PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Curug Sembilan


__ADS_3

Air kolam bergelombang, membuat bayangan langit bergoyang di permukaan. Semburat jingga telah menyala di balik bukit. Serangga malam telah lelah bernyanyi, bersiap pulang ke rongga-rongga tubuh pohon. Malam berakhir, daun-daun mulai beruraikan air mata embun.


Terang di mata Aura dan Rin terbit lebih pagi dari Matahari. Mereka memeluk tubuh sendiri karena dingin menyusutkan pori-pori di sekujur tubuh. Suasana rumah Arkais membisikkan suara ketenangan, hutan yang masih tumbuh di halaman belakang mengirimkan aroma pagi yang menyengarkan.


"Kalian sudah bangun?" Mereka menoleh, Adagio bersungut menepati sisi kosong di sebelah Rin.


Wajah Rin memerah, ia memalingkan wajahnya. Sempurna sudah pagi ini, dua matahari telah bersinar terang. Mereka memandangi matahari yang mulai beranjak dari punggung bukit. Perlahan, sinar jingga mulai memenuhi seluruh langit. Menggulung temaram menuju biru dengan gumpalan-gumpalan awan tipis yang menebal.


"Hoi! Ayo sarapan dulu sebelum berangkat," ternyata sejak tadi Arkais telah berdiri di belakang mereka.


Setelah sarapan pagi, mereka berkemas. Mempersiapkan hal-hal yang dianggap perlu dibawa untuk pergi ke air terjun Curug Sembilan yang berlokasi di Desa Tanah Hitam, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara. Mereka harus bersiap sejak pagi karena lokasi air terjun berada cukup jauh dari rumah Arkais. Belum lagi nanti ketika sampai di pintu masuk menuju air terjun mereka harus berjalan kaki kurang lebih 2-3 jam.


Tepat pukul 07.30 pagi, mereka berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Ketika melintasi area persawahan kemumu, Aura dan Rin kembali terpesona melihat burung-burung pipit terbang, membentuk formasi di atas hamparan padi yang telah menguning. Deru air di dua sisi sungai yang mengapit jalan membuat mereka semakin bergairah memulai perjalanan.


Sejam kemudian mereka sampai di kaki bukit menuju air terjun. Setelah berbasa-basi dengan warga sekitar yang menunggui areal parkir. Arkais mengajak mereka membentuk sebuah lingkaran, lalu meminta Adagio untuk memimpin doa.


Selesai berdoa, mereka menatap jalan setapak di depan mereka. Arkais menghela napas panjang kemudian mengambil langkah lebih dulu, diikuti oleh Rin dan Aura, Adagio berada di posisi paling belakang.


Langkah demi langkah mereka jejakkan, beberapa kali mereka berpapasan dan menyapa petani atau pencari rotan saat melewati perkebunan. Obrolan ringan mengiringi perjalanan mereka. Matahari makin meninggi, keringat mulai membanjiri seluruh tubuh. Rin beberapa kali menyeka keringat di wajahnya, deru napas Aura terdengar memburu. Arkais memberi instruksi agar mereka istirahat sejenak.


"Gimana, masih kuat?" tanya Arkais sambil tertawa.


Rin dan Aura masih mengatur napas, beberapa kali meneguk air minum dengan ganas. Di atas potongan kayu besar, Adagio duduk santai sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Selain bermusik, ia juga rajin berolahraga, sehingga perjalanan ini belum cukup untuk membuatnya mengeluh.


"Masih jauh ya Ark?" ujar Aura sambil menyeka wajahnya.

__ADS_1


"Lumayan, ini kayaknya baru setengah perjalanan. Masih kuat kan?"


"Kalau aku sih masih, nih si Rin udah kayak orang mau pingsan." Rin tidak menanggapi, ia memaksakan senyum sambil mengatur napas.


Mereka telah hampir memasuki area hutan rimba. Udara segar dengan cepat memulihkan tenaga mereka. Setelah Rin dan Aura merasa cukup kuat, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Namun, belum sampai lima belas menit, Aura tiba-tiba berteriak. Wajahnya memucat seketika, Adagio yang berada di belakangnya langsung mendekatinya.


"Kenapa Ra?" Semua wajah terlihat panik. Arkais berlari mendekat.


Aura menunjuk kakinya, seekor binatang penghisap darah menempel di dekat mata kaki, ukurannya cukup besar, hampir sebesar kelingking orang dewasa. Binatang itu menggeliat, lendirnya memantulkan cahaya matahari.


Melihat binatang itu menempel di kaki Aura, Rin langsung melihat kakinya. Ia menjerit juga ketika menemukan binatang yang sama menempel di pergelangan kakinya.


"Maaf ya Ra," Adagio meminta izin, lalu mencoba melepaskan binatang itu dari kaki Aura. Setelah binatang itu lepas, Ia mengambil pula binatang yang menempel di kaki Rin.


