PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Memperkenalkan Orang Lain


__ADS_3

Aura tersenyum menyambut kedatangan Arkais.


Dengan santai Arkais menarik salah satu kursi, lalu duduk sambil berbasa-basi. Ia cukup terkejut dan menjadi canggung ketika menyadari ada seorang gadis lain yang duduk di meja mereka. Gadis itu tersenyum, matanya bulat berwarna coklat terang dengan bulu mata lentik. Rambutnya terurai panjang, Arkais menebak gadis itu merupakan idola di kalangan para lelaki di sekitarnya.


"Ark, kenalin ini Serindang Bulan." Aura merangkul gadis yang malu-malu itu.


"Aku Arkais Rekata, panggil saja Ark." Tangan Arkais membelah meja, tangan lain menyambutnya.


"Serindang Bulan, panggil aku Rin," balasnya sambil mengangguk.


Setelah saling berkenalkan dan memperkenalkan mereka membicarakan hal-hal umum seputar perkuliahan. Tidak seperti biasanya, Aura berbicara lebih banyak. Dengan lugas dan lucu ia menceritakan kisah awal persahabatannya dengan Serindang Bulan.


Ia bilang, semua berawal dari sebuah kejadian pada suatu sore sepulang sekolah. Kala itu, Rin pulang berjalan menyusuri trotoar sendirian. Baju putih-merahnya kotor, ia tidak sengaja terpeleset ketika melintasi lapangan sekolah. Ia kesal sendiri, apalagi Kang Apex yang biasa menjemputnya datang terlambat kala itu.


Di tengah bibir manyun dan omelan lirihnya, tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Matanya menangkap sesosok makhluk yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kakinya gemetaran, beberapa meter di depannya, seekor anjing berdiri menghadang jalan. Anjing itu menatapnya penuh ancaman, lidahnya yang menjulur di antara gigi taring meneteskan air liur tanpa henti. Rin bergidik, kakinya gemetaran. Tidak terasa air mata membanjiri wajah hingga membuat bajunya basah. Ia mundur pelan-pelan hendak lari. Namun, anjing itu menyalak dan langsung mengejarnya.


Rin berlari pontang-panting, jatuh beberapa kali, berdiri dan kembali berlari sambil berteriak. Ia terus berteriak sambil berlari bahkan beberapakali memejamkan mata. Saat ia membuka mata, sekelebat bayangan keluar dari balik pagar sebuah rumah, Rin menoleh ke belakang. Telah berdiri seorang gadis sebayanya dengan gagah berani. Ia menghadapi anjing yang kini makin keras menyalak dan menggeram.


Gadis itu masih berdiri diam, seolah-olah ia tidak memiliki rasa takut. Dengan gerakan mengejutkan, ia melompat ke arah si anjing dengan berteriak keras. Anjing itu terkejut dengan keberanian lawannya, ia melompat ke belakang, lalu lari menjauh sambil mengikik. Setelah ada jarak cukup jauh, anjing itu berhenti, ia kembali menyalak. Gadis itu kembali berteriak sambil mengejar dan melemparkan batu atau barang-barang di sekitarnya. Anjing itu kembali berlari hingga hilang dari pandangan.


Gadis itu menghampiri anak perempuan yang masih duduk terengah-engah. Tubuhnya masih gemetaran, suara sesegukan masih mengiringi air matanya yang terus mengalir deras. Beberapakali tangannya mencoba menghapus sisa-sisa air mata itu. Gadis penolong mengulurkan tangan, membantunya berdiri. Lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Seorang wanita yang Rin duga sebagai ibu dari gadis penolong itu keluar rumah sambil sedikit berteriak.


"Astagfirullah! Ada apa Ra?"


"Di kejar anjing gila punya Bang Toman Bun," ujar gadis penolong itu dengan santai.


Setelah duduk, Rin dibuatkan teh hangat oleh ibu sang gadis penolong. Sesaat setelah tangis Rin mereda. Mereka mulai berkenalan. Gadis penolong itu bernama Aura, ia baru saja pindah ke kota Bengkulu karena ayahnya yang berprofesi sebagai penegak hukum baru saja dipindahkan ke kota ini. Mereka cepat akrab, di tengah obrolan asik mereka, Bunda Aura keluar dengan membawa perlengkapan P3K. Rin menggenggam lengan Aura sambil meringis menahan sakit ketika bunda membersihkan lukanya. Setelah selesai, bunda meninggalkan mereka berdua di ruang tamu karena harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum ayah Aura pulang.


