
Ternyata yang menelepon Hana adalah Ezra. Hana pun segera mengangkat nya.
"(mengangkat telepon) ya halo zra?" jawab Hana
"Turut berduka ya Han! semoga nenek kamu diterima di sisi tuhan yang terbaik" ucapan duka Ezra kepada Hana.
"aamiin.. emm... soal tadi maaf ya, karena aku mungkin kamu malu karena aku nangis di tengah - tengah keramaian!" ujar Hana yang tidak enakan ke Ezra.
"eh enggak kok! lagian kamu nangis di tengah keramaian emang udah hal biasa sih! hahaha" canda Ezra.
"ihh kamu mah gitu! aku lagi sedih juga masih bisa bercanda! huh!" ujar Hana yang kesal.
"ihh marah og! nanti cepet tua loh! lagian aku kek gini juga biar kamu terhibur tau!" ujar Ezra.
"kalo mau ngehibur juga nggak sebegitunya kali! huh!" ujar Hana.
"iya deh maaf!" saat seru - serunya mereka berbicara lewat mode voice call, Ezra mengubahnya menjadi mode video call.
"ehh kok Ezra mau mengubah modenya sih?!" ujar Hana yang panik dan langsung mematikan kamera.
Ezra pun heran kenapa Hana mematikan kameranya "loh? kenapa Hana mematikan kameranya? Hana! halo? kamu masih di sana?"
"(menghidupkan kembali kamera) hihh kamu kenapa sih sukanya tiba - tiba gitu! huh!" ujar Hana dengan kesal yang aslinya dia malu karena seluruh wajahnya yang bengkak setelah menangis.
"dihh! la emang kenapa sih! eh.. bentar - bentar, kok itu mata dan bibir mu sama - sama monyong? kayak angsa yang suka nyosor hahahah! jujur deh kamu habis nangis ya?" ujar Ezra.
"emang kenapa kalo aku nangis? kan wajar kalo aku sedih!hiks.. hiks..." ujar Hana sambil matanya yang kembali memerah dan perlahan meneteskan air matanya.
Ezra pun panik karena telah membuat Hana menangis kembali. Ia mecoba menenangkan Hana kembali "eh.. eh.. sutt.. sutt.. jangan nangis dong, sumpah aku hanya bercanda tadi! eh kok kamu malah nangis, udah jangan nangis, aku minta maaf deh! tapi kamu jangan nangis lagi!"
"hiks.. kamu sih.. hiks.. jangan gitu dong! hiks..hiks.." ujar Hana sambil menangis.
"terus gimana biar kamu nggak nangis? aku beliin mainan berbi yang di jual di abang - abang tetettoet nih, hihihi" ujar Ezra.
"huh! nggak usah! mending besok kalo aku udah pulang kamu traktir aku beli miksu! hahaha" minta Hana
"siap bu bos! eh omong omong, kamu pulang kapan?" tanya Ezra.
"emm kayaknya minggu malem aku baru pulang! soalnya aku mau di sini seminggu dulu nungguin kakekku!" ujar Hana.
"ouh.. oke! ya udah! aku tutup teleponnya ya? langsung tidur! udah malem nih! jangan nangis lagi! ikhlasin aja! biar nenek kamu juga tenang disana!" ujar Ezra.
"hmm oke, dadah~" jawab Hana.
Ezra pun segera mematikan teleponnya.
"uhh, aku kasian lihat Hana, tapi besok kalo aku ke sana akan ku hibur dia! aku harus segera bilang ke papah!" ujar Ezra dengan semangat.
KESOKANNYA
mentari menyapa dunia menjadi secercah harapan untuk menjalani rutinitas seperti biasanya dengan gembira.
"lalalalalal~ pagi ku suram ku matahari bersinar guru killer menunggu.... eh eh kok Hana belum dateng? apa datang terlambat ya?" ujar Yala yang terheran - heran karena sahabatnya itu belum datang juga.
waktu berlalu tak terasa 5 menit lagi kelas akan masuk, akan tetapi Hana belum berangkat.
"ini siapa aja nihh yang nggak berangkat? ada berapa siswa?infonya dong!" ujar Tata sebagai sekretaris kelas.
"yang nggak berangkat cuma Hana! tadi Bu Fatri nge-chat aku katanya Hana ijin karena neneknya meninggal!" ujar fiya sebagai sekretaris dia di kelas.
"oke thanks ya fi infonya!" ujar Tata.
__ADS_1
"siap bu!" jawab fiya.
