Princess Ladli Begam

Princess Ladli Begam
BAB XIV : SENJA


__ADS_3

Pada akhirnya, Allah telah menarikku pelan-pelan dari kehidupan yang telah Ia ciptakan. Pohon beringin yang kukuh sekalipun akan rubuh ketika angin masa datang mengempaskan sari-sari batangnya yang kokoh untuk merapuh. Begitulah. Waktu itu tahun 1657, dan usiaku telah mencapai lima puluh dua tahun. Berupa seorang nenek. Tua, renta, terseok ketika berjalan, kadang kala teramat lelah hingga harus duduk untuk beberapa menit sebelum kembali melangkah. Dua belas tahun sejak terakhir kali Jafar dan Khusrow berada di dekapanku. Aku tak pernah lagi ingat bagaimana napas mereka melaju seirama di hadapanku, atau tulang kering mereka melangkah jantan di atas tanah. Jika aku tak salah, semoga Allah masih memberikan daya ingat yang jeli, Khusrow telah berumur dua puluh dua. Mungkin dia telah menikah, telah memiliki seorang anak, telah pulang pergi medan perang untuk mengalahkan para tikus pemberontak. Allah memberikan berkah tiada terkira pada anak itu. Kadang kala, aku merasa darahku berdesir hebat, jantungku berdegup murka, dan aku tiada henti mendoakan Khusrow sebab aku khawatir ia tengah menghadapi maut di medan laga.


Jafar, oh, Kekasihku. Di manakah dirinya kini? Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi bahkan sepucuk surat atau kabar burung tak sampai ke jendela rumah kami. Aku bertanya-tanya apakah ia masih hidup? Atau, sudahkah ia meratap di balik tanah sendirian, bersama kematian? Aku amat merindukannya, kadang kala menangis di tengah malam bisu. Saat aku bermimpi, Allah memberikan penglihatan samar tentang rupa Jafar di masa lalu. Matanya, tulang rahangnya yang tegas, dada bidangnya, betapa aku tersihir olehnya. Ketika aku terbangun, sisanya hanyalah kenikmatan dalam angan-angan. Aku bermimpi kami yang bercinta, kami yang berpelukan, kami yang memadu kasih, kami yang tertawa, kami yang menangis bahagia. Pada akhirnya, hingga Allah menarik masa, kami tetap tak bersama. Tapi aku yakin bahwa Allah akan satukan kami berdua di kehidupan selanjutnya. Apakah Allah akan berbaik hati padaku? Aku telah amat berdosa sebab hubunganku dan Jafar tak pernah tercipta secara suci dan sakral. Tapi baik aku dan Jafar telah menganggap ikatan ini amat suci, yang tak sekadar dilafalkan dari balik jeruji akad serta doa.


Dua belas tahun ini adalah masa penantian pada usia renta. Pada akhirnya, Arzani menikah dengan seorang pria. Dia bukan dari keturunan ningrat. Seorang pengembara dari Persia. Pada mulanya, aku tak ingin mereka bersama, namun aku tahu rasa sakit yang ada jika kupaksakan kehendakku pada percintaannya. Jadi, mereka pun menikah secara suci. Kini, dia memiliki dua orang anak, dan keduanya adalah anak-anak perempuan. Ah, anak perempuan. Mereka adalah teka-teki. Takdir telah membawa mereka pada peruntungan dan mala. Namun anak-anak perempuan tumbuh hebat menjadi kesatria di balik diri-diri para pria . Di tanah ini, anak perempuan tak lebih dari sekadar judi dan undian nasib. Mereka akan menikah dengan kewajiban, bukan pilihan. Selama bertahun-tahun pernikahan, mereka hanya bertemu dengan orang asing—suami mereka sendiri. Dan satu-satunya pengharapan adalah anak-anak mereka yang lahir, yang sepenuhnya mereka besarkan dalam rengkuhan keegoisan. Para perempuan punya hidup yang dipertaruhkan, namun cukup berani melompat ke dalam risiko yang membara.