"Itu apa?" tanya Rin dengan bibir bergetar.


Arkais memerhatikan Adagio yang sedang mencoba menghentikan darah yang mengalir dari bekas gigitan pacet di kaki Aura menggunakan bubuk kopi. Tiba-tiba ia merasa gerah, ada perasaan tidak suka yang secara spontan memenuhi hatinya. Ia merasa ingin marah ketika Adagio berusaha membantu Aura.


Rin lebih mandiri, ia mencoba menghentikan lukanya sendirian. Ia berinisiatif mengambil bubuk kopi yang di bawa Adagio, lalu menaburkan di lukanya. Ia beberapa kali melirik ke arah Arkais yang berdiri diam memandangi Aura dan Adagio. Rin melihat ketidaksukaan di mata Arkais.


"Darah itu akan berhenti dengan sendirinya, akan lebih baik kalau kita tetap melanjutkan perjalanan. Akan sangat bahaya jika nanti terjadi hujan gunung. Langit mulai mendung." Instruksi itu disampaikan dengan ketus oleh Arkais. Ia membalikkan badan dan melanjutkan perjalanan.


"Okeh!" Rin berdiri, lalu tersenyum ke arah Adagio dan Aura yang masih duduk. Ia mengejar langkah Arkais.


Di belakang mereka, Adagio membantu Aura berdiri. Mereka berjalan perlahan, tidak berusaha mengejar Rin dan Arkais. Aura mengucapkan terima kasih sambil tersenyum malu. Gadis mana yang tidak merasa beruntung diperlakukan seperti itu oleh seorang Langit Adagio.

__ADS_1


Suara deru air deras yang jatuh mulai terdengar. Rin berjalan lebih cepat, bahkan ia menyalip Arkais. Arkais hanya tertawa melihat kelakuan Rin. Rin berjalan dengan terburu-buru, ia sudah tidak sabar ingin melihat keindahan Curug Sembilan. Ketika melewati batu berlumut kakinya terpeleset, tubuhnya limbung. Melihat Rin hampir jatuh, Arkais secara spontan menolong Rin. Ia menarik tangan Rin. Beruntung Arkais tepat waktu menarik tangan Rin sebelum tubuhnya terhempas ke batu.


"Makanya, sabar sedikit Rin." Arkais melepaskan pegangan tangannya.


Rin hanya tersenyum malu-malu. Kejadian tadi seperti adegan-adegan romantis di film. Rin menyapu celana dan jaketnya yang tidak kotor dengan tangan. Lalu meminta Arkais untuk berjalan lebih dulu. Mereka saling membantu menyebrangi sungai. Arkais selalu mengulurkan tangan membantu Rin untuk berpindah dari satu batu ke batu yang lain.


Rin terperangah dengan pemadangan air terjun bertingkat di depan matanya. Percikan halus berterbangan di sekitar mereka. Rin merentangkan kedua tangannya, membiarkan percikan halus itu membasahi wajahnya.


Arkais menoleh ke belakang, melihat Adagio dan Aura saling membantu seperti yang ia lakukan dengan Rin tadi. Ia menundukkan kepala, Aura melambaikan tangan ke arahnya. Arkais membalas lambaian itu sambil tersenyum tanggung. Beberapa saat kemudian mereka berempat telah berdiri di depan air terjun Curug Sembilan.


Tidak berbeda jauh dengan Rin, Aura terkesima dengan pemandangan air terjun bertingkat di depannya. Matanya berkaca-kaca, segala lelah yang ia rasakan sirna seketika. Ia merasa perjalanan berjam-jam tadi terbayar sudah.


"Air terjun adalah yang aku sukai setelah senja." Katanya lirih.


Mendengar itu, Arkais, Rin, dan Adagio tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi senja di hatimu ya Ra?" ujar Arkais sinis.


Aura memukul lengan Arkais sambil melotot. Ia merangkul Rin yang masih terperangah dengan keindahan Curug Sembilan. Di sebelah Arkais, Adagio mengeluarkan rokok, lalu menyalakan api dan membakar ujungnya. Ia mulai menghisap rokok dan menyebulkan asap ke udara.


"Yah, jauh-jauh ke sini malah menghirup udara yang terkontaminasi asap rokok juga." Sergah Rin.


"Hanya sebatang saja setelah itu aku tidak merokok lagi di sini," balas Adagio tanpa menoleh.


Rin megambil rokok Adagio lalu membuangnya ke sungai. Adagio terpaku, ini pertamakalinya ada seorang perempuan yang berani merebut dan membuang rokok dari tangannya. Tidak lama setelah itu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu menatap kesal ke arah Arkais dan Aura yang menertawakannya.

__ADS_1


Seperti biasa, momen hening kembali hadir di antara mereka. Hening yang berarti mereka sedang berpetualang dalam dunia mereka masing-masing.  


__ADS_2