
"Mengangkasa di bumi itu penting Ark."
Adagio mengingatkan Arkais untuk menikmati hidup.Tetapi ia melihat ada yang berubah dari Arkais. Wajah sahabatnya itu terlihat lebih bercahaya, lebih hidup dari sebelumnya. Beberapa hari terakhir Arkais bahkan terlihat amat riang.
Sebenarnya Adagio menolak keras pikirannya yang menuduh Arkais sedang jatuh cinta. Tetapi, itu bukanlah hal yang mustahil. Dari film-film romantisme yang ia tonton, seringkali alur ceritanya tentang seorang lelaki yang kehilangan semangat hidup lalu kehidupannya kembali bergairahsetelah jatuh cinta. Arkais, apakah mungkin ia bisa jatuh cinta? Tetapi baginya, jatuh cinta bukanlah hal yang logis.
"Ark,"
"Hem,"
"Kamu lagi jatuh cinta ya?"
"Ha!?" Arkais membalikkan badan, ia menatap Adagio dengan ekspresi bingung. Pertanyaan konyol semacam itu baru pertama kali ini diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Kenapa? Ada yang aneh dengan pertanyaan itu?"
"Jatuh cinta hanyalah milik mereka yang telah kehilangan kepercayaan diri sehingga mereka membutuhkan dukungan dari orang lain. Jatuh cinta hanyalah milik mereka yang merasa bahwa diri mereka tidak utuh sehingga mereka membutuhkan seseorang untuk mengisi kekosongan itu. Jatuh cinta bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan karena itu menunjukkan kelemahan seseorang dalam menghadapi pesona orang lain. Jatuh cinta adalah....."
__ADS_1
"Halah bla, bla, bla, bla." Adagio memotong ceramah Arkais.
"Kenapa Gi, kamu merasa tersindir dengan pernyataanku?"
"Ops maaf-maaf ni ya. Aku bukan orang yang mudah terpengaruh oleh pernyataan dari seseorang yang belum pernah merasakan jatuh cinta atau menolak untuk jatuh cinta."
"Hemm, dasar kaku."
"Hoi! Kau ya yang kaku."
"Aku lentur," Arkais langsung berdiri, lalu menggerak-gerakkan badannya seperti menari namun dengan gerakan yang menjijikkan. Adagio meneput jidatnya, sahabatnya ini memang terlihat pendiam dan dingin, bahkan terkesan cuek. Tetapi ia menyimpan sisi kelucuan yang sangat receh.
Tuan Editor pernah membantah pemikiran ini dengan berkata, "jatuh cinta itu masalah rumit yang terjadi dalam perasaan seseorang Ark. Ketika jatuh cinta, orang akan sulit melepaskan diri dari pesona orang yang dicintainya. Jatuh cinta itu bisa mengakibatkan halusinasi, susah tidur, susah konsentrasi, dan susah-susah yang lain. Pokoknya jatuh cinta itu bisa nyusahin tetapi meskipun nyusahin, jatuh cinta memberikan efek bahagia yang membahagiakan."
Tetapi bantahan itu tetap belum bisa diterima oleh Arkais. Ia berkaca, memandang dirinya sendiri. Mencoba mencari sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia sempat berpikir, apakah hanya ia yang tidak pernah merasa jatuh cinta. Apakah ini adalah fenomena kepribadian yang tidak normal. Tetapi jika diingat-ingat, ia pernah merasakan jantungnya berdegup ketika berada di dekat seseorang. Ia kembali berpikir, apakah itu cinta?
Ia menganalisis kejadian itu. Jika mengingat latar waktu pada saat kejadian yaitu pada saat sore hari maka degupan jantung itu bisa saja berarti ia sedang lapar. Jika mengingat latar tempat pada saat kejadian yaitu di lantai tiga perpustakaan maka itu berarti ia sedang kelelahan. Ya, sudah diputuskan bahwa bukan seseorang yang berada di dekatnya yang membuat jantungnya deg-degan. Penyebabnya adalah kelaparan dan kelelahan.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan pikiran yang selalu menyeretnya menuju wajah gadis itu. Ia kembali mencoba menganalisis, apakah ini jatuh cinta? Tidak, ia mencoba menolak kesimpulan itu. Jika ditilik dari kepribadiannya yang tertutup dan penyendiri, maka itu hanyalah imbas dari rasa penasarannya terhadap orang lain.
