PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Manor-Minor


__ADS_3

Bintang bersinar berkat kelamnya malam.


Kata-kata itu adalah usaha Adagio untuk selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bisa sampai di titik ini tanpa proses yang panjang dan orang-orang yang mendukungnya.


Ruangan telah sepi dari gegap gempita, hanya tertinggal beberapa panitia acara yang membereskan perlengkapan konser. Di tengah mereka, sang pemeran utama: Adagio. Masih duduk di barisan ketiga pada kursi penonton.


Tangannya terlipat di depan dada, matanya menatap panggung yang kini lenggang dan kosong. Hanya terlihat beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu dan membereskan barang-barang di panggung. Semua histeria itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Orang-orang yang menatapnya dengan tatapan beraneka warna, penuh haru, dan membara.


Adagio menatap langit-langit, satu persatu lampu sorot dan lampu penaungnya dimatikan oleh petugas tata lampu ruangan. Poster-poster bergambar dan bertuliskan namanya yang tertempel di sudut-sudut ruangan mulai dilepas.


Meski acara telah lama selesai, masih ada saja penggemar yang menghampirinya untuk sekedar minta tanda tangan atau berswafoto. Adagio memang terkenal ramah dengan semua orang, terkenal sebagai penyanyi tampan yang tidak banyak tingkah. Tetap rendah hati meskipun lagu-lagunya selalu masuk dalam lima besar tangga lagu nasional.


Dari celah ruangan dan pintu yang terbuka, sinar jingga jatuh di lantai dan menerangi beberapa sudut ruangan. Orang-orang yang tersisa, satu persatu mulai pergi meninggalkan lokasi. Mereka melambaikan tangan sambil berlalu, Adagio membalas lambaian mereka sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Salah satu kebiasaan Adagio setelah manggung adalah menikmati pemandangan ketika orang-orang yang bekerja keras untuknya pergi meninggalkan lokasi. Ia melakukan kebiasaan itu untuk mengingatkan dirinya sendiri, bahwa setiap orang yang saat ini mendukungnya secara penuh, menghargai setiap karya buatannya, menjadikannya panutan, dan segala hal yang membuat nya bersinar. Pasti suatu saat akan pergi. Berganti ke bintang baru yang lebih bersinar, bintang yang mampu memuaskan hasrat mereka. Kebiasaan inilah yang membuatnya menjadi rendah hati.


Ruangan ini telah sepenuhnya sepi, ia menatap seluruh ruangan. Ia merentangkan tangan, lalu menghela napas panjang. Ia membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu dengan tersenyum puas seraya mengucapkan terima kasih di dalam hati. Ia pulang dengan gitar tersandang di punggung. Sungguh pemadangan yang memesona bagi para kaum hawa.


Di luar, lampu jalan satu persatu mulai menyala. Para pekerja kantoran memenuhi jalanan, mereka bergegas pulang ke rumah tanpa tahu apa yang akan mereka lakukan setelah sampai. Mungkin menghabiskan waktu dengan mendengarkan berita yang telah disandiwara di layar kaca sebagai bahan obrolan di kantor esok hari. Mungkin juga langsung tidur setelah makan malam. Anak-anak juga mulai pulang kandang, takut jika ibu bapaknya mencari mereka sambil membawa rotan. Ah, situasi semacam ini mengingatkannya akan masa kecil dulu.


Gawai di kantongnya bergetar, nama Arkais muncul dengan foto mereka berdua saat liburan tiga tahun lalu di Bromo. Dia mengangkat panggilan telepon sambil melangkah keluar ruangan.


"Halo assalamulaikum Ark!" ujar Adagio dengan nada sok asik.


"Waalaikumsalam, aku tunggu 30 menit lagi ya Gi. Jika tiga puluh menit dari telpon ini mati kau belum datang. Maka akan aku kencingi gitar kesayanganmu itu," suara Arkais terdengar kesal dari seberang sana.


"Selaww bro, kalau aku datang 15 menit lebih cepat. Kau beritahu aku soal gadis yang membuatmu jatuh cinta ya,"


"Bodo amat! Buruan datang! Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Ia kembali menghela napas, langkahnya berhenti di depan pintu masuk gedung. Wajahnya menatap langit sore yang memamerkan tarian antara sang jingga, biru, putih, dan dibalut keremangan yang pelan-pelan memeluk seluruh bumi.


