
Sultan Jahangir memiliki empat orang Pangeran. Keempat-empatnya memiliki kisah mereka sendiri, baik dalam bentuk diabaikan atau diunggulkan, diasingkan atau dipuja-puja. Dan kendati begitu, para ningrat telah—dan harus—tahu meletakkan kepala mereka di bawah kaki Pangeran yang mana. Sebab hal itu akan menentukan haluan kepala mereka bergulir. Di ranjang dalam bentuk menua, atau di tiang eksekusi, dipancung.
Putra pertama Jahangir adalah Pangeran Khusrau. Dilahirkan oleh istri pertamanya, sepupunya, Ratu Manbavati, putri dari Raja Bagwant Das dari Kerajaan Hindu Rajput Amer, yang dinikahi Jahangir sebagai aliansi politik saat ia masih bernama Pangeran Salim. Khusrau teramat dipuja-puja, dibesarkan oleh para tutor terbaik, diajarkan hal-hal luar biasa, dan dikatakan sebagai penerus kesultanan. Namun karena itulah, sebab ia terlampau percaya diri dan menilai, Khusrau memberontak pada ayahnya ketika Sultan Akbar meninggal. Pemikirannya sederhana. Dia lebih layak daripada ayahnya sendiri.
Maka, Sultan Jahangir mengirim anaknya ke pengasingan, tidak dibiarkan menjamah cahaya. Khusrau dan istrinya dibiarkan mengasihani hidupnya sendiri. Bertahun-tahun hidup bagai orang miskin. Hanya mengamati tanpa dapat menyentuhnya. Sebagai tambahan, Sultan Jahangir membutakan matanya. Kini, dia setengah gila, tak tahu harus hidup dan mati dengan cara apa. Aku pernah melihatnya, dan ngeri dengan kehidupannya yang terselimut kisi-kisi kegelapan.
Putra kedua Jahangir bernama Pangeran Parviz. Dilahirkan oleh istri ketiganya, Ratu Sahibi Jamal, putri Khwaja Hasan. Parviz hidup dengan sedikit pengajaran, sebab baik ayahnya maupun seluruh kesultanan telah meyakinkan diri, bahwa Khusraulah yang akan memerintah kesultanan setelah ayahnya wafat. Maka, Parviz turun dalam malapetaka keningratan, yang membawanya pada ketercelaan dan nista, sebab ia hidup terlunta-lunta dalam anggur dan wanita, ditempatkan jauh di Deccan, di selatan sana bersama pengasuh-pengasuh dari jenderal tertinggi di kesultanan hingga kini.
Putra ketiga adalah Pangeran Khurram. Dilahirkan oleh istri kedua Jahangir, Ratu Jagat Gosain, putri Raja Udai Singh dari kerajaan Hindu Rajput Mewar. Padshah Begam zenana kesultanan sebelum ibuku datang. Tampan, cerdas, menjanjikan, berwibawa, kuat, berselera, tanpa kurang suatu apa. Khurram adalah Pangeran terbaik setelah Khusrau diasingkan. Dia ditempa dengan matang, disiapkan sebagai penerus kesultanan, dimanjakan dalam fasilitas dan wanita, dicerdaskan oleh tutor pilihan. Pada akhirnya, dia memang tumbuh cakap sebagai Pangeran memesona, membuatku terlalu banyak berharap dalam mimpi tak berjeda. Dia telah diberi perintah untuk memadamkan pemberontakan di daerah-daerah selatan dan barat laut di usia muda. Telah diberi gelar Shah Jahan, Raja Dunia. Dan betapa para wanita menginginkan sentuhan serta ciumannya dalam tidur tak nyaman mereka. Baik khayalan atau dunia nyata.
Putra keempat Jahangir, oh ya Allah, betapa kikuk hatiku untuk menjelaskan lelaki ini, adalah Pangeran Shahryar. Dilahirkan oleh seorang selir beruntung yang diecap satu malam bernama Yasmina. Status kelahiran akan menentukan peruntungan kehidupan. Karenanya, Shahryar sama sekali tak diperhatikan, hampir-hampir tak diakui, dan selalu terabaikan, dibiarkan hidup sebagaimana dia inginkan. Kemudian, akibat kemalangannya, dia dijuluki nashudani—tak berguna, panggilan paling hina bagi seorang Pangeran Kerajaan. Aku pernah mengamatinya dari balik pohon kamboja. Kupikir akan lebih baik jika kujalin saja persahabatan dengan si nashudani ini karena kami dilahirkan di tahun yang sama. Apa salahnya bersama-sama mengasihani hidup yang tenggelam dan terbaikan. Namun betapa ngeri aku melihatnya setengah telanjang di depan kediamannya dengan para wanita budak. Tampangnya menjijikkan, janggutnya berantakan, sama sekali tak seirama dengan bingkai wajahnya yang lusuh dan kuyu. Dia kerap kali bersenandung tak jelas, mengucapkan sepatah kata tanpa makna, lalu mencium satu dua wanita budak yang ia rangkul bersamanya. Saat itu, aku telah menyadari, bahwa Shahryar bukanlah, sama sekali bukan, demi kasih Allah, sebuah pilihan.