Aku menggapai udara. Dadaku sesak oleh kepedihan. Tubuh ini tak lagi seyakin dahulu, tak sekukuh batang muda. Pelan-pelan aku mengembuskannya dalam diam. Arzani berdiri di sisi kananku. Tangannya menggenggam tanganku. Air matanya telah mengembang, lalu tumpah tanpa aba-aba.


“Aku di sini,” bisiknya padaku.


“Aku takkan kehilanganmu, Arzani, benarkan?” Aku tersenyum padanya. Dia merapatkan tangan kami berdua, berpaut satu sama lain. Kurasakan kepedihan menusuk-nusuk kemanusiaannya, karena seperti inilah yang Ibu rasakan bertahun-tahun lalu saat ia meregang nyawa. Kini, kami adalah sejawat. Dapat kurasakan auranya di sekitar dipan, seolah-oalah tengah melambai padaku yang telah tua. Aku melihat Arzani. Sesekali ia mengabur, kemudian pemandanganku kembali jelas. Serentetan batuk menderaku, dan rasanya amat menyakitkan, tapi tak satu pun air mata jatuh di pelupukku. Tahun-tahun terlewati telah menghabiskan begitu banyak air mata, dan mungkin ia telah bosan untuk meluncur dari diriku yang lemah ini.


Arzani datang padaku, hingga matanya tampak jauh lebih besar.


“Pergilah ke Persia. Tinggalkan Lahore. Tinggalkan Hindustant. Kau harus lari bersama suamimu dari tempat ini. Pergilah, dan kembalilah setahun sekali untuk mengunjungi pusaraku yang usang dan membusuk. Tinggalkan aku dan nenekmu di tanah asing ini, agar jadi pengingat pada anak cucumu pula, bahwa wanita-wanita Persia asing telah menetap dan berkuasa di tanah yang keras. Telah bersusah-susah dalam hidup, dan nelangsa setengah mati dalam cinta. Pergilah, Nak. Suatu saat, kau akan katakan pada anak-anakmu bahwa mereka adalah cucu Pangeran Shahryar yang terbuang.”


Dia menangis di tanganku. Air matanya hangat, namun kehangatan itu hilang oleh dinginnya tubuhku sendiri. Gigil merajai, lalu napasku terasa amat cepat. Kurasakan darahku dipompa oleh kekuatan magis, seolah-olah berkata bahwa kematian hampir datang padaku. “Jangan menangis, Nak. Kita para wanita hidup dalam adat serta tradisi. Maka dari itu, larilah dari sini. Tinggalkan Hindustant. Bawa seluruh harta yang diwariskan nenekmu untuk kalian hidup di Persia.”


“Aku takkan meninggalkan Ibu di sini,” ratapnya. Hidungnya memerah, napasnya basah oleh air mata. “Aku lahir di Hindustant, maka aku akan meninggal di tempat ini pula.”


Aku menggeleng, sesekali kusapu pipinya yang lembut. “Tidak, Nak. Tanah airmu adalah Persia. Sejak awal, kita adalah orang asing. Tidak ada tempat bagi orang asing di tanah ini. Kau harus …” leherku tercekik, kemudian kembali mereda. “Kau harus pergi, Arzani.”


Dia membenamkan wajahnya dalam-dalam di tangan kami berdua. “Aku tidak bisa.”


“Kau harus, Arzani. Bawalah cintaku dalam tubuhmu. Sejauh apapun kau pergi, kemanapun jiwamu mengembara, aku tahu napasku mengalir bersama napasmu. Sebab dalam dirimu ada darahku. Aku Ibumu, Nak. Dan aku akan menatapmu penuh ketenangan dari syurga sana selamanya. Allah akan berbaik hati pada seorang anak perempuan pemurah. Ingatlah bahwa Arzani berarti yang pemurah.”

__ADS_1


Dia menarik napas, mencium dahiku yang berkeringat. “Demi kasih Allah, jangan katakan apa-apa lagi. Kumohon.” Air matanya jatuh di sekitar mataku, dan betapa aku tersakiti oleh dukanya. Kepergianku, kepergianku yang amat tak penting ini, kini diratapi oleh anakku seorang.