Aura mengatakan bahwa mereka besok akan bertemu lagi di sekolah. Rin sangat senang mendengar itu, selama ini ia memang sudah memiliki banyak teman. Tetapi, Aura telah menempati tempat khusus di hatinya. Perasaannya mengatakan bahwa mereka akan menjadi sahabat baik.


Sore itu, setelah ayah Aura pulang. Mereka sekeluarga mengantarkan Rin pulang ke rumahnya. Di rumah Rin semua orang sudah kebingungan. Ibunya telah menangis tersedu dan hampir pingsan, menyangka Rin diculik oleh lawan politik ayahnya. Kang Apex selaku supir hanya tertunduk gemetaran dengan wajah pucat pasi. Seribu rasa takut tergambar di wajahnya, takut dipecat, takut dituntut, takut dihajar, dan takut-takut lainnya.


"Eh, kejadian itu waktu kalian SD, SMP, atau SMA?" ujar Arkais memotong.


"Itu waktu SD Ark," Rin menimpali.


"Wah, terus kenapa sekarang si Aura jadi pendiem dan penakut gitu ya?" Arkais tertawa.


Mendengar pertanyaan itu Rin dan Aura saling pandang lalu terdiam. Kemuraman tergambar langsung di wajah mereka, bagi Arkais itu memang pertanyaan yang wajar dan tidak aneh. Tetapi pertanyaan itu berdampak berbeda pada Aura. Aura langsung menunduk, air wajahnya berubah seketika. Rin menatap Aura, ia merasakan betul apa yang sedang Aura rasakan. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti kenapa Aura berubah menjadi pendiam dan penyendiri seperti sekarang.


Arkais menyadari perubahan suasana yang drastis itu, ia pun turut menjadi canggung. Ia kembali menimbang-nimbang, perkataan apa yang telah membuat dua orang gadis di hadapannya menjadi sunyi seketika.

__ADS_1


Rin menatap Arkais dengan tatapan sayu, sebuah tatapan yang bermakna penyesalan. Arkais tidak pernah berada di situasi serba salah seperti ini. Ia mencoba mencari celah untuk mengembalikan suasana kembali normal.


"Emm, kalian mau berkenalan dengan sahabatku satu-satunya?" tawaran aneh itu membuat Aura dan Rin saling pandang.


"Aku yakin kalian akan senang berkenalan dengannya," ujar Arkais lagi.


Setelah sepakat, akhirnya mereka bertiga pergi ke sebuah kafe. Arkais membuat janji bertemu dengan sahabatnya di sana.


Para pelayan kafe terlihat begitu akrab dengan Arkais, setelah memesan makanan dan minuman. Mereka mengobrol santai, Arkais bilang orang yang akan dikenalkannya akan sampai tidak lama lagi. Sepanjang jalan menuju kafe, Aura dan Rin berdebat mengenai seperti apa sosok sahabat satu-satunya Arkais itu.


Rin menebak sahabatnya itu adalah seorang kutu buku yang culun, berkacamata tebal dan bulat, serta sangat culun. Obrolan mereka akan sangat membosankan karena sahabatnya pasti akan menjaga ucapannya sebaik mungkin. Ia menebak lagi, sahabatnya itu adalah seorang kutu buku yang biasa-biasa saja tetapi pintar. Ia mampu menjawab semua pertanyaan dengan penjelasan yang sangat rinci dan ia pasti bercita-cita menjadi seorang professor.


Berbeda dengan Rin, Aura menebak sahabat Arkais adalah seorang anak seni yang urak-urakan. Ia pasti berambut panjang dengan tubuh dekil dan baju tidak disetrika. Ia juga menebak sahabat Arkais adalah seorang introvert yang telah membaca banyak buku, menyukai film-film dokumenter dan konspirasi. Obrolan mereka akan penuh dengan teori-teori di luar nalar. Mereka pasti akan membahas tentang dunia pararel, mistisme, dan terori gila lainnya.


Tepat di menit ketiga belas, bersamaan dengan datangnya minuman pesanan mereka. Seorang lelaki datang dengan menggendong gitar di punggungnya. Arkais berdiri menyambut lelaki itu, mereka saling berpelukan.


Rin dan Aura terperangah, pikiran mereka seakan menolak pertunjukkan paling mengejutkan yang tergelar di hadapan mereka. Terlebih Rin, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang ia saksikan sekarang. Ia berkali-kali menelah ludah, berusaha untuk menormalkan kembali deru napasnya.


Arkais memperkenalkan mereka berdua pada sahabatnya. Sahabatnya pun mengulurkan tangan ke arah mereka sambil memperkenalkan diri.


"Langit Adagio, panggil saja Gio."

__ADS_1


__ADS_2