Sebuah kabar dari Khurram melesat masuk ke Benteng Merah Agra saat dini hari. Aku mengerjap saat Nazeer Khan membangunkanku tiba-tiba, memanggiku dari balik tabir berkisi-kisi. Setengah berbisik. Namun suaranya jelas mengajak-ajak. Kusibakkan selimut sutraku, berlari menuju daun pintu. Sepanjang koridor zenana, kaki-kaki kecilku menggemerincingkan gelang-gelang emas, yang menyatu dengan nyanyian jangkrik muda di balik hutan rerumputan. Rokku menyapu lantai dingin, membawa debu dan air yang lengket di permukaannya. Saat aku tiba ke kediaman Ibu, Sultan Jahangir berada bersamanya. Maka aku berdiri di balik tabir, menghindari menimbulkan suara berisik, tersembunyi di bawah kegelapan yang hangat.
Aku menyimak dengan baik bersama Nazeer di sana hingga Sultan Jahangir berteriak murka. Dia menggulung suratnya, melemparkannya ke perapian yang menyala. Api menjilat-jilat dan memakan kertas itu menjadi abu, menyisakan bau, dan aku menutup hidungku rapat-rapat saat asap-asap putih menguar ke udara terbuka. Saat terakhir amarahnya semakin menjadi-jadi, aku mendapatkan sesuatu bahwa, Pangeran Khusrau telah meninggal di Burhanpur.
Penyebab kematiannya kolik. Tapi kemudian, saat kesultanan hampir-hampir menjatuhkan diri dalam duka, Sultan Jahangir memiliki dugaan, dan diperkuat dengan seorang ningrat yang datang dari sisi Khurram, melayang diam-diam dari kediamannya, bahwa Khurramlah yang membunuh abangnya!
Aku tersentak, menyadari kegelisahan. Diriku menangkap gejolak dan murka. Dan aku tak melakukan apapun selain berderap muram di kediamanku dengan bulu kuduk meremang serta degup jantung yang tak normal. Mimpi tentang pesan-pesan kematian datang kembali, dan kerap tak pergi kendati aku terjaga. Mimpi-mimpi itu memburuku, sebab baik saat aku terjaga atau terlelap, mereka datang dan mengatakan bahwa seseorang akan mati. Kini, Khusraulah yang mati! Dan, teramat pahit untuk mengatakan ini, sebab Khurramlah penyebab kematian abangnya itu. Aku berdoa pada Allah agar nyawa Khusrau diampuni. Sebab dia telah cukup diri menerima begitu banyak nista sebagai seorang Pangeran kesultanan yang sempat dipuja-puja. Namun dibuang dan diabaikan pada akhirnya. Dia telah dibutakan oleh ayahnya. Setengah gila, setengah hidup, pada akhirnya, dia mati dalam ambang-ambang khayalan dan ketakutan. Apa lagi kemungkinan terburuk setelah itu yang dapat Khusrau terima? Sebab dia telah tahu, bahwa jika bukan ayahnya yang membunuhnya, maka saudara-saudaranyalah yang akan melakukannya untuk mengamankan takhta.
Kami pernah bertemu di suatu pagi dalam keremangan cahaya, saat ibuku dengan terburu-buru menjodohkanku dengan Khusrau yang setengah buta itu. Aku berdoa, demi kasih Allah, semoga Khusrau takkan setuju. Ibuku telah berencana untuk menarik sang Pangeran dari rengkuhan kegelapan menuju cahaya, berencana mendudukkannya lagi sebagai pewaris kesultanan yang sah setelah pertengkarannya dengan Khurram. Namun, seperti yang kuharapkan, Khusrau menolak, dan aku bersyukur karenanya. Sebab aku telah berkeyakinan bahwa dia takkan membawakan apa-apa selain kesulitan. Aku telah melihat istrinya. Dan dia menua dalam usia muda yang menggelora.
Keesokannya, Sultan Jahangir menulis surat untuk Khurram, menagih penjelasannya di istana, menunggu dengan gelisah, berderap di karpet Persia tebal dengan atau tanpa turban. Dia menolak minum anggur atau menenangkan pikirannya dalam opium. Gadis budak dan musik telah diusir keluar. Namun Khurram tak datang! Dia menulis surat untuk ayahnya. Menjawab seadanya, bahwa Khusrau memang meninggal karena kolik, bukan pembunuhan sebagaimana yang kabar burung tuturkan. Dan Khurram, dikuasai rasa takut dan dilindungi oleh situasinya sendiri, enggan keluar dari Burhanpur menuju utara.