"lahh kok aku nggak di kasih tau sama Hana? hiks.. tiba - tiba rasanya menjadi sahabat yang tidak berguna woyy! arghh! nggak boleh di biarin aku harus segera mengirim pesan ucapan turut berduka!" ujar Yala sambil membuka HP nya.
Saat Yala hendak mengirim pesan ke Hana, guru sudah masuk ke kelas.
"beri salam!" perintah Dilan sebagai ketua kelas.
"selamat pagi bu!" salam semua murid.
"selamat pagi juga anak - anak! silahkan duduk kembali! kemarin ibu sudah memberi kalian tugas! apakah ada yang belum? kalau belum silahkan tanpa basa basi kalian mengerjakan 3 kali di luar!" ujar bu Buti sebagai guru matematika.
sekitar separuh siswa yang di dominasi anak laki - laki dari kelas itu tidak mengerjakannya, mereka pun berbondong - bondong keluar kelas untuk mengerjakan tugas tersebut.
DI LUAR KELAS
"jangkrik!... jangkrik! punya guru kok minus akhlak! tugas yang dia beri kebanyakan woyy! sumpah!" ujar Adit.
"iya woyy! udah banyak susah semua lagi! kenapa semua anak perempuan itu bisa mengerjakannya! sedangkan kita yang anak
laki - laki udah ruwet seisi kepala! hedeh!" ujar Rendra.
"eh tapi... aku heran deh sama squad di kelas kita itu loh!" ujar Mirza.
"squad? oh maksud kamu Andi, Dilan, Farhan, sama Fiyon?emang kamu heran apanya?" tanya Rendra.
"ya heran aja gitu! dari awal masuk mereka berempat itu, kelihatannya anak pintar dari sekian anak laki - laki di kelas!" ujar Mirza yang terheran-heran.
"ya wajarlah! tuh Dilan ama Fiyon udah jelas pinter sih! meraka kan ketua sama wakil, terus si Farhan dia kan anaknya tentara! terus kalo si Andi itu... emang pantes sih harus jadi anak pintar dia aja anaknya pak Herman yang warung makan nya udah buka cabang banyak banget!" penjelasan dari Adit.
"iya sih.. tapi kan.." Mirza belum menyelesaikan perkataannya, tiba - tiba bu Buti menegur mereka karena tidak segera mengerjakan hukuman malah asyik bergosip "heh! cepet di kerjain! dikasih hukuman ringan kok malah menyepelekan! laki kok nggosip! cepet selesaikan! kalo nggak selesai kalian nggak boleh istirahat!" ujar Bu Buti dengan nada marah sambil menodong senjata sakralnya (penggaris panjang).
Semua murid itu takut dan langsung diam. Bu Buti pun kembali ke dalam kelas dan mengajar siswa.
Tak terasa waktu penuh penyiksaan dari satu guru killer lewat sudah. Siswa yang mendapatkan hukuman berhasil menyelesaikannya dan dapat menikmati waktu istirahat pertama.
"duhh aku harus segara mengirim pesan ini ke Hana! atau aku telepon langsung dia aja ya?gitu aja deh tapi... aku harus ke taman dulu agar terhindar dari suara membisingkan dari laki - laki berisik itu!" Yala pun pergi ke taman dengan membawa headset nya.
(tut... tut... tut...) bunyi dering dari HP Yala.
(kring.... kring.... kring....) suara panggilan di HP Hana "duhh siapa ini yang telepon? eh YALA??!! (mengangkat telepon) ya halo yal?" jawab Hana.
"akhirnya.... WOY! kenapa kamu ga ngasih tau aku? aku jadi ngerasa sahabat yang nggak berguna woy!" ceramah Yala.
"hehe.. ya maap kemarin aku kan sibuk sama pemakaman nenekku!" ujar Hana.
"ya tapi kan... (menghela nafas) huhhhh.. aku turut sedih atau kepergian nenekmu, semoga nenekmu bahagi di sana... jangan nangis! ikhlasin aja, biar nenekmu tenang di sana!" ucapan duka dari Yala.
"iya... makasih" jawab Hana.
"ya udah aku tutup dulu teleponnya! kelas bentar lagi mau masuk nih!" pamit Yala.
"oke.. eh bentar! nanti tolong kasih tau hari ini tugasnya apa ajah sekalian sama catatannya ya?" minta tolong Hana.
"ya, nanti gampang! kalo gitu aku tutup dulu yaw? dadah~" pamit Yala.
"da~" balas pamit Hana.
