Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB III : BERKAH ALLAH


__ADS_3

Berbulan-bulan sudah sejak mimpi buruk dalam kenyataan itu berlalu. Tak pernah diriku berhenti untuk menyesali pilihan ibuku atau menyesali hidupku sendiri. Selama berbulan-bulan ini, Shahryar mendatangiku berkali-kali. Dan tetap tak ada yang berubah sebab aku masih diperlakukan bagai anjing ***** miliknya. Di satu malam, aku harus menyaksikannya memanggil tiga gadis budak dan dia bercinta dengan mereka di depan mataku. Oh betapa aku jijik pada pemandangan itu. Tapi ragaku tak memiliki cukup keberanian untuk menghancurkannya. Jika saja Allah memberikanku secercah harapan dan keberanian pada tindakanku, niscaya sudah kutusukkan belati tumpul di dadanya yang lunak.


Tapi, aku menolak menceritakan apapun soal ini pada ibu. Kendati Nazeer Khan tahu—semoga saja aku salah, dia takkan menceritakan hal ini pada ibu sebab aku telah memintanya berjanji saat ketahuan berdiri di ambang daun pintu di satu malam. Penderitaanku telah kulumat seorang diri. Telah kuteguk racun kehidupan tanpa berbagi. Agar hati dan isi tubuhkulah yang terbakar seorang diri. Tiada tempat untuk berbagi selain Allah. Siapapun tengah tak tahu bahwa putri sang Ratu Nur Jahan tengah bersusah-susah setengah mati.


Kesultanan melakukan perjalanan ke Lahore beberapa hari kemudian. Kami dituntun dalam prosesi parade besar-besaran yang terdiri dari gajah-gajah, unta-unta, kuda-kuda, tandu-tandu, kereta sorong, kereta kencana, ribuan menteri pejalan kaki dan prajurit serta budak-budak. Aku duduk di dalam howdah, sebuah tempat duduk beratap di atas gajah. Tirai-tirai tipis menutup seluruh sisinya, dan aku bisa leluasa tanpa mengenakan cadar di dalamnya. Selama perjalan, kuhabiskan waktuku untuk membaca puisi, menyulam, membaca Al-Qur’an Yang Mulia, menilik tirai sedikit-sedikit untuk merasakan udara sehat yang tak mengancam.


Semakin ke utara, iklim Hindustant semakin dingin. Hal itu karena wilayah utara bersentuhan langsung dengan Pegunungan Himalaya. Lahore hanya berjarak beberapa mil dari sana, didahului oleh Kabul dan Kashmir di posisi terluar daerah kesultanan. Selama ini, Sultan Jahangir menderita asma, yang membuat ibuku mengambil alih pemerintahan. Jadi dia membutuhkan udara segar untuk bernapas lega, agar ia punya kekuatan memimpin sidang istana, agar ia dapat tampil di jarokha setiap paginya untuk memberitahukan pada seluruh rakyatnya tercinta bahwa Sultan mereka masih hidup dan kesultanan yang ia pimpin aman dan sentosa. Maka, aroma pegunungan adalah tujuannya. Dan dia pasti akan bergerak ke Kashmir saat operasi militer Shahryar usai.


Kami tiba di benteng Lahore dua bulan kemudian. Hujan telah mengguyur kota ini sejak pagi, dan akan berlanjut hingga rembang petang. Lumpur-lumpur memperlambat gerak kami. Kaki-kaki gajah dan kuda tenggelam. Butuh waktu untuk menariknya keluar dari sana. Kulihat dari balik tirai tetes-tetes air masih berjatuhan dari langit kelam bagai tirai tipis bersih. Bunga mawar, melati, aster, lili, musk, kembang sepatu tengah mekar sempurna. Pohon-pohon asam, neem, dan kamboja memancang indah di seluruh jalanan berbatu, berbaris bagai prosesi penyambutan. Orang-orang tengah memanen padi mereka, atau mencabut melon atau labu di ladang yang subur. Saat parade kesultanan lewat, pemandu rombongan Sultan Jahangir meneriakkan: “lakukan taslim!” Maka, seluruh orang melakukannya: menempelkan tangan di dahi, menurunkannya, menempelkannya lagi hingga tiga kali. Para wanita bercadar atau purdah bersembunyi di balik terali jendela rumah mereka, mengintip melalui kisi-kisinya yang dingin serta kecil.