Saat itu pulalah Shah Abbas, Shahinshah Safawi-Persia merebut Qandahar—kota perdagangan paling penting di barat laut kesultanan. Khurram dipanggil kembali, namun dengan terburu-buru dia menolak dengan alasan bahwa dia harus mengayomi wilayah-wilayah yang tak bisa diperintah abangnya Parviz. Jadi, Sultan Jahangir memberikan gelar baru untuk Khurram, gelar yang sama dengan gelar Shah Jahan-nya yang diagung-agungkan itu. Dia memanggil Khurram bi-daulat—bedebah. Sultan Jahangir telah mengirimkan sebuah surat lagi. Berisi penegasan bahwa ia takkan melihat muka anaknya itu sampai ia datang sendiri ke hadapan Sultan untuk menjelaskan kepengecutannya dalam menjelaskan situasinya sendiri.
Kini, secara kasar, Khurram telah dibuang dari kasih sayang ayahnya. Dan ini semua sejalan dengan rencana ibuku untuk melemahkan pengaruh Khurram di singgasana. Karena jika Khurram tak lagi diharapkan, hanya ada seorang Pangeran yang berada di istana. Khusrau sudah meninggal, baik diharapkan atau tidak. Parviz berada di Deccan, dengan anggur dan wanitanya. Khurram, si bi-daulat, dibuang dari pangkuan kasih sayang ayahnya, diasingkan dari kesultanan. Maka, hanya ada satu Pangeran di istana. Hidup dalam relung-relung paling dalam mardana. Kehadirannya disia-siakan dan terlupakan, hampir-hampir tak pernah dijamah. Enggan dirangkul oleh para ningrat dan menteri istana. Namun, ibuku mengingatnya, sekali, dengan niatan baik hendak menggapai tangannya keluar dari kegelapan terdalam dan kesia-siaan hidup. Dia akan menyesal atas pilihannya itu.
Sebagai bungsu, Pangeran Shahryar, si nashudani, si tidak berguna yang dilahirkan di tahun yang sama denganku, sudah siap untuk menikah.
***
Aku mengambil sebuah pasta henna dan mengukirnya di tangan, membentuk sulur-sulur mawar yang melingkar di punggung tangan. Aku tak memikirkan apapun—atau telah mencoba, lebih tepatnya. Dan aku yakin bahwa mataku kini telah membengkak dari ukuran aslinya. Kehampaan meraja dalam hatiku. Mengeras, membatu hingga melukakan. Kadang kala hatiku terasa berat, lalu aku menjatuhkan diri dalam kubangan kesedihan yang tak berkesudahan. Aku telah melepaskan hasrat jiwaku sendiri pada dunia. Percaya diri sekali bahwa tak ada kebahagiaan yang disisakan Allah padaku. Kini aku tahu bahwa apa yang diceritakan romansa masa lalu soal perpisahan dan kemelaratan hati benar adanya. Karena tak semua orang mendapatkan kebahagiaan sebagaimana yang mereka inginkan. Beberapa dipaksa menderita dengan takdirnya. Sementara yang lain mencoba bahagia dengan apa yang mereka punya.
Ibuku telah mengatur pernikahanku dengan Shahryar. Si nashudani itu, oh ya Allah, aku tak tahu apalah yang akan kudapatkan dari dirinya yang menyedihkan. Membayangkannya telah meremangkan bulu kudukku. Membuatku ngeri. Hingga hendak kubuang saja daya hidupku sendiri. Kutarik kakiku. Kubenamkan kepalaku di lutut, lalu aku menangis di sana.
Kulihat Nazeer Khan berdiri di ambang pintu. Tangannya dilipat, matanya ditundukkan ke bawah, dadanya membusung bagai leher unta. Kuabaikan kehadirannya di sana. Tapi, dia datang kemari karena ibuku telah memanggilku, katanya. Jadi aku pergi, tak mau menimbulkan keributan yang tak perlu.
Aku pergi dengan langkah yang gontai, terhuyung-huyung dan hampir terjatuh saat lantai menabrak jari-jariku yang mungil. Selama perjalanan, aku hampir tak dapat melihat benda di hadapanku sebab mataku kini telah menyipit dan perih. Aku kesulitan memandangi benda di sekitaranku sendiri. Pohon neem, pohon asam, pohon kamboja, para pelayan, dan ada begitu banyak dinding. Hanya karena berkat Nazeer menuntun sikuku aku dapat mencapai kediaman ibuku. Selama perjalanan, aku telah mendengar bisik-bisik. Beberapa terdengar sebagai hinaan. Sementara yang lain adalah ucapan-ucapan belasungkawa dan decak sedih atas kemalangan nasib.
