PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Terminal Mimpi


__ADS_3

Hari perayaan wisuda.


Selama setahun terakhir di kampus, mereka benar-benar tenggelam dalam kesibukan. Janji mereka untuk wisuda bersama di bulan Agustus, memacu mereka untuk keluar dari zona nyaman. Mereka lintang pukang mengejar ketertinggalan, menghabiskan siang dan malam demi dapat mewujudkan janji itu.


Setelah Kuliah Kerja Nyanta sebagai bentuk pengabdian masyarakat berakhir, mereka semua harus segera beralih fokus ke proyek akhir atau praktek kerja lapangan. Kesibukan itu membuat mereka hanya bertemu kembali dalam waktu yang sangat singkat di kafe tempat Adagio sering tampil bernyanyi. Meski sangat sebentar, itu semua cukup bagi mereka. Mereka maklum dan sadar harus kembali tenggelam dalam kejar-kejaran dengan batas diri mereka sendiri. Semester 7 dan 8 memang semester yang tidak memberikan jeda istirahat bagi mahasiswa,


Sebagai mahasiswa jurusan guru, Arkais akhirnya terjun ke sekolah untuk praktek mengajar secara langsung. Pertemuannya dengan Aura di perpustakaan berdampak besar dengan dirinya yang baru. Ia berhasil mengeluarkan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ia bahkan dengan mudah bisa membentuk ikatan dengan para peserta didik hanya dalam sekali pertemuan.


Rin sibuk mempersiapkan diri untuk mengejar beasiswa. Meskipun orang tuanya sangat mampu untuk membiayainya kuliah magister di luar negeri. Tetapi, baginya ini adalah saat paling tepat untuk membuktikan diri, waktu paling ampuh untuk mengambil langkah berani. Ia selalu berujar bahwa masa muda hanya terjadi satu kali. Ia ingin meraup semua hal yang bisa ia genggam. Entah sejak kapan, ia menjadi seorang gadis yang begitu rakus pada mimpi.


Aktivitas Adagio di Bengkulu mulai terbatasi, ia menjadi sorotan media sejak pulang dari KKN Kebangsaan. Apalagi setelah beredar kabar bahwa ia telah bertekad untuk mengeluarkan lagu baru sebelum wisuda.


Selain itu, Ia juga mulai memperluas relasinya. Tidak lama setelah kepulangannya dari Kalimantan Tengah. Ia langsung menghubungi para pemusik tradisional senusantara, ia ingin membentuk komunitas akbar demi mewujudkan sebuah mahakarya yang akan mengangkat harkat dan martabat musik tradisional Indonesia di kancah dunia. Ia mengajak beberapa penyanyi indie untuk berkolaborasi dengannya. Terutama pemusik dan penyanyi indie yang bergenre romantis dengan syair-syair puitis.

__ADS_1


Aura tidak mau kalah, ia mulai kembali menulis, membuka usaha kecil-kecilan, dan mulai menjajaki dunia-dunia baru yang mampu meningkatkan keterampilannya. Cita-citanya ingin keliling ke semua pantai Indonesia setelah lulus kuliah harus terlaksana. Ia juga sudah sedikit tenang melihat ayahnya perlahan mulai berubah, walaupun ia tidak berharap banyak pada beliau.


Hari-hari mereka berjalan sangat cepat sekali, kesibukan membuat waktu serasa mengalir bagai napas di tubuh. Pada pelaksanaan sidang akhir, mereka saling datang menemani secara bergantian. Tanpa mereka sadari, cakupan pertemanan mereka tidak hanya selingkup empat sekawan saja. Kini, dunia mereka telah menjadi begitu luas. Dua tahun terakhir menjadi tahun-tahun terbaik di kampus bagi Arkais dan Aura yang tumbuh sebagai manusia introvert.


Satu persatu nama mereka menggema di gedung wisuda. Langkah kaki menjejak mantap menuju panggung, jari-jari tangan yang hampir keriting membuat tugas akhir itu menerima sebuah tabung berisi ijazah, lalu kepala yang penuh beban itu menunduk, guru besar memindahkan tali toga tanda tanggung jawab setiap mahasiswa telah berubah. Dari manusia penerima menjadi manusia pemberi.


