PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Sang Penyihir dan Pemusik Jalanan


__ADS_3

Semalaman Arkais dihantui rasa bersalah. Jika diingat-ingat ini kali pertama ia ingkar janji pada Adagio. Semua pesan yang ia kirim melalui brbagai aplikasi daring belum ditanggapi oleh Adagio. Setelah matahari terbit, ia memutuskan menemui langsung Adagio di indekosnya.


Sepanjang jalan menuju tempat Adagio, begitu banyak skenario yang ia buat untuk meyakinkan sahabat satu-satunya itu bahwa ia benar-benar tidak bisa menghadiri undangannya semalam.


Ketika Arkais datang, Adagio sedang rebahan sambil bersantai di ayunan, jari-jarinya lugas memetik gitar. Sudut matanya menangkap kedatangan Arkais, tetapi ia memilih untuk mengacuhkan kedatangan sahabatnya itu. Ia tetap bermain gitar sambil berayun dan menghisap rokok.


Ia bahkan membiarkan Arkais melewatinya saat ke dapur. Ia tertawa kecil ketika mendengar suara air mendidih, lalu terdengar pula suara gesekan sendok dan gelas. Tidak lama setelah itu ia bisa menghirup aroma kopi yang menguar di udara. Ia menunggu Arkais keluar membawa dua cangkir kopi dan mulai berbasa-basi.


Benar saja, tidak lama kemudian Arkais keluar dengan membawa dua cangkir kopi hitam panas. Ia meletakkan satu cangkir di dekat Adagio yang masih sok tidak peduli. Ia masih asik berayun sambil memetik senar gitar.


"Semalam hujan deras Gi, pori-pori tubuhku melebar. Kalau aku paksa menerabas hujan, tubuhku bisa penuh air." Ujar Arkais memulai basa-basi. Sebuah alasan yang tidak masuk akal. "Bagaimana semalam, aku dengar sukses besar?" tambahnya lagi.


Adagio masih asik berayun sambil bermain gitar, berpura-pura tidak mendengar.


"Oke aku minta maaf."


Adagio mematikan sisa rokoknya di asbak. Ia masih memetik senar gitar sambil berayun. Suara lirihnya terdengar jelas di sela-sela petikan senar gitarnya.


Sayup tetapi jelas terdengar oleh Arkais, ia mulai bicara, "Aku punya sebuah kisah, ada seorang penyihir hebat yang takut pada keramaian. Ia memiliki seorang sahabat satu-satunya yang berprofesi sebagai pemusik jalanan. Namun, sahabatnya itu adalah pemusik yang buruk. Ia seringkali diusir ketika sedang bermain musik di depan toko atau kedai. Meski begitu, pemusik jalanan itu tetap saja bahagia. Ia menjadikan penolakan orang-orang sebagai motivasinya untuk belajar menjadi lebih baik lagi. Selama bertahun-tahun, pemusik jalanan itu belajar dan terus belajar hingga akhirnya orang-orang bisa menikmati permainan musiknya. Ditambah lagi dengan suaranya yang memang merdu sejak lahir. Tetapi, ada satu hal yang tidak berkembang, ia tetap tidak bisa menulis lagu. Ia hanya menyanyikan lagu milik orang lain yang sedang digandrungi banyak orang kala itu." ia menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya.


"Suatu hari, sang penyihir mendapati kesedihan muncul di wajah sahabat satu-satunya itu. Namun ia enggan bertanya, ia membiarkan semesta sendiri yang memberitahunya. Hingga waktu itu akhirnya datang. Di suatu malam, si pemusik jalanan mengutarakan keinginannya untuk mengikuti sayembara musik. Namun, sayembara itu mewajibkan pesertanya untuk membawakan sebuah lagu yang baru kali pertama diperdengarkan. Selama berhari-hari ia gelisah, ia tidak mampu membuat syair lagu yang benar-benar membuatnya puas. Sedangkan tenggat waktu sayembara makin dekat." Adagio berhenti lagi, matanya menerawang langit-langit. Lalu kembali melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Sang penyihir merasa kasihan pada si pemusik jalanan. Semalaman ia mengasingkan diri ke dunia keheningan. Keesokan harinya, ia menemui sahabatnya. Ia memberikan sebuah syair dengan malu-malu. Cukup sekali saja bagi si pemusik jalanan melihat barisan kata-kata dalam syair itu, ia langsung bisa membayangkan betapa menakjubkannya syair itu jika dibuat menjadi sebuah lagu. Si pemusik jalanan senang bukan kepalang, hanya dalam waktu beberapa jam, ia telah dapat menyempurnakan syair itu menjadi sebuah lagu yang sangat indah. Lagu yang menghantarkan si pemusik jalanan menjadi pemusik terkenal di negeri ini. Namun..."


