PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Konspirasi Alam Semesta


__ADS_3

Mereka tiba di rumah menjelang Magrib. Arkais menggigil kedinginan, sepanjang jalan mereka kehujanan. Selesai mandi dan berganti pakaian, mereka berkumpul di ruang tamu, sambil menyeduh wedang jahe panas mereka membahas berbagai hal yang terjadi selama perjalanan.


Rin adalah orang yang paling bersemangat menceritakan bagaimana ia jatuh bangun, merasa ingin pingsan, terpeleset di batu berlumut, dan perasaan jijiknya ketika melihat hewan melata yang bernama pacet. Sambil memegang gitar, Adagio menimpali beberapa kejadian lucu seperti Arkais yang sok tahu jalan tetapi malah hampir membawa mereka tersasar ke tengah hutan. Arkais menyela, ia mengungkit Adagio yang tidak tahan ingin buang air kecil tetapi takut jika buang air di sembarang tempat sehingga akhirnya ia harus buang air di dalam botol. Konyolnya lagi, botol itu ia bawa pulang. baru ia buang ketika sampai di tempat pembuangan sampah.


Aura dan Rin tertawa hingga suara mereka hilang saking pingkalnya. Mereka tertawa tanpa suara sambil memegangi perut, tertawa seperti itu memang membuat perut sakit. Adagio hanya menggaruk kepala sambil mendengus kesal. Ia tidak tahu ternyata Arkais mengetahui kejadian itu. Padahal, ia sudah mencari tempat paling sepi untuk buang air di dalam botol.


"Bentar, tetapi kenapa di bawa pulang Gi?" tanya Aura sambil tertawa.


"Ya, daripada nanti disangka es teh sama pengunjung lain. Toh kata Arkais kita tidak boleh meninggalkan sampah meski cuma bungkus permen." Ujar Adagio sambil mengepulkan asap rokok ke udara.


"Iya sih, tapi gak air kencing juga kali Gi! Itukan bisa jadi pupuk organik buat pohon-pohon di sana." Arkais menepuk jidat. Rin kembali terpingkal.


Mereka kembali membahas berbagai kejadian hari ini. Satu daftar perjalanan gagal mereka centang, yaitu melihat senja di area persawahan Kemumu. Meski baru saja naik dan turun lembah, tidak ada wajah lelah yang terlukis di wajah Rin dan Aura. Mereka asik melihat foto-foto yang mereka ambil di air terjun Curug Sembilan. Meski bukan perjalanan yang luar biasa, tetapi perjalanan itu meninggalkan banyak kesan dalam diri mereka. Setidaknya, mereka menjadi lebih akrab setelah melakukan perjalanan itu.


"Bagaimana menurut kalian, kecewa atau puas?" tanya Arkasi sambil merapatkan selimut yang membedong tubuhnya.


"Kalau aku sih puas," ujar Rin sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Rin, kamu kan pernah ke tempat-tempat indah di Indonesia, udah pernah keluar negeri juga kan?"


"Iya, terus?"


"Kok masih mau menjelajah lembah kayak tadi?"


"Kenapa ya, aku udah tahu tempat-tempat yang katanya indah di Indonesia atau di luar negeri. Tetapi, aku selalu bingung kalau ditanya tempat-tempat indah di Bengkulu yang notabene tempat tinggalku sendiri. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya aku menjelajah tempat-tempat indah di sini." Jelas Rin.


"Rin itu bukan tipe cewek manja Ark, cocok tuh kalau mau dijadiin istri. Selain itu, dia juga mandiri, lihat aja tuh berapa banyak penghasilannya dari endorse di instagram dia." Aura menambahi sambil mendorong lengan Rin.

__ADS_1


"Kalau aku maunya kamu yang jadi istriku gimana Ra?" Aura terdiam mendengar pernyataan Arkais, Rin pun hanya melongo. Adagio tiba-tiba lupa lirik lagu yang sedang ia nyanyikan. ia benar-benar tidak menyangka Arkais berani bercanda seperti itu.


Mereka saling menatap, lalu saling membisik pelan. Mata mereka menatap sinis ke arah Arkais. Dari gerak bibir Aura, Arkais menebak mereka sedang mencibirnya. Tidak lama setelah itu, Aura dan Rin tertawa terbahak-bahak. Memang kelakuan perempuan itu sungguh aneh bin ajaib.