Kuda-kuda kami meringkik, mengibas-ngibaskan tengkuknya yang basah oleh air hujan. Kukeluarkan tanganku yang bergemerincing gelang emas ke luar tirai, merasakan udara. D sini memang dingin. Jadi aku menarik selimut wol tebal dan membebatkannya hingga ke leher. Gajahku bergoyang-goyang mengikuti arus manusia yang memanjang, dan berhenti saat gerbang  benteng dibuka. Rantai besi diturunkan, lalu sebuah pintu kayu terbuka menjadi jalan di hadapan rombongan. Sultan Jahangir memimpin rombongan kesultanan di depan, disusul Shahryar, para ningrat kelas atas, Padshah Begam, para Ratu, anak-anak mereka, dan yang terakhir adalah para menteri. Rakyat kami meneriakkan kalimat “zindabad Sultan”, panjang umur sang Sultan, sebanyak tiga kali. Lalu, pertemuan di Diwan-i Am, Balairung Kesultanan untuk dengar pendapat umum, disiapkan setengah jam kemudian.


Shahryar berangkat esok hari, saat fajar belum merekah sempurna. Meninggalkan sisa malam di sisi kami selama beberapa jam. Dia telah membawa lima ribu kavaleri dan dua ribu infanteri di bawah komandonya. Mereka telah berarak ke arah barat laut dan takkan kembali sebelum pasukan Shah Abbas Persia lari lintang pukang ke belakang. Tapi, satu hal yang tak terduga tiba pagi ini. Dibawakan secara terburu-buru oleh pembawa pesan Agra. Bahwa Pangeran Khurram, si bi-daulat, tengah memberontak ke utara.


Lalu, sesuatu menggangguku kemudian, sebab aku hamil.


***


Semua orang telah lupa, bahwa Pangeran Khurram telah membawa Khan-i-Khanan Abdur Rahim, Komandan tertinggi tentara kesultanan berada di sisinya ke Burhanpur. Kini, mereka berdua memimpin pasukan raksasa ke utara. Dia berarak maju dengan kentara seolah-olah yakin bahwa kemenangan akan menjadi miliknya. Sultan Jahangir memanggil para ningrat untuk dengar pendapat saat setelah kabar tiba. Para wanita zenana berdiri di balik tabir berkisi-kisi di balik singgasana Sultan, mendengarkan dengan saksama sampai hal ini usai. Selama itu, ibuku memerhatikan tubuhku, dan menyadari bahwa kehamilan telah singgah di tubuhku.


“Kau hamil?” tanyanya sambil menyentuh perutku. Aku berusaha bereaksi pelan menghindarinya. “Kudengar kau tak ingin makan apapun kecuali khichri yang dihaluskan. Kau hamil, Ladli?” tanyanya lagi.


Aku meletakkan jari telunjuk di bibir, mengisyaratkan padanya agar tak bicara terlalu kuat. Terlalu banyak wanita di sini, dan akan terlalu banyak wanita pula yang tak menginginkan bayi ini terlahir ke dunia. “Biarkan ini menjadi rahasia kita,” kataku di telinganya.


“Akan kupanggi tabib,” katanya setengah berbisik.


“Tidak, kumohon. Demi kasih Allah, Bu.”


Dia mengernyit, merasa keheranan. “Kenapa? Shahryar akan senang.” Dia menoleh ke belakang, memerhatikan para wanita zenana yang berbisik-bisik saat Sultan Jahangir mengatakan akan menentang Khurram berjalan ke Agra.


“Tidak, dia tak akan,” jawabku lemah. Napasku tersengal karena kelelahan. “Anak ini takkan menjadi anak laki-laki. Aku bersumpah, demi kasih sayang Allah, bahwa anak ini takkan menjadi anak laki-laki. Dia bisa minta anak laki-laki dari para selirnya. Tapi tidak dari rahimku. Tidak yang ini! Jika dia menjadi Sultan, yah begitulah yang ia katakan setidaknya, dia bisa mengangkat anak-anak lelakinya sebagai penerus kesultanan. Hukum bangsa Mughal tak mengharuskan anak Ratu sajalah yang akan menjadi Sultan. Anak-anak para selir punya hak. Dan aku tahu Sharyar dapat melakukannya.”


Ibu meremas tanganku, menandakan bahwa aku sudah terlalu banyak bicara dan ia tak menyukai hal itu. “Tapi, Ladli, tidakkah kau berpikir keuntungan anak laki-laki? Tidakkah kau menginginkan posisi di zenana kesultanan sebagai Sultan Begam? Bayangkan jika Shahryar meninggal dan anakmu akan menjadi Sultan berikutnya.”


