PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Menceritakan Seseorang


__ADS_3

Arkais adalah orang yang suka keterasingan.


Arkais beranggapan begitulah pandangan semua orang terhadap dirinya. Bukan tanpa alasan, memang kenyataannya tidak banyak yang mampu menangkap hawa keberadaannya. Bahkan petugas perpustakaan yang setiap hari berdiri di meja jaga. Beliau masih tidak mengenali wajah dan perawakannya tiap kali ia berkunjung ke tempat favoritnya di lantai tiga perpustakaan, yaitu di meja paling sudut dekat jendela besar yang menghadap ke parkiran. Tempat yang cukup sepi, tidak banyak mahasiswa yang naik ke sana kecuali mereka yang suka menyendiri dan tidak takut pada keheningan.


Sedangkan di kelas, ia terkenal sebagai lelaki pendiam. Suaranya masuk dalam kategori bunyi asing karena ia sangat jarang berbicara, ia lebih banyak mencatat dan memerhatikan. Berada di fakultas keguruan jurusan bahasa Indonesia membuatnya seringkali tidak nyaman ketika harus tampil di depan khalayak. Ia bukanlah tipe manusia yang pandai dalam mengekspresikan perasaan, tidak lihai dalam menyampaikan ide-ide cemerlang secara lisan, apalagi dalam berpenampilan menarik. Ia terlalu kompleks untuk hal-hal yang sederhana dipikiran kebanyakan orang.


Saking tidak terdekteksinya keberadaan Arkais, seringkali ia terabaikan ketika semua orang sibuk membentuk kelompok. Ia dengan berat hati bersusah payah mendatangi satu persatu dari teman-temannya untuk mendapatkan kursi anggota dalam kelompok. Walaupun begitu, ketika mereka menyadari keberadaanya, mereka akan dengan senang hati menerima Arkais sebagai anggota kelompok. Meski terkesan dingin, ia adalah sosok yang mampu diandalkan. Kepribadiannya yang misterius mampu menarik perhatian beberapa gadis di kelasnya yang menganggap bahwa lelaki misterius itu menarik.


Hari ini jadwal kuliah berhenti di pukul dua siang. Seperti biasa, Arkais akan mengunjungi tempat sakralnya di perpustakaan. Ia menghela napas panjang ketika keluar dari gedung. Dadanya terasa plong, mata kuliah sintaksis dan semantik selalu berhasil membuatnya sesak napas. Ia menengadah, menatap Matahari siang yang menyilaukan, agaknya bulan Juni sedang melakukan parade musim panas sepanjang tahun.


Arkais mengenakan topi lalu berjalan di antara bayang-bayang pepohonan, menerabas daun-daun kering yang berserakan. Seperti biasa, ia selalu melakukan ritualnya setiapkali melewati jempatan penghubung, yaitu berhenti di tengah jembatan untuk memandangi rawa-rawa. Mencari seekor biawak atau burung ayam-ayaman yang kadang kala menampakkan diri. Setelah sekian lama menunggu, tak ada satu pun binatang yang muncul. Ia meneruskan langkahnya menuju perpustakaan.


Sesampainya di perpustakaan ia langsung melesakkan tas ke loker penyimpanan barang yang tidak selalu aman dari para pencuri. Tangannya cekatan mengambil sebuah buku dengan kertas berwarna hitam, dua buah pulpen bertinta putih, dan sebuah buku dengan kertas pembatas warna-warni yang terselip di banyak halamannya.


Petugas perpustakaan tersenyum menyambut kedatangannya, ia mengangguk pelan dan melangkah masuk melewati wajah-wajah asing, rak-rak buku, kemudian menapaki satu demi satu anak tangga menunju lantai tiga. Tempat favoritnya masih lenggang, ia tersenyum puas. Baginya, tempat itu adalah sebuah teritori pribadi yang tiada satu orang pun boleh mengganggu.


Dengan penuh penghayatan ia menarik kursi, lalu duduk dan memandangi orang-orang yang sibuk lalu-lalang di parkiran. Ia memasang earphone, memilih daftar putar lagu kesukaannya. Perlahan ia tenggelam dalam segala alur kisah dalam buku yang dibawanya.


"Hei!" Sebuah tangan menepuk pundaknya. Arkais terlonjak kaget, buku di tangannya terlepas. Ia menghela napas saat sadar siapa orang yang telah mengganggu kekhusukannya.


"Bezebah kau Gi! Kukira penunggu kursi kosong di seberang sana." Ia mengambil buku yang jatuh di lantai sambil mendengus kesal.


"Jiahahahahahaha, ya maaf Ark. Kau juga sok terkejut, memangnya ada orang lain yang berani mengejutkanmu selain aku?"


Arkais diam tak menanggapi. Lelaki yang muncul secara tiba-tiba itu namanya adalah Adagio, lengkapnya Langit Adagio. Ia adalah sahabat Arkais sejak mereka secara tidak sengaja lahir bersamaan di rumah bidan desa. Mereka lahir di hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam yang sama. Menurut cerita bidan desa, mereka sampai kewalahan menangani kelahiran yang serempak itu. Meski lahir di waktu yang sama, bukan berarti mereka memiliki kesamaan. Mereka ibarat dua sisi yang berbeda, hitam dan putih, terang dan gelap, terkenal dan tidak dikenal.


Adagio selalu memiliki sifat yang berseberangan dengan Arkais. Arkais adalah pemalu, penyendiri, sedangkan Adagio adalah orang yang show off, humble, dan selalu berhasil mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya. Meski demikian, mereka adalah sahabat rasa saudara. Bagi Arkais, Adagio adalah satu-satunya sahabat. Bagi Adagio, Arkais adalah sahabat nomor satunya.