Yala pun segera menutup teleponnya dan kembali ke kelas. Saat ia hendak kembali ke kelas, tiba - tiba ada yang memanggilnya entah dari mana asalnya.
"WOYY! lagi ngapa tuh?!" suara yang entah dari mana asalnya.
__ADS_1
"eh.. siapa woyy? jangan ngumpet lo! sini kali berani! (melihat ke atas) WTF!!! Rendra!! ngapain kamu di situ? kaget banget woy!" ujar Yala dengan kesal.
"yo sorry! lagian dari awal di atas situ tuh! tongkrongan aku! kamu ngapain ke sini?" tanya Rendra.
"ya suka - suka aku lah! ini kan juga fasilitas sekolah! bukan milik kamu pribadi! huh!" jawab Yala dengan kesal.
"iya deh iya!" jawab Rendra.
"eh bentar! (melihat jam di HP) WTF!! kita udah masuk 15 menit yang lalu woyy! kenapa nggak ada bunyi bel? arghh" ujar Yala yang kesal karena terlambat.
"lahh padahal udah dari tadi bunyi bel nya woy! telinga kamu aja tuh yang bermasalah woyy?!" ujar balik Rendra yang kesal.
"kenapa kamu nggak ngasih tau woyy?" tanya Yala dengan kesal.
"kamu nggak minta di kasih tau woyy! terus gimana woyy?!" tanya Rendra.
"daripada kita way woy ga jelas kek gini! mending kita langsung mbalik ke kelas! duhh padahal ini masih pelajaran guru killer ke dua woyy! ayo cepet kita balik ke kelas! (menggandeng tangan Rendra)" ajak Yala.
Muka Rendra memerah bagai buah strawberry yang sudah matang karena untuk pertama kalinya tangannya di gandeng oleh seorang perempuan.
SESAMPAINYA DI DEPAN PINTU KELAS
"permisi Bu... ma-maaf kami terlambat" ucapan maaf dari Yala yang tampak ragu.
"menghambat pelajaran saja! cepat kembali ke tempat duduk kalian masing masing!" ujar Bu Bunga sebagai guru IPA.
"ba-baik bu! terimakasih!" ujar Yala dan Rendra.
mereka berdua pun pergi ke tempat duduk masing - masing.
Tak terasa waktu terus berjalan sampai bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan ke luar dari sekolahan.
"Zra!! tunggu!" panggil Yala dari kejauhan.
"(menoleh) napa? kalo ga penting ga usah bicara!" ujar Ezra dengan nada ketus.
"mentang - mentang cuma sayang sama Hana?!karena kuotaku menipis, nih tolong kasih ke Hana! atau kamu fotoin kek atau gimana lah! yang penting sampai ke Hana! udah gitu aja! aku pulang duluan! bye!" perintah Yala yang lalu pergi meninggalkan Ezra.
"ouh.. oke.. " jawab Ezra.
Ezra pun segera pulang.
SESAMPAINYA DI RUMAH
"capek banget... baru seminggu sekolah rasanya kayak di penjara aja! ngantuk bangett! habis ini bersih - bersih badan, makan terus tidur enak kali ya? eh bentar sampai lupa! kan aku suruh nyampein ini ke Hana!" ujar Ezra sembari mengambil HP dan catatan serta tugas yang dititipkan Oleh Yala.
"(memfoto catatan dan tugas itu lalu mengirimnya ke Hana) nah beres! eh langsung di baca dong!" ujar Ezra dengan sangat senang.
Hana pun juga langsung membalas pesan dari Ezra.
"makasih ya zra.. maaf jadi ngrepotin kamu nih, hihi" jawab Hana lewat pesan.
"sans, tapi besok traktir ya pas kamu udah berangkat! hehehe! ada barang ada harga" canda Ezra.
"makasih, nggak dulu!" jawab Hana.
"hahaha canda! ya udah aku mau makan dulu! laper banget cuyy!" pamit Ezra.
"oke! makannya jangan banyak - banyak biar tinggi mu tetep segitu dulu terus bisa aku balap deh! hahahaha" ujar Hana dengan tertawa riang gembira.
"coba aja kalau bisa! hehe" tantang Ezra
__ADS_1
"ngejek ya kamu? lihat aja nanti! huh! ya usaha ku mau nyicil tugas dulu! bye!" pamit Hana dengan sombong.
"lah langsung ngilang ni anak?! emang ga tau diri! udah bersyukur ku kasih tau tugas sama catatan! lihat aja besok kalo ketemu!" ujar Ezra dengan kesal