Ia menarik gas sepeda motor sport 250 cc yan dibalut warna hitam kebiruan, motor itu ia beri nama Macan Kumbang. Sebuah hadiah dari studio rekaman ketika albumnya meledak di pasaran. Macan Kumbang selalu bisa diandalkan jika Adagio sedang berkejaran dengan waktu. Jalanan sudah mulai sepi, para pekerja kantoran sebagian sudah sampai ke rumah. Anak-anak sudah selesai mandi.


Adagio sampai di lokasi tujuh menit lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Suasana kafe masih sepi, sesuai dengan peraturan pemilik kafe yang menutup sejenak kafenya saat adzan Magrib. Mereka biasanya menutup pesanan pada pukul tiga sore, agar orang-orang bisa selesai menyantap pesanan mereka sebelum Magrib tiba. Sedangkan Arkais dan Adagio adalah pengecualian dalam aturan itu.


Adagio mendapati Arkais baru selesai mengambil air wudhu, ia melambaikan tangan sebagai kode agar Arkais menunggunya agar bisa sholat berjamaah. Arkais mengacungkan jempol tangannya sambil berlalu, mengiyakan kemauan sahabat dekatnya itu. Adagio bergegas menyusul masuk ke dalam mushola, lalu tiba-tiba beriqamah. Arkais melotot, kebiasaan lama mereka yang saling dorong untuk jadi imam. Mau tidak mau Arkais menjadi imam sholat mereka sore itu.


Selesai sholat, Adagio seperti biasa mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun, Arkais menangkupkan tangannya di depan dada. Seperti cara bersalaman seorang muslimah kepada yang bukan mahramnya. Melihat kelakuan sahabat kecilnya itu, Adagio tertawa sambil memukul lengan dan pundak Arkais yang juga tertawa. Lalu mereka bersalaman seperti biasa.


"Masih menekuni kebiasaan lama setelah manggung Gi? Duduk memerhatikan satu persatu orang pergi meninggalkan ruangan?" ujar Arkais sinis.

__ADS_1


"Ah kau ini Ark. Bukannya itu saran darimu? Menikmati semua momen sebelum dan sesudah aku manggung. Kau bilang hal itu akan membuat kita selalu bersyukur," Adagio mendorong punggung Arkais.


"Iya ya? Aku gak ingat." Balas Arkais datar.


"Ark, aku penasaran sama perempuan yang bisa membuatmu jatuh cinta?"


"Omong kosong,"


"Kau tidak mau bertanya balik Ark?"


"Eh, kau masih suka perempuan? Aku kira kau sudah hijrah dan sebentar lagi berhijab,"


"Oiyh sialan! Kau pikir aku homo apa hah!"


"Jadi bagaimana hubunganmu dengan dia?" tanya Arkais dengan mimik serius.


"Dia siapa?" kening Adagio mengerut.


"Gitar kesayanganmu itu,"


Arkais tertawa terbahak-bahak. Adagio kembali mendorong punggung Arkais lalu menendangnya lalu meleparkan jaketnya ke wajah mengesalkan Arkais.


Para pekerja kafe sudah mulai bersiap-siap membuka kembali kafe. Mereka menyapa Arkais dan Adagio dengan sopan. Di kursi khusus tempat mereka biasa mengobrol, Arkais dan Adagio masih saling diam.


"Kopi?"


Adagio beranjak menuju dapur, membuat dua cangkir kopi Gayo Ekspresso. Kafe ini sudah seperti milik mereka sendiri. Pemilik kafe adalah orang yang memperkenalkan Adagio kepada studio rekaman. Bahkan beliau juga yang mengarahkan Arkais untuk mengalihwahanakan puisi-puisinya, setelah melihat beberapa puisi Arkais yang dinyanyikan oleh Adagio memiliki nilai karya sastra yang lumayan ditambah kelihaian Adagio bermain alat musik dan suaranya juga merdu.


Bumi telah sepenuhnya gelap, orang-orang mulai berdatangan, memenuhi meja dan kursi yang kosong. Para pramusaji mulai sibuk mondar-mandir mengantar dan mencatat pesanan pelanggan. Suara senda gurau orang-orang terdengar riuh seperti bunyi lebah yang berpindah. Lampu-lampu penghias ruangan dan beberapa interior kafe yang terkesan jadul menciptakan suasana remang yang menenangkan.