Bertemu dengan orang baru, lalu memiliki ketertarikan yang sama. Itu adalah sebuah kejadian yang jarang terjadi dalam hidup Arkais. Itu bisa saja memicu sebuah perasaan seperti jatuh cinta. Padahal itu hanyalah bentuk refleksi dari rasa penasaran. Jika rasa penasaran itu sudah terpenuhi maka semua pasti akan kembali seperti biasa. Bisa dilihat dari semua orang yang bilang mereka jatuh cinta, lalu tidak lama setelah itu mereka bosan dan memutuskan bahwa mereka tidak lagi jatuh cinta. Apakah siklus jatuh cinta memang sekonyol itu. Ah, entahlah. Arkais mengacak-acak rambutnya. Ini bukan hal logis yang bisa dilogikakan.
Ia membasuh wajahnya, jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Besok tidak ada kelas, ia bisa sedikit bersantai meski tidak tidur sama sekali. Ia mengambil sebuah buku dari tumpukan di atas meja, menyalakan mata lampu berwarna kuning dan mulai membaca.
Pikirannya tidak bisa diajak kerjasama, ia menutup buku itu dengan kencang. Ia mengambil buku catatannya. Ia menulis semua perihal yang mengalir dari dalam kepalanya.
Apakah kau telah sampai di semua tempat yang kerap membuatmu tersesat? Apakah kau telah sampai pada ujung jejak yang kau telusuri? Apakah kau telah menemukan wajah dari aroma yang kerap melekat di bajumu? Di pipimu? Di udara yang hilir mudik di tubuhmu? Apakah kau telah selesai melewati ratusan halaman cerita yang kerap membuatmu tenggelam pada asikmu sendiri? Apakah kau akan muncul hari ini? Apakah kau menunggu di masa depan? Apakah kau suka di masa lalu? Apakah kau akan selalu muncul dalam setiap pertanyaan? Apakah aku akan terus bertanya tentang kau? Apakah semua pertanyaan-pertanyaan itu boleh kujadikan satu pertanyaan? Apakah aku sedang merindu?
-Mencatat Sebuah Pertanyaan
Ia menggigit ujung pulpen, lalu membaca kembali tulisannya. Ia merasa ini adalah tulisan terburuk yang pernah dibuatnya. Ia menyobek tulisan itu dan membuangnya ke dalam tong sampah. Ia memang sering menonton film romantis, membaca buku-buku yang menceritakan tentang cinta dengan berbagai sudut pandang. Tetapi itu hanyal sebatas mengumpulkan data, ia melakukan itu semua karena Adagio menuntutnya untuk menulis puisi romantis. Adagio bilang warga negara ini sangat suka lagu-lagu tentang cinta-cintaan.
Arkais mengangkat gelas kopi ketiganya, menyesap kembali air kafein tanpa gula. Setelah menulis, pikirannya sedikit terkendali. Ia kembali membuka buku dan mencoba menenggelamkan diri dalam dunia cerita. Sejak dulu, ia ingin sekali bisa menulis sebuah novel. Namun setiap kali mulai menulis cerita, ia selalu kehilangan kisahnya. Lebih seringnya ketika sedang menulis cerita, muncul berbagai ide cerita yang lebih menarik sehingga ia memutuskan untuk menulis cerita itu. Ia takut jika tidak segera ditulis semua ide-ide itu akan menguap ke udara. Hilang tanpa jejak.
Hal itulah yang membuatnya menjadi tidak bisa konsisten dalam menulis cerita. Semua ceritanya tidak ada yang selesai. Akhirnya, selama bertahun-tahun omong besarnya untuk menerbitkan novel hanya menjadi omong kosong belaka.
__ADS_1
Adzan subuh berkumandang, Arkais menandai halaman terakhir buku yang dibacanya. Saatnya melaksanakan dua kewajiban. Sholat Subuh dan tidur.