__ADS_1


"Aku sudah buat beberapa puisi yang kau minta, bagaimana dengan puisiku sebelumnya? Berhasil kau nyanyikan?" Arkais meletakkan earphone ke atas meja tanda diskusi berat akan segera dimulai.


"Hemm, aku minta beberapa orang sebagai tester. Seperti biasa, mereka selalu bilang amazing, luar biasa, padahal itukan baru aransemen awal, belum hasil akhir.


"Wow selamat kalau begitu, jadi kapan rencana mau rilis lagunya?"


"Ntar dulu deh Ark, aku mau rehat sebentar. Selama tur keliling Pulau Sumatera kemarin aku belum istirahat sama sekali."


"So, gimana rasanya jadi mega bintang?"


"Gak bisa dijelasin Ark, itu adalah suatu ledakan perasaan yang harus kamu coba sendiri. Coba kau bayangkan, betapa hebohnya jagat dunia jika mereka semua tahu wajah penulis puisi yang aku lagukan. Sekarang bukan zamannya lagi jadi orang sok misterius Ark. Di luar sana, sudah banyak yang ngaku-ngaku jadi kamu. Kamunya malah gak ngaku-ngaku kalau ditanya orang-orang. Manusia aneh!"


"Halah males Gi, aku cuma takut satu hal. Aku takut nanti bisa lebih terkenal darimu. Aku gak tega aja lihat kamu stress kalau semua penggemarmu beralih ke aku."


"Sok ganteng!"


"Jiahahahaha bodo amat! Makan nasi padang enak nih."


"Aku mencium bau-bau minta ditraktir."


"Enak aja, aku yang bayar!"


"Oke, kita ke rumah makan padang yang ada kepala ikan kakapnya."


"Sialan aku kena jebak!" Adagio menepuk jidatnya.


Mereka keluar dari perpustakaan dengan berjalan beriringan. Berada di sebelah Adagio selalu membuat Arkais yang notabene adalah seorang penyendiri merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, semua mata tertuju ke arah mereka.

__ADS_1


Lirih terdengar suara bisik-bisik para gadis yang tersipu malu saat melihat senyum Adagio atau decak kagum para pria yang kurang bersyukur dengan membayangkan dirinya memiliki karisma seperti Adagio. Hal semacam ini serupa penyambutan sakral setiapkali Adagio muncul di suatu tempat.


Seperti biasa, berjalan beriringan dengan Adagio selalu berakhir dengan Arkais yang tersingkir dari kerubutan para penggemarnya yang minta berswafoto atau menyodorkan barang-barang untuk ditandatangani oleh Adagio. Arkais melangkah lebih dulu. Ia melambaikan tangan sambil berlalu.


"Maaf yak!" Teriak Adagio tanpa rasa bersalah.


Arkais mengangkat dua jarinya sambil berkata, "Dua kepala ikan adalah maaf bagimu."


"Gilak! dasar perut lubang hitam."


"Jadi gak ni mau makan?" tanya Arkais dengan wajah datar.


"Ya ayok!"


Di rumah makan padang favorit mereka, Adagio meneguk ludah memandangi sahabatnya yang sedang kalap memakan kepala ikan kakap. Ia benar-benar tidak menyangka dengan tubuh cukring seperti itu, Arkais mampu melahap dua kepala ikan kakap sebesar piring bersama sebakul nasi ditambah beberapa potong daging rendang serta sepiring pucuk ubi dengan sambal padang. Ia lihat sebenarnya sahabatnya itu tidak kurang makan, tidak kurang uang jajan. Masih menjadi sebuah misteri kenapa setiap makan di rumah makan padang Arkais selalu selahap itu, Adagio masih saja terheran-heran dibuatnya.


Arkais menyelesaikan kegiatan makannya dalam waktu kurang dari satu jam. Ia melepaskan sendawa dengan puas, lalu merebahkan tubuhnya di punggung kursi, tangan kanannya mengelus perut kecilnya yang penuh. Meninggalkan Adagio yang masih mengunyah nasi sambil memandang jengkel ke arah Arkais.


Setelah selesai makan, mereka menuju ke indekos Arkais. Adagio penasaran dengan puisi yang akan ia aransemen. Kamar indekos itu masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Penuh dengan buku-buku. Meski begitu, indekos Arkais masuk dalam kategori indekos yang paling rapi di antara indekos para lelaki di sekitarnya. Tidak ada gambar-gambar aneh yang tertempel di dinding. Hanya satu figura foto keluarga dan sebuah jam dinding serta papan tulis dengan banyak tempelan kertas.


Adagio merebahkan diri di kasur, ia memandang langit-langit kamar. Mencoba mencari-cari wajah seseorang yang ia temui tempo hari. Sedangkan Arkais sibuk membuka buku-buku yang tertumpuk di atas meja, mencari secarik kertas yang lupa ia letakkan di buku apa dan halaman berapa.


"Gi aku lupa naruhnya dimana," ujar Arkais sambil terus membuka buku-buku. Ia menoleh karena ucapannya tak mendapatkan tanggapan dari Adagio.


"Yaelah malah molor ni anak."


Sebenarnya Arkais sudah tidak tahan ingin menjahili Adagio, tetapi ia tidak tega karena melihat sahabatnya itu tidur begitu pulas. Ia memutuskan untuk membiarkan Adagio melanjutkan tidurnya. Sedangkan ia membuka buku yang belum tuntas ia baca. Ia sangat tertarik dengan sebuah penggalan kalimat, "Bagian terumit dari hidup adalah jatuh cinta."

__ADS_1


"Sepertinya aku butuh merasakan jatuh cinta," ujarnya lirih.


__ADS_2