Arkais hanya menggelengkan kepala, ia menyesap wedang jahe sambil mendesah pelan. Gigilnya sudah mulai mereda. Menjelang pukul sembilan malam, mereka beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan Adagio pamit pulang ketika Arkais ke kamar mandi.


Keesokan paginya, ketika Arkais masih mengambang di dunia mimpi. Aura membangunkannya, ia bilang Rin ingin pamit pulang ke Kota Bengkulu lebih dulu. Semalam orang tuanya menelpon dan memintanya pulang hari ini. Mereka harus segera menyusul keluarganya yang sudah berada di Singapura, neneknya yang tinggal di Jakarta jatuh sakit secara mendadak menjelang dini hari tadi.


"Dia pulang sama siapa Ra?" tanya Arkais sambil mengucek matanya.


"Sama Gio, Gio semalam bilang dia juga buru-buru harus kembali ke Bengkulu. Ada pertemuan mendadak dengan studio musik dari Jakarta katanya." Aura nampak bingung.


"Terus kamu mau pulang juga Ra?"


"Yaiyalah Ark,"


Selepas itu, Arkais langsung mandi dan membereskan barang-barangnya. Rin sudah menunggu di ruang tamu dengan cemas. Tidak lama kemudian Adagio datang dengan mobil sedan coklat kesayangannya. Setelah berdiskusi, Adagio dan Rin memutuskan untuk berangkat lebih dulu. Menimbang keadaan Rin yang mendesak. Aura dan Arkais sepakat, mereka bilang akan segera menyusul.


Setelah berpamitan dengan orang tua Arkais, mereka berdua segera meluncur ke Bengkulu. Meninggalkan Arkais dan Aura dalam situasi yang canggung. Setelah bayangan mobil Adagio hilang dari pandangan, mereka saling menatap.


Ini merupakan sebuah momen tak terduga bagi Arkais. Ia tidak menyangka akan mendapatkan waktu spesial seperti ini. Ia bergumam, "apakah ini yang disebut konspirasi alam semesta?"


Arkais memandangi Aura yang masih berdiri menatap sisa bayangan Rin dan Adagio. Dunia masih pukul sembilan pagi, mereka berdua sudah mengggunakan setelan rapi. Arkais bersumpah dalam hati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


"Gimana?" tanya Arkais canggung.


"Apanya?" Aura menatapnya dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Mau langsung pulang atau mau lihat senja sore ini di Kemumu?"


"Terus sambil nunggu sore, kita ngapain?"


"Pagi ini aku ajak kamu ke Lorong Watu atau ke Palak Siring mau?"


"Di Palak Siring selain air terjun, ada apalagi Ark?"


"Bendungan dan lorong-lorong air besar peninggalan Belanda. Kalau kita beruntung biasanya kita bisa lihat bunga rafflesia arnoldi yang lagi mekar Ra,"


"Gak bisa gitu kita datangin dua-duanya?"


"Bisa sih,"


"Ya udah, ayok cus!" Tubuh Arkais serasa mengambang, kepalanya hendak meledak mendengar ajakannya disambut baik oleh Aura.


"Kalau mau pergi jangan lupa sarapan dulu!" Ibu Arkais menyela dari dapur.


Mereka menghabiskan sarapan dengan cepat.


Pagi ini cerah sempurna, arak-arakan awan tipis menghiasi langit biru. Alam semesta benar-benar mendukung keinginan Arkais. Ia memandangi Aura yang sedang memakai sepatu berwarna biru muda kesukaannya, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Aura mendongak, memergoki Arkais yang sejak tadi memandanginya.


Setelah pamit, mereka berdua berangkat dengan menggunakan motor Arkais. Mereka memilih Palak Siring sebagai lokasi pertama, Arkais bilang di sana lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi. Kalau mereka ke Lorong Watu mereka harus berbasah-basahan. Karena itu Arkais merekomendasikan untuk ke Palak Siring lebih dulu. Aura hanya mengangguk setuju tanpa banyak komplain.


Lokasi Palak Siring tidak jauh dari rumah Arkais. Hanya berkisar sepuluh sampai lima belas menit jika menggunakan sepeda motor. Tidak terasa, mereka sampai di depan gerbang Palak Siring. Sebuah pintu gerbang yang lebih mirip pintu masuk menuju ke hutan raya.


"Ayok!" teriak Arkais membuyarkan Aura yang takjub memandangi pohon besar di dekat mereka.

__ADS_1


"Iya!" Aura berjalan cepat menyusul Arkais.


__ADS_2