanya-tanya apakah jiwaku menginginkan itu semua. Aku bagai orang dungu terkena sihir. Dari semuanya, aku tahu bahwa yang hilang itu telah dibawa jauh ke selatan, di Burhanpur, berada di sebuah tenda merah mewah dengan permadani Kashmir, kukuh di dalam dada seorang pria. Yang laju napasnya bergairah, yang tampangnya lebih menawan dari mimpi indah seorang perawan kencur, yang tawanya melunturkan kepercayaan diriku. Sebagian yang hilang dari diriku ada di diri Khurram.
Telah kuperingatkan jiwaku pada hal ini. Demi kasih Allah, aku telah mengutuk perasaan itu jauh hari sebelum kekosongan ini ada. Bahwa Khurram adalah milik Arjumand, Khurram adalah suami Arjumand, Khurram adalah kekasih Arjumand. Pada akhirnya, Khurram adalah Ayah dari anak-anak Arjumand. Namun aku sendiri pada
akhirnya harus menyerah sebab tak menemukan apapun selain kata-kata terlarang yang harus kuucapkan dalam kesendirian. Aku mencintainya, dan itu amatlah rahasia. Sebuah dosa. Sebab Arjumand takkan menyukainya, dan sebab ia tak akan ingin disaingi. Tak ada yang lebih mengerti soal penantian selain dirinya. Lima tahun dalam teki-teki dan tanda tanya telah membuatnya serakah pada Khurram. Dan dia telah meyakinkan dirinya bahwa Khurram hanya miliknya seorang saja.
__ADS_1
Kendati begitu, aku tetap merindukan Pangeran Khurram saat aku berbaring hampa di dipan yang kosong. Telah kubayangkan kalau-kalau dia berada di sampingku, memeluk tubuhku yang kecil, membisiki satu dua puisi tentang cinta muda-mudi di telingaku, membenamkan wajahku di dadanya yang bidang—semoga Allah mengampuniku atas
khayalan ini. Namun yang kudapat tak lebih dari sekadar kecemburuan. Hatiku selalu terobek-robek saat melihatnya mengecup dahi Arjumand, nelangsa setengah mati ketika ia memeluknya dengan lembut dari belakang. Lalu aku kembali mengingati diriku sendiri dimana tempatku dan kabur untuk menangis sedu sedan di tempat yang dilingkupi kegelapan.
Tapi, aku sering berpikir begini: Arjumand memang layak mendapatkan Khurram. Sepupuku telah berjuang mati-matian untuk tak mencintai lelaki lain selain suaminya selama lima tahun penantian dalam pertunangan kolot serta lambat. Para wanita zenana telah memanjakan sang Pangeran selama lima tahun itu, tak tahu apa yang ia dapat di belakang hari. Cinta mereka menguat dan kokoh, bukan sedangkal tapal kuda basah dan kata-kata manis di muka—sebagaimana biasa para pria melakukannya pada istri muda mereka. Tapi ini lebih dari sekadar pengabdian biasa. Sebab Khurram tak pernah mendatangi istri pertama dan keduanya setelah ia menikahi Arjumand. Mereka telah memiliki banyak anak. Sekarang dia mengandung lagi untuk yang kesian kalinya. Aku tak ingat berapa, mungkin sudah belasan, sebab anak-anak mereka yang hidup telah tumbuh mengagumkan tanpa cela. Jahanara, Dara Shikoh, Shah Shuja, Roshanara, dan Aurangzeb. Dua perempuan, Jahanara dan Roshanara, serta tiga orang laki-laki, Dara Shikoh, Shah Shuja, dan Aurangzeb. Sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan gelar sebagai istri tercinta di zenana Pangeran Khurram sendiri.
