PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Putri Senja dan Remah Roti


__ADS_3

Jatuh selalu terjadi pada tempat dan waktu yang tepat.


Arkais memandangi punggung Aura, gadis pecinta senja itu sedang asik bermain dengan ombak. Hampir setiap sore ia menyempatkan diri untuk ke pantai dan memandangi Matahari yang perlahan tenggelam di langit barat. Jika tidak bisa ke pantai, maka ia akan menatap langit pukul enam sore, ia tidak peduli apakah langit itu berwarna jingga atau kelabu karena hujan badai. Ia hanya memastikan Matahari tetap pulang ke peraduan barat dengan selamat.


Arkais memandangi punggung itu, menatap setiap inci ditiap bagiannya. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada sayap yang akan keluar dari celah tulang belikat milik Aura. Di depan matanya, Matahari mulai turun pelan-pelan, langit mulai sedikit menjingga. Cuaca cerah melengkapi suasana hati Arkais yang sedang diliputi oleh perasaan melankolis romantis.


Dalam hati, ia mendongengkan sebuah penggambaran atas dirinya sendiri. Dongeng itu bercerita tentang kisah seorang lelaki yang tinggal di sebuah belantara gelap nan terasing. Gadis yang sedang asik bermain ombak itu adalah makhluk bumi yang menemukannya. Ia adalah makhluk bumi yang menarik tangannya untuk keluar dari penjara pepohonan rasa takut. Ia adalah makhluk bumi yang membuat Arkais terkesima melihat cakrawala baru di luar belantaranya yang nyaman, aman, dan terasingkan.


Gadis bernama Aura itu adalah makhluk bumi yang mengenalkan warna jingga pada sorenya yang biasa-biasa saja. Di suatu tempat tanpa zona waktu, Arkais mengizinkan dirinya untuk jatuh begitu dalam ke suatu prasangka yang paling ia takuti. Ia mengizinkan dirinya untuk mengakui bahwa ia sedang jatuh dalam pesona seorang makhluk bumi yang ternyata tidak bersayap.


Gadis itu melambaikan tangan, meminta Arkais untuk bergabung dalam keseruan dunianya. Arkais berlari kecil ke sisi Aura.


"Mohon izin bergabung Tuan Putri Senja," ujar Arkais dengan tubuh membungkuk.


"Apa yang kamu tawarkan wahai Tuan Remah Roti?" Aura melipatkan kedua tangannya di depan dada. Bertingkah seolah-olah ia adalah seorang putri kerajaan.


Arkais memasang wajah kesal. Ia tidak menyangka akan disebut sebagai remah roti oleh Aura. Padahal sebelumnya ia selalu mendapatkan julukan yang cukup keren dari orang-orang, seperti Pria Gunung Es, Si Penyepi, atau Mister Misterius.


"Sebagai remah roti, izinkanlah saya melekat dekat dengan bibir Tuan Putri Senja. Sehingga pangeran pujaan tuan putri akan mendapat kesempatan untuk membersihkannya. Itu akan menciptakan rona merah pada wajah tuan putri. Saya suka melihat wajah tuan putri merah merona." Arkais memasang senyum termanisnya.


"Jadi, kamu rela wajahku disentuh oleh orang lain wahai Tuan Remah Roti?"

__ADS_1


Arkais menghela napas, "jika demikian, izinkan saya menjadi remah roti yang tertinggal di saku jaket tuan putri."


"Kenapa?" tanya Aura penasaran.


"Saya ingin menjadi kenangan yang mengingatkan tuan putri dengan suatu tempat, waktu, dan kejadian."


"Kamu kuizinkan bergabung!" Ujar Aura dengan senyum merekah di wajahnya.


Setelah pertunjukan drama itu berakhir, mereka tertawa mengingat dialog mereka yang aneh sepanjang adegan. Arkais masih tidak habis pikir bagaimana Aura tiba-tiba bisa memanggilnya dengan julukan Tuan Remah Roti.


Di hadapan mereka, langit telah sepenuhnya jingga, tepi pantai makin ramai. Tanpa komando, tiba-tiba mereka telah sama-sama sunyi, tenggelam dalam imajinasi masing-masing. Melakoni peran dalam skenario kisah mereka sendiri. Mereka membangun cerita dengan tokoh yang sama, namun kisah dalam kepala mereka berjalan dengan alur yang berbeda.