Saat aku tiba, ibu sedang duduk di mejanya. Dia tengah menulis farman kesultanan tentang pernikahan ini. Sultan Jahangir telah memberikannya previlese untuk itu. Dan sejumlah previlese lain untuk menuliskan farman lainnya. Dia duduk dengan punggung tegak. Matanya awas, biru cemerlang berkilauan. Dia bahkan hampir tak memerhatikan gerakanku saat aku masuk ke sana.
“Burfi, Ladli?” tanyanya. Dia berjalan, mengambil sepiring burfi dalam pinggan emas, menyodorkan makanan itu di mukaku.
Aku menggeleng, menghindari percakapan untuk bicara.
Ibu duduk di sebelahku. Napasnya ditarik pelan-pelan, lalu dia mengembuskannya dalam nada yang seirama. Kulihat dia mengadahkan kepala, dan matanya mengerjap-ngerjap malas. Rambut hitamnya tergerai indah bagai kayu eboni. “Kenapa?” Dia melihat mataku dan mengernyitkan dahi. Aku menggeleng lagi, dan dia memegangi kedua pundakku dengan hati-hati. “Kau butuh sesuatu, Ladli?”
__ADS_1
Aku menggeleng. Kali ini lebih kuat.
Dia mulai kesal. “Katakan sesuatu, Ladli!” katanya marah sambil mengguncangkan bahuku. Dia berhenti sejenak kemudian berkata. “Bencikah kau pada pernikahan ini?”
“Katakan padaku apa yang bisa kudapat dari Shahryar?”
Dia mengernyit lagi. “Oh? Apakah ini soal Khurram atau Shahryar, Ladli?” Pandangannya berubah awas, dan aku tak dapat menahan lebih lama lagi derita yang berdebum-debum di hatiku. “Sejak kapan kau menghitung untung rugi terhadap sesuatu?”
Aku membuang muka. Menutup mata. Tak ingin mendengar dia mulai mengoceh.
“Apakah kau masih mencintai si bi-daulat itu?” tanyanya.
“Dia punya nama, dan gelar pula.”
“Diam!” pekiknya. Suaranya mengambang lalu terbang. Tiada siapapun di ruangan ini, jadi suara keras itu hanya memekakkan kami berdua. “Apa gunanya gelar Shah Jahan sekarang? Bodoh sekali baginya hingga harus membunuh Khusrau? Kini dia ketakutan sebagai pengecut ketika ayahnya tahu kebenaran itu dan enggan keluar dari Burhanpur untuk menghadapi Shah Abbas. Bi-daulat itu pasti akan meminta suaka ke Golconda dan membuat ayahnya makin murka. Khurram membuat ini semua menjadi sulit. Jika saja dia tidak bodoh, dia tak perlu menjauh dari singgasana untuk mengambil apa yang menjadi miliknya.”
Aku menarik napas, berusaha untuk tetap tenang. “Bi-daulat itu tak ada beda dengan si Nashudani. Tak ada yang berguna dari para pangeran itu, kalau begitu. Mereka semua cuma pria bodoh yang banyak bermimpi dan terburu-buru.”
“Kau benar. Tapi setidaknya kita dapat memupuk mimpi kita bersama mereka. Pikirkan kesempatan dan hadiah yang kita dapat di depan, Ladli. Para wanita macam kita harus mengambil tempat saat para pria terlalu bodoh menangani urusan mereka sendiri.” Dia mencoba merangkulku. “Apakah kau tak ingin menjadi salah satu wanita yang diingat dalam hikayat bangsa Mughal?”
Aku melepaskan cengkeramannya atas lenganku. “Apakah kau pernah menanyai Khurram soal aku, Bu? Walau sekali, barangkali.” Aku mulai menangis lagi. Hatiku mencair oleh air mataku sendiri. Namun dia cepat keras oleh kebencian dan putus asa. Saat aku berkeyakinan bahwa Shahryar bukanlah pilihan, dia adalah kewajiban. Aku tak memiliki kesempatan untuk memilih, sebab aku bukanlah siapa-siapa kecuali putri janda yang beruntung. Tapi, aku juga tak bisa mengatakan bahwa Khurram adalah pilihan. Sebab Arjumand ada di sana. Arjumand masih hidup bersamanya. Dan selama dia ada, selama dia memiliki anak-anaknya dari Khurram, takkan ada wanita lain untuk suaminya.