“Kumohon,” kuremas kembali tangannya, lalu air mataku menggenang di dalam bola mataku yang bening berkilauan. “Jangan paksa aku.”

__ADS_1


Dia menyerah, lalu menjauh dariku dengan diamnya. Aku tak tahu apa yang ibu pikirkan, tapi raut wajahnya nampak tidak terlalu suka atau senang. Kami kembali diam, merentangkan kebisuan selama beberapa saat. Baik aku ataupun ia kini menyimak kata-kata Sultan Jahangir untuk memerangi anaknya yang bi-daulat itu dalam perjalanan. Sebuah pasukan besar disiapkan, dipersenjatai dengan baik, dikomandoi oleh orang-orang pilihan. Lalu Sultan Jahangir menyelipkan farman-nya atas kebiadaban anaknya yang akan diasingkan selamanya jika ia kalah dalam pertempuran.


Jadi, iring-iringan bergerak keesokan harinya. Dikomandoi oleh Mahabat Khan, seorang jenderal yang dipanggil dari daerah Kabul, tempat ia terisolasi selama bertahun-tahun di daerah terluar kesultanan. Sultan Jahangir telah memberikannya wewenang untuk mengejar Khurram, menaikkan harga dirinya kembali ke istana, karena Mahabat Khan sengaja diletakkan di tempat terjauh sebab ia tak disukai oleh ibuku bertahun-tahun lalu. Dan pemanggilannya kembali kini adalah sebuah kesalahan.


Mahabat Khan bergerak menjauh bagai sekumpulan rayap. Dia membawa pasukan besar saat para mullah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dari dalam masjid setelah subuh. Ketika bumi adalah hamparan kebiruan. Bendera Mughal Agung bergambar singa emas tertidur bergelombang di udara dingin. Aku berani bertaruh bahwa Mahabat Khan telah berpikir, bahwa jika ia berhasil mengejar Khurram, dia akan diingat sebagai pahlawan kesultanan. Posisinya di istana akan dikembalikan, dan baik ia atau pun Sultan Jahangir akan kembali akrab sebagaimana dahulu. Tapi Mahabat Khan salah. Karena takkan ada penghargaan pada jasanya ini. Dia memang berderap ke selatan sesuai yang diharapkan, memporak-porandakan pasukan Pangeran Khurram dan mengejar mereka sebagai buronan. Dia telah berharap terlalu banyak, namun dia takkan mendapatkan apapun dari harapan itu pada akhirnya.


Aku menghitung sudah berapa lama sejak pria itu bergerak. Satu bulan, dua, tiga, empat, dan kabar-kabar tentang kemenangan dan peristirahatan masuk ke zenana ibuku dengan segera. Sultan Jahangir menderita demam tinggi saat itu. Tujuh buah es batu diikat dalam kain dan diletakkan di bawah bantalnya. Dia melolong pada tengah malam untuk meminta Kashmir. Tapi ibuku ragu apakah ia bisa membawa seluruh rombongan kesultanan berpindah lagi lebih jauh ke utara. Berita dari Shahryar belum juga tiba, tapi seorang mata-mata telah kembali dan mengatakan bahwa Pangeran nashudani itu tak melakukan apapun selain melakukan parade keliling-keliling Qandahar setengah hati. Dia tak menaklukkan Shah Abbas. Hanya berjalanan di mana ia suka. Sok menakut-nakuti dengan pasukannya yang pongah dan kelaparan. Sebab mungkin ia tahu bahwa dirinya tak mampu sama sekali.


Jadi, ibuku memanggil Shahryar kembali ke Benteng Lahore, menyudahi operasi militer pura-puranya yang konyol. Menyusul di belakang mereka, surat perjanjian dan tuntutan dari Shah Abbas dilayangkan pada Sultan. Pada kenyataannya, Sultan Jahangir tak punya cukup waktu untuk bangkit dari tempatnya dan membaca tuntutan musuhnya. Terlalu dini untuk mengatakan bahwa sang Sultan telah sembuh dari sakitnya. Ibuku menahan surat itu, menunggu kalau-kalau Sultan Jahangir baikan dua hari kedepan. Tapi tidak, sebab demamnya kembali datang. Muak, Shah Abbas mengambil Qandahar dari kesultanan. Dia telah mencuri komoditas dagang terpenting di kesultanan Mughal yang berhubungan langsung dengan perdagangan internasional jalur sutra. Keadaanku tak lebih baik, kendati Shahryar melunak padaku sebab ia tahu aku mengandung benihnya. Dia berlutut di sajadahnya untuk sembahyang lima waktu dalam sehari, berdoa semoga anak yang kukandung adalah laki-laki. Tapi aku tahu bahwa doanya takkan terkabulkan, sebab dia badmash yang suka mabuk-mabukan dan main wanita.