Selama hari-hari penantian kembalinya Khurram dari Burhanpur, kuletakkan diriku sendiri dalam mimpi-mimpi dan harapan konyol, yang kerap terbang dan mengawang di kamarku sendiri. Kegelapan datang padaku di malam hari, membawa mimpi bagai pesan kematian, mengingatkan bahwa bisa saja Khurram takkan kembali karena kepalanya menggelinding dari atas pelana kudanya yang bertatahkan permata. Tapi, aku tak berhenti berharap. Kupanjatkan doa ke langit, menghadap ke barat, ke arah Makkah yang suci. Dari bibirku, kuucapkan doa pada Allah bahwa satu-satunya harapanku adalah melihat Khurram kembali di Benteng Merah Agra. Tapi, aku tak tahu apakah Allah murka padanya atau padaku, sebab berita dari Burhanpur tersumbat entah di mana belakangan ini. Selalu terlambat. Dan jika datang, hanya mengucapkan kemenangan atau peristirahatan, tanpa sedikit pun kata yang menyinggung bahwa mereka akan segera kembali pulang.
Aku mendesah, membenamkan sebuah buku puisi ke dadaku yang berlapis blus ketat, seperti yang semua wanita kenakan. Di zenana, pakaian wanita dibeda-bedakan pada kelasnya sendiri. Padshah Begam akan
memiliki pakaian yang takkan dimiliki wanita lain, yang taburan permata serta berliannya bagai buah-buah kenari yang berguguran. Para Ratu yang lain, istri-istri Sultan Jahangir, mengenakan pakaian warna warni termahal, didatangkan dari Kashmir atau Surat, yang sering dibalut dengan pasmina, kerudung, atau kain sari tebal dan cadar di kepala mereka. Para selir, kebanyakan budak-budak yang hanya diecap satu malam, menggunakan tunik atau blus ketat dengan rok yang lebih sederhana, namun cukup menyatakan status mereka sendiri dengan cincin safir atau gelang emas bergemerincing. Dan pada akhirnya, di hierarki paling bawah, para kasim dan pelayan zenana menggunakan tunik tanpa hiasan sama sekali.
Kaki-kakiku dihiasi henna merah kecokelatan. Sudah mulai memudar, tapi ingatakanku mengatakan bahwa baru berselang dua hari sejak para budak mengukirnya dengan alur lembut di atas kulitku. Bentuknya berupa sulur-sulur melati, berakhir di kuku-kuku jari kaki. Kusembunyikan jari-jariku di balik rok putih sutra yang kukenakan. Sudah berapa lama, pikirku, namun kepulangan Khurram tak sampai jua. Bahkan jika kabar itu hanya akan sampai ke kediaman ibu, selinting kecil akan disampaikan oleh Nazeer Khan padaku kemudian. Tapi kali ini aku pilu sendirian. Kehampaan telah menguasaiku. Pikiranku telah disita. Hajat hidupku telah tertawan. Dan setiap kali mataku memejam, mata yang lelah ini, oh ya Allah, aku melihat wajah Khurram di sana. Kupeluk diriku, berusaha menahan hasrat yang bergejolak, yang lebih ganas daripada ombak murka, yang lebih liar dari guntur di langit kelam. Kucoba untuk tenang, namun gagal. Jiwaku menjerit-jerit marah. Pada akhirnya, saat angin sore memanggil-manggil dari balik jendela terali, aku menangis di sana.
Pernah, sekali, di masa lalu, aku hampir saja lupa itu kapan, aku tahu bahwa aku tak kalah menariknya dengan Arjumand. Aku tahu bahwa diam-diam, semoga aku benar, Ya Allah, betapa liarnya pikiranku, bahwa Khurram pernah tertarik padaku. Saat itu Nouruz, Tahun Baru. Dan istana mengadakan acara pasar malam Bazaar Meena di istana. Seluruh wanita, baik wanita istana, para istri ningrat, para pedagang di luar Benteng, siapapun yang memiliki perhisan berharga, disambut baik di Bazaar Meena. Mereka berlomba untuk menciptakan perhiasan model baru, pakaian dengan bordir termahal. Namun, maknanya tersirat, bahwa acara Bazaar Meena adalah ajang pamer diri untuk Sultan, pencarian jodoh untuk para Pangeran, serta pencarian selir bagi para ningrat. Sebab seluruh wanita dapat berdiri kukuh, memanggil-manggil pria mana pun, memainkan mata mereka tanpa cadar selama satu malam.