“Pernah,” katanya pelan-pelan. “Beberapa kali dan tak bisa.” Ada nada yang ditahan dalam kalimatnya. Seolah-olah ia telah menggigit kekesalannya sendiri.
“Kau Padshah Begam zenana, Bu. Jika kau memang perduli padaku, kau akan melakukannya untuk itu.”
Aku memalingkan wajah, menghindari tatapannya. “Dan apakah itu alasan yang baik untuk menikahkanku dengan Shahryar? Nikahkan aku dengan seseorang di luar sana. Aku berhak memilih seseorang. Aku tak ingin terkurung pada kewajiban yang dibuat-buat. Panggil seorang ningrat yang cakap, mentereng hidupnya, berkasih-kasih sifatnya, lemah lembut dirinya. Bukan si nashudani! Dia badmash!” Aku menangis lagi. “Apakah ada kasih sayang di antara kami? Aku ragu, dan aku sama sekali tak yakin bahwa dia akan mencintaiku. Begitu pula aku, Bu.” Aku semakin terisak-isak. “Aku tak mencintainya, sebab cintaku hanya pada Khurram semata. Aku tak pernah hidup untuk melihat lelaki sempurna lain selain dia. Dan saat aku memilihnya, aku harus jatuh pada adiknya yang ********. Apa ini? Demi kasih Allah, apakah kau pernah berpikir bahwa aku harus diserahkan pada kebahagiaanku sendiri, Bu?” Sebelum Ibu menjawab, kusambung kalimatku cepat. “Kapan? Pada kenyataannya, kenyataan yang pahit ini, aku harus menyerahkan hidupku sebagai permainan orang lain.”
“Oh, Ladliku sayang.”
Dia berusaha menggapaiku, namun aku menjauh. Aku telah melihat ketamakannya pada takhta dan kekuasaan. Jika Khurram menerima tawaran ibu untuk menikah denganku, saat Sultan Jahangir meninggal, akan ada posisi khusus untuknya di zenana kesultanan sebagai Sultan Begam. Dia akan bertempur dalam dunia politik para pria sampai kematian datang padanya. Tapi, kini, si Shahryar ******** itulah yang akan dikendalikan. Ibuku telah menilai-nilai, bahwa jika Khurram telah dibenci oleh Sultan Jahangir, maka Shahryar dapat dipromosikan sebagai penerus kesultanan.
“Aku akan menerima pernikahan ini kendati aku tak menyukainya,” kataku pelan. Aku tahu yang kukatakan, sebagian barangkali, namun aku ragu pada maknanya. Sebab hidupku akan jatuh pada Shahryar dan kehinaannya. “Berapa banyak hadiah untuk pernikahan ini?”
“Sepuluh ribu rupee darinya,” jawab ibu.
“Oh,” tanggapku acuh tak acuh, menarik satu alisku ke atas. “Aku ragu apakah aku akan menikmati pernikahan ini atau tidak. Dia lebih miskin dariku. Sepuluh ribu rupee? Dan dia seorang Pangeran Kerajaan. Hanya itukah hartanya? Khurram membeli perhiasan Arjumand di Bazar Meena seharga sepuluh ribu rupee.”
“Akan kupastikan akan ada banyak lagi setelahnya.”
“Kuharap begitu.”
“Percayalah padaku, Ladli. Shahryar pria yang baik.”
Aku mengernyit, menyadari ketidakpahaman pada kalimat itu. Jadi, aku keluar karena muak. Mataku semakin membengkak, dan aku menderita karenanya. Selama perjalanan, aku berderap dalam amarah. Hari-hariku habis dalam penantian mengerikan yang sama sekali tak kuinginkan. Tidak adakah kasih Allah dalam hal ini? Aku telah memercayai-Nya sepenuh hatiku, namun Ia tak memberikan jalan keluar pada masalah ini.
Sepuluh ribu rupee? Gumamku dalam diam. Seharga seluruh perhiasan Arjumand yang dibeli oleh Khurram? Sebegitu rendahkah aku? Tapi aku enggan menyerukan protes ini karena aku tahu bahwa takkan ada gunanya meronta-ronta bagai orang gila. Pernikahan akan terjadi, dan aku remuk redam dalam ikatan suci ini. Aku berdoa kalau-kalau Allah mengambil nyawa Shahryar di malam pernikahan itu. Agar terbebas pula diriku dari kesialan dan mala. Tapi, hingga hari pernikahan nanti, dia masih hidup. Aku telah mendengar bahwa dia telah berbual hal-hal yang tak perlu ia katakan pada teman-temannya. Dia telah berkata bahwa hanya dialah kini Pangeran yang diakui, yang memiliki hak pada singgasana ayahnya, yang teramat cakap hingga dilantik sebagai menantu Padshah Begam. Tapi dia salah, teramat salah. Dia berpikir bahwa kini dirinya diakui. Tapi Shahryar tak mengerti bahwa dirinya hanya dijadikan salah satu pion catur dalam permainan orang lain. Hatiku tak menginginkannya. Maka kehadirannya akan tertolak mentah-mentah.
