
Akhir zona nyaman.
Semua orang menghilang diri dari peredaraan. Liburan yang berakhir dramatis itu benar-benar menjadi pertemuan terakhir antara Arkais, Aura, Adagio, dan Rin. Sesuai perjanjian, mereka akan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di akhir masa perkuliahan mereka. Saat lulus, mereka harus menjadi orang yang berbeda dengan diri mereka ketika awal masuk kuliah dulu.
Mereka berbagi kabar terakhir ketika pembagian kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata). Rin memenuhi mimpinya, ia akhirnya bisa berangkat ke Pulau Enggano. Ia bergabung dengan KKN khusus Enggano yang setiap tahun diselenggarakan oleh pihak kampus. Adagio lebih keren lagi, ia ikut berpartisipasi dalam kegiatan KKN Kebangsaan. Ia memberi kabar akan dikirim ke salah satu daerah di Pulau Kalimantan. Berbeda dengan dua orang penuh ambisi itu, Arkais dan Aura memilih jalur umum yang biasa-biasa saja. Pihak kampus biasanya menempatkan para mahasiswa di kabupaten-kabupaten yang ada di provinsi Bengkulu.
Arkais ditempatkan di Kabupaten Rejang Lebong, sedangkan Aura ditempatkan di Kabupaten Bengkulu Selatan. Mereka terpisah lima jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Sepertinya dunia benar-benar mengharuskan mereka mengembangkan diri secara mandiri dalam lingkungan baru untuk bisa menciptakan diri mereka yang lebih dewasa.
Di Pulau Enggano.
Rin akhirnya melepaskan segel yang membelenggunya selama ini. Di sana ia benar-benar tidak peduli dengann skincare, terik matahari, lumpur, dan penampilan fisik lainnya. Ia menjadi seorang Serindang Bulan yang peduli pada lingkungan, hormat pada adat budaya asli negeri ini. Hari-harinya penuh dengan obrolan-obrolan tentang berbagai hal yang bersifat psikologis filosofis.
Rin berubah menjadi seorang gadis yang begitu tertarik dan penasaran pada ruang misterius kepribadian manusia, rahasia keselarasan hidup dengan alam, dan mulai belajar menyelami hakikat kebahagiaan. Tujuh puluh hari lebih ia berbaur dengan masyarakat, adat, dan budaya yang lahir dan berkembang di Enggano.
Meski kulitnya menjadi kecoklatan, tatapan matanya menyiratkan kedewasaan. Kesan manja mulai hilang dari karismanya, membuat lelaki yang memandangnya semakin terjerat dalam pesona seorang dewi bernama Serindang Bulan.
Kabar dari tengah Pulau Kalimantan.
__ADS_1
Sebagai penggiat musik populer, Adagio dibuat terkesima ketika mendengarkan secara langsung permainan musik tradisional yang ada di Kalimantan Tengah. Sejak saat itu, ia mulai membuka diri dengan cakrawala musik yang lebih luas. Ia belajar menggunakan alat-alat musik tradisional Kalimantan Tengah seperti Katambung, Garantung, Rebab Kalimantan, dan Japen.
Ia mencoba mengenali nada-nada yang ada di musik tradisional. Perlahan, idealismenya pada musik modern menjadi lebih plural. Hanya dalam waktu satu minggu, ia telah menguasai cara memainkan katambung, rebab, dan apen. Demi mengenal lebih jauh tentang musik khas Kalimantan, ia mencari dan bergabung dengan komunitas musik tradisional yang ada di sana. Beberapa kali ia pernah meminta izin untuk memainkan lagu modern dengan menggunakan rebab.
Entah apa yang merasukinya, ia menjadi begitu jatuh cinta dengan rebab, ia mengalami ledakan perasaan saat pertama kali menyentuhnya. Kulit ular piton, rambut kuda, kayu mahoni, ia seperti sedang melihat sebuah perpaduan paling instrumental antara alam dengan musik. Setiap kali bermain rebab, ia terlihat begitu menghayati setiap gesekan busur rambut kuda, hingga orang-orang selalu bilang bahwa ia selalu mampu sampai ekstase, lupa diri.
Sebelumnya ia memang sudah mahir bermain biola, tetapi rebab hanya memiliki dua senar, berbeda dengan biola yang memiliki empat senar. Meski begitu ia berhasil membawakan beberapa lagu instrumental milik Kenny G dan Yiruma.
Selama kurang lebih tiga puluh hari menjalani KKN kebangsaan. Adagio pulang dengan kepala yang siap meledak. Ide-ide brilian muncul, ia bahkan berniat kembali menghidupkan percampuran musik tradisional dengan modern yang sempat kehilangan peminat.