Musik instrumental mulai menggema memenuhi ruangan, pemilik kafe adalah pecinta musik instrumental. Lagu-lagu Beethoven, Kitaro, Depapepe, Kenny G, dan Yiruma kerap menjadi musik latar yang mendukung obrolan orang-orang. Mereka yang asik membicarakan hari kemarin, masa depan, dan hal-hal remeh yang menyenangkan.


Arkais menghirup aroma kopi gayo yang mengambang di depan wajahnya. Asap tipis terlihat menari melenggang di udara. Sepiring pisang goreng, serta beberapa camilan ringan masih belum tersentuh di atas meja sejak dihidangkan. Adagio hanya memandang cangkir kopi yang juga ikut bisu di antara mereka.


"Bagaimana rencana menerbitkan buku puisimu Ark, sudah ada penerbit yang mau menerima?" Adagio memecah sunyi yang sempat mendekap mereka.


"Belum Gi, aku belum mengajukan ke penerbit manapun. Aku merasa puisiku sudah dikenal berkat dirimu. Jadi untuk apalagi aku mencari penerbit?"


Arkais menyesap kopinya, ekspresi wajahnya terlihat begitu meresapi setiap pahit dan asam yang membanjiri seluruh wilayah pori-pori lidahnya. Hitam, pahit, sedikit asam, dan banyak interpretasi terhadap kopi yang tidak mampu menyentuh esensi sebenarnya dari kopi itu sendiri. Tidak ada yang mampu mencapai apresiasi sebenarnya selain sebatas kesadaran-kesadaran filosofis yang mengawinkan kopi dan perjalanan hidup menjadi kata-kata bijak.


"Tetapi setidaknya mereka bisa membaca puisi-puisimu Ark, kau bilang puisimu adalah hadiah untuk dunia. Ketika aku pertamakali menyanyikan puisimu. Kau bilang, begitu anehnya sebuah puisi sederhana menjadi begitu merdu di tanganku. Apa kau tidak ingin mendengar kemerduan puisimu dari segala suara di bumi. Mereka hanya mengenal puisimu lewat laguku, mereka terpaku pada susunan nadaku. Mereka bernyanyi seperti aku bernyanyi, apa kau tidak ingin melihat puisimu terlahir dalam rupa yang lebih rupawan dari hati orang-orang?"


Adagio mengangkat cangkir kopinya. Ia ingin menambahkan rasa pahit pada lidahnya sebelum membuncahkan sederet kata-kata pahit untuk Arkais. Jika sudah seperti itu, jangan harap ia berhenti bicara sampai segelas ekspresso itu mencapai tetes terakhirnya.

__ADS_1


Arkais mendengarkan dengan saksama ocehan dari sahabatnya itu. Ia membenarkan segala ucapan Adagio. Tetapi bukan berarti ia akan menerima semua celotehan itu.


Dunia akan buta tanpa buku, tuli tanpa musik. Itu adalah kata-kata dari Adagio, sang maestro segala alat musik. Pusat segala nada, rujukan bagi banyak puisi untuk dijadikan lagu. Seorang sahabat baik bagi Arkais, dan panutan bagi banyak gadis muda di seluruh negeri. Namun, di sisi lain, ia adalah seseorang yang paling banyak tidur di waktu luang dan memandang segala hal dengan begitu santai.


Adagio kembali mengangkat cangkir kopinya ke udara. Asap rokok kembali mengepul dari mulut hitamnya. Ya, ia adalah lelaki yang mendapat pengecualian dari banyak gadis yang membenci lelaki perokok. Sungguh naif prinsip itu.


Cangkir itu mengambang lama di udara, matanya menatap hutan di seberang tempat ia duduk. Begitu juga dengan Arkais, mereka menatap ke arah yang sama.


"Sampai kapan cangkir itu akan mengambang, menunggu kepastian menyentuh dan mengecap bibirmu Gi. Apa kau mau bertindak sok keren di depanku hah?"


Nampaknya Arkais mulai kesal melihat tingkah sahabatnya yang sedang sok berpikir itu. Padahal sebenarnya, mungkin Adagio sedang melamunkan suatu hal yang tidak penting.


