PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Hilang-Kembali


__ADS_3

Alam semesta itu panggung komedi paling lucu."


Itulah kutipan terakhir dari buku yang sedang Arkais baca. Ia mengurut glabellanya.


Gadis bernama Aura itu telah lama tidak tampak di perpustakaan. Mereka belum sempat bertukar nomor ponsel atau alamat udara apapun. Ia seperti menghilang di telan sisa hujan sore itu. Arkais yang diam-diam menunggu kehadirannya mencoba mengendalikan perasaan dan pikirannya sendiri, ia tidak mau terjebak dalam persepsi atau prasangka tidak masuk akal, seperti rindu contohnya.


Sesekali matanya menatap ke arah tangga, berharap ada seorang gadis yang muncul dan melambaikan tangan ke arahnya. Sebuah kebiasaan baru yang membuatnya sulit untuk berkonsentrasi dalam menikmati buku bacaannya. Ia menghela napas, lalu membuang pandang ke arah parkiran. Tidak ada wajah gadis itu di sana, tetapi bayang-bayangnya berjalan tiada henti di pikiran Arkais. Meski begitu, perlahan wajah sang gadis mulai tersamarkan, ia pun mulai takut kehilangan wajah itu.


Arkais melihat penunjuk waktu di pergelangan tangannya, sebentar lagi perpustakaan akan tutup. Ia berkemas dan bergegas pulang, malam ini adalah malam yang besar baginya. Beberapa hari lalu Adagio memintanya untuk datang ke pertunjukkan musiknya. Adagio bilang, ia ingin memperkenalkan Arkais ke seluruh penonton. Selama ini para penggemarnya hanya tahu bahwa semua lagu Adagio ditulis oleh seorang sahabat rasa saudara yang bernama ARRE. Tidak lebih dari lima orang yang tahu bahwa ARRE adalah singkatan nama Arkais, yaitu ARkais REkata.


Adagio memberi kabar bahwa pertunjukkan musiknya akan dimulai pada pukul 20.00 WIB. Arkais sudah bersiap sejak sebelum Magrib, ia merasakan kegelisahan luar biasa. Sudah dua gelas kopi ia habiskan, sudah dua kali pula ia bergati pakaian. Bahkan ia sudah pindah lokasi duduk beberapakali.


Ia menatap dirinya di cermin yang hanya mampu menampung bagian leher ke atas saja. Dia menyipitkan matanya lalu menyisir rambut dengan jarinya.


"Arkais Rekata, apa anda sudah benar-benar siap dikenal oleh seluruh dunia?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia melipatkan tangannya di depan dada. "Hemm, Arkais Rekata. Anda harus keluar dari zona nyaman dan inilah waktu yang paling tepat. Anda harus membuka cakrawala baru agar tidak menjadi ikan dalam akuarium. Tapi tunggu dulu, ikan dalam akuarium atau katak dalam tempurung ya? Hemm, katak dalam tempurung sudah terlalu biasa. Ikan dalam akuarium terdengar lebih keren. Bagaimana saudara Arkais?" katanya pada dirinya sendiri sambil menaikkan sebelah alisnya.


Arkais menghela napas untuk kesekian kali. Ia menengadah, menatap langit-langit kamar. Ia memang seorang introvert, tetapi ia merasa telah melakukan sebuah gebrakan. Ia telah melakukan langkah berani yaitu berkenalan dengan orang asing minggu lalu. Napasnya tercekat, sebuah pemikiran berpijar di kepalanya. Sebuah prasangka muncul, mungkinkah gadis itu merasa tidak nyaman ketika bertemu dengannya sehingga ia memilih untuk tidak pergi ke perpustakaan lagi. Jangan-jangan gadis itu takut bertemu dengannya. Arkais merebahkan tubuhnya ke kasur, ia benar-benar menyesal atas kesadaran yang datang terlambat ini. Ia menutupi wajahnya dengan bantal, ternyata merasa tertolak lebih sakit dari segala hal yang pernah ia bayangkan.


Arkais membuang bantal yang menutupi wajahnya, ia berdiri lalu duduk di meja kerjanya. Dipandanginya buku-buku yang berjajar rapi merapat pada dinding. Ia menyambar cangkir kopi dan langsung meneguknya seperti meminum segelas es teh di siang bolong. Ia menyambar jaketnya yang tergantung di belakang pintu seraya bergumam, "tidak ada waktu untuk menjadi seorang pengecut."


Ia menarik gas motornya menuju lokasi pertunjukkan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kepalanya penuh dengan imajinasi tentang apa yang akan terjadi di atas panggung nanti. Bagaimana jika penggemar Adagio kecewa melihat rupanya yang pas-pasan atau bagaimana jika nanti ketika dipanggil naik ke panggung ia terpeleset lalu jatuh kemudian penyangga pelantang suara di atas panggung ikut jatuh menimpuk kepalanya. Ah, memalukan sekali rasanya. Ia juga membayangkan andai saja nanti tiba-tiba ia sakit perut atau suaranya tercekat di tenggorokan dan ia menjadi gagap. Ya Tuhan, mengerikan sekali.

__ADS_1


Entah kenapa, Arkais merasa tiba-tiba keringat dingin membanjiri tubuhnya, membuatnya tidak nyaman. Ditambah lagi dengan angin petang yang semakin membuatnya menggigil. Ia merasa seperti seorang siswa yang tiba-tiba dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling lewat pengeras suara. Tarikan gas motornya mengendur, ia benar-benar merasa ketakutan.