__ADS_1
Pernikahan terjadi seminggu kemudian. Berlusin-lusin hadiah dikirimkan dari mardana menuju zenana. Sejak pagi merekah, lusinan sutra dan beledu telah membanjiri halaman kamarku. Para pelayan datang untuk menggosok tubuhku di dalam bak, yang mereka teruskan dengan mengoleskan henna di seluruh tangan dan kakiku. Warnanya kemerah-merahan, lebih mirip darah dalam rengkuhan mataku. Saat itu, berbagai perhiasan datang dari Shahryar. Dia telah membentuk keseluruhannya dalam bentuk mungil yang tak teramat indah. Kalung-kalung, gelang, gelang kaki, cincin, cincin hidung, anting, yang seluruhnya bertatahkan permata, batu rubi, batu safir, lapislazuli, serta giok kehijau-hijauan berpendar. Tak satu pun hadiah itu menarik bagiku, tapi pernikahan mewajibkan seorang mempelai wanita memilih perhiasan dari calon suaminya. Jadi, aku memilih cincin kecil yang diukir bagai mahkota mawar, diberikan sebuah mutiara mungil di atasnya. Dalam hatiku, berkecamuk beberapa hal. Apakah berita pernikahan ini sampai pada Khurram? Dan apa pula pendapatnya soal ini? Dan Arjumand? Oh, betapa aku merindukannya di sini. Karena selama hidup menjemukan di zenana, dia adalah satu-satunya wanita yang mengerti kehidupanku berlalu.
Aku berdiri di balik tabir tebal, berada di posisi paling depan dengan cadar yang menutup seluruh wajahku kecuali mata. Kusentuh tirai ini, mencondongkan wajah ke depan, melihat-lihat situasi. Kurasakan dinginnya tabir menjalari kepalaku, yang menyamai betapa dinginnya hatiku. Para wanita duduk di belakangku, bersama ibu sebagai pemimpin mereka. Sultan Jahangir duduk di seberang sana, dengan qadi kesultanan, para ningrat, dan tentu saja, Pangeran Shahryar. Cahaya dari tuniknyalah yang berpendar-pendar, Bajunya lebih mewah dari wajahnya sendiri. Membuanya bagai orang miskin yang tiba-tiba jadi raja. Aku terkekeh sepele padanya. Ibukulah yang telah mengirimkannya hadiah semacam itu untuk menutupi ketidakbergunaannya di istana. Tapi, terserah hendak dipoles macam apa, bagi semua orang dia tetap si nashudani.
Pernikahan dicatat di farman, dibubuhkan stempel Sultan, lalu sang qadi memimpin doa bersama-sama. Aku menangis di doa itu, karena semua doa bercerita mengenai harapan dan kebahagiaan dan impian. Untuk apakah semua itu dalam diriku? Yang kini telah hampa pada ketiganya. Apa lagi yang kuharapkan, dan kenapa pula diriku mengharap-harap. Shahryar teramat dungu, lebih dungu dari kerbau di istal kesultanan. Dia bahkan terlalu kikuk untuk menuliskan namanya sendiri di farman itu. Tangannya gemetaran dan matanya sayu memerah. Aku menduga dia baru saja mabuk sebelum didandani pagi ini.
Acara pernikahan selesai saat rembang petang. Orang-orang beriman dipanggil untuk shalat dalam adzan-adzan yang dikumandangkan. Maka, kami membeberkan sajadah di atas ambal Persia, melengketkan dahi ke sana untuk berdoa dan berkata sebanyak tiga kali: Maha suci Allah yang maha tinggi lagi maha terpuji. Saat doa-doa dipanjatkan ke langit suci sekali lagi, saat ufuk masih memerah muda cerah, menyisakan rona jingga dan indigo, acara pernikahan ditutup bersama-sama dalam pelukan dan ucapan selamat.
Ketika malam, pertandingan polo, pacuan kuda, dan pertunjukan tari dan teater dilakukan di lapangan Benteng Agra. Seluruh ningrat, seluruh menteri, para wanita zenana yang ditutup cadar, Sultan dan kerabatnya, seluruhnya ikut memerhatikan, meninggikan dagu ingin tahu, berjinjit-jinjit melihat pertunjukan memuakkan yang hanya dilakukan oleh para lelaki dengan otot liat itu. Tapi, bagiku, tak ada apapun malam ini kecuali rasa tak nyaman. Sebab pengantin pria dan wanita akan disatukan dalam kamar pengantin. Apakah yang akan terjadi, oh ya Allah, dan apa pula yang akan terjadi di hari-hari yang akan datang? Apakah hari itu akan datang? Atau aku akan mati sebelum hari-hari yang akan datang itu tiba.