Dua anak kecil berlari-lari di sudut ruangan, tergopoh-gopoh dalam langkah mereka yang kecil. Lalu, keduanya menaiki kaki dipan dan merangkak ke sisiku. Hamida dan Ruqayya, dua cucuku yang jelita. Mereka memiliki sepasang mata biru cerlang, warisan Ayah mereka, penanda bahwa mereka adalah keturunan Persia. Mereka mendengarkan napasku bergerak lampat, lalu saling menatap. Wajah polos mereka membuatku menangis, karena aku ingin tetap merindu kendati kematian datang padaku. Kisah ini, kisah memilukan ini, hanya Allah sajalah yang tahu. Aku sangat bahagia dengan keluarga kecil ini, yang hidup dalam kasih-kasih serta segenap cinta untuk sesamanya.


“Apakah Nenek akan pergi?” tanya Hamida. Dia adalah anak yang bijak.


“Ya, Sayang. Apakah kalian akan merindukanku?”


“Tentu.” Ruqayya mengecup pipi kananku, dan Hamida menyusul kemudian. Ciuman mereka amat hangat, mengingatkanku pada ciuman Jafar di masa lampau. Ah, Jafar, betapa aku ingin kau menciumku, sekali lagi, barangkali. Apakah kau ingat, Jafar, di masa lalu, saat kau mencium bibirku di bawah lilin yang melahap diri? Lalu kita bercinta hingga lelah saat lilin mendadak padam karena malu. Menyenangkan ketika memori itu datang untuk menyurup kembali bagai hantu.


Arzani mengangkat Ruqayya ke sisinya. Dia mengecup anak itu, lalu berkata-kata. “Bertahanlah sedikit lebih lama, Bu. Tunggulah hingga suamiku kembali.”


Aku menggeleng sembari tersenyum tipis. Dalam hati, aku bersyukur Allah memberikan lelaki penyayang serta baik hati pada anakku. Al-Qur’an Yang Mulia berkata: “lelaki baik-baik untuk wanita baik-baik.” Tapi, apakah aku wanita baik-baik, hingga Allah berkenan mempertemukanku dengan pria jujur macam Jafar. Atau, mungkinkah aku wanita buruk? Sebab kami tak dapat disatukan dalam sebuah ikatan suci hingga kematianku berjalan merengkuh.


Orang-orang teramat takut pada kematian. Tapi aku ragu bahwa diriku takut. Aku telah melewati kehidupan yang lebih pantas daripada kematian. Alur hidup telah menuntunku untuk bertahan, bahkan lari dari kematian itu sendiri. Allah membuatku bertahan. Dan kini aku sadar, bahwa cinta Allah amat nyata. Diriku yang hina ini telah bertaubat pada-Nya. Aku berharap bahwa sudi kiranya Allah memasukkanku ke dalam syurga bersama Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, dan Arjumand. Kami akan bersuka cita dalam anggur serta madu syurga yang telah dijanjikan.


“Kami akan pergi dalam kecepatan kuda,” katanya.


“Menurutmu, apakah Shah Jahan tahu bahwa aku akan mati?”


Dia tersenyum, menggeleng kemudian. “Aku ragu.”


Kini, Shah Jahan mendapati akhir hidupnya bagai orang miskin. Dia telah dipenjara di musamman burj, bagian dari Benteng Merah bersama putrinya tercinta, Jahanara. Aurangzeb-lah pelakunya. Dia telah menjawab karma Shah Jahan sebagai anak ketiga yang memberontak pada Ayahnya. Ada ironi dalam hal ini, sebab Shah Jahan pernah memberontak sebagai anak ketiga dari Jahangir. Dan kini, Aurangzeb memberontak pada Shah Jahan sebagai putra ketiga pula. Shah Jahan telah menghabisi seluruh saudara dan sepupu saat naik takhta, jadi Aurangzeb mendapatkan contoh hidup, bahwa dia bisa melakukan seperti yang Ayah-nya lakukan. Maka, Aurangzeb membunuh seluruh saudaranya. Dia telah memenggal kepala abangnya, Dara, Pangeran Mahkota Shah Jahan, membunuh abangnya yang lain, Shah Shuja di Bengal, memenjarakan adiknya Murad di Benteng Gwalior, lalu menggantungnya di tiang. Kakak tertuanya, Jahanara, dipenjara bersama Shah Jahan, sedangkan saudari-nya yang lain, Roshanara, berkuasa di zenana Aurangzeb sebagai Padshah Begam. Saudarinya yang terakhir, Gauhara, hidup terasingkan di antara mereka. Selama akhir pemerintahan Shah Jahan, kesultanan dalam masa-masa terburuknya. Sebab para Pangeran telah melakukan perang saudara, dan baik Safawi-Persia atau daerah Deccan telah tahu, dan mencoba-coba merongrong kesultanan Mughal Yang Agung.