Ketika Arkais sedang tenggelam dalam rasa khawatirnya yang berlebihan. Sebuah tetesan air menabrak kaca helmnya. Ia menengadah ke langit, makin lama tetesan air itu makin banyak menghantam kaca helmnya. Bahkan tidak hanya kaca helm, tetesan air yang semakin deras itu mulai menyerang sekujur tubuhnya.


Arkais dengan cepat menepikan motornya ke salah satu gerai belanja merah kuning biru. Setelah melihat hujan akan turun cukup langgeng, Arkais masuk membeli kopi panas. Namun saat ia keluar seluruh kursi telah ditempati oleh orang-orang yang menyusul ikut berteduh. Ia melihat sekelilingnya, hanya tersisa satu kursi yang masih kosong. Tidak menunggu kursi itu terisi, Arkais segera duduk di sana. Ia tidak sadar dihadapannya telah duduk seorang gadis yang menatapnya dengan dahi berkerut. Arkais terlihat terkejut kaku saat memandang ekspresi gadis di depannya.


"Arkais?" tanyanya dengan kepala miring.


Arkais membelalak, "Aura Pelangi?"


Mereka tertawa terpingkal-pingkal, mereka tidak menyangka akan dipertemukan di sini. Padahal telah lama Arkais menunggu kedatangan Aura. Ditambah lagi dengan rasa kehilangan akibat tidak bisa berkomunikasi via apapun. Tuhan memang Maharomantis. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah perkenalan di perpusatakaan kala itu.


Setelah saling melempar tanya mengenai kabar dan basa-basi lainnya. Mereka tiba-tiba saling manatap dan diam. Menyimpan rona merah yang muncul di wajah mereka. Lalu masing-masing dari mereka berpura-pura sibuk bermain gawai.


Mata Arkais menyatu dengan butir air hujan. Ia mulai berpikir, apa yang sebenarnya ia cari dan butuhkan. Apakah ia membutuhkan ketenaran atau hanya sekedar ingin dikagumi sebagai penulis lagu Adagio. Tatapannya menembus seluruh butiran hujan dan pekat malam. Ia menyesap kopinya yang mulai dingin.


Gadis di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Matanya terlihat menembus hujan dan gelapnya malam. Lamunan mereka buyar oleh dering telepon milik Aura, hujan membuatnya harus mengaktifkan loudspeaker saat bicara. Sehingga Arkais yang duduk di seberang meja bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka perbincangkan.


"Kamu dimana? Udah mau mulai nih," teriak orang di seberang telepon.


"Aku lagi neduh Rin, hujannya deras banget. Lampu motorku tadi tiba-tiba mati. Gimana dong Rin?"

__ADS_1


"Yah, gimana Ra. Aku gak bisa keluar lagi nih buat jemput kamu. Udah sesak banget, kamu sih tadi aku ajak bareng gak mau."


Terdengar ada sedikit kesal dan sesal dalam suara orang di seberang telepon. Aura menghela napas, mendenguskan rasa sesal karena menolak ajakan temannya itu.


"Iya deh salah aku Rin. Padahal aku udah nunggu momen ini sejak Adagio bilang mau ngenalin si ARRE ke semua orang di pertunjukkan musiknya malam ini. Aku tuh penasaran sama penulis lagunya, si ARRE itu Rin. Tapi malah hujan gini."


Wajah Aura tampak sedikit merona ketika mengatakan itu. Tiba-tiba Arkais merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Ia berusaha mengendalikan diri, berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Aura. Ia berusaha tetap bersikap normal dengan menyesap kopinya yang telah mencapai tetes terakhir.


"Tapi kayaknya penulisnya gak jadi datang deh Ra. Tadi Adagio bilang dia sedang dalam perjalanan tapi gak tau bisa hadir atau nggak. Udah dulu ya, Adagio dah mau nyanyi nih," orang di seberang mematikan telepon.


Gadis itu menatap Arkais yang sejak tadi menatapnya. Merasa tertangkap basah, Arkais akhirnya berbasa-basi dengan gadis itu.


"Kamu suka lagu-lagu Adagio?" tanya Arkais malu-malu.


"Emm, lumayan sih Ark. Aku lebih suka syair lagunya. Kamu suka dengar lagu dia juga Ark?" gadis itu bertanya balik.


Arkais bingung menjawab pertanyaan itu. Setelah diam cukup lama, ia mengalihkan ke pembicaraan yang lain.


"Masih mau nonton Adagio?" Entah dari mana pikiran itu datang.


"Enggak tahu nih, motorku lampunya mati. Hujan juga, lagian katanya penulisnya gak datang," ujar gadis itu sopan. Menolak secara halus. Arkais mengangguk pelan.

__ADS_1


Hujan dan gerai pembelanjaan. Kopi dan pertemuan kembali. Arkais mengakhiri pertemuan itu dengan berdiskusi tentang puisi dan kopi hingga hujan berhenti sepenuhnya. Ia bahkan menunjukkan sikap pedulinya dengan mengiringi Aura pulang ke rumahnya. Dengan alasan bahwa sangat berbahaya mengendarai motor tanpa lampu pada malam hari. Padahal itu hanya akal-akalan Arkais untuk bisa mengetahui alamat rumah Aura.


__ADS_2