Saat Arjumand berusia empat belas tahun, untuk kali pertamanya saat anak itu masuk ke Bazaar Meena, dia menjual perhiasan perak, yang lebih mirip manik-manik kaca. Aku tak tahu banyak soal berapa banyak dagangan itu, sebab apalah yang dapat ditawarkan anak berusia empat belas tahun sepertinya? Namun yang mengejutkan, yang menjadi timbang pikir bagi diri semua perawan saat memasuki Bazar Meena hari itu, mereka semua tak mengira, bahwa anak lugu itu, Arjumand Banu Begam itu, telah memikat Pangeran Khurram dengan manik-maniknya. Dia telah, semua orang tak tahu bagaimana mendramatisasikannya, bahkan aku pun bingung memilih kata sebab Pangeran Khurram muncul di antara kerliman lampu minyak begitu saja, menyibakkan tenda penutup Arjumand, dan mengatakan pada wanita itu betapa ia mencintainya. Kau takkan percaya mungkin, namun itulah yang terjadi. Di antara kericuhan yang diam-diam ingin mereka padamkan demi menciptakan dunia untuk mereka berdua, Pangeran Khurram telah membeli cinta Arjumand. Dia telah membeli, dan membayarnya dengan harga setimpal. Penuh penghargaan, kepercayaan, janji dan pengabdian yang tak ditunaikan dalam sebaris kata-kata murah para perayu.
Pangeran Khurram membeli seluruh perhiasan Arjumand seharga sepuluh ribu rupee, harga yang tak pantas untuk perhiasan murahnya, namun cukup untuk membeli cintanya yang kekanak-kanakan, yang berubah menjadi cinta orang dewasa hingga kini.
Jadi, aku pun telah memutuskan, bahwa caraku akan sangat berbeda dari cara sepupuku menjajakan
dirinya pada Khurram. Memang, pesona Arjumand adalah daya tarik kesempurnaan Allah, yang Ia jatuhkan dalam diri seorang wanita beruntung. Tak ada yang dapat membantah itu. Tapi aku telah bertekad, bahwa kesempurnaanku akan ditampilkan pula dalam pesona yang berbeda.
Pada Bazaar Meena setahun yang lalu, aku menggunakan blus ketat sutra berwarna biru putih, yang dipenuhi buliran-buliran mutiara sebesar biji buah jeruk di seluruh permukaannya. Rokku berbuku-buku, lebar, menyeret hingga ke tanah, dihiasi garis-garis sutra dengan warna yang lebih cerah. Rambutku tergerai indah, tidak dikepang seperti para wanita lain. Kohl berbaris rapi di atas mataku, melengkung di sekitaran alis runcing yang tipis. Bibirku dihiasi buah murbei, merah merona, dan bedak tipis mengepul wajahku. Kini, setelah kuperhatikan diriku di kaca, menyadari pesonaku sendiri, aku yakin Allah akan memberikan pesona-pesona-Nya padaku malam ini.
Maka, aku menari di hadapan para pria istana dengan kaki telanjang. Sekitar dua puluh penari,
termasuk aku, menari kathak di hadapan hadirin Bazaar Meena. Tungkaiku lincah bergerak, gemerincing gelang di lengan dan kaki berbunyi kecil-kecilan seirama, menimbulkan bunyi serempak bagai lonceng-lonceng kuil dan gereja setiap pagi. Suara dholak dan sehnai merekah dan kuncup di udara. Sesekali suaranya keras, dipadukan dengan gerak kami yang rancak. Sesekali suaranya samar, dan sesekali memelan hingga nyaris tak terdengar. Bagai merak, kepercayaan diriku tumbuh di sana, sejalan dengan acara menjemukan yang disaksikan oleh Sultan, oleh para Ratu, oleh Janda Sultan, oleh para Pangeran dan Putri kesultanan, serta ningrat dari seluruh kelas. Di ujung tarian, Sultan Jahangir dan ibuku memberikan hadiah berupa kalung-kalung, cincin hidung, gelang-gelang dalam bentuk tak terjamah pikiranku yang dilemparkan di tengah-tengah halaman.
