PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Dua-Satu


__ADS_3

Rasa penasaran itu bisa menjadi awal mula sebuah tindakan bodoh.


Sub-bab buku itu menarik perhatian Arkais sejak semalam. ­Earphone dengan volume mendekati maksimal membuat ia tidak terdistraksi oleh lingkungan sekitarnya. Sesekali ia melirik jam di tangannya. Sekedar mengingatkan diri untuk tidak melewatkan jam sore perpustakaan. Ia pernah hampir terkurung karena petugas perpustakaan hanya mengumumkan waktu istirahat dan tutup melalui bel dan pengeras suara.


Di luar, hujan sangat deras bahkan disertai angin badai. Entah angin muson mana yang sedang berkunjung. Parkiran sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang dibiarkan kehujanan. Ia menatap hujan yang jatuh melesat ke tanah. Begitu indahnya sebuah kepasrahan, begitu menakjubkannya cara alam bekerja, dan begitu lemahnya manusia. Hanya melawan hujan pun mereka tidak sanggup.


Ketika hendak kembali ke halaman buku, pandangan matanya menangkap sesosok manusia yang duduk sendirian di sudut ruangan yang bersebrangan dengannya. Ia mengamati sosok itu, meyakinkan diri bahwa itu adalah manusia. Bukan sosok perempuan penunggu perpustakaan yang menjadi urban legend di kampus ini.


Gadis itu mematung lama, ekpresinya seperti sedang memandangi layar komputer jinjingnya. Wajahnya samar. Setelah mengamati cukup lama, ia menyimpulkan bahwa itu adalah gadis aneh yang sering berjoget atau bertingkah tidak jelas. Gadis itu adalah salah satu teman tidak dikenal di lantai tiga yang sering menemaninya secara tidak langsung. Namun hari ini gadis itu terlihat lebih aneh. Ia tidak seperti biasanya, hanya duduk diam lalu tiba-tiba menjatuhkan wajahnya ke meja. Arkais yang selalu berusaha untuk tidak mencampuri urusan orang lain memilih untuk tidak peduli. Ia membangun persepsi bahwa gadis itu mungkin sedang menangis dan tidak ada orang yang suka diganggu ketika menangis.


Arkais melanjutkan aktivitas membacanya.


***


Perpustakaan adalah ruang dimensi tempat semua inspirasi muncul di tengah sunyi. Bagi Aura, ruangan perpustakan adalah Gua Hira, tempat segala wahyu turun ke bumi. Lantai tiga perpustakaan adalah tempat paling tepat baginya untuk melebur bersama keasikannya sendiri.


Aura baru saja menghabiskan sebuah novel sejarah yang hampir mencapai seribu halaman. Ia sebenarnya ada janji hari ini, tetapi karena hujan deras disertai badai. Ia terjebak di perpustakaan ini. Sebelum naik ke lantai tiga, ia menyusuri lorong rak-rak buku yang tersusun rapi. Mengamati setiap judul di tulang buku, beberapa yang menarik ia ambil, ia buka halamannya secara acak, lalu ia cari beberapa bagian kalimat yang bisa ia jadikan bahan dalam tulisannya. Ia selalu bersuka ria jika suasana perpustakaan sedang sepi. Sepei membuatnya leluasa berjalan ke sana kemari atau menari-nari tanpa suara.


Sekali waktu sebuah pikiran melintas di kepalanya, mengapa banyak orang yang benci dengan perpustakaan. Mereka bilang perpustakaan hanya untuk orang-orang pintar, bukankah itu pernyataan yang sangat lucu. Mereka secara terang-terangan mengakui kebodohoan mereka dan membanggakannya. Aura terkadang terkesima dengan gaya berpikir orang-orang di sekitarnya.


Setelah hampir setengah jam berkeliling, melihat sekian banyak buku yang berbaris rapi. Matanya menangkap sebuah judul buku yang menarik, ia mengamati lekat-lekat buku itu. Dibolak-baliknya halaman depan dan halaman belakang buku itu, hanya ada judul dan gambar yang absurd. Di halaman belakangnya tidak ada sinopsis atau apapun. sebaris kata-kata di halaman pertama membuat Aura tertarik untuk membuka buku itu.


'Dari waktu ketika kau membaca tulisan ini. Kau telah terjebak dalam persepsi. Kau akan berkata dalam hati aku menggurui. Padahal aku hanya buku, jika memang demikian jadilah muridku.'