Meski telah cukup yakin dengan perasaannya, Arkais belum memutuskan untuk mengutarakan semua perasaannya pada Aura. Menurutnya, perasaan itu masih sangat prematur. Ia masih membutuhkan waktu untuk bisa membuktikan berbagai hipotesisnya yang harus dilengkapi fakta dan data.


Tidak jauh dari mereka, ada sepasang kekasih yang sedang asik bercengkrama. Mereka terlihat amat bahagia. Arkais memandang sepasang kekasih itu dengan penuh praduga. Ia ingin menghampiri mereka, lalu menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan tanda-tanda jatuh cinta. Apakah mereka pernah merasakan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Mungkin mereka juga pernah ragu-ragu seperti dirinya. Kakinya hendak melangkah ke arah sepasang kekasih itu.


"Kamu mau kemana Ark?" Langkah Arkais berhenti mendengar pertanyaan itu.


"Gak kemana-mana kok Ra, kamu takut aku tinggal ya?" Ujar Arkais sambil tertawa.


"Enggak Ark, aku cuma mau tahu aja kamu mau kemana."

__ADS_1


"Yaelah, padahalkan aku berharapnya kamu takut aku tinggalin gitu."


"Loh, kenapa gitu?" kerut di kening Aura bertambah satu garis.


"Itu tandanya aku berharga dalam hidup kamu Ra,"


Aura memaku mendengar jawaban itu. Angin laut menerpa wajah Aura yang kini memerah, Arkais masih berdiri menghadap ke arah Matahari yang telah separuh tenggelam. Aura menatap lelaki di hadapannya. Lelaki yang berdiri tegap menatap senjanya, di mata Aura waktu melambat secara romantis. Ada yang hendak meloncat keluar dari jantungnya, ada yang menggelitik pikirannya. Ia memalingkan wajahnya dari lelaki itu, takut tertangkap basah sedang jatuh dalam pesona lelaki itu.


Malam mulai menyelimuti seluruh langit, mereka menepi dari pantai dan ombak. Dalam perjalanan pulang mereka saling membisu. Entah kenapa, mata mereka manangkap lampu-lampu yang berdiri di sepanjang jalan memendarkan cahaya yang lebih lembut dari biasanya.


Jalanan malam ini menyimpan berbagai pertanyaan. Tentang suatu hari yang ada di angan-angan. Tentang suatu waktu yang entah kapan. Tentang suatu tempat yang entah dimana. Tentang suatu kata yang masih ragu-ragu untuk mereka sentuh seluruh maknanya. Tentang suatu keyakinan yang penuh dengan kemungkinan. Tentang suatu tentang yang tidak ada habisnya.


Perjalanan menuju rumah Aura terasa lebih lama dari biasanya. Padahal jalanan lenggang, persimpangan dan lampu merah lebih sepi. Bahkan penjual sate padang langganan Arkais tidak muncul di bawah pohon mangga dekat taman kota malam ini.


Tepat saat adzan Isya berkumandang mereka sampai di pintu halaman rumah Aura. Rumah Aura tampak sepi seperti biasanya, sampai hari ini Aura belum pernah sekalipun mengajak Arkais untuk mampir atau sekedar mengizinkannya mengantar hingga depan pintu dan berpamitan langsung pada orang tuanya.


Arkais berpikir bahwa mungkin belum waktunya bagi ia untuk dikenalkan dengan orang tua Aura. Arkais pun masih sadar diri dengan posisinya saat ini. Ia juga belum memperkenalkan Aura dengan orang tuanya. Mungkin mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk meyakinkan diri mereka sendiri.


"Kamu hati-hati di jalan ya Ark," Aura melepas Arkais dengan melambaikan tangan.


"Oke Ra, makasih ya." Arkais menutup kaca helmnya lalu berlalu dari hadapan Aura.

__ADS_1


Aura memandang punggung lelaki itu, sepanjang jalan menuju ke rumah ia tidak berhenti memandang punggung itu. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada sayap yang akan keluar dari celah tulang belikat milik Arkais. Lelaki itu telah menjadi cahaya terang dalam dunianya yang penuh kegelapan.


Ia memandang langit yang bertabur bintang, bulan bercahaya terang dan sedang sabit sempurna. Suara pintu rumah terbuka, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan keluar dan tersenyum ke arah Aura. Aura mengangguk pelan dan bergegas menghampiri wanita itu. Mereka saling memeluk sebelum masuk ke rumah dan Aura menghilang dibalik pintu.


__ADS_2