Sebuah surat sampai dari Mahabat Khan. Dia telah mengejar Khurram hingga pasukannya tercerai berai di seluruh tempat yang ia tinggalkan. Gajah-gajah dan kuda-kuda menjadi bangkai di tengah jalanan kerontang, yang memaksa Khurram untuk lelah dan berhenti ke utara. Dia kembali lagi ke Burhanpur, namun kesultanan kini menolaknya. Takkan ada yang mau menerimanya sebab Sultan Jahangir berkata akan mengasingkannya selamanya. Jadi, dia bergerak lebih jauh ke selatan, ke Kerajaan Golconda, musuh lamanya. Namun bisa jadi perlindungan baru untuknya.


Mahabat Khan berhenti di garis perbatasan. Mendirikan posko pemantauan dan tenda-tenda serta benteng semu pertahanan, kalau-kalau Khurram masuk tiba-tiba dengan serangan gerilyanya. Tapi, selama satu bulan penuh, sang Pangeran tak jua terlihat. Dia telah membawa Arjumand dan anak-anaknya untuk menjauh dari kesultanan selama beberapa waktu, mengasihani diri sendiri di kerajaan orang lain, lari dari mala dan kematian. Sungguh malang nasib kekasihku itu, karena ia kini tak memiliki harta kekayaan yang bisa ia bayarkan bagi prajuritnya. Aku berdoa semoga Allah memberikan Raja Golconda kemurahan hati agar kiranya ia menerima Khurram dan pasukannya di istana. Para prajuritnya kini menggebu-gebu ingin keluar, dibayang-bayangi oleh hasrat mereka pada kampung halaman dan rumah. Golconda bukan rumah mereka. Mughal adalah tempat mereka hidup.


Jadi, dua bulan kemudian, Khurram mengirimkan surat permohonan maaf pada ayahnya. Dia memohon untuk tidak lagi dikejar, diterima di kesultanan yang ia cintai, namun bersedia diasingkan dari pemerintahan. Sultan Jahangir setuju. Dengan jaminan kedua putranya, Dara Shikoh dan Shah Shuja, dikirim ke Agra sebagai jaminan agar ia tak lagi memberontak di kemudian hari. Aku lega karena kini Khurram dapat hidup dengan nyaman.


Saat itu, kandunganku telah mencapai masanya. Perutku membumbung bagai buah semangka, bulat besar seperti akan meledak, dan anak di dalamnya kerap menendang-nendang, memaksa ingin keluar. Tubuhku terkulai di atas lantai, jatuh, antara setengah sadar dan pingsan ketika air hangat membanjiri selangkanganku. Napasku tersengal, jantungku memompa darah cepat-cepat. Para kasim membawa tubuhku kembali ke kamar, sedang tanganku memegangi tunik mereka karena kesakitan. Aku memanggil nama ibuku, Mehrunnisa, merintih dengan eksperesi yang teramat sangat. Tubuhku dibaringkan di tempat tidur, lalu aku merintih lagi sambil menangis. Siapakah yang akan menemani persalinanku kini? Shahryar? Tentu saja tidak. Dia takkan mau melihat darah. Si pengecut itu takkan sudi melihat istri yang sama sekali tidak ia cintai menjerit kesakitan sedang ia memerhatikan sambil berdoa. Takkan ada doa darinya untukku. Tapi untuk anak laki-laki yang ia harap pasti ada.


Para tabib dipanggil. Berduyun-duyun mereka masuk lalu melepaskan cadar. Takkan ada seorang lelaki yang dibiarkan masuk, termasuk Nazeer Khan sekalipun.


“Ini takkan sakit, Putri,” kata seseorang di antara mereka ketika meminumkan ramuan herbal dari tas wolnya ke dalam mulutku yang kering. Dia melihatku menjeda minuman itu, memaksaku meminumnya lagi berkali-kali. “Engkau hanya perlu menarik napas dan mengeluarkan kepala si anak dengan mudah.”