Aku tersenyum pada diriku sendiri. Shah Jahan telah meninggalkan bukti cinta untuk Arjumand. Dia telah menyelesaikan makamnya empat tahun yang lalu. Dibuat dari marmer putih, bertabur intan, permata, berlian, giok, safir, lapislazuli, koral, akik, rubi, onyx, batu mirah, dan segala kemuliaan lainnya. Makam itu merengkuh Arjumand seorang diri di sana. Dibuat selama dua puluh dua tahun, dan hampir memakan ribuan korban setiap titik pembangunan. Shah Jahan menamainya Taj Mahal. Dan Taj Mahal adalah bukti nyata, bahwa seorang Maharaja Mughal India di masa silam, memiliki cinta tiada tara pada sang Ratu tercinta. Barangkali, walaupun ia akan meninggal dalam keadaan miskin, generasi mendatang akan mengingat Taj Mahal sebagai pencapaian terbesar di masa Shah Jahan.

__ADS_1


Arzani memegang tanganku. “Ibu, kau mendengarku?”


“Ya, Nak.”


“Kemana Ibu pergi?”


“Allah telah menarikku pelan-pelan melalui khayalan.”


Dia merengut, lalu air mata tumpah ruah tak terkendali. “Ucapkan nama Allah Yang Maha Tinggi. Barangkali Ibu merasakan sakit.”


“Ya.” Aku mencoba kuat. “Pada akhirnya, aku tidak melihat kekasihku di sisi dipan ini untuk menyelamatkanku dari kematian, kendati tak seorang pun dapat melawan kematian. Apakah aku tahu apa makna kematian? Apakah jiwaku akan benar-benar mati?”


Arzani terisak karenanya, lalu semakin menjadi-jadi ketika aku mengerang. “Jiwa Ibu akan bersamaku, selamanya.”


“Akankah kau merindukanku, Nak?”


“Tentu. Demi cinta Allah, pasti.”


Dia mengecupku. Saat itu, aku merasa sesuatu di tarik melalui napasku. Bentuknya putih, namun lebih mirip sulur-sulur melati yang menggapai-gapai matahari. Mataku mengerjap, lalu sesak datang di dadaku. Tubuhku menegang, dan kepalaku serasa berjengit mengikuti alur itu. Mataku nanar, kemudian kabur. Telingaku berdegung, menimbulkan suara nyaring yang tak terbantahkan. Aku tak dapat mendengar suara, bahkan pemandangan pada Arzani dan dua cucuku tandas tanpa bayangan atau siluet rupa. Di manakah mereka? Di manakah aku? Aku dapat melihat warna keputihan, lebih mirip sinar keperakan matahari, namun cahayanya berdenyar dalam jumlah tak terkira. Aku memicing, namun mataku tak mengizinkan diriku melakukannya. Kutunggu hingga cahaya itu tiba. Saat ia merengkuhku, aku dapat mengenali satu wajah di sana.


“Jafar.”


Pada akhirnya, aku berhasil mengucapkan namanya dalam tidurku, bukan nama Shah Jahan. Sebab aku mencintainya lebih dari apapun. Cintanya ada dalam diriku, menolak mengawang dan terbang dalam kematian. Sebab aku tahu, kendati aku tak tahu apakah ia telah meninggal atau tidak, cintanya ada padaku. Kini, dan selamanya. Barangkali, Allah berbaik hati untuk meletakkan kami di syurga selamanya. Sebab dalam kematian, hanya ada keabadian. Dan Allah menciptakan keabadian itu dengan cinta.


Lalu Allah membawaku pergi.[]

__ADS_1


 


 


__ADS_2