Arkais memotong cerita itu karena sudah tidak tahan mendengarnya,"ayolah Gi, aku kan sudah minta maaf,"


Adagio tidak menggubris Arkais, ia tetap melanjutkan ceritanya. "Sang penyihir dikenal sebagai penyendiri yang tidak suka ingkar janji. Setelah memenangkan sayembara itu, mereka berdua terus mengembangkan diri. Sang penyihir dengan senang hati membantu menuliskan lagu untuk dinyanyikan oleh si pemusik jalanan. Semua orang mengetahui bahwa si pemusik jalanan hanya menyanyikan lagu-lagu yang ditulis oleh seseorang yang misterius. Beberapa waktu lalu, si pemusik jalanan telah berjanji kepada seluruh penggemarnya untuk memperkenalkan sang penyihir. Sang penyihir sendiri sudah menyetujuinya. Malam itu, banyak sekali orang yang hadir, sebagian besar ingin mengetahui sosok penulis lagu-lagu yang dinyanyikannya. Namun, malam itu sang penyihir ingkar janji untuk kali pertama. Ia tidak hanya mengecewakan si pemusik jalanan, melainkan mengecewakan semua orang yang hadir malam itu. Pertunjukkan musik memang berjalan baik-baik saja, tetapi banyak orang yang pulang dengan hati tidak sempurna, termasuk si pemusik jalanan. Memang benar, bahwa janji terbaik adalah janji untuk mengingkari janji itu sendiri."


Arkais menyerah, ia membiarkan Adagio menghabisinya dengan cerita rekaannya itu. Ia sangat tahu bahwa Adagio sedang menamparnya melalui cerita itu. Ia memang bersalah, karena itu ia tidak mencoba untuk membela diri. Ia membiarkan Adagio puas mengutarakan kekecewaannya. Adagio merubah posisinya, kini ia duduk dan menyesap kopi buatan Arkais. Bendera perdamaian telah berkibar. Ya, memang semudah itu bagi mereka untuk saling memaafkan.


Mereka tidak banyak bicara setelah itu, Adagio terus asik bermain gitar. Arkais sibuk membaca buku. Sesekali mereka melemparkan pertanyaan-pertanyaan ringan seputar berita nasional atau hal-hal remeh yang terjadi beberapa pekan terakhir.


Mereka berhenti mengungkit ketidakhadiran Arkais dalam pertunjukan musik malam tadi. Secara tidak langsung mereka sepakat untuk melupakan itu walaupun tidak semudah itu bagi Adagio melupakan wajah kecewa orang-orang yang hadir semalam. Begitupun Arakis, pada awalnya ia ingin menceritakan pertemuannya dengan Aura, tetapi melihat suasana percakapan mereka kurang menyenangkan. Ia memilih untuk mengurungkan niatnya untuk bercerita.


Ditengah-tengah suasana canggung yang mulai mencair, datang seorang gadis bermobil mewah. Gadis itu tergesa turun dari mobil, Arkais menebak gadis itu adalah seorang model di kota ini. Ia turun dengan membawa kantong plastik yang cukup besar.


"Jadi ini ya enaknya punya banyak penggemar?" Ujar Arkais sambil mengeluarkan makanan-makanan itu dari kantong plastik.


"Eh, siapa bilang ada jatahmu di situ?" Mendengar itu, Arkais melotot.


"Aku dapat bagian atau aku buang makanan ini ke tong sampah?" Ancam Arkais.


"Susah punya sahabat yang urat malunya sudah putus,"

__ADS_1


"Aku lebih beruntung pernah punya urat malu meskipun sudah putus. Daripada punya sahabat satu-satunya yang terlahir tanpa urat malu." Balas Arkais.


Adagio tidak meladeni Arkais lagi, ia langsung menyambar beberapa kotak makanan dan kembali ke ayunan. Ia membuka kotak-kotak makanan itu, lalu mulai melahapnya hingga habis tidak bersisa.


Mereka berdua adalah tipe manusia yang menjengkelkan ketika lapar dan menjadi bego ketika kenyang. Setelah menghabiskan semua makanan, mereka hening. Mata mereka menerawang jauh menembus alam semesta, kosong. Di tengah-tengah situasi kekenyangan itu, Arkais melemparkan tema perdebatan baru.


"Jadi, kenapa orang-orang suka berbicara?" Tanya Arkais dengan suara datar.


Pertanyaan itu menjadi perbincangan alot antara Arkais dengan Adagio. Mereka saling mengeluarkan argumen dengan data yang mereka dapatkan melalui pengalaman membaca dan pengalaman secara langsung. Sejam berlalu, mereka belum juga dapat menyimpulkan kenapa orang-orang suka berbicara.


Arkais meninggikan nada bicaranya, "oh tidak bisa! Orang-orang suka berbicara bukan hanya karena mereka mau. Tetapi karena mereka butuh."


"Mereka mau berbicara karena mereka membutuhkan itu Ark. Jangan ngotot dong kalau gak ngerti alur berpikir lawan bicaramu!" Adagio tidak mau kalah dalam meninggikan suara.


"Eh upil trenggiling, sejak kapan mulai jago ngerendahin orang hah!?"


"Oih ketombe biawak, kalau berdebat harus siap mendengar pendapat orang lain dong!"


"Daki kadal burik,"


"Congek kuda liar,"

__ADS_1


Perdebatan tidak berfaedah itu terhenti ketika nada panggilan di gawai Arkasi berdering, nama Aura muncul di layar. Arkais segera menyambar gawainya, lalu keluar sambil menjawab panggilan itu. Tiga menit kemudian ia kembali ke dalam rumah dan mengemasi barang-barangnya. Adagio mengernyitkan dahi melihat kelakuan aneh Arkais.


"Makasih ya Gi makan siangnya," tanpa menunggu jawaban Adagio, ia langsung bergegas pergi, meninggalkan Adagio yang duduk memandang sahabat nomor satunya itu berlalu dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2