Acara selesai saat tengah malam. Bulan pucat berpendar, bertengger tunggal di langit malam. Aku memerhatikan benda itu saat para pelayan dan kasim menggiringku masuk ke kamar pengantin. Sepanjang gang, kelopak-kelopak mawar ditaburkan tak beraturan. Baunya memuakkan, namun menjanjikan. Inikah yang dirasakan Arjumand dan Khurram saat mereka akan bercinta? Dengan sakralnyakah cinta mereka dipersatukan? Aroma mawar menembus rangsangan hidungku, bersatu dengan rasa tubuhku. Kaki-kakiku yang dihiasi henna melangkah ragu-ragu. Sejenak, aku kegirangan, namun kegirangan itu cepat sirna oleh ketakutan. Tirai pembatas berwarna emas disibakkan dari daun pintu, dan aku melangkah ke dalam. Kududukkan diriku di atas seprai putih bersih, ditaburi kelopak mawar merah di tengahnya. Lilin-lilin beraroma tajam dan air mawar telah disiramkan di seluruh kamar.
Lama aku menunggu, hingga mataku tak dapat menolak kantuk. Namun, aku berkeras bahwa aku takkan terlelap untuk tidur. Bau mawar tajam menusuk-nusuk hidungku tanpa jeda, dan aku tak bisa memikirkan hal lain selain romansa atau kebahagiaan yang gagal kudapatkan. Aku merapatkan punggung ke kepala dipan, bersandar di sana, lalu mengadah dan menangis. Apakah Allah akan berbaik hati padaku malam ini? Barangkali, bagaimana jika Ia tidurkan saja Shahryar di sini hingga fajar. Barangkali, kalau saja, barangkali, kalau saja, itu saja yang dapat kukatakan. Padahal kutahu Allah membenci perkataan macam itu.
Seorang lelaki bergemuruh di ujung pintu. Suaranya membahana. Marah telah membakar kata-katanya sendiri. Dia mengumpat-ngumpat dan masuk secara terburu-buru. Dia berhenti dan menarik napas bagai kijang yang dikejar-kejar pemburu. Saat dia menyadari bahwa seseorang tengah duduk di atas dipan, dia berhenti pada umpatannya dan memerhatikan dengan saksama. Tangannya di pinggang, matanya tergesa-gesa dan tak sabaran. Pandangan kami bertemu. Dia menatapku dengan liar. Dan aku memerhatikan dirinya sambil ngeri sendirian. Inikah dia? Pengantin priaku? Shahryar melepaskan turbannya buru-buru, melepaskan tuniknya dan menuju ke dipan. Tubuhnya jelek. Dadanya berbulu berantakan. Dan kulitnya yang kecokelatan tampak kusam. Matanya merayap di atas tubuhku, membuatku malu sekaligus jijik. Lalu dia tersenyum dalam nada yang mengerikan.
“Inikah dia si Putri Padshah Begam itu? Sungguh cantik.” Dia menghapus pipiku, menyeringai. “Oh, Sayangku,” katanya tajam. “Apakah kau pernah melihatku? Ah, pernah, barangkali. Hanya sekali, dan tak penting. Benarkan? Aku si nashudani, kau tahu?”
Aku tak menjawab, kepalaku menunduk memandangi diriku sendiri. Jantungku melompat gila-gilaan. Tanpa kuduga, dia memegangi daguku dengan kasar, mendongakkanku dengan paksa. “Jawab aku!”
Betapa merinding aku mendengarnya. “Ya, Tuan. Ya,” jawabku gelagapan.
“Gadis nautch!” Dia mengenyahkan tangannya dari wajahku. Ingin aku menangis, tapi kutahan sebisa mungkin. Shahryar kembali memburu mataku dan berkata-kata. “Apa kau tahu apa yang kuperoleh dari pernikahan ini? Tak ada! Mansab dan jagirku hanya meningkat beberapa. Dan ibumu, Padshah Begam zenana itu, mengatakan bahwa aku adalah pewaris kesultanan. Bah!” Dia meludahi lantai. “Wanita itu mencoba menipuku. Pewaris kesultanan mana yang hartanya bahkan tak lebih banyak dari menterinya sendiri? Semua orang mencoba menipuku. Ayahku, ibumu, jenderal kesultanan, para menteri dan orangtua dari istana. Mereka semua berkata bahwa akulah yang kelak akan mengenakan mahkota ayahku. Tapi aku tahu bahwa mereka masih menginginkan Khurram.” Dia berbalik dan berdiri. “Kenapa semua orang masih mengharapkan anak bi-daulat itu? Aku tak pernah membangkang pada ayahku. Aku tak pernah ingin melawannya. Aku bahkan tak pernah mencoba melukai saudaraku sendiri. Tapi semua orang membenciku dan malah mencintai pembunuh itu.”