Ada rasa haru yang memenuhi seluruh ruangan, tangis bahagia para orang tua melihat anaknya mampu menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa Strata 1. Tangis haru mereka yang sudah terlanjur menjadi saudara dalam medan peperangan dunia perkuliahan. Ini akan menjadi momen sebelum mereka semua berpisah. Melakukan pengabdian di masyarakat, memenuhi tanggung jawab moral seorang sarjana. Menjalani kehidupan sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab atas diri sendiri, keluarga, masyarakat, warga negara, agama, dan dunia.


Semua orang saling memeluk, saling berjabat tangan, saling menumpahkan air mata di pundak orang-orang yang telah menjadi keluarga. Semua orang mengabadikan momen dengan berfoto bersama atau melakukan hal-hal diluar dugaan. Benar-benar sebuah perayaan.


Setelah lulus, Adagio hijrah ke Jakarta. Jam terbangnya semakin padat, ia tidak bisa terus menerus bolak-balik Jakarta-Bengkulu sampai tiga atau empat kali dalam seminggu. Jakarta memang tempat yang paling tepat untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Seratus hari di Jakarta, ia telah menjadi bintang iklan batu baterai. Meski sudah sering melihatnya tampil di televisi, Arkais masih saja canggung dan tidak bisa menahan tawa tiap kali Adagio muncul di sela-sela berita atau film televisi.


Rin pergi ke Kampung Inggris, Pare, Kediri. Ia menetap di sana selama hampir setengah tahun. Baru sebulan di sana, kemampuan bahasa inggrisnya meningkat pesat. Ia telah mampu menguasai bahasa Inggris dengan fasih, nyaris seperti seorang Native Speaker. Itu bukan pencapaian yang ringan, setelah mengikuti les privat selama setahun di sela-sela mengerjakan tugas akhir, ia harus kembali belajar keras saat berada di Kampung Inggris.

__ADS_1


Apalagi ia memilih salah satu tempat les dengan gaya belajar yang cukup kejam. Di minggu awal, ia kelimpungan membagi waktu. Jam belajar yang sangat padat dan jam istirahat yang sangat sedikit membuat ia hampir masuk rumah sakit di minggu pertama. Untung saja fisiknya telah terlatih selama KKN di Pulau Enggano sehingga ia tidak mudah tumbang.


Meski tidak keluar kota, Arkais bergabung dengan komunitas peduli pendidikan yang setiap dua minggu sekali mendatangi daerah-daerah pedalaman untuk berbagi ilmu dengan anak-anak dan warga sekitar. Tidak jarang komunitas mereka harus berjalan puluhan kilometer ke dalam pelosok hutan demi bisa membuka cakrawala baru bagi anak-anak dan warga di sana.


Aura dan ibunya membuka sebuah gerai, ia merangkul orang-orang yang membuat kerajinan tangan untuk bergabung dalam bisnisnya. Era digital membuat bisnisnya dapat berkembang dengan sangat pesat, bahkan ia mulai menaruh buku rencana perjalanannya ke dalam laci meja. Ia ingin fokus mengembangkan bisnisnya. Ia ingin memberikan kehidupan yang layak untuk ibunya. Ia ingin ibunya bahagia. Dengan perkembangan sepesat itu, semua orang bisa meramalkan dua tahun ke depan Aura sudah bisa memliki gerai di kota lain.


Satu hari sebelum saling meninggalkan, mereka kembali berkumpul di kafe. Kafe telah menjadi terminal mimpi bagi mereka. Tempat mereka bertemu sebelum pergi dan setelah pulang.


Walaupun mereka telah berada dalam dunia mereka masing-masing. Komunikasi mereka tetap terjalin dengan sangat baik. Mereka sering melakukan panggilan video di waktu senggang yang mereka sepakati.


Namun, diam-diam selalu ada rindu yang tumbuh di setiap senja pulang ke peraduan laut, di setiap hujan mengurung diri di balik jendela. Bukankah demikian Aura? Arkais? Rin?


"Mungkin." Jawab mereka serentak.

__ADS_1


"Hei, aku juga bisa merindu kawan-kawan." teriak Adagio.


__ADS_2