Wanita itu mengambil kain wol yang telah direndam air hangat di mangkuk tembaga untuk mengelap tangannya. Dia mengerling padaku, melirik dengan senyuman. “Padshah Begam sedang berjalan kemari, Putri.”


Aku mengucap nama-nama Allah Yang Maha Tinggi saat kontraksi datang lagi. Gigi-gigiku bergemeretuk, lalu aku berkeringat tak karuan. Para tabib mengatakan padaku untuk mendorong si bayi keluar, menarik napas, mengembuskannya pelan-pelan, lalu mendorong bayi itu kembali. Kontraksi menderaku lebih jauh, membuatku berjengit, mengerang kesakitan. Kuremas seprai tempat tidurku guna menahan sakitnya. Oh, Ya Allah, beginikah perasaan Arjumand saat ia akan melahirkan? Dan, sudah berkali-kali pula. Aku tak bisa membayangkan sejauh apa rasa sakit Arjumand. Tapi mungkin dia telah terlatih dengan rasa sakit ini.


Sejam kemudian, tidak ada perubahan. Aku kerap kali berhenti untuk mengisi tenaga, lalu berpacu lagu menahan kematian. Jika anak ini yang tak selamat, maka akulah yang akan mati karenanya. Atau, kami berdua bisa bernasib tak beruntung dan mati saat proses persalinan. Barang kali begitu lebih baik. Takkan ada kebaikan saat anak ini terlahir, kendati dia laki-laki—tidak, dia tak boleh laki-laki, pekikku dalam diri. Jadi, eranganku mengeras, kudorong bayi itu kuat-kuat. Kenapa ibu belum juga datang? Apakah farman kesultanan lebih penting dari nyawa putrinya yang terancam? Tidak ada Shahryar, tidak ada ibu, dan pada akhirnya, air mataku merembes, jatuh dari pipiku yang berkeringat, takkan ada Khurram. Kubayang-bayangkan kekasihku itu duduk di sisiku, menceritakan sebuah romansa, lalu pelan-pelan mengecup dahi dan pipi dan bibirku dengan cinta. Aku hanya membayangkannya dan aku merasa rasa sakitku berkurang. Tapi, sekali lagi ketika aku mencoba membuat diriku sendiri sadar, itu hanya mimpi dan khayalan memuakkan.


“Ladli!” Suara itu memekik dari luar. Dari tempatku terbaring, kulihat ibu berlari tergopoh-gopoh. Dilemparnya cadarnya ke sembarang tempat, tapi Nazeer Khan mengutipnya kemudian. “Oh, Ya Allah, apa yang terjadi dengan putriku?” Dia memeriksa rongga selangkanganku, memerhatikannya dengan baik sampai dia benar-benar yakin bahwa sesuatu tak beres pada kandungan anaknya ini. “Apa yang terjadi dengan bayinya?”


“Sepertinya,” kata tabib itu sembari mengelap keringat. Dia bangkit untuk melihat wajah ibuku yang menegang. “Bayinya sungsang, Yang Mulia.”


Sungsang? Kata mengerikan macam apa itu? Aku ketakutan setengah mati ketika mendengarnya. Kukuatkan diri, namun aku ragu apakah aku benar-benar kuat. Napasku tak beraturan, lalu aku berisak. Kengerian melandaku seorang diri. Apakah aku akan mati? Ataukah anak ini yang akan mati? Ataukah kami berdua akan mati? Apa aku takkan melihat Khurram lagi?


Ibu berlari ke sisiku. Dihapusnya keringatku pelan-pelan, lalu ia duduk di kursi kayu kecil. “Tenanglah, Ladliku sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu ditakuti. Para tabib tahu mereka harus melakukan apa.”

__ADS_1


“Oh, Ibu. Aku akan mati. Lihat,” jawabku sambil menyuruhnya memerhatikan perutku yang masih membuncit. Kontraksi datang padaku tanpa jeda, tapi aku bernapas terpatah-patah dan perlu beristirahat. Para tabib memberikanku madu. Rasanya manis. Katanya untuk menguatkan tubuhku.


“Tidak, diamlah, Sayang. Aku akan berada di sisimu sampai bayi itu lahir.”


Sebelum aku bisa menjawab pertanyaannya, tabib datang pada Ibu. “Kita harus mendudukkan Putri, Yang Mulia. Bayinya harus dikeluarkan atau dia akan mati.”


“Aku tahu.”