-Anonim, manusia yang ditulis oleh buku ini.


Kening Aura berkerut, tidak ada nama penulis. Tidak ada nama penerbit, hanya ada judul dan gambar yang sulit dimengerti. Bagaimana mungkin buku ini bisa terselip di barisan buku undang-undang. Aura membawa buku itu ke meja, lalu meletakkannya di sebelah laptop. Ia mulai mencoba fokus kembali dengan segala dunia di dalam laptopnya.

__ADS_1


Ia mengecek pesan masuk di surat elektroniknya. Pesan yang ditunggu-tunggunya telah datang. Dengan jantung berdegup ia membuka pesan itu. Ah, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Aura menatap langit-langit perpustakaan yang tinggi. Lampu yang terselundup di tubuh plafon, barisan kotak-kotak pendingin ruangan. Meja dan kursi yang kosong, tiba-tiba ruangan luas ini langsung mengecil. Menghimpit tubuhnya, menghabiskan sisa oksigen di udara. Ia melipat tangan di meja, menyimpan wajahnya yang kini muram.


Batas antara ketidakmampuan dan rasa percaya diri terkadang serupa bahasa anu yang memiliki beribu makna. Tulisan Aura kembali ditolak penerbit. Surat penolakan dengan bahasa yang sama atau tanpa kabar sama sekali. Hal seperti itu sudah menjadi surat balasan yang datang setiap hari ke dalam hidupnya.


Ia mengangkat wajahnya yang kacau, matanya membelalak, tubuhnya hampir terlonjak ketika melihat ada seorang lelaki yang entah sejak kapan sudah duduk di depannya. Lelaki itu terlihat sedang fokus membaca buku aneh yang ia temukan tadi.


Lelaki itu menatap Aura, Aura masih diam menatap lelaki itu. Mereka saling menatap, suasana canggung menebar di sekitar mereka. Lelaki itu tersenyum, membuat Aura tergagap. Lalu cepat-cepat memperbaiki posisi duduknya.


Lelaki itu mengukir sebuah senyum hangat di wajahnya, suaranya yang cukup dalam memecah kekikukan di antara mereka, "Apa aku mengagetkanmu?" ujarnya pelan.


Aura tidak langsung menjawab, ia masih shock. Hampir satu tahun, hampir setiap hari juga ia duduk di meja ini dan tidak ada satupun orang asing yang menyapanya. Lalu kenapa hari ini tiba-tiba muncul seseorang yang menegurnya. Tempat itu telah ia tandai sebagai daerah teritorialnya. Mata Aura menyipit, keningnya turut berkerut.


Lelaki itu tampak salah tingkah dan tidak enak hati. "Emm, oke sepertinya aku mengganggu. Aku akan kembali ke mejaku dan maaf telah membaca buku ini tanpa seizinmu," ia bersiap hendak berdiri untuk pindah setelah meletakkan buku yang baru saja dibacanya ke tempat semula.


"Eng, enggak kok mas. Maaf bukan begitu maksudku. Anu, aku cuma kaget aja mas tiba-tiba muncul duduk di depanku. Kayak hantu," Aura tersenyum hingga menampakkan sederet gigi putih yang selalu disikatnya sehari tiga kali.


Lelaki itu menunjuk salah satu meja di pojok ruangan. "Aku biasanya duduk di meja sebelah sana," katanya sambil tersenyum. "Aku sering lihat mbak sendirian duduk di sini menari-nari atau tertawa, kadang juga terlampau serius. Maaf, kalau terkesan tidak sopan. Tadi dari sana aku lihat mbak dalam posisi kayak orang tidur, aku perhatikan cukup lama kok mbak gak bangun-bangun. Jadi aku ke sini untuk mastiin mbak gak kenapa-kenapa, aku kaget pas mbak ngangkat kepala, jadi aku pura-pura baca buku itu." Lelaki itu tertawa setelah berbicara panjang lebar tanpa jeda.


"Aku gak pernah liat ada orang di lantai ini selain aku," gumam Aura pelan, namun gumaman itu terdengar oleh lelaki di hadapannya. Tawanya meledak setelah mendengar gumaman itu.


"Iya mbak, keberadaanku emang samar-samar. Jadi kadang orang gak sadar sama keberadaanku."


"Eh, tapi beneran. Aku gak pernah sadar kalau ada yang duduk di sana. Haduh, aku jadi malu kepergok sering bertingkah aneh di sini." Aura membuang pandangannya untuk menyembunyikan rona malu yang muncul di wajahnya.