“Mungkin sebab Khurram telah membuktikan dirinya bahwa ia berguna dan berjasa.” Kuberanikan diri untuk berbicara. Tapi, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Teramat keras, hingga aku memekik kesakitan.
“Siapa yang menyuruhmu menjawab pertanyaanku?”
“Maafkan aku, Tuan. Aku …”
“Diam!” katanya kuat-kuat. Dia tegak di hadapanku, memamerkan dadanya yang bidang. Napasnya tak beraturan. Dia mabuk, pikirku, dan amarahnya menjadi-jadi karena hal sepele. Matanya semerah ceri. Bau napasnya amat memuakkan. “Kau gadis pemberani, Ladli Begam. Siapa yang mengajarkanmu hal itu? Ibumu? Kau harus membayarnya karena telah berani menjawab pertanyaanku.”
“Tapi, Tuan, aku hanya berusaha membuatmu tenang.”
Sebuah tamparan mendarat kembali di wajahku. “Diam, Ladli! Diam kubilang!” Suaranya lebih mengerikan dari guntur, lebih murka dari badai. Aku terisak di hadapannya, yang membuatnya teramat senang karena hal itu. “Aku sama sekali tak tenang karena kata-katamu. Tak ada kata-kata yang dapat membuatku lebih baik hari ini. Semua orang terdengar mengejek dan main-main pujian. Sekarang, kau harus berdiri bagai anjing *****. Lakukanlah karena aku memerintahkannya.”
Aku bergeming. Dia murka, jadi dipaksanya aku berdiri dan diguntingnya tunik tipisku dengan paksa. Kini, aku setengah telanjang, dan dia teramat kegirangan saat aku memohon agar tak begini cara ia memerlakukanku di malam pertama kami. Tapi dia menolak. Berdalih bahwa aku adalah istri yang durhaka. Dia memerlakukanku bagai anjing liar. Dihujaninya tubuhku dengan rasa sakit. Dia buru-buru dan menyiksa. Inikah rasanya saat Arjumand dan Khurram bercinta? Ini pasti bohong, sebab rasanya teramat pilu dan menyakitkan. Tapi, Shahryar kegirangan sendirian. Dia menarik rambutku saat aku menangis.
“Diamlah, gadis nautch! Berteriaklah maka akan kuhajar kau di sini!” katanya dalam amarah. Kutahan agar diriku tak menangis kendati rasa sakitnya menjadi-jadi dan tak tertahankan sama sekali. Dia melanjutkan pekerjaannya dengan hina, dan aku tetap bagai anjing ***** yang ia paksa tundukkan. Bibirku berdarah karena kutahan rasa sakit ini dengan menggigitnya dengan gigiku. Tangan-tanganku meremas seprai putih, berkeringat karena tak tertahankan sama sekali. Dia menindih tubuhku, menghujaniku dengan rasa sakit yang sama berkali-kali. Pada akhirnya, dia tahu aku menangis. Dia tahu aku menderita. Tapi dia tetap melanjutkan siksaannya.
Aku terisak saat ini semua tak berhenti. Dia berkata sambil menampar. “Jika kau beri tahu ibumu, aku bersumpah kau akan lebih menderita di lain hari.” Maka, aku pun diam. Saat dia mencapai puncak dan kelelahan, dia terjatuh dalam rengkuhanku. Dipeluknya tubuhku, dan kulepaskan ia dengan jijik. Kurasakan nyeri di antara kedua selangkanganku. Darah membanjir di sana, menggenang bagai kubangan di tengah salju Kashmir. Nyeri itu tak hilang sepanjang malam, sejalan dengan dengkuran Shahryar yang memuakkan. Kupikir, kupikir dalam hati, bahwa Al-Qur’an Yang Mulia pasti salah. Kitab itu berkata bahwa siksa dan azab neraka akan dirasakan setelah kematian. Dan kini, saat aku masih merasakan denyut jantungku berdegup-degup hidup, aku merasa di kerak neraka.
Kemudian, kesultanan akan melakukan perjalanan ke Lahore untuk mengawasi pergerakan Shahryar dalam mengamankan Qandahar dari Safawi-Persia. Tapi, semua orang tak tahu, tak pernah pula menduga, bahwa Pangeran Khurram tengah berderap marah dari Burhanpur menuju Agra dalam parade gila-gilaan. Dia memberontak pada ayahnya.[]
__ADS_1