Arkais yang terlahir dari keluarga transmigran zaman kolonial, akhirnya dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Rejang. Meskipun terbata dan masih terdengar lucu dengan aksen aneh. Ia merasa begitu bangga, ia akhirnya mampu berkomunikasi dengan para tetua di sana. Ia adalah orang yang meyakini bahwa kebijaksaan hidup selalu dapat diambil dalam obrolan bersama para tetua adat setempat.
Di samping itu, ia adalah penggila cerita rakyat. Ia mampu menyimak cerita dari para tetua adat selama berjam-jam. Selama beberapa tahun terakhir, ia sudah mempelajari aksara KaGaNga. Tetapi, ia merasa sia-sia mempelajari aksara itu jika tidak bisa berbahasa Rejang. Sebab, teks-teks yang bertuliskan aksara KaGaNga berisi bahasa Rejang. Meski bukan suku Rejang, ia begitu tertarik mempelejari adat budaya suku Rejang.
Selain mempelajari bahasa, adat, dan budaya suku Rejang. Setelah tertunda selama bertahun-tahun sejak lulus SMA, akhirnya ia bisa mendaki Bukit Kaba. Ia begitu menggebu ingin mendaku Bukit Kaba karena terinspirasi oleh kisah Muning Raib yang jatuh cinta dengan Bidadari.
Di puncak Bukit Kaba, ia pertama kali melihat fajar dan senja yang membuatnya merasa begitu rugi jika memejamkan mata sejenak saja. Ia tersenyum getir ketika memandang senja. Ia teringat kepada seseorang yang sangat menyukai dan mengaggumi senja, Aura. Ah, bahkan Aura dan senja sudah menajdi satu paket dalam diri Arkais. Tetapi, entah kenapa ia begitu yakin senja di sini tidak akan pernah sempurna bagi Aura. Sebab, senja tanpa debur ombak, aroma laut, dan desir pasir adalah tidur tanpa mimpi bagi Aura.
__ADS_1
Selama di Rejang Lebong, Arkais menjadi suka makan sayur. Bagaimana tidak, Rejang Lebong adalah salah satu daerah pemasok sayuran terbesar di Provinsi Bengkulu. Hampir setiap hari selalu ada warga setempat yang memberi sayur, bahkan seringkali ia dan rekan satu sekretariatnya memetik dan mengambil sendiri sayuran langsung dari kebunnya. Sebagai pecinta kopi, Arkais juga merasa sangat beruntung ditempatkan di Rejang Lebong. Belum lagi lokasi KKNnya berada di daerah pemandian air panas. Ia selalu berujar, "sungguh, nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan wahai anak muda."
Bengkulu Selatan tanpa kesan.
Tidak seperti yang lainnya, Aura lebih banyak menghabiskan waktu bolak-balik ke rumahnya. Ia masih terlalu khawatir kehadiran ayahnya akan kembali membawa bencana bagi keluarganya, terutama ibunya. Kepulangan sang ayah tidak memberikan banyak dampak baik bagi keluarga, ia masih belum bisa memercayai ayahnya secara penuh.
Ia bahkan tidak peduli ketika teman-teman satu sekretariatnya menyindirnya sepanjang waktu, bahkan koordinatornya mengancam akan melaporkannya kepada dosen pendamping. Mereka tidak tahu bahwa Aura pulang untuk menemui ibunya, mereka hanya tahu Aura pulang ke rumah tanpa alasan yang jelas sehingga banyak program kerja mereka yang terkendala karena Aura sering bolak-balik kota Bengkulu tidak jelas.
Ia berkali-kali meminta ibunya untuk ikut dengannya ke Bengkulu Selatan, ia akan mencarikan tempat untuk ibunya tinggal sementara. Ia benar-benar takut jika ayahnya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, ibunya berkali-kali meyakinkan Aura bahwa semua akan baik-baik saja. Ayahnya akan kembali menjadi ayah yang Aura banggakan seperti dulu.
Meski telah pulang, Aura masih enggan berbicara banyak dengan ayahnya. Setelah semua yang telah beliau lakukan, Aura merasa apa yang diterima ayahnya sekarang belum cukup untuk membayar kesalahannya di masa lalu. Ia bahkan pernah menganggap ayahnya itu sudah mati, sebegitu bencinya Aura kepada ayahnya.
Keputusan Aura untuk tidak menceritakan alasan kepulangannya membuat ia harus menerima untuk dikucilkan, digunjing, difitnah, bahkan ia dengan lapang dada menerima ketika semua orang mendapat nilai A untuk mata kuliah KKN sedangkan ia hanya mendapatkan B.
Kuliah Kerja Nyata selesai.
Mereka pulang dengan cerita masing-masing.
__ADS_1