Aku tak sempat menjawab, atau sekadar memberikan anggukan pada tindakan yang akan dilakukan padaku. Tubuhku didudukkan, lalu selangkanganku dibuka lebar. Tabib itu merogoh bagian di antara kedua selangkanganku, mengangguk, lalu berkata. “Ambilkan air hangat.” Seorang tabib lain membawakannya air hangat dalam baskom, lalu dia mencuci tangannya sampai benar-benar yakin bahwa aku telah siap. “Dorong, Putri.”


Aku mengerang, jantungku hampir melompat karena hal ini. Kutarik napasku dalam-dalam. Sambil memejam, aku mengerang lagi sekuat mungkin. Beberapa menit kemudian, tabib itu berkata bahwa kakinya telah keluar. Dia menarik bayi itu pelan-pelan, masih dilumuri darah segar yang menetes-netes. Tinggal kepala. Seorang tabib memberikanku madu lagi. Entah berapa kali cairan amat manis ini masuk ke mulutku, dan barangkali aku telah lelah hingga rasanya berubah kelat tak sedap.


“Satu kali lagi, Ladli. Dorong dan keluarkan bayi itu.” Ibu memerintah dengan ketakutan.


Aku mengerang. Kali ini, aku yakin aku tak lagi memiliki tenaga setelah erangan itu. Tubuhku terjatuh, tapi aku tahu bahwa kepala bulat anakku telah keluar. Teriakannya terdengar ketika tabib menampar bokongnya yang mungil. Tak sempat aku bertanya apakah dia laki-laki atau perempuan, tapi aku tahu dia selamat. Untuk seorang wanita berumur tujuh belas tahun, hal ini amatlah menakutkan. Aku terkulai di atas seprai yang berlumuran darah, tak sempat mengucapkan sepatah kosa pun pada sekelilingku. Dalam hati, aku bergumam, terima kasih ya Allah. Aku hidup. Aku masih hidup. Jantungku masih berdegup marah, jadi kutenangkan diriku sendiri.


Ibu datang padaku. Dia mengambil kain wol basah dan mengelapkannya di dahiku yang licin. “Selamat, Sayangku. Kau seorang ibu. Dia …” Ibu mengerling pada tabib yang membungkus anakku dalam selimut wol hangat. Bercak-bercak darah masih ada padanya, tapi ia tak lagi menangis. “Seorang perempuan,” sambungnya pelan, seperti putus asa.


“Apa? Katakan lagi,” pintaku padanya.


“Kau sudah mendengarnya, Ladli. Seorang perempuan.”


Semangat kembali terbakar dalam diriku. Aku meminta anak itu dibawakan padaku dari rengkuhan tabib. “Demi kasih Allah, bawa dia kemari.” Sekejap saja, anak itu berada dalam rengkuhanku. Kubuka kancing blusku, lalu dia mengisap-isap asiku dengan lapar. Seorang anak yang sempurna, anak perempuan pula. Terima kasih,  ya Allah. Dia perempuan. Kutangisi anak ini saat dia meminum asiku dengan lahap. Kuhitung jumlah jarinya, tidak ada yang cacat. Matanya tertutup, bibirnya bagai kuncup mawar, dan rambutnya hitam mengelam bagai malam. Shahryar tidak akan suka, pasti, dan aku takkan perduli soal murka atau pendapatnya. Jika dia tak ingin membesarkan anak ini seorang diri, biarlah aku saja yang membesarkannya. Akan kubesarkan dia dengan egoku, dan takkan kubiarkan tangan-tangan nakal menjamah tubuh wanitanya yang sempurna. Kucium rambutnya yang berbau darah, serta kaki-kaki dan tangannya yang mengepal kedinginan.


“Dia harus punya nama,” kata ibu membelai rambutnya.


“Arzani. Aku namakan dia Arzani. Arzani Begam.”


Arzani. Yang Pemurah.


Dari ruangan sebelah, kudengar Shahryar berteriak. “Cuma perempuan?” Dia murka hingga dentang-dentang vas dan pinggan emas terdengar hingga kemari. Para tabib memandangiku penuh kesedihan, tapi kuyakinkan pada diriku sendiri  bahwa Shahryar bukanlah masalah. Anak ini adalah milikku, bukan miliknya.


“Akan ada anak lagi untuk kalian,” ujar ibu di sisiku. “Usiamu tujuh belas tahun.”


Aku tak mengangguk atau menggeleng tak setuju. Tapi, dalam diri, aku ragu, dan tidak pula berharap. Sebab setelahnya, memang takkan ada lagi anak untuk Shahryar.[]

__ADS_1


 


 


__ADS_2