Cukup mengesankan, pikirku kemudian. Namun tak satu pun hadiah itu memenuhi hasratku sendiri. Sebab hausnya diriku hanya ada dalam diri Khurram. Pujiannyalah yang kunantikan, jentikan jari atau kedipan matanyalah yang kuharap dalam diam. Dan Bazaar Meena hampir berakhir. Malam hampir menua dan mulai menyurut ke bawah garis bumi. Aku mulai ragu, malas pada diriku, malu pada tindakan dan pencapaianku sendiri.
Lalu, saat aku mulai letih berharap, disusul tangisan yang berisak-isak, Allah memberikan sebuah jalan. Seorang budak perempuan membawakan nampan emas berisi kalung bertatahkan permata dengan bongkahan safir cerah di tengah-tengahnya. Di sana, terdapat sekuntum mawar putih menguncup yang dikeringkan.
Gadis budak yang membawa benda itu mengabur dari pandanganku. Aku dibiarkan berdiri sendiri di bawah berkas-berkas cahaya keperakan bulan, yang memutih ketika menyentuh kalung safir itu. Aku mencium bau bunga, dengan bahagia menertawai peruntunganku. Benda ini berasal dari Khurram. Dialah yang memberikannya. Mawar putih hanya tumbuh di istana Khurram. Hanya ada satu di istana, dan takkan berubah. Dalam tradisi muda-mudi, mawar adalah tanda mata. Penanda bahwa seorang pria menaruh hati. Aku tak pernah menyaksikannya bicara sepatah kosa. Tapi perbuatannya telah mewakili seluruh kata-kata yang mungkin saja tak mungkin ia sampaikan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur dengan puas, dengan keringat kebahagiaan yang menetes dari mimpi yang kelelahan. Senyum manis masih menggelora, terbasahkan oleh kata-kata yang kuucapkan dalam diam, dan aku masih berkutat dan berputar-putar di atas dipan sampai para penjaga meneriakkan jam malam. Dadaku meledak, serasa ditarik dua ekor unta, dicelurkan ke dalam tinta cinta, dinodai oleh rasa bersalah. Sebab di akhir malam itu aku tahu, tersentak, disadarkan oleh sebuah mimpi buruk serta guntur, bahwa Arjumand tak boleh tahu tentang hal ini. Dan walaupun ia tahu, si Arjumand itu takkan pernah mengatakan apapun. Sebab dia telah belajar, bahwa kekerasan dan pertunjukan kecemburuaannya secara nyata, hanya akan membawa mala bagi dirinya. Oleh sebab itu, dia memilih untuk diam, kendati aku tak tahu sama sekali arti diamnya.
Belakangan, aku telah tahu, bahwa Arjumand mengetahui lebih banyak dari yang kupikirkan. Bahwa ia telah melarang Khurram untuk mengirim benda serupa. Bahwa ia mengatakan betapa hal itu hanyalah berupa hasrat berahinya, bukan cinta! Seolah-olah Khurram bernafsu bagai sapi jantan. Bahwa Arjumand menangis dan bersedih hati dalam kubangan kecemburuan yang digali oleh suaminya sendiri. Pada akhirnya, Khurram telah menyadari, bahwa kasihnya padaku takkan mungkin, sebab pengabdian Arjumand melampaui segala cinta yang mungkin saja ia miliki untukku. Nazeer Khan telah tahu, Ibu telah tahu, seluruh zenana telah tahu, namun aku ragu apakah Sultan Jahangir juga tahu. Orang-orang itu, baik Nazeer Khan atau Ibu, membiarkanku bergelut dalam derita seorang
diri. Orang-orang menentukan jalannya sendiri saat mereka dewasa. Dan aku bukan lagi gadis lugu yang gemar merengek dan meminta. Tak sekadar seorang perempuan dalam kisah cinta-cintaanya yang memuakkan. Di akhir segalanya, aku telah kehabisan seluruh daya, sebab yang kulakukan hanya mencium bau mawar putih kering itu bagai orang gila. Mataku sayu, membengkak di satu malam, bibir kering di satu malamnya lagi, pingsan di malam lainnya.
Hingga saat ini, saat aku memikirkan kejadian itu kembali, mataku telah membengkak karena air mata.[]
__ADS_1