Tangan lelaki itu telah membelah meja di hadapannya. Menjulur lurus ke depan Aura, "aku Arkais, Arkais Rekata,"


Aura menyambut uluran tangan lelaki itu. "Aura, Aura Pelangi," balas Aura.

__ADS_1


Hari ini, lantai tiga perpustakan tidak lagi sepi. Tidak hanya suara papan ketik laptop Aura yang mengisi ruangan. Beberapa tawa ringan yang sengaja dikecilkan karena takut ditegur oleh pengawas perpustakaan menghiasi ruangan yang dulu sunyi.


Meski baru pertama kali bertemu, mereka merasa sangat akrab. Arkais terlihat mudah membawa Aura masuk ke dalam suasana obrolan yang menyenangkan. Aura juga telah lupa dengan surat penolakan naskah yang membuatnya sempat menyembunyikan wajah di antara dua tangannya untuk menahan air matanya jatuh. Baginya, air mata bukan diciptakan untuk mengekspresikan kekecewaan. Air mata yang jatuh karena putus asa akan menggersangkan tanah tempat air mata itu jatuh.


Setelah cukup lama mengobrol, ternyata mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka saling bertukar pendapat mengenai film-film sience fiction yang pernah mereka tonton, mereka mengomentari berbagai cerita dalam novel-novel klasik. Semua ranah mereka tapaki, bahkan mereka berdebat mengenai bumi itu datar atau bulat. Diam-diam ada perasaan hangat yang mengalir di relung hati mereka.


Waktu tiba-tiba lepas dari putaran arloji dunia. Melesat cepat, bel tanda perpustakaan akan segera tutup mendering panjang. Hujan di luar sudah mereda, Aura berkemas, menata semua peralatannya ke dalam tas. Arkais hanya duduk memandangi Aura sambil menunggunya selesai membereskan semua peralatannya.


Aura tersenyum sambil memakai ranselnya, lalu memberi kode kepada Arkais untuk keluar perpustakaan bersama. Mereka berjalan beriringan hingga ke pintu keluar dengan diselingi berbagai obrolan ringan. Petugas perpustakaan tersenyum ke arah Aura, Aura paham maksud penjaga perpustakaan yang sangat dikenalnya itu. Aura hanya tersenyum sambil menggeleng, menegaskan agar Bu Wati yang bertugas sebagai pustakawati itu tidak salah paham.


Mereka berhenti, saling menatap. Mereka sama-sama tahu, ini adalah langkah terakhir mereka berjalan beriringan untuk hari ini. Meski samar, mereka sama-sama berharap lain waktu akan berjalan beriringan lagi. Perjalanan yang tidak terlalu jauh ini benar-benar terasa panjang dan menyenangkan.


"Aku suka tulisan-tulisanmu. Aku sangat menunggu tulisanmu terbit, aku tidak sabar membacanya," ujar Arkais sambil berjalan menjauh.


Aura memiringkan kepalanya, "Bagaimana kamu tahu aku menulis Ark?"


Arkais tidak menggubris pertanyaan Aura, ia berlalu sambil berceletuk "karena aku adalah seorang mentalist. Aku adalah murid Dedi Corbuzier." Ia mengambil arah yang berlawanan dengan Aura.


"Kamu mau kemana Ark?" Teriaknya.


"Kayaknya ke danau kampus, kamu?"


"Jangan ke sana Ark, beberapa hari yang lalu aku duduk sendirian di sana. Pas lagi asik menggambar senja tiba-tiba ada yang melemparkan batu ke air di dekatku. Hii ngeri, kamu tahukan rumor yang santer beredar?"


Arkais tertegun mendengar penjelasan Aura, tidak lama setelah terpaku ia tertawa terbahak-bahak sambil menutupi wajahnya.


"Aku serius lo Ark. Jangan sok berani sama hal-hal kayak gitu," ujar Aura lagi.

__ADS_1


"Iya, iya. Kalau nanti aku ketemu sama artis yang sedang terkenal itu akan kusampaikan pesan agar tidak mengganggumu lagi," Arkais melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.


Aura berdiri diam, ia tidak habis pikir dengan cara berpikir Arkais. Namun sedetik kemudian ia mengangkat bahu dan mengambil langkah masa bodoh terhadap hal itu. Ia berjalan ke arah yang berlawanan sambil membalas lambaian tangan Arkais.


__ADS_2