"Halah, tahu apa kau Ark. Aku tidak sedang membiarkan ia menunggu. Aku yang menunggu untuk siap menyesap kopi ini. Aku pernah membaca di sebuah buku, jika kita ingin alam berbicara kepada kita ketika sedang minum kopi. Maka kita harus membiarkan semesta memberitahu kapan waktu paling tepat bagi kopi untuk menyerahkan dirinya pada kita. Waktu terbaik ketika kita menyerahkan segala pikiran untuk menyatu bersama dengan semesta, lagu terbaik akan muncul menenangkan segala ingar bingar kehidupan."


Arkais memicingkan matanya sambil menggelengkan kepala. "Boleh aku tanya sesuatu padamu Gi?" tanyanya pelan.


"Semua yang bertanya harus siap menerima jawaban," ujar Adagio masih dengan cangkir kopi mengambang di depannya.


"Kalau begitu tidak jadi."


Adagio menoleh, keningnya berkerut. Ia meletakkan kopinya kembali ke atas meja. Lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Melihat sahabatnya tertawa, Arkais ikut tertawa juga. Dua orang di seberang meja menoleh ke arah mereka. Pertama, mereka terkejut dengan tawa yang muncul secara tiba-tiba. Kedua, mereka ingin memastikan bahwa dua orang yang mereka lihat bukan orang gila atau sedang kesurupan.


Mereka tidak sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berjalan di jalur yang mereka yakini dan sukai. Tidak pernah saling menyalahkan, namun tetap saling mengingatkan. Mereka menjadi gambaran bahwa segala hal bisa berjalan beriringan. Seperti magnet yang membutuhkan kutub positif dan negarif untuk menyatu.


"Jadi bagaimana lagu barumu?"


Arkais mengangkat cangkir kopinya yang telah setengah dingin, lalu menyesap kopinya sambil menutup mata. Ritual berulang yang ia lakukan tiap kali minum kopi.


"Lagu sudah siap diunggah Ark, hanya saja aku tidak terlalu puas dengan hasil kerjaku kali ini. Akan ada saat ketika kita kurang bisa menikmati pekerjaan yang kita cintai dikarenakan orang-orang di luar sana meminta kita menjadi orang lain,"


"Loh, kenapa harus menuruti mereka? Bukannya kamu bilang harus menjadi dirimu sendiri?"


"Ketika kita sudah punya orang-orang yang mendukung kita, kita akan mulai berpikir untuk mempertimbangan tentang apa yang mereka inginkan dari kita dan apa yang membuat mereka bahagia Ark,"


Arkais menyesap kopinya untuk kesekian kali dan belum juga habis. Kafe mulai ramai, seseorang datang menghampiri Adagio lalu mendekatkan wajahnya ke arah Adagio sambil membisikkan sesuatu. Adagio mengangguk pelan, Arkais mengangkat kopinya ke arah Adagio sebagai tanda penghormatan.


Adagio berdiri sambil membawa cangkir kopi di tangannya, berjalan ke sudut kafe yang berada di ujung jurang. Ia menyentuh pagar pembatas, memandang hutan dan kota yang berdampingan di bawah sana.


Setiap kali Arkais bertanya mengapa ia suka sok dramatis seperti itu, Adagio selalu menjawab, "sebelum tampil, aku perlu memanggil semesta di luar diriku untuk menyatu dengan semesta yang ada di dalam tubuhku."


Cangkir di tangannya terangkat pelan, menyentuh bibirnya dengan mesra. Kali ini ia tidak memejamkan mata, ia membiarkan kesadarannya secara utuh menerima segala yang datang kepadanya.


Tidak lama setelah itu ia membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah panggung. Ketika melewati Arkais, ia balas memberikan kode dengan mengangkat cangkir kopinya, Arkais membalas dengan cara yang sama sekali lagi.

__ADS_1


"Jangan lupa datang malam Rabu nanti. Biar seluruh dunia tahu siapa penulis syair dari lagu-lagu yang aku nyanyikan. Aku sudah buat pengumuman tentang kehadiranmu. Jadi, jangan kecewakan mereka Ark!"


Arkais tidak meladeni perkataan Adagio. Ia memandang bulan terang di langit, sayup-sayup terdengar suara Adagio memetik gitar. Seketika semua suara hening. Para pengunjung terpikat dan tersihir oleh permainan gitar dan alunan merdu suaranya. Manusia terpilih sedang menebarkan pesona dari Sang